Pangeran kampus vs cewek tomboy

Pangeran kampus vs cewek tomboy
Bagian 18


__ADS_3

Diko membersihkan luka Stevy dengan alkohol kemudian menempelkan plester dengan sempurna. Pandangan mata Stevy beralih menatap Diko yang sedang tersenyum.


"Maaf Dik aku udah buat keributan. Kalau saja tadi gak terjadi kau pasti gak akan kerepotan begini"


"Hei sudahlah apalagi kau juga tidak sengaja"


"Aku ingin memperkenalkan mu pada seseorang", kening Stevy berkerut ia penasaran. Stevy mengikuti pandangan Diko yang menuju ke arah pria yang sedang duduk di hadapan mereka. Yang dari tadi memperhatikan dengan wajah datar dan sebelah tangannya masuk ke dalam saku celana.


Mata Stevy terbelalak kaget. Ia sangat terkejut melihat pria yang dihadapannya, pria itu nyata. Setelah dua tahun lamanya, pria itu muncul dihadapannya. Mata pria itu menatap lurus ke arahnya, ia khawatir jika pria itu akan mengenal penampilannya yang sekarang. Gak semua itu gak boleh terjadi sebelum pria itu merasakan apa yang ia rasakan dulu.


"Stev kenalkan dia Awan Bagaskara. Dia orang yang kamu gak sengaja tabrak tadi"


Bodoh! Bagaimana ia lupa kalau tadi ia sudah membuat jas pria itu basah. Kini ia yakin, Awan menatapnya bukan karna menyadari penampilannya yang berubah melainkan karna kejadian tadi.


"Hem... Dik sepertinya aku harus pulang sekarang. Apalagi ini udah malam banget", Stevy hendak bangkit namun tangannya lebih dulu ditahan Diko.


"Pulang sama Melanie?"


"Iya..... kalau dia belum ninggalin karna mabuk"


"Sayangnya tadi Brian udah ngantar dia pulang. Gimana kalau diantar Awan? maaf kalau aku gak bisa ngantar, karna aku masih harus ngurus bar", Diko menatap Awan dan Stevy bergantian. Stevy dengan cepat menggeleng menolak penawaran Diko.


"Aku bisa pulang sendiri lagian aku yakin masih ada taksi"


"No aku gak bisa ngebiarin cewek secantik kamu pulang sendiri"


Hah kalau saja Diko tau kalau sebenarnya ia malas melihat wajah Awan lama-lama. Rasa sakit itu masih membekas. Stevy mendesah akhirnya ia mengangguk setuju. Diko mengacak rambut Stevy kemudian berkata pada Awan.


"Bro titip Stevy. Antar dia dengan selamat, jangan di apa-apain anak orang"


Setelah Diko meninggalkan mereka, Awan menatap Stevy sinis.

__ADS_1


"Kau pikir aku akan mengantar mu pulang?", ucap Awan ketus.


Sumpah nih orang makin dewasa makin nyebelin. Tahan Stev tahan tonjokan mu jangan sampai kau menonjok wajah nya yang resek itu, Stevy membatin.


"Maaf TUAN BAGASKARA YANG TERHORMAT. Saya memang tidak meminta untuk di antarkan pulang, saya bisa pulang sendiri", ucap Stevy menahan emosi.


"Permisi", lanjut nya sambil beranjak hendak turun ke lantai 1.


"Tunggu"


Stevy menghentikan langkahnya, ia mengepalkan tangan. Stevy tetap pada posisinya membelakangi Awan.


"Gimana dengan jas ini?"


Oh my dia benar-benar lupa lagi. Stevy menepuk jidad nya ia berbalik menatap Awan dalam dan membalas perkataan pria tersebut tak kalah ketusnya.


"Bukankah jas itu dapat anda laundry atau lebih baik buang lalu beli yang baru. Bukankah begitu tipikal orang kaya dan sombong seperti ANDA?!"


Awan bangkit berjalan mendekat, "Nona Stevy benar apa yang kau katakan. Namun nona, alangkah lebih baik jika kau mau bertanggung jawab dengan apa yang kau lakukan. Bukan begitu nona? Atau..... jangan-jangan kau adalah jenis wanita yang suka menghindar dari masalah?"


"Baik tuan Bagaskara aku akan melaundry jas mu"


"Nona Stevy bukan itu jawaban yang aku inginkan"


Stevy mengerutkan kening. Bukan jawaban yang dia inginkan? lalu jawaban seperti apa? Apa ia harus berlutut? atau ia harus mencium sepatu nya dulu? iuhhh itu sangat menjijikkan.


Awan membuka jas nya, ia menyerahkan jas tersebut pada Stevy. Saat jas tersebut telah berpindah tangan pada Stevy, Awan mendekat berbisik di telinga wanita itu.


"Cuci dengan tangan mu jangan pernah gunakan mesin"


Awan mengambil kartu nama yang terletak di saku celana.

__ADS_1


"Ini kartu nama ku kembali kan jas ini besok tepat pukul 12.00. Kau harus mengantar nya sendiri ke alamat yang ada di sana. Jika terlambat, akan ada hukuman untuk mu"


Setalah mengatakan itu, Awan meninggalkan Stevy yang masih mencerna dengan tiap kalimat yang di lontarkan Awan.


"Ini gila ini gak masuk akal. DASAR PRIA BRENGSEK"


πŸƒπŸƒπŸƒ


"Beruntung tadi ada taksi yang lewat", Stevy melepas heels dan meletakkan asal.


"Denger ya Awan gue akan balas lo seperti apa yang lo perbuat ke gue dulu. Gue akan buat lo mencari-cari gue dan melakukan apa aja untuk gue", Stevy tersenyum sinis. Ia meletakkan jas milik Awan di lantai. Stevy melangkah menuju tempat tidur, di samping nya sudah ada Melanie yang tengah tertidur pulas. Baju Melanie masih utuh ia yakin Brian tidak berlaku kurang ajar pada temannya itu.


Stevy melirik jas Awan yang tergeletak di lantai. Ia tak tau apakah noda wine mudah dibersihkan? dari pada memikirkan itu ia mempunyai ide yang licik. Ia akan membuat pria itu marah dan kesal hingga pada akhirnya pria itu pasti akan mencari nya.


Stevy melangkah ke kamar mandi, ia mencari cairan pembersih wc kemudian menuju dapur mencari saus, kecap dan noda lain yang dapat mengotori jas pria tersebut. Setelah menemukan sepuluh botol noda, Stevy mencampuri semua menjadi satu. Ini sangat kotor dan lengket. Stevy memulai aksinya dengan menumpahkan semua noda itu ke atas jas milik Awan. Ia tak perduli lantai kamar nya juga ikut kotor, ia hanya merasa puas mengerjai pria itu. Sesekali Stevy tertawa membayangkan ekspresi pria itu.


"Ini pasti sangat seru...... Tunggu saja Awan pembalasan ku baru saja di mulai"


Stevy mengambil kotak berwarna coklat muda, ia melipat jas kotor itu meletakkan ke dalam kotak tersebut. Tak lupa ia mengikat pita biru muda agar kotak itu tampak cantik. Ralat, hanya cantik di luar namun kotor di dalam. Bukankah itu sama seperti kepribadian pria itu?!. Ini sudah pukul 01.30, penerbangannya pukul 12.00 sama seperti waktu pengantaran jas ini. Alangkah bagus jika ia dapat mengantar kotak ini langsung pada pria itu jika saja jadwal keberangkatannya tidak sama dengan waktu yang di ajukan pria itu. Tidak apa, ia bisa menyuruh kurir mengantar kotak ini.


Stevy mencuci tangan nya yang lengket, setelah bersih ia mengambil ponsel menghubungi Rian yang sedang berada di London.


"Babe kamu besok pulang kan? Awas jika kamu kabur"


"Iya Yan aku besok pulang. Emm Yan ada yang ingin aku bicarakan"


"About?"


Tidak aku gak boleh kasih tau Rian jika aku bertemu Awan disini. Aku tidak ingin merepotkan Rian, apalagi jika Rian tau pasti Awan akan langsung tewas di tangannya. Batin Stevy.


"Gak jadi Yan, udah dulu ya aku tutup. Bye"

__ADS_1


πŸƒπŸƒπŸƒ


Jangan lupakan tinggalkan comment dan like dearπŸ’žπŸ’ž


__ADS_2