
Hari ke-6
Bulan mengambil ransel nya, sebenarnya ia masih teringat dengan kejadian semalam. Kejadian dibianglala. Perasaannya campur aduk. Jika saja Awan bukan cowok playboy bisa saja ia akan jatuh cinta.
Bulan memarkirkan mobilnya di parkiran kampus, saat ia hendak ke kelas tiba-tiba ada mobil yang hampir menabraknya. Bulan terjatuh.
"Woi lo berhenti"
Benar saja mobil merah itu berhenti. Bulan berdiri di depan pintu sambil memaki.
"Lo punya mata gak sih? Gausah belagu deh, lo pikir ini jalan nenek moyang lo"
Yang punya mobil tak turun juga.
"Gila nih orang capek gue berkoar kagak keluar juga"
Bulan mengetuk jendela mobil merah itu.
"******* lo, buka sekarang juga"
Mobil itu terbuka, turunlah seorang pria tampan mengenakan kaca mata hitam. Ia membuka kaca matanya.
"Lo makin cantik aja", kalimat pertama yang didengar Bulan membuat ia melamun sebentar.
Su-suara ini.... dia
"Iya lo bener ini gue"
"Gak mungkin lo Rian, bu-bukannya"
"Yeah i'm back babe"
Rian memeluk Bulan, gadis itu sangat senang ia pun membalas pelukan nya.
"Lo hutang penjelasan sama gue", Tunjuk Bulan ke muka Rian.
"Calm down honey, ini hari pertama gue disini mending gue traktir lo makan siang nanti sebagai permintaan maaf karna hampir nabrak lo"
Bulan menimang sebentar ajakan Rian
"Oke deal"
Rian mencium pipi Bulan, Bulan menyikut malu Rian sambil tertawa.
Tanpa disadari mereka berdua, ternyata Kevin dan Awan mengamati mereka dari tadi.
"Lo liat gak tadi? cewek tomboy bisa ketawa, apalagi tuh cowok cium pipi dia", Kevin menunjuk Rian dan Bulan yang sudah pergi.
"Gue liat oon", Awan mengepal tangannya geram.
"Kayak nya lo buruan nembak Bulan deh sebelum disosor tuh anak"
Awan pergi tak menyahut ucapan Kevin, namun Kevin belum sadar.
"Wan, enaknya pulang kampus kita makan bakso yuk, bakso beranak enak juga. Lo ikut kan", tak ada balasan dari Awan
Kevin menoleh, ehh benar saja Awan udah pergi dari tadi. Kevin mengejar Awan yang sudah menjauh
🍃🍃🍃🍃
Pukul 13.40, Cafetaria
"Gimana kelas lo?", Rian menyodorkan steak miliknya yang sudah dipotong untuk Bulan.
"Biasa aja", Bulan memberikan steak miliknya pada Rian.
"Lo mau ikut gue ke London? libur semester ini kita bisa kesana"
"Serius?? Lo gak bohong kan?", tanya Bulan antusias
"Kapan gue pernah bohong sayang. Tapi ada syaratnya"
Bulan memajukan sedikit badannya
"Lo harus berpakaian feminim"
"HAAHH, gu-gue feminim?"
"Hmm", Rian mengangguk
"NO itu bukan gue. Lo gak inget pas kita SMP dulu? Gara-gara rok sempit itu pas gue lompat pagar sekolah, itu rok langsung robek dua. Untung aja gue pakai celana panjang", jelas Bulan penuh penolakan.
"Oke fine kalau lo maunya gitu, London batal"
"Eiittt jangan dongg please yaa ga ada syarat lain?"
"Ada sih kalau lo mau. Lo jadi pacar gue"
Mata Bulan terbelalak "Mending feminim aja deh, ya kali abang jadi pacar. Lo becanda suka kelewatan"
Bulan meneruskan makan dengan sedikit canggung
🍃🍃🍃🍃
Rian dan Bulan kembali ke kampus mereka, karna ada satu lagi mata kuliah yang harus dipenuhi Bulan. Rian membuka pintu untuk Bulan, benar saja kejadian itu menuai sorotan dari mahasiswa lain. Apalagi Rian tak kalah tampan dari pangeran kampus.
__ADS_1
Bulan turun dari mobil, ia mengecup pipi Rian sambil memeluknya. Rian yang mengacak rambut Bulan gemas.
"Kalo lo gini bisa buat gue salting tau gak", Rian terkekeh.
"Gue sih gamasalah toh lo udah kayak abang kandung gue", Bulan mengerucutkan bibirnya.
"Udah gih sana belajar, ntar gue jemput ya"
"Gausah Yan gue kan bawa mobil", terang Bulan
"Bul lo kosong gak ntar malam? gue masih kangen sama lo"
"Kosong gakk yaa..... oke ntar jemput gue jam 8 malam jangan telat", Bulan berlari kecil meninggalkan Rian.
Rian meninggalkan kampus. Sedangkan Awan dimanakah ia berada? ia kini sedang makan dikantin bersama seorang wanita.
"Sayang ntar malam kita jalan yuk. Ke bioskop juga boleh", Angel-wanita baru Awan entah wanita keberapa sekarang karna ia pun tak menghitung lagi.
Awan yang diajak bicara hanya teremenung sambil mengaduk-aduk buburnya.
"Angel sayang kamu pergi dulu ya, makanan kamu biar mas Awan nanti yang bayar", Diko duduk disamping Awan tak ketinggalan Kevin menyusul. Angel pergi dengan kesal meninggalkan mereka bertiga.
"Sudah babang Diko duga, nih anak pasti lagi stress"
"Tenang aja babang Diko, biar akang Kevin yang menyelesaikan"
Kevin mengambil segayung air dingin mulai meramalkan mantra.
"Burung beo burung camar rujak kang daus seblak mbak wati berikanlah Awan kesadaran. Byurrrrr...." Kevin meminum air tersebut lalu menyemburnya ke wajah Awan.
Awan juga tak menggubris, biasanya ia pasti langsung marah apalagi dengan dua kekonyolan burung beo itu.
"Jangan-jangan lo cemburu dengan Bulan?", tanya Kevin.
"Cemburu? Bulan punya pacar?, sahut Diko.
"Telat info lo pantat panci", Kevin mengusap tangannya ke muka Diko.
Yang diajak bicara juga tak kunjung menyahut.
"Yaelah macam ngomong sama rumput yang bergoyang. Gini aja deh untuk melepas penat, kita pergi ke venezia club. Gimana bro?", lanjut Kevin.
Awan bangkit berdiri meninggalkan dua curut
"Idih main kabur aja kuy kejar dia", ajak Diko.
🍃🍃🍃🍃
Bulan memilah pakaiannya karna malam ini ia akan pergi dengan Rian. Kalau bukan karna London ia pun malas memakai pakaian feminim. Sudah satu jam lebih ia memilih namun tidak ada yang cocok karna ia tak punya dress satupun. Ada sebenarnya satu, dress pemberian Awan hari itu.
Lima menit lagi Rian sampai, ia mengambil ponselnya selang beberapa detik sebuah panggilan muncul. Tertulis nama Kutu beras disana, ia memutuskan untuk mengangkatnya.
"Gue jemput sekarang"
Bulan kaget mendengar pernyataan Awan tiba-tiba. Ia punya ide agar bisa menolak Awan.
"Sorry gue lagi ga enak badan"
"Lo sakit? Gue kesana sekarang"
"Gausah gue gak dirumah kok ini lagi dirumah nenek gue. Lagian gue juga udah minum obat"
"Lo sakit apa?"
"I-itu datang bulan kok iya datang bulan"
"Kok lo jawabnya gugup gitu"
"Udah dulu ya gue ngantuk banget ini hoaammm", Bulan mematikan poselnya sepihak, ia menekan tombol off pada ponselnya agar pria itu tak mengganggu malamnya.
Bulan menaiki mobil Rian, kini mereka sampai di Venezia club.
"Venezia club?", tanya Bulan heran
"Gadis kecil, kita gak lama kok disini . Gue ada urusan bentar yuk"
Bulan menggenggam tangan Rian, pasalnya ia tak pernah kesini jangan kan ke club meminum alkohol pun belum pernah.
Bulan dan Rian duduk disalah satu sofa, Rian berbincang dengan kedua temannya. Bulan sangat bosan ia permisi menuju toilet. Saat ingin masuk ke toilet, tangannya ditarik oleh seseorang
"Lo siapa? lepasin gue"
Tangan Bulan dilepas, ia meringis karna tangannya sedikit sakit.
"Udah sembuh mbak?"
Bulan mendongak melihat siapa yang berbicara. Ia terkejut.
"Kaget liat gue disini?", tanya Awan dengan mata menajam.
"Apa masalah lo kalau gue disini? Terserah gue mau sakit mau gak", ketus Bulan
"Lo gabaik ada disini. Ini bukan tempat lo. Dengan siapa lo disini?"
__ADS_1
"Untuk apa gue kasih tau lo? apa untung buat gue?"
"Jadi lo tetap mau disini?"
Bulan mengangguk enteng sebenarnya ia ingin cepat pergi dari sini. Awan menggendong Bulan ala bridal style. Bulan meronta-ronta. Awan membawa ia ke kamar vip.
Awan mengunci kamar tersebut setelah menurunkan Bulan dari gendongannya.
"Lo ma-mau ngapain? gue masih suci. Gue gamau jadi korban lo", Bulan mundur hingga menabrak dinding.
Awan meletakkan tangan kanan nya didinding agar cewek itu gak kabur, sedangkan tangan yang lain melingkarkan pinggang kecil Bulan.
"Lo yang mau tadi kan tetap disini. Dengar Bulan lo cuma milik gue gak ada yang boleh nyentuh lo selain gue", ucap Awan kesal.
Bulan berkaca-kaca tak berkata apa-apa. Ia merutuki perkataan bodohnya barusan.
"SIAPA COWOK YANG SAMA LO TADI DI KAMPUS? JAWAB GUE BULAN!"
"BUKAN URUSAN LO", Bulan membalas teriak.
"Berapa cewek yang udah lo tidurin?", Lanjut Bulan telak
Awan terkejut tak menyangka akan keluar pertanyaan seperti itu dari mulut gadis itu. Ia melepaskan tangannya dari pinggang Bulan.
"Gue gak pernah sekalipun nyentuh tubuh mereka. Gue gak sebajingan itu", ucap Awan pelan
"Sorry Bul gue udah marah sama lo"
Awan berpikir Bulan akan meninggalkannya, tapi ia malah menangkup wajah Awan dengan kedua tangannya.
"Gue gak tau Wan apa lo cowok yang baik atau gak. Gue gak tau apa lo bisa dipercaya atau gak. Gue gak tau lo tulus atau gak. Tapi gue juga gatau kenapa akhir-akhir ini jantung gue berdebar kalau didekat lo"
Awan memeluk Bulan erat, namun Bulan tidak membalas pelukannya.
"I really really love you Bul. Gue gak tau apa maksud lo barusan"
Awan melepaskan pelukannya " Bulan Febriyanti gue sayang sama lo, apa lo mau jadi pacar gue"
"Gue gak tau Wan apa ini keputusan tepat tapi kayaknya gue suka sama lo", Bulan tersenyum manis. Senyuman yang pertama kali dilihat oleh Awan.
Awan memeluk Bulan yang tentunya kini dibalas pula oleh Bulan
"Thanks Bul, lo gak akan nyesal dengan keputusan lo"
Awan menggenggam tangan Bulan, ia duduk di pinggir tempat tidur. Awan manarik lengan Bulan agar duduk di atas paha nya. Bulan ragu, namun Awan mengangguk. Bulan pun setuju.
"Kok kamu pakai dress?"
Kamu?? cepat sekali ia merubah kata gue-elo. Kata 'kamu' itu terlalu mendadak bagi Bulan. Ia sedikit geli dengan sebutan yang tak pernah ditujukan untuk dirinya sebelumnya.
"Ini karna Rian ngajak aku keluar dia bilang aku harus berpakaian feminim", Bulan sengaja tak menyebutkan London karna ia tak mau Awan tau
"Rian?"
"Dia cowok yang kamu liat di kampus, dia abang aku lebih tepatnya karna papa mama aku udah ngangkat dia sebagai anak mereka. Jadilah dia abang angkat aku. Selama ini dia di London belum lama ini dia balik"
"Kamu ke sini?"
"Sama Rian. Aduh aku lupa ngabarin dia"
Bulan hendak bangkit mengambil ponselnya namun dicegah oleh Awan.
"Udah dia pasti ngerti yank"
"Ta-tapi ntar dia nyariin", Bulan sedikit cemas.
"Kalau aku nyariin kamu. Kamu bakal cemas gak?", tanya Awan menggoda Bulan.
"A-apasih gak lucu tau",Bulan memalingkan wajahnya.
"Awan", panggil Bulan
"Aku gak denger"
"Gak denger kok jawab", dengus Bulan
"Coba panggil yang benar"
"Kutu beras?", ledek Bulan
Awan menundukkan wajahnya kesal, Bulan tertawa senang karna ia berhasil membuat Awan kesal. Bulan melingkarkan tangannya di leher Awan.
"Sayang", panggil Bulan bernada lembut
Awan tersenyum sambil membalas "Apa sayang?"
"Kamu masih pacaran sama gadis kamu yang lain?"
"Ohh ternyata itu bentar ya honey"
Awan mengambil ponselnya mengirim pesan yang menyatakan ia putus dengan gadis-gadis tersebut. Kemudian memblokir semua nomor wanita-wanita itu.
"Kamu senang sayang?", Awan mengedipkan matanya.
"Biasa aja tuh", Bulan melihat ke tempat lain.
__ADS_1