Pangeran kampus vs cewek tomboy

Pangeran kampus vs cewek tomboy
Bagian 7


__ADS_3

Awan melajukan mobilnya ke wahana permainan, ini akan menjadi tempat kencan yang sempurna. Sesekali ia melirik Bulan, dari tadi cewek itu tidak berbicara satu kata pun. Awan memarkirkan mobilnya, ia membeli dua tiket.


"Lo mau naik apa?"


Wajah Bulan yang sangat senang menunjuk roller coster.


"Kita naik itu dulu", Bulan menarik tangan Awan. Mereka duduk di kursi paling depan.


Sepanjang perjalanan roller coster, Bulan berteriak girang bagai anak kecil. Sedangkan Awan hanya tersenyum tipis melihat Bulan yang begitu bahagia.


"Gue mau naik kora-kora"


Bulan berlari kecil mendahului Awan, pria itu mengikuti saja. Sama seperti saat naik roller coster, pada wahana ini pun Bulan tak kalah berteriak.


"Udah puas mainnya?", tanya Awan.


"Sekali lagi ya! pleasee", Bulan memohon. Awan hanya pasrah mengangguk.


"Kita main itu", Bulan menunjuk ke arah rumah hantu.


"Gausah main yang begituan, ntar lo ngompol", ledek Awan


"Apasih lo kutu beras yang ada juga lo yang ngompol", Bulan berkacak pinggang.


"Let's go", Bulan menarik tangan Awan dengan semangat.


Saat mereka berada di dalam, Awan mendorong Bulan maju kedepan untuk memimpin. Bulan berbalik menengok Awan.


"Lo takut ya....", Bulan membalas ledekan Awan sebelumnya.


"Enak aja lo. Gue pria sejati..... ini mah kecil buat gue", Awan bertingkah sombong.


"Yaudah jadi ngapain lo sembunyi dibelakang gue?", tanya Bulan.


"Gue gak sembunyi, gue cuma mau melindungi lo"


"Alah ngeles aja lo kutu"


Bulan berjalan memimpin, datanglah suster ngesot ke arah mereka diikuti dengan segerombolan zombie.


"Gue nyerah deh, gue keluar ya", Awan berbalik namun tangannya di cekal Bulan.

__ADS_1


Bulan meregangkan pergelangan jari-jarinya "Lo liat aksi gue"


Bulan menonjok perut salah satu zombie membuat zombie yang lain ikut terpental ke belakang


"Lo superhero Bul?", Awan melongo


"Gila satu tonjokan bisa gitu", lanjutnya.


"Lo liat aksi gue yang selanjutnya",Bulan percaya diri.


Bulan mengambil tangan suster ngesot mematahkan jari-jarinya. Suara jari-jari suster itu membuat telinga ngilu.


Bulan menarik tangan Awan mencari jalan keluar dari rumah hantu. Kini mereka berada di ruang mirip kamar rumah sakit. Terlihat hantu-hantu disana memegang pisau, gunting dan benda tajam lainnya, tentu itu hanyalah mainan untuk menaku-nakuti.


Bulan berjalan mendahului Awan, kini jarak mereka hanya beberapa meter saja. Saat Awan ingin mengikuti langkah Bulan, tiba-tiba kepala tengkorak menggantung tepat di depan wajah Awan.


"Aaaaaaaaaaaa", wajah Awan pucat pasi membuat ia pingsan disitu juga.


Bulan berbalik, ia menepuk dahinya


"Kutu beras pake acara pingsan segala, muka ganteng tapi takut hantu"


Bulan berbalik melihat hantu diruangan itu, ia menghajar mereka sampai babak belur. Kemudian ia menepuk muka Awan agar pria itu sadar.


Mendengar suara Bulan membuat Awan sadar


"Mana.....mana tuh tengkorak", kata Awan cepat-cepat berdiri.


"Mbak kita jangan dikasarin dong", salah satu hantu tersebut melepas topengnya.


"Eh kalian manusia??", tanya Bulan polos pasalnya ia mengira penghuni rumah hantu adalah hantu beneran.


"Ya iyalah, mbak harus tanggung jawab ni kita semua jadi babak belur"


"Maaf ya mas mbak semua, pacar saya gatau saya janji akan ganti rugi", Awan menengahi


Awan menyikut lengan Bulan mengode agar ia harus meminta maaf, Bulan mendengus. "Maaf ya mbak mas", kata Bulan.


Mereka keluar dari rumah hantu, tak ketinggalan wajah badmood Bulan.


"Lo pertama kali masuk ke rumah hantu?", tanya Awan iseng.

__ADS_1


Bulan mengangguk "Soalnya gue gak pernah di izinin masuk kesana sama orang tua gue. Jadinya gue gak tau hantunya manusia"


"Udah puas mainnya?", tanya Awan


"Ga tau", jawab Bulan ketus


"Duhh badmood lagi nih anak", batin Awan.


Awan menarik tangan Bulan ke arah bianglala. Mereka naik dan duduk bersebrangan. Bianglala berputar, Bulan memandang pemandangan kota dari sana. Saat bianglala mereka berada di puncak, tiba-tiba bianglala nya berhenti.


"Eh kenapa ni", suara Bulan panik


"Gapapa Bul, cuma salah teknis aja", Awan menenangkan


"Gimana kalau kita gak turun-turun"


"Ada gue. Gue akan selalu ada disamping lo"


Bulan menatap Awan, tak disadari senyum gadis itu sedikit tertarik. Entah kenapa saat Awan berkata seperti itu, ia merasa sedikit tenang.


"Gimana perasaan lo sekarang?", tanya Awan


Pertanyaan Awan membuat gadis itu tersadar dari lamunannya, ia melihat ke arah lain.


"Lumayan"


Awan menarik tangan gadis itu hingga membuat tubuh Bulan menabrak tubuh Awan. Kini jarak mereka hanya tinggal satu jengkal. Jantung Bulan berdegup kencang, tak tau apakah Awan juga seperti itu.


"Lo ma-mau ngapain", Bulan gugup


"Lo cantik"


Dua kata dari Awan berhasil membuat Bulan tak bersuara lagi. Seperti magnet yang ada pada Awan, Bulan kali ini tak memberontak. Mereka menatap manik mata satu sama lain. Awan memeluk pinggang ramping Bulan, Awan memiringkan sedikit kepalanya. Ia berniat mencium gadis itu, namun seperti ada petir yang menyambar kepalanya, membuat pria itu tersadar.


"So-sorry", ucap Awan


Bianglala itu kembali berputar, Bulan kembali duduk di tempat semula. Saat bianglala sudah sampai didasar, mereka turun kembali ke mobil. Selama di perjalanan tak ada yang membuka pembicaraan, hanya terselimuti dengan canggung masing-masing.


Mobil Awan berhenti didepan pagar rumah Bulan, gadis itu melepas seatbelt miliknya. Ia menoleh pada Awan.


"Thanks"

__ADS_1


Awan mengangguk. Bulan turun dari mobil, ia masuk ke dalam rumah. Bulan melihat mobil Awan yang sudah berlalu.


__ADS_2