
"Wan lo mau gak sama gue?", tanya Bulan sedikit berteriak. Awan membalikkan badannya dengan ekspresi sedikit terkejut.
"Lo sakit?", Awan meletakkan telapak tangannya pada leher Bulan.
"A--apaan sih lo", Bulan menepis tangan Awan.
"Lo mau jadian sama gue?", tanya Awan.
"Gue?? Mau jadian sama lo?? mending gue sama kucing"
"So?"
"Maksud gue, gue mau lo jadi pasangan gue pas acara penyambutan mahasiswa baru nanti sebagai perwakilan mahasiswa semester 3", terang Bulan.
"Acara nya kapan?"
"Besok"
Awan manggut-manggut. "Kalau gue nolak?"
Kalau bukan lo gue gak tau mau minta tolong ke siapa lagi. Kalau bukan karna diancam sama dosen killer itu juga gue ogah sama lo, batin Bulan
"Ya... kalau lo nolak lo bakal rugi",jawab Bulan dengan sedikit angkuh.
"Rugi??"
"Lo kan suka tebar pesona ke banyak cewek. Ya.. sekalian aja di acara besok supaya lo lebih terkenal".
Awan mendengus sedikit kesal karna bukan itu jawaban yang ingin dia dengar.
"Gue mau jadi pasangan lo, tapi ada syarat nya"
Bulan mengangkat dagu nya
"Besok dari pagi sampai malam lo milik gue", tegas Awan.
"LO GILA??"
"Semua tergantung lo mau atau nggak"
Setelah mengatakan hal itu, kali ini Awan pergi meninggalkan Bulan di koridor kampus. Tanpa mendengar langsung jawaban dari Bulan, Awan sudah tau apa jawabannya.
🍃🍃🍃🍃
Hari ke-5
Jam menunjukkan pukul 07.00, Bulan lupa bahwa acara nya dua jam lagi. Dia buru-buru bersiap-siap. Bulan memakai kaos cream, cardigan coklat dan celana jeans tak lupa sneakers kesayangannya. Ia tau ini adalah hari penting setidaknya ia harus berdandan feminim, hanya saja ia tak terbiasa dengan penampilan tersebut.
Bulan mengambil hp nya mencari nama Awan. Ia hendak menelponnya namun ia gengsi walaupun sejujurnya dia membutuhkan pria iti hari ini. Bodo amat lah yang penting nilai nya gak terancam.
Bulan menelpon Awan, dan beruntungnya cowok itu mengangkat.
"Sayang? kamu udah siap?"
"Halu lo. Buruan lo kemari ntar telat", balas Bulan kesal.
__ADS_1
"Kok ketus gitu yank. Coba minta baik-baik"
"Sumpah, kalau bukan karna acara ini gue gak sudi sama lo. Gausah menye-menye, buruan lo jemput"
"Kamu belum jawab pertanyaan aku kemarin"
Bulan tau ini hanya akal-akalan Awan, sejak kapan si kutu beras ngomongnya pakai aku-kamu. Bulan menghela napas nya sambil berkata.
"Iya gue mau seharian ini sama lo"
"Good girl. Aku udah didepan rumah kamu, buruan gih..."
Bulan memutuskan telfonnya sepihak. Dia mengambil tas sambil menggeram marah. Bulan masuk ke mobil Awan.
"Jutek amat kayak dinosaurus" , ledek Awan
"Lo bisa diam gak? kalau gak gue tonjok nih", Bulan dengan ekspresi sangarnya.
Awan tertawa kecil, ia melajukan mobilnya namun bukannya le kampus ia malah memarkirkan mobilnya dibutik.
"Jangan banyak nanya, buruan turun ntar telat ke kampusnya", kata Awan dengan nada datar.
Bulan mengikuti Awan dari belakang. Butik tersebut sangatlah luas dan mewah. Salah seorang pekerja mengambil beberapa dress yang pas untuk Bulan. Bulan digiring ke ruangan ganti baju.
Setelah 7 menit mencoba beberapa pakaian, akhirnya Bulan keluar dari ruangan menggunakan dress peach lengkap dengan heels warna senada. Rambutnya rapi telah dicepol dan diberi sedikit riasan make up.
"Aneh ya?? Gue ganti ya, gue gak biasa pake beginian", kata Bulan
Awan mengambil kalung liontin dari salah satu patung disana, ia menyematkan kalung tersebut di leher putih Bulan.
Jantung Bulan tak dapat diajak kompromi. Ia menyentuh liontin yang telah tersemat di lehernya, Bulan menyunggingkan senyum tipisnya. Melihat Bulan yang sepertinya senang mendapatkan liontin itu, Awan mengelus rambut gadis itu. Tangannya meraih tangan Bulan menggenggam sempurna. Ia membawa Bulan kembali kedalam mobil.
🍃🍃🍃🍃
Bulan dan Awan menaiki panggung. Saat Awan hendak berbicara, terdengar teriakan histeris dari mahasiswa baru.
"OMG SIAPA TUH COWOKKK??? KYAAA"
"BANG MAU DONG JADI MIKROFONNYA BIAR DIPEGANG TERUS 😆"
"BANG UDAH PUNYA PACAR BELUM???😉*"
Namun ekpresi Awan tampak santai saja, berbeda dengan Bulan yang belum pernah sama sekali berbicara di khalayak ramai, Bulan meremas-remas tangannya gugup. Awan melirik ke arah Bulan yang menyadari betapa cemas gadis itu, ia pun menggenggam tangan Bulan. Bulan yang awalnya kaget tapi setelah melihat wajah Awan yang begitu santai, ia pun ikut lumayan tenang.
Setelah keduanya menyampaikan sepatah dua patah kata penyambutan, Awan menarik tangan Bulan ke rooftop kampus. Di rooftop tersebut telah tertata rapi meja dan kursi untuk mereka berdua, suasana nya diatur seperti sedang bercamping lengkap dengan satu tenda. Rooftop ini adalah lokasi pribadi Awan dan kedua temannya, selain itu tidak pernah Awan mengijinkan siapapun masuk kesini. Yak Bulan adalah cewek pertama yang melangkah kan kakinya kesini.
Awan mempersilahkan duduk pada Bulan. Bulan menurut. Didepannya telah tersedia sarapan mengingat dirinya dan Awan belum makan dari tadi.
"Lo cewek pertama yang gue ijinin ke sini"
"Maksud lo selain gue gak pernah ada seorang cewek pun kemari?", tanya Bulan
"Iya karna tempat ini sangat spesial bagi gue. Tempat untuk gue menyendiri, tempat ketika gue lagi banyak beban, lagi sedih. Intinya kalau gue lagi bad mood pasti gue kemari"
Bulan tidak menjawab atau bertanya ia lebih memilih mendengarkan.
__ADS_1
"Cuma ada 3 orang yang menginjakkan kakinya di tempat ini selain gue, yang pertama Kevin kedua, Diko dan ketiga lo. Gue juga gatau kenapa gue ngajak lo kemari, cuma hati gue yang nyuruh ajak lo kemari", lanjut Awan.
"Eh sorry ya Bul, gue jadi bacot kemana-mana. Dimakan deh sarapannya ntar dingin", cengir Awan.
Bulan mengangguk dan menikmati sarapan tersebut.
"Kayaknya lo udah selesai. Ayo ikut gue", Awan melihat piring Bulan yang sudah kosong, ia bangkit dari duduknya berjalan ke mobil nya.
Di perjalanan, Awan melirik Bulan yang tampak tak nyaman.
"Lo kenapa? kebelet?", tanya Awan
"Bu-bukan", Bulan menggeleng
"Lo sakit? kita kerumah sakit sekarang"
"Gue cuma mau ganti baju", jawab Bulan cepat
Awan yang mendengar perkataan Bulan, membuatnya mengerem mobilnya tiba-tiba. Akibatnya dahi Bulan terbentur mengenai dashboard mobil.
"Aishhh", Bulan mengelus dahinya.
"Gue gak siap..... jangan buka disini.... gue masih suci", Awan menutup matanya.
"Gue bukan mau ganti disini"
"Ohhh gue paham"
Awan melajukan mobilnya ke sebuah mall. Ia menelfon seseorang
"Tolong bawakan satu setelan baju kaos, jeans, dan sneakers yang paling bagus ke parkiran vvip", Awan menutup telfonnya.
Tak lama datanglah seorang wanita membawa pesanannya.
"Nggak usah mbak, saya bisa pilih sendiri kok", tolak Bulan.
"Ambil", kata Awan datar
"Ga perlu repot-repot gue bisa beli sendiri kok"
"Kalau gue bilang ambil ya ambil"
"Lo siapa gue berani perintah kayak gitu?", tanya Bulan lantang.
"Calon pacar lo"
"Hahh???", Bulan terperangah bingung
Awan keluar dari mobil mengambil barangnya dan mnyerahkan beberapa lembar uang. Setelah wanita itu pergi, Awan kembali masuk ke mobil.
"Nih barang lo, buruan ganti di toilet"
Bulan mengambil dengan kasar, ia meninggalkan Awan dengan tampang jutek.
"Cerdas banget lo Awan Bagaskara, pasti Bulan senang banget dikasih hadiah", Awan mengelus rambutnya dengan gaya sombong.
__ADS_1