Pangeran kampus vs cewek tomboy

Pangeran kampus vs cewek tomboy
Bagian 15


__ADS_3

Awan menggandeng tangan Bulan erat. Mereka memasuki lobby yang disambut dengan red carpet namun yang aneh adalah tak ada orang disini kecuali mereka berdua. Karena biasanya bar yang sangat mewah ini akan penuh tiap harinya. Melihat bar tersebut sangat sepi Bulan menoleh bertanya pada Awan.


"Kok sepi Wan?"


Awan tak menjawab. Ia menuntun Bulan untuk masuk ke pintu utama dimana pesta diselenggrakan. Tiba-tiba saja lampu padam. Dirasakan gandengan Awan mulai mengendur. Gadis itu memanggil nama Awan.


"Awan kamu masih disini kan?". Tak ada jawaban


"Sumpah ini gak lucu", decak nya kesal.


Bulan hendak memutuskan untuk keluar dari sana saat dilihatnya lampu-lampu itu kembali menyala. Mata nya memandang lurus ke depan. Disana ada Awan memegang gitar bersiap untuk melantunkan sebuah lagu. Bulan berjalan ke tengah, sepanjang perjalanan nya ke tengah jatuhlah balon merah berbentuk hati yang banyak.


Tak ia sangka Awan ternyata romantis. Kejutan demi kejutan tak henti-hentinya datang. Bulan mengeluarkan senyum terbaiknya ia memandang dalam mata pangeran kampus tampan itu.


Awan memetik senar gitar ia bersiap memberikan lagu yang akan menjadi kenangan bagi gadis itu. Alunan lagu you are the reason-calum scott bersenandung lembut.


**There goes my heart beating


'Cause you are the reason


I'm losing my sleep


Please come back now


There goes my mind racing


And you are the reason


That I'm still breathing


I'm hopeless now**


Saat Awan akan menyanyikan bagian reff, teman-teman kampus mereka keluar dari persembunyiannnya bergabung bersama Awan dan Bulan.


I'd climb every mountain


And swim every ocean


Just to be with you


And fix what I've broken


Oh, 'cause I need you to see


That you are the reason


Bulan memandangi teman-teman kampusnya ia tak menyangka kejutan ulang tahunnya kali ini begitu menakjubkan. Seumur hidup ia belum pernah dirayakan begini. Di tatap nya Awan yang masih bernyanyi, semakin hari pemuda itu semakin tampan saja. Bahkan matanya saja sudah berkaca-kaca, ohh betapa cengeng nya Bulan.


**There goes my hands shaking


And you are the reason


My heart keeps bleeding


I need you now, oh


If I could turn back the clock


I'd make sure the light defeated the dark


I'd spend every hour, of every day oh


Keeping you safe


I'd climb every mountain


And swim every ocean


Just to be with you


And fix what I've broken


Oh, 'cause I need you to see


That you are the reason

__ADS_1


I don't wanna fight no more


I don't wanna hide no more (you are)


I don't wanna to cry no more come back, I need you to hold me (that you are the reason)


A little closer now, just a little closer now


Come a little closer, I need you to hold me tonight


I'd climb every mountain


And swim every ocean


Just to be with you


And fix what I've broken


'Cause I need you to see


That you are the reason**


Beberapa titik air mata jatuh dari pelupuk gadis yang malam ini menjadi sorotan. Ia tak menyangka hari ulang tahunnya akan dirayakan seperti ini. Ketika lagu itu selesai di lantunkan, Awan berjalan menuju Bulan dimana tempat gadis itu berdiri. Bulan tak dapat menyembunyikan rasa haru dan bahagia nya, matanya berbinar-binar membalas tatapan Awan.


"Happy birthday sweetheart"


Pria itu mengecup kening Bulan lembut. Gadis itu menutup matanya merasakan kehangatan yang selalu diberikan Awan. Terdengar tepuk tangan saat Awan melepaskan kecupannya.


Teman-teman kampus nya berdatangan memberikan selamat pada Bulan tak terkecuali beberapa mantan Awan yang memang satu angkatan dengan mereka. Tawa bahagia beberapa teman mereka ditujukan pada gadis itu, ada pula yang tersenyum sinis dilontarkan pada Bulan.


Setelah pertunjukkan dari Awan tadi, para tamu undangan dipersilahkan menikmati pesta yang telah disuguhkan makanan dan minuman lezat. Awan menggandeng Bulan untuk bergabung bersama Kevin dan Diko yang telah duduk manis di sebuah meja bundar.


"Lo cantik banget malam ini. By the way happy birthday Bul", ucap Diko setelah Bulan duduk bersama mereka.


"Lo mau minum apa? kalau lo gak bisa minum alkohol disini juga ada jus kok", Kevin menawari takutnya Bulan tak terbiasa minum alkohol


"Gue jus jeruk aja", sahut Bulan


"Gue wine yang biasa", permintaan Awan disambut anggukan Kevin.


"Sesuai perjanjian kita villa m&v jadi milik lo", Kevin menyodorkan map tersebut dihadapan Awan.


"Congrats bro lo memang handal. Taruhan ini lo yang menang", Diko menimpal sambil mengangkat gelas.


Tunggu apa dia bilang tadi? Perjanjian?! Taruhan?! Maksudnya gimana?. Pasti ada yang gak beres. Raut wajah Bulan berubah serius.


"Taruhan apa?", tanya Bulan memandang ketiganya menuntut jawaban.


Ketika Awan hendak menjawab, suara langkah kaki mendekati mereka ber-4. Kaki perempuan. Gadis itu duduk di pangkuan Awan mengalungkan tangannya dileher sang pria. Bulan melotot tak percaya. Bagaimana bisa wanita yang tak tahu malu itu duduk dipangkuan kekasihnya? Bahkan Awan juga tak keberatan?. Bukannya menyingkir dari gadis itu, Awan malah memeluk pinggang gadis itu.


Bulan tak tahan lagi dengan situasi ini ia merasa dibodohkan. Bulan berdiri dari duduknya.


"SIAPA WANITA INI AWAN?"


Bulan berteriak ia kalut, tak biasanya Awan akan seperti ini. Belum lagi soal taruhan tadi, Awan harus menjelaskan semuanya padanya. Sikap Bulan membuat suasana menjadi mencekam. Musik yang tadi beralun menemani pesta sudah berhenti. Seluruh tamu undangan mengalihkan pandangan pada Bulan dan meja mereka.


"Jelaskan sama aku maksud dari taruhan tadi? kamu menang taruhan apa?"


Awan menatap wanita yang duduk dipangkuannya sebentar, kemudian berkata lembut "Sayang kamu berdiri dulu ya, aku ingin menuntaskan semua"


Wanita itu mengangguk mengecup kilat pipi Awan, ia bangkit berdiri disebelah Awan. Awan beranjak dari duduknya menghadap Bulan.


"Taruhan tadi?. Bulan Febriyanti mahasiswa teladan yang selama ini selalu bersikap dingin dan tomboy, lo terlalu naif".


Lo? Bahkan Awan tak menyebut "kamu" lagi padanya. Suara Awan yang beberapa waktu lalu sangat lembut kini berubah menjadi dingin dan sadis. Kemana Awannya yang ia kenal?


"Kalau lo merasa taruhan ini ada hubungannya dengan lo, ya... lo benar. Cinta gue yang selama ini diberikan untuk lo, itu semua bohong. Taruhan ini sudah gue rencanain sejak hari pertama gue nembak lo dikampus. Tapi lo nolak gue. Awan Bagaskara gak mungkin nyerah gitu aja segala cara gue lakukan untuk naklukin hati lo, pada akhirnya lo jatuh hati. Setelah kita jadian, gue harus mutusin lo maksimal seminggu dari hari kita berpacaran. Memang gue terlalu pintar, dan gue nemuin hari yang pas untuk mutusin lo. Iya Bul, hari gue mutusin lo itu tepat hari ini malam ini. Dan lo tau apa imbalan dari taruhan ini?". Awan mengambil map coklat mengangkatnya tinggi-tinggi.


"Villa m&v yang ada di Aussie"


Teman-teman kampus nya terkejut, Villa m&v yang sangat mahal dan mewah itu kini ternyata milik Awan. Bulan dapat mendengar sayup-sayup suara dari mereka menyumpah serapah dirinya.


"Bulan Febriyanti dengan segenap rasa tidak menyesal dan bangga, gue Awan Bagaskara mutusin lo di hari yang bahagia ini. Tepatnya hari bahagia untuk gue"


Air mata yang tak terbendung itu jatuh di pipinya. Kali ini air mata itu bukanlah air mata bahagia seperti beberapa waktu lalu, melainkan air mata sakit hati dan kekecewaan.

__ADS_1


"Satu lagi perkenalkan ini kekasih gue Arin Morgan"


Awan merangkul pinggang Arin. Arin wanita itu mengenakan gaun gold pemberian Awan. Arin tak terkejut dengan penjelasan Awan, karna beberapa hari lalu pria itu telah bercerita.


Lengkap sudah hari ini ia dipermalukan, harga dirinya sudah lenyap. Jika biasanya Bulan akan memukul yang telah menginjak harga dirinya, hari ini semua itu telah sirna. Malam ini dengan hati yang sangat terluka, Bulan mengepalkan tangannya. Ia harus tegar setidaknya menyampaikan kata-kata terakhir ini pada pria brengsek itu. Bulan berjalan mendekat ke arah Awan.


"Tuan Awan Bagaskara yang terhormat. Terimakasih telah mempermainkan perasaan saya. Dan selamat atas hadiah dari taruhan ini", ucap Bulan dengan penuh penekanan.


Bulan keluar dari bar itu tanpa sedikitpun menoleh ke belakang. Ternyata ini perasaan yang sedari tadi muncul di hatinya. Perasaan yang sangat takut akan terjadi. Dirinya tak pernah sehancur ini. Harusnya ia sadar dari awal mengapa pria itu tiba-tiba datang dihidupnya memberikan segala harapan pada nya?. Mengapa dengan mudahnya pria itu menghancurkan kepercayaannya?


Betapa bodohnya ia masuk ke dalam jebakan itu. Bulan tak perduli orang yang berlalu lalang melihatnya menangis. Ia sudah tak tahan lagi. Ini kedua kalinya Awan membuatnya menangis seperti ini.


Ponsel Bulan berdering, ia membaca nama yang tertera disana. Rian.


"......"


"Gue ada di jalan maple jemput gue disini"


"......"


Bulan memutuskan telpon nya. Ia berjongkok menenggelamkan wajahnya. Sudah tak ada harapan. Harusnya ia menaruh curiga sedari awal. Awan yang datang dengan mulut nya yang manis, tak ada keraguan sedikitpun saat itu pada pria itu. Ternyata semua itu omong kosong saja.


Wanita tadi ia seperti melihatnya disuatu tempat. Bulan teringat wanita itu adalah wanita yang ditemui Awan di bandara. Wanita yang sama. Dasar Awan brengsek!!!.


Sebuah mobil berhenti di depannya. Bulan mendongak kepala untuk melihat siapa yang berdiri dihadapannya. Dilihatnya pertama kali sepatu sneakers, pandangannya terus memandang ke atas. Akhirnya abang nya datang. Bulan kembali menenggelamkan wajahnya.


Rian berdecak kesal, ia mengepalkan tangannya hingga urat-urat terlihat. Siapa yang sudah membuat gadis kecil nya berantakan seperti ini? Ia bersumpah dalam hatinya akan membuat orang itu menyesal. Rian menggendong Bulan membawa nya masuk ke dalam mobil. Tangisan gadis itu semakin kencang. Ia tahu ada yang tidak beres hingga Bulan menangis seperti itu. Rian memukul stir mobil, ia menyalakan mobilnya.


Rian menghubungi bawahannya ia akan bertanya seharin ini Bulan kemana saja. Karna kalau ia bertanya langsung pada gadis ini, Bulan tetap bersikukuh tak akan menjawab. Ia mematikan ponselnya ketika informasi yang terakhir yang didapat bahwa gadis ini baru saja keluar dari bar Venezia.


Rian memutar arah menuju bar tersebut. Ia akan menghajar orang yang sudah melenyapkan senyuman gadis kecilnya. Bahkan ia saja tak pernah membuat Bulan menagis sejak kecil. Rian berhenti tepat di lobby.


Bulan melihat Rian yang sudah di selimuti amarah. Emosi Rian kini sudah mencapai ubun-ubun. Ia tak tega membiarkan Bulan terluka seperti ini. Bulan menggeleng lemah sambil terisak.


"Yan jangan please...... kita pulang aja..... hiks"


"Jawab gue Bul siapa si brengsek yang udah buat lo begini?"


Bulan terdiam ia hanya menutup wajah nya dengan ledua telapak tangan. Rian mengusap wajahnya kasar. Ia memukul stir kemudi.


"Gue rasa gue tau siapa orangnya"


Rian membuka pintu mobilnya. Melihat Rian akan masuk kesana, Bulan memegang lengan abangnya. Ia menggeleng lemah. Rian menepis tangan Bulan dengan kasar. Ia harus menghajar orang itu.


Dengan kalap Rian masuk menuju ruang pesta diadakan. Dentuman musik dan lampu warna warni membuat penglihatan nya sedikit terganggu. Rian mengedarkan pandangannya. Sampai penglihatannya jatuh pada meja bundar yang terletak disudut ruangan. Disana ada 3 orang pemuda dan seorang gadis sedang tertawa riang.


Rian berjalan mendekat dengan langkah penuh. Sampai disana, mereka belum menyadari kedatangan Rian. Tanpa basa-basi Rian mencengkram kerah Awan. Ia melayangkan bogeman pertama tepat di pipi pria itu. Kejadian itu membuat seluruh tamu tampak kaget bukan main.


"Heh", Awan mengeluarkan senyum devilnya. Tak ada rasa menyesal ditunjukkan.


Rian kembali melayangkan bogeman tepat di perut Awan yang diyakini itu pasti sangat sakit.


"Itu hadiah buat lo karna udah ngancurin hidup adik gue"


Rian meninggalkan bar tersebut. Ia kembali duduk dikursi kemudi. Di lihatnya Bulan yang masih terisak. Rian mengelus rambut hitam adiknya dengan lembut. Sungguh bodoh ia membiarkan pria itu membawa adiknya kemari. Apalagi hari ini adalah hari paling istimewa bagi Bulan. Ia menyalahkan dirinya sendiri yang tak bisa menjaga Bulan dengan baik. Dia memang tak tahu bagaimana gadis kecil nya bisa seperti ini tapi ia akan mencari tahu itu nanti. Dan akan membalas dendam nya pada Awan.


Rian mengemudikan mobilnya menuju bandara. Ia menatap Bulan yang termenung menatap jendela mobil. Rian menghubungi bawahannya.


"Siapkan pesawat untuk penerbangan malam ini sekarang"


"......."


Rian mematikan ponselnya. Hari ini ia akan membawa Bulan jauh dari negara ini tentu saja dari bayang-bayang pria brengsek itu. Ia berjanji akan menjaga Bulan mulai hari ini tak akan dibiarkan Bulan merasakan kepedihan yang sama.


Rian melepaskan seatbelt miliknya dan Bulan. Rian mengelus rambut Bulan dengan lembut kemudian menggenggam tangannya. Bulan tetap mengalihkan pandangannya. Ia terlalu sakit ia tak pernah menyangka akan dipermalukan dan disakiti seperti ini. Apalagi ia hanya barang taruhan.


"Kita terbang ke london malam ini", ucap Rian sambil menuntun Bulan menuju bandara.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


**Bagaimana menurut kalian bagian dari part ini???


Sebenarnya aku gak tega bulan harus ngalamin kejadian seperti ini. Aku turut sedih. Tega banget sih Awan nyaπŸ₯Ί


Seperti biasa tinggalkan jejak dearπŸ’žπŸ’ž**

__ADS_1


__ADS_2