
Hari ke-3
Awan mengendarai mobil nya menuju villa luxury, villa ini merupakan hadiah dari papa nya saat ia berumur 17 tahun. Awan sangat jarang tinggal disini, ia lebih sering tinggal di rumah orang tua nya. Di villa ini, Awan sengaja tidak memperkerjakan asisten.
Ia memarkir rapi mobilnya di dalam bagasi. Awan menelpon kedua sahabatnya.
"Vin lo ke villa gue ya. Lo ajak Diko sekalian"
"Tumben lo ngajak ke villa. Kesambet apaan lo?"
"Lo gamau cobain wine screaming eagle 1992?"
"Gila lo cepat amat lo dapatin tuh wine. Bentar gue otw 5 menit lagi gue nyampe"
Awan memutuskan telfonnya. Ia masuk ke dalam villa tersebut sambil berjalan ke arah ruangan bar pribadi. Hari ini Awan belum menyapa Bulan, ia bingung apa lagi taktik yang harus ia keluarkan agar cewek itu luluh padanya.
"Boss mana wine gue?", Kevin menyerobot kursi di samping Awan.
"Lo ambil aja di brankas", Balas Awan sambil mengambil dua gelas.
Kevin menuangkan wine tersebut ke dalam dua gelas kosong tadi. Ia menikmati setiap aroma yang keluar dari botol tersebut.
"Wihhh gak nunggu gue lo", Diko masuk dengan cengiran.
Diko mengambil gelas menuang wine yang sama seperti milik Awan dan Kevin. Ia pun duduk di sebelah Awan.
"Ada kabar dari Arin?", tanya Awan masih fokus dengan wine nya.
"Belum. Gue udah suruh lacak sama bawahan gue tapi nihil", jawab Kevin.
"Udahlah bro santai aja mending lo fokus sama target lo", Diko merangkul Awan.
"Lo udah samperin Bulan? jangan sampai mobil lo kita rampas ntar", cengir Diko.
__ADS_1
"Kalau gue kalah mobil gue ke kalian nih, trus kalau gue menang gue mau kalian serahin villa m&v yang di Australi gimana?", tanya Awan.
"Aih licik lo bray, tapi karna kita laki-laki gue deal. Lo gimana Vin?", Diko melihat Kevin.
"Deal"
🍃🍃🍃🍃
Hari ke-4
Bulan berjalan di koridor fakultas nya, saat hendak masuk ke dalam kelas tangannya serasa ditarik oleh seseorang menggiring nya ke dalam toilet wanita. Bulan menatap sekumpulan orang yang menarik tangannya tersebut satu persatu. Ia tersenyum miring.
"Kenapa lo senyum gitu ke gue?", tanya Maya.
Maya adalah salah satu mantan dari Awan. Ia dan gengnya terkenal dengan gaya yang sombong dan angkuh. Tak heran kenapa Maya begitu, alasannya yaitu karna ia adalah salah satu keluarga yang memberikan dana pada kampus tersebut. Maya juga adalah seorang sekretaris BEM Fakultas Ekonomi Bisnis. Yup satu fakultas dengan Bulan, hanya saja Maya dua tahun lebih tua dari Bulan.
"Memang perlu gue jawab?", balas Bulan.
"Lo kan manusia", jawab Bulan santai.
"Lo buka telinga lo selebar mungkin, jangan keganjenan lo dekatin Awan. Awan itu cuma milik gue", kata Maya sambil mendorong bahu Bulan.
Bulan membersih kan bahu nya kemudian ia berkacak pinggang.
"Gue gak pernah keganjenan, yang ada Awan yang klepek-klepek sama gue. Gimana Awan gak kesensem sama gue? secara body gue lebih sexy dari pada lo. Liat dong itu tangan apa paha gede amat", lagi-lagi Bulan tersenyum miring ia meninggalkan kakak kelas nya tersebut.
"OMG Maya..... bener kata tuh anak sejak kapan lo jadi gendut kayak gini", Kata salah satu geng Maya.
"Arghhhhhh awas tuh anak berani banget dia hina gue", Maya mengacak rambutnya.
Selesai dari kelas tersebut, Bulan memilih untuk pulang ke rumah dari pada ikut nongkrong bareng teman sekelasnya. Ia mencari kunci mobilnya di dalam tas, namun hari ini sungguh sangat sial kunci mobilnya hilang.
Aduhh mana sih nih kunci, perasaan tadi ada deh. Apa tinggal di kelas?, gumam Bulan.
__ADS_1
Bulan berlari menuju kelasnya, tapi ia berpapasan dengan dosen killer. Ia menunduk muka agar dosen itu tak mengenalinya.
"Bulan"
Duhh lengkap sudah kesialan hari ini. Bulan menatap dosen killer itu dengan senyum yang dipaksakan.
"I--iya p-pak", jawab Bulan terbata
"Bentar lagi kan ada penerimaan mahasiswa baru. Nah saya menunjuk kamu sebagai perwakilan mahasiswa semester 3, tapi kamu harus cari pasangan dan gak boleh cewek."
"Hah?? Saya pak?", tanya Bulan bingung
"Hahh hooh haahh biasa aja kali. Cuma kasih kata sambutan aja kok. Kalau kamu gak nemuin pasangan kamu nilai mata kuliah kamu saya kasih E"
Bulan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Sa--saya usahakan pak", cengir Bulan.
"Bagus kalau begitu saya permisi"
Bencana....bencana, siang bolong gini gimana cari pasangan. Sama kucing aja boleh gak sih
"Bul"
Bulan membalikkan badannya, ia menjawab dengan malas.
"Mau apa lo kutu beras?"
"Nih kunci mobil lo", Awan melempar kunci mobil pada Bulan.
"Lain kali jangan ceroboh untung gue yang nemuin kalau orang lain paling udah hilang tuh mobil. Gue cabut", Awan berbalik sambil melambai tangan.
"Wan lo mau gak sama gue?", tanya Bulan sedikit berteriak. Awan membalikkan badannya dengan ekspresi sedikit terkejut.
__ADS_1