
Dua tahun kemudian
Awan membuka botol wine dengan lapisan perak Shipwrecked Heidsieck (1907). Siapapun tau jika wine ini termasuk salah satu yang paling mahal di dunia. Apalagi Awan yang sangat menyukai wine, ini adalah salah satu koleksi yang terdapat dalam lemarinya. Saat ini ia sedang berada di Aussie, ada beberapa masalah perusahaan yang harus di urus. Sehari setelah wisuda, Awan memutuskan untuk pindah ke Aussie. Suara langkah kaki mendekat mengetuk pintu.
"Masuk"
"Tuan ada yang ingin bertemu anda", Maxim-sekretaris yang dikirim papanya langsung dari jerman.
"Suruh dia masuk"
"Baik pak, kalau begitu saya permisi"
Setelah mendapat anggukan dari Awan, Maxim meninggalkan ruangan. Masuklah seorang wanita bertubuh ramping dengan pakaian seksinya, ia bersandar di meja kerja Awan.
"Sayang... makan yuk aku lapar", Arin dengan suara manjanya.
"Kamu duluan ya. Aku masih harus ngurus berkas-berkas ini"
"Kamu kenapa sih? Aku lapar Awan. LA PAR", ucap Arin dengan penekanan.
Awan memijat keningnya menyenderkan punggung di kursi kebesarannya. Sebenarnya ia sama sekali tak berniat mengajak wanita ini ke Aussie, namun apa daya Arin merengek minta ikut.
Awan beranjak mengambil kunci mobilnya, ia merengkuh pinggang Arin. Selama berjalan ke luar dari kantor, tatapan wanita-wanita itu tak henti henti nya menatap dan mencuri pandang ke arah nya. Sedangkan Arin ia terus tersenyum meremehkan.
"Sayang aku pengen makan yang ringan-ringan aja. Misalnya ice cream?"
Ngomong-ngomong tentang ice cream ia jadi ingat, dulu ia pernah membeli Bulan sekotak mini ice cream. Apalagi saat itu sedang suasana hujan. Apa Bulan sudah move on darinya? sedang apa ia sekarang. Tanpa sadar Awan tersenyum tipis, hal itu membuat dahi Arin mengernyit.
"Sayang kamu lagi mikirin apa?"
"Eh... oh cuma lagi mikirin kamu kok", Awan memarkir mobilnya di salah satu toko ice cream.
"Bagus dong kalau gitu, aku juga tau kok kamu cuma sayang sama aku", Arin tersenyum lebar.
Awan dan Arin memilih meja yang menghadap ke jendela. Awan menarik kursi untuk Arin.
"Aku pesan ice creamnya dulu, kamu mau rasa apa?"
"emmm greentea aja deh"
Awan mengangguk, ia menuju petugas yang menjaga box ice cream. Disana tersedia dua barisan, Awan memilih barisan kanan. Sesekali ia mengecek ponsel, sampai suaranya mendengar suara yang sangat familiar.
"Are you sure? but i don't like him. Hahaha"
Suara itu seperti suara gadis yang telah hilang dari kehidupannya. Awan menoleh ke samping kiri melirik sekitar, lalu ia menoleh samping kanan juga tak menemukan tanda-tanda.
"Ahhh mungkin ini perasaan gue aja"
Setelah mendapatkan dua pesanan ice cream, Awan hendak kembali ke meja. Namun ia tak sengaja menabrak seorang wanita. Ice cream tersebut tumpah mengenai baju wanita berambut pirang itu.
"Im so sorry", ucap Awan dengan nada rendah wanita itu masih menyeka baju nya dengan tangan. Awan menyerahkan sapu tangan navy miliknya, wanita itu mengambil masih dengan pandangan menunduk. Sehingga Awan tak bisa melihat dengan jelas pemilik wajah tersebut.
"Maaf saya akan ganti baju anda"
"Gak apa-apa jangan khawatir ini juga tidak sengaja"
Saat wanita itu hendak menatap Awan, suara Arin lebih dulu memanggil.
"Sayang"
"Maaf saya harus buru-buru", Awan meninggalkan wanita itu yang masih membersihkan bajunya.
"Kok lama?", tanya Arin kesal
"Ada insiden sedikit tadi", jawab Awan seadanya.
__ADS_1
"Udah ah aku ga mood lagi. Aku mau pulang", Arin bangkit dari duduknya.
Awan mengedar pandangan ke sekitar sebentar sebelum akhirnya menyusul Arin yang sudah duduk di mobil. Ia merasa ada Bulan disini, entahlah mungkin ini cuma perasaan saja.
🍃🍃🍃🍃
"Stevy apa kau sudah siap?", Melanie menghampiri Stevy yang masih berkutat dengan antingnya.
"Udah nih", Stevy berbalik menghadap Melanie. Ia memasukkan sapu tangan navy milik seorang pria yang telah menabrak nya di kedai ice cream. Mungkin saja ia akan bertemu pria itu untuk mengembalikan sapu tangan ini.
Stevy adalah orang yang sama dengan Bulan Febriyanti. Hanya saja itu dulu sebelum insiden memalukan itu terjadi. Ia harus move on, mengubah penampilannya adalah salah satunya. Ia harus lepas dari bayang-bayang Awan. Tadi siang saat ia ke kedai ice cream, tak sengaja seorang pria menabraknya. Suara pria itu persis seperti suara pria yang sama yang telah menyakiti hatinya. Tapi mungkin saja ini hanya perasaanya saja.
Mengenai Melanie, wanita itu adalah teman pertamanya saat di London. Selain itu Melanie adalah adik kelas Rian saat di kampus dulu. Rian membawa Melanie ke rumah mereka bermaksud agar dapat menemani keseharian Stevy.
"Ayo malam ini kita bersenang-senang", Melanie mengangkat tangannya girang.
"Tapi.... gimana kalau Rian tau kita ke club? bisa habis ntar kita besok", Stevy mulai cemas. Pasalnya Rian sangat wanti-wanti pada Stevi yang melarang keras untuk pergi ke dunia malam itu.
"Gapapa Stev, cuma malam ini kok. Lagian kita besok harus kembali ke london kan"
"Huft oke cuma malam ini", Stevi mengangguk setuju. Mereka keluar dari apartemen menuju mobil.
Melanie menyetir menyusuri jalanan Aussie, mereka menuju club yang terbaik di sana. Lagu shape of you milik ed sheeran mengalun memenuhi interior mobil. Saat bagian reff, Melanie dan Stevy mengikuti nyanyian dengan bersahut sahutan seolah-olah mereka sedang konser.
Mobil berhenti di depan lobby club. Stevy dan Melanie keluar dari mobil, Melanie memberikan kunci mobil pada pegawai yang ada disana. Pegawai tersebut memarkir mobil Melanie di parkiran vip. Malam ini Stevy sangat cantik, jika dulu saat menjadi Bulan ia hanya mengenakan sneakers saat jalan-jalan, berbeda dengan yang sekarang Stevy sudah mulai terbiasa mengenakan heels.
Matanya di sambut dengan gemerlap nya lampu-lampu dan detuman musik yang cukup memekakkan telinga. Para pria dan wanita memenuhi lantai dansa, menari mengikuti irama musik.
Dua wanita itu menuju meja bar memesan dua gelas coacktail untuk masing-masing. Pria yang bertugas sebagai bartender malam ini cukup tampan sepertinya umur nya 26 tahun. Melanie terpesona dengan ketampanan dan kelihaian pria itu dalam membuat minuman. Stevy tertawa kecil, ia sudah hafal sifat Melanie yang tak tahan jika ada pria yang tampan. Walau ia cantik, Melanie masih jomblo ia sangat pemilih jika persoalan pria. Banyak yang mendekati wanita itu, namun Melanie hanya memberi harapan saja tanpa kepastian. Baginya hubungan adalah sesuatu yang serius.
"Apa kalian baru pertama kali ke sini?", tebak bartender itu.
"Tebakan mu benar pria tampan. Siapa nama mu?", tanya Melanie mengerlingkan matanya.
"Tidak apa-apa, by the way namaku Brian", Brian memberikan dua gelas coacktail sesuai pesanan mereka.
"Kalian ke Aussie hanya untuk liburan? Berapa lama?", tanya Brian lagi.
"Hanya sehari dan besok kami harus pulang ke London", jelas Stevy.
"Hei tampan, apa kau mau berdansa dengan ku?", ajak Melanie dengan suara sexy.
"Apa kau sedang menggoda ku nona?"
"Aww nona?! bahkan kau sangat sopan selain tampan tentu saja"
"Hahaha maaf nona tapi kau lihat siapa yang akan mengganti ku disini jika aku menemani mu berdansa"
"Bukankah kau dapat memanggil teman mu yang disebelah sana? aku yakin dia dapat mengganti mu disini", Melanie menunjuk bartender lain yang tak jauh dari mereka.
"Aku kurang yakin jika bos ku akan mengizinkan"
"Oh..", Melanie menunduk kecewa ia menyerah. Stevy tertawa melihat kelakuan temannya.
"Sepertinya kau harus mencari mangsa yang lain Mel", Stevy meneguk coacktail hingga tersisa setengah gelas.
"Hei Brian aku mengizinkan kau menemani nona cantik itu berdansa", suara pria ramah itu menyahut dari belakang Stevy dan Melanie.
Melanie menegakkan wajahnya ia tersenyum lebar. Melanie memutar badannya ingin melihat siapa pria baik itu. Yang ia yakin adalah bos Brian.
"Baik bos jika kau mengizinkan", Brian mengangguk sopan.
"Sepertinya kau juga harus mengganti pakaian mu dulu". Brian mengangguk sekali lagi sebelum ia berlalu menuju ruang ganti.
"Apa kau bos dari Brian?", tanya Melanie antusias
__ADS_1
"Bisa dikatakan seperti itu nona", pria itu tersenyum.
"Aww bahkan kau juga sangat sopan seperti Brian. Siapa namamu?"
"Diko Wiratrista"
Diko wiratrista? Apa dia adalah orang yang sama dengan Diko yang ada di kampus nya dulu? Sahabat dari orang brengsek yang telah menipunya. Jika Diko ada di sini apakah orang itu juga ada di sini?. Stevy berbalik ingin melihat apakah itu adalah Diko yang sama?.
"Nona izinkan aku mengajak mu berdansa", Brian mengulur tangan kepada Melanie. Ia telah kembali dengan pakaian yang lebih santai.
Melanie menerima uluran tangan Brian dengan malu-malu "Tentu aku mau pria tampan"
"Tuan Diko aku titip teman ku yang cantik ini"
Diko tersenyum sebelum Melanie dan Brian berlalu meninggalkan Stevy dan Diko. Diko yang dihadapannya ia yakini adalah orang yang sama, namun penampilan nya agak sedikit berubah lebih terkesan rapi dan dewasa. Diko duduk di kursi yang Melanie tempati tadi.
"Apa kau baru tiba di Aussie? aku tak pernah melihatmu masuk ke bar ku ini", Diko memulai percakapan lebih dulu.
"Ya kami baru tiba disini. Maaf jika aku lancang apakah ini bar milikmu?", Stevy harus berhati-hati dalam bicara ia tak mau identitas nya ketahuan. Setidaknya ia harus balas dendam dulu terhadap pria brengsek itu.
"Ya ini milikku. Sebelum nya apa kita boleh berkenalan terlebih dulu? Siapa namamu nona cantik?", Diko menuang wine ke gelas kosong.
"Namaku Stevy kau cukup memanggil ku Stevy tanpa embel nona"
"Oke Stevy. Seperti yang kau dengar tadi namaku Diko Wiratrista, kau cukup memanggil ku Diko saja tanpa embel tuan", Diko mengikuti kata-kata Stevy.
Wanita ini tertawa begitu juga dengan Diko. Ia tak tau jika Diko bisa se-humble ini, namun ia harus tetap di jalan rencananya. Stevy harus memanfaatkan Diko sebaik-baiknya sebagai jalannya untuk balas dendam.
"Harus ku katakan kau sangat cantik malam ini. Jika kau bersedia apakah kau mau ikut dengan ku ke lantai atas"
Ajakan Diko membuat Stevy sedikit menjauhkan tubuhnya. Apakah ini adalah sisi Diko yang tidak diketahui nya? uhh jika iya Stevy harus mengahajarnya.
"Hei berhentilah negative thinking. Aku hanya ingin mengajak mu melihat bintang. Lantai itu hanya orang-orang tertentu saja yang boleh naik. Malam ini aku kecualikan untukmu"
"Kau serius? Jika kau berbohong aku tak akan segan-segan menghajar mu"
"Tahan nona aku berjanji tak akan macam-macam", Diko tersenyum sambil mengulurkan tangan.
Stevy menimang-nimang sebentar, ia memutuskan menerima ajakan Diko. Ia meletakkan tangannya di atas tangan Diko yang kebesaran untuknya. Stevy mengikuti Diko menaiki anak tangga. Setibanya di anak tangga terakhir, seorang pegawai menyambut Boss mereka.
"Tuan kursi anda telah siap"
"Terimakasih. Kau boleh kembali"
Pegawai tersebut mengangguk meninggalkan mereka. Diko mengajak Stevy menuju sofa yang telah disiapkan untuknya. Ketika mereka duduk berhadapan, Diko menjetikkan jarinya ke atas memanggil pelayan. Ia memesan sebotol bir dengan dua gelas kosong. Pelayan tersebut mengangguk mengambil pesanan boss mereka.
"Aku kebawah dulu kau tunggu saja disini", Diko beranjak pergi setelah mendapat anggukan dari Stevy.
Tak lama seorang pelayan datang dengan sebotol beer dan dua gelas kosong. Stevy mulai bosan karna Diko tak kunjung datang. Bahkan sepertinya Melanie masih asik dengan barista tadi. Stevy mendengus. Ia bangkit memutuskan untuk ke toilet.
Ketika ia sedang berjalan ke arah toilet tak sengaja ia menabrak seseorang yang mengakibatkan gelas yang di pegang orang itu jatuh ke lantai.
Pranggg
Pecahan gelas kaca itu membuat orang-orang disana menatapnya. Air yang terdapat di gelas tadi mengenai jas pria itu yang diyakini harga jas tersebut pasti sangat lah mahal. Stevy mengambil sapu tangan navy dari dalam tas nya. Ia membersihkan bekas air yang tumpah itu.
"Maaf aku benar-benar tak sengaja", ucap Stevy sambil mencoba mengelap tumpahan itu.
Stevy tak berani melihat siapa pria yang sudah ditabraknya. Ia yakin pria itu pasti sangat marah sekarang. Kau bodoh Stev! Bagaimana bisa kau menumpahkan air di jas mahal ini?! Hari ini sial banget. Mel kau dimana? please tolong aku!, Stevy merutuki dirinya sendiri dalam hati.
Stevy berjongkok memungut pecahan beling, ketika ia menyentuh salah satu pecahan gelas itu jari telunjuknya mengeluarkan darah.
"Aw..", Stevy meringis. Disaat itu, Diko menghampiri Stevy dengan tergesa-gesa.
"Are you okay Stev?", Diko mulai panik ia memanggil seorang pelayan untuk membersihkan pecahan gelas itu. "Tunggu disini aku akan mengambil kotak obat", lanjut Diko berlalu.
__ADS_1