Pangeran kampus vs cewek tomboy

Pangeran kampus vs cewek tomboy
Bagian 12


__ADS_3

H-1


Dosen sedang memberikan materi didepan kelas, biasanya Bulan sangat serius dalam belajar. Tapi berbeda dengan hari ini, ia tak terlalu memperdulikan. Bulan melamun memikirkan sesuatu. Sesekali ia mengecek ponselnya berharap pria itu memberikan kabar.


drrrttt


Getaran kecil dari ponselnya mengganggu lamunan. Ia tersenyum kecil, Bulan membaca nama yang terpampang disana. Nama itu adalah Rian. Senyum tadi berubah menjadi kecut. Bulan membaca chat tersebut.


"Bul gak lama lagi lo kan ujian semester, gimana setelah itu kita urus keberangkatan lo?"


Oh ya dia baru ingat, bagaimana ia bisa lupa. London, tempat yang ingin sekali ia kunjungi.


"Ntar lah bang biar gue pikirin dulu", balasnya.


Ia memasukkan kembali ponsel ke dalam tasnya. Beberapa menit kemudian, kelas pun selesai. Bulan mengambil tas tak lupa jaket nya. Saat ia hendak ke kantin, ia melihat tiga pemuda yang tak asing. Ia hanya melihat dari jauh keadaan Awan disana. Tampaknya Awan sudah lebih mendingan dari sebelumnya, Bulan tak sadar ada senyum kecil yang menghiasi wajahnya.


Diko menyadari keberadaan Bulan dari jauh, pikirannya mulai jahil. Ia tersenyum licik, senyum Diko membuat Awan dan Kevin geleng-geleng kepala. Karna mereka berdua sudah tau, ketika Diko tersenyum licik maka akan ada hal buruk yang terjadi.


Diko berdiri berjalan ke arah Bulan. Bulan yang tiba-tiba tersadar karna tangannya di tarik paksa Diko menuju meja mereka. Diko menghempaskan tubuh Bulan dengan kuat, sehingga Bulan terduduk di pangkuan Awan. Mereka sama-sama kaget tak terkecuali dengan penghuni kantin yang terheran-heran. Beda dengan Diko yang hanya cengir.


Bulan berdiri memperbaiki posisinya, ia menunduk malu. "Ma-maaf", setelah mengatakan satu kata itu Bulan pergi dari sana. Beda dengan Awan ia hanya mengamati kepergian Bulan. Tanpa mencegah gadis itu.


Bulan berjalan pelan menuju kelasnya, ia mulai berpikir kemana hubungan nya dengan Awan akan dibawa. Ia mulai jengah, mungkin saja Awan sudah ingin meninggalkannya.


"Bul"


Bulan menoleh kebelakang untuk melihat siapa orang yang sudah memanggilnya.


"Hai Vin", Bulan tersenyum ia tak ingin menyembunyikan luka dihatinya. Apa Kevin membuntutinya?


"Are you okay?"


"Yeah, im okay"


"Gue rasa lo gak baik-baik aja. Walaupun lo gak cerita, tapi apa ini semua menyangkut Awan?"


Bulan terdiam sejenak, benar kata Kevin ini semua salah sahabatnya.


"Gue balik duluan ya"


Saat Bulan berbalik, tangannya ditahan Kevin. Menyiratkan tanda tanya di kening Bulan.


"Gue akan bawa lo ke tempat yang damai untuk membantu lo melupakan kesedihan itu"


"Hahh??"


Perkataan Kevin membuat Bulan makin bingung. Tapi benar dia butuh tempat yang damai. Kevin menaikkan satu alisnya kemudian di jawab anggukan kecil Bulan.


Kevin membuka pintu mobil untuk Bulan, diikuti Kevin menuju kursi mengemudi. Mobil lamborghini veneno metalic blue milik Kevin melesat meninggalkan gerbang kampus.


🍃🍃🍃🍃


Bulan memandang pemandangan yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Danau yang begitu jernih, ada beberapa kursi taman, pohon yang rindang, udara yang begitu bersih jauh dari polusi. Mengapa ia tak pernah tau tempat ini sebelumnya? Ah andai ia tau sebelumnya, ia pasti akan lebih dulu kemari. Namun ada satu yang janggal, kenapa tempat ini sangat sepi apabila dilihat-lihat ada ada dia orang manusia yaitu hanya dia dan kevin.


Bulan memilih duduk di atas rumput menatap danau yang begitu lias. diikuti Kevin disebelahnya.


"Gimana pendapat lo?"

__ADS_1


"Gue seneng banget, tempat ini akan jadi favorit gue. Thanks Vin", Bulan menoleh ke arah Kevin ia tersenyum tulus dengan manis bahkan sangat manis membuat Kevin salah tingkah.


"Emm yeah ten-tentu ini akan jadi favorit lo", Kevin menundukkan pandangan.


Sumpah nih cewek walaupun tomboy gaya cuma pakai kaos dan jeans kalau senyum manis nya parah. Sayang lo cuma jadi bahan taruhan kita.


Keduanya terdiam mereka hanyut dalam suasana tempat tersebut. Bulan bangun mendekati danau ia memainkan air dengan jarinya.


"Lo mau berenang?", tanya Kevin sambil berdiri.


"Gue suka banget berenang, sebenarnya kalau gue liat air bawaanya pengen berenang"


"Yaudah lompat aja"


"Gila lo gue mana bawa baju ganti"


"Yaudah bentar"


"Lo mau kemana?"


Kevin berjalan ke arah mobilnya, ia mengambil ponsel menghubungi bawahannya.


"Tolong kamu bawa satu set pakaian renang wanita lengkap dengan satu set pakaian ganti. Pakaian ganti nya kaos, jeans, sweater, dan satu sneakers"


"Baik tuan muda. Kemana saya antar tuan muda?"


"Danau pribadi gue"


"Ya tentu Tuan muda"


Kevin meletakkan ponselnya di dasboard mobil. Ia kembali ke arah dimana Bulan berada. Dia sengaja tak memberi tahu Bulan bahwa danau ini miliknya. Ia tak ingin ada rasa tak enak hati dari gadis itu jika saat Bulan berkunjung kapanpun yang dia inginkan.


Tak butuh waktu lama, bawahan Kevin membawa paperbag berisikan baju renang dan baju ganti. Kevin melambaikan dua jarinya pada bawahan tersebut mengisyaratkan untuk meninggalkan tempat itu.


"Nih buat lo"


Bulan mengambil paperbag dari tangan Kevin.


"Apaan nih?"


"Buka aja"


Bulan menatap Kevin dengan alis bertaut.


"Hahaha tenang aja gue gak ada niat aneh-aneh"


Bulan membuka paperbag tersebut yang ternyata berisi pakaian renang beserta pakaian ganti. Pakaian renang tersebut membuat Bulan bergidik ngeri pasalnya pakaian tersebut sangat terbuka. Ia menyerahkan kembali paperbag pada Kevin.


"Gue gajadi berenang"


"Why? baju nya kan udah ada"


"Baju renang nya terlalu terbuka", Bulan memelankan suaranya. Membuat Kevin tergelak


"Memang pakaian renang gitu kan? lo aneh banget"


"Y-ya biar gue aneh masalah buat lo?!"

__ADS_1


"Keluar deh jutek nya", Kevin geleng-geleng.


🍃🍃🍃🍃


Mobil Kevin berdiri di depan pagar Bulan. Kevin menatap Bulan dengan seksama. Merasa di perhatikan Bulan bertanya


"Ada yang aneh sama gue?", alih-alih menjawab pertanyaan Bulan, Kevin justru balik nanya.


"Bul gimana hubungan lo sama Awan?"


"Luntang lantung ga jelas, pusing gue"


"Lo masih cinta sama dia?"


Bulan terdiam dia bingung mau ngejawab. Kevin yang seolah mengerti mengganti pertanyaannya.


"Lo nyaman sama Awan?"


"Gu-gue.....", sebelum Bulan melanjutkan Kevin menyela


"Lebih baik lo hapus perasaan itu jika masih ada. Lo cewek baik dan seharusnya lo mendapatkan pria yang baik pula"


"Maksud lo Awan gak baik?"


"Udah malam nih mending lo tidur ntar orang tua lo khawatir anak gadisnya belum pulang", Kevin tersenyum ia mengalihkan pembicaraan. Biarlah Bulan hanya tau sedikit saja, gadis itu tak perlu tau lebih banyak hanya akan membuat hatinya tambah terluka.


"Yaudah kalau lo gak mau jawab, tapi ada satu hal yang mau gue tanyakan"


"Apa itu?"


"Apa ada sesuatu yang terjadi dibalik Awan yang tiba-tiba ngedekatin gue?"


Kevin terkejut ia pikir gadis itu akan menanyakan perasaan Awan atau semacamnya. Gadis ini membuat Kevin sedikit kagum dengan kepekaannya. Namun Kevin menjawab setenang mungkin agar Bulan tak bertanya lagi.


"Gak ada terjadi apapun, Awan murni ngedekatin lo"


Bulan ragu dengan jawaban Kevin namun ia mengangguk, mungkin saja pria ini tidak berbohong. Kevin merasa sedikit bersalah karna sudah membohongi gadis baik itu.


"Vin gue mau lo kasih ini ke Awan, mungkin gue gak akan pernah ketemu dia lagi", Bulan mengambil secarik kertas yang telah dibungkus rapi dari dalam tas nya.


"Lo mau pergi?", tanya Kevin sambil menerima kertas tersebut.


"Iya Vin rencana nya gitu. Thanks ya udah hibur gue, gue pamit"


Setelah mendapat anggukan dari Kevin, Bulan pun turun dari mobil.


"Dari mana beib?", tanya Rian diambang pintu menunggu adiknya pulang.


"Kepo benget lu", Bulan menjulur lidah mengejek.


"Gimana keputusan lo?", Rian mengingatkan keberangkatan London.


"Gue mau ke sana tapi bukan untuk liburan, tapi untuk selamanya"


"Lo..... seriusan?", Rian melongo tak percaya akan keputusan Bulan mendadak


"Gue gak pernah gak serius bang", Bulan meninggalkan Rian yang masih melongo di depan pintu.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak💞


__ADS_2