Pangeran kampus vs cewek tomboy

Pangeran kampus vs cewek tomboy
Bagian 19


__ADS_3

Stevy dan Melanie mendapatkan kursi di sebelah jendela, wanita rambut pirang itu membuka kaca mata hitam menggantungnya di atas kepala. Ia melepas syal abu yang melingkar di lehernya. Ia melirik Melanie yang telah tertidur bahkan sebelum pesawat lepas landas. Wanita itu mungkin terlalu lelah karna semalam bersama Brian-pria bartender yang tampan dan sopan. Stevy membuka tas tangan biru miliknya, ia meraih kotak beludru merah. Di bukanya pelan menampakkan kalung dengan liontin silver, itu adalah hadiah pemberian Awan yang di berikan beberapa jam sebelum pesta terkutuk itu terjadi. Stevy mengangkat kalung silver dengan tangan kanan, ia tersenyum sinis. Ia yakin kini pria itu sedang marah besar akibat ulah yang di lakukan pada jas nya. Stevy memasukkan kembali kalung tersebut ke dalam kotaknya, kemudian menyimpan dengan rapi ke dalam tas. Ia memejam mata mengikuti Melanie yang telah sampai ke alam mimpi. Sebentar lagi pesawat akan lepas landas menuju London. Dan ia sangat yakin pria itu pasti akan mencarinya.


Bagaskara comp


"Sir ada paket untuk anda" Maxim menaruh paket di atas meja kebanggaan Awan.


"Terimakasih", Maxim mengangguk pamit. Pandangan Awan beralih dari laptop menuju kotak warna coklat dengan pita biru. Ia membuka kotak tersebut dengan cepat. Kening nya berkerut, raut wajah nya berubah kesal dan marah. Ia berdiri menghentakkan kedua tangannya di atas meja dengan keras. Awan menelfon Maxim. Tak lama setelah Awan membanting telfon itu dengan kasar, Maxim datang membungkuk memberi hormat. Awan memijit kening yang terasa pusing.


"Pakai jas ini"


"Ba...baik sir", Maxim menurut ia tahu jika ia banyak bertanya sekarang maka karir nya akan terancam. Ini adalah bahaya jika Bos nya sedang marah. Maxim terlihat jijik mengenakan jas yang bau, kotor, dan lengket ini. Ia harus menahan napas nya agar bau itu tak masuk ke dalam hidungnya.


Awan melirik jam tangan mewah nya, Jam menunjukkan pukul 12.00 persis seperti perjanjian mereka. Dua kesalahan yang di buat wanita itu, yang pertama jas ini sudah pasti tidak di cuci dan yang kedua bukan wanita itu sendiri yang mengantarnya. Maxim hendak berbicara namun ia terlalu takut pasalnya kini ia benar-benar sudah tak kuat lagi, ia hampir saja muntah jika saja Awan tak memberi nya perintah untuk keluar dari ruangan ini. Maxim bersyukur masih di berikan udara segar oleh bos nya sehingga ia tak harus lama-lama tersiksa dengan bau jas itu.


Awan berjalan menuju jendela. Ia harus segera memberi pelajaran pada wanita itu. Awan mengepal tangan dengan kuat bersamaan dengan ponsel nya yang berdering. Nama Arin terpampang di sana , Awan mengabaikan panggilan dari wanita itu. Arin menelpon untuk yang kedua, sama saja seperti tadi Awan memutuskan telfonnya. Awan menghubungi Maxim kembali.


"Yes Sir?"


"Jelajahi seluruh Aussie cari wanita yang bernama Stevy"


"Tapi Sir yang namanya Stevy pasti sangatlah banyak"


"Cari yang bertubuh ramping, berkulit putih, bermata biru, dan rambutnya pirang. Saya tidak mau ada pembatahan. Atau gaji kamu saya potong"


"Siap Sir laksanakan!"


Tokk Tokk

__ADS_1


Setelah Awan mempersilahkan masuk, terbuka lah pintu terlihat sosok lelaki tampan bermata hazel. Salah satu sahabatnya. Kevin. Pria itu menuju sofa, ia mengeluarkan botol wine yang sempat di bawanya menuju kemari. Awan berbalik berjalan menuju Ke tempat Kevin yang sedang menuang ke dalan gelas.


"Lo nampak stress. Ada apa?", Awan menerima gelas yang berisi Wine.


"Ada seorang gadis yang semalam membuat gue penasaran. Namanya Stevy. Dia menumpahkan wine ke jas mahal gue. Tapi yang parah nya dia sama sekali gak bertanggung jawab. Sebentar.... lo harus lihat ini...", Awan menelfon Maxim untuk kembali datang memakai jas kotor tadi. Setelah beberapa saat Maxim datang sesuai perintah Awan. Ekspresi Maxim yang menahan muntah sontak membuat Kevin tertawa.


"Dude lo pantas mendapat kan itu. Gue sangat setuju dengan gadis itu", Kevin menyeka air mata akibat tertawa. Awan menyuruh Maxim kembali keluar.


"Jadi apa rencana lo?"


"Gue harus menemukan dia bagaimana pun dia harus di beri hukuman", mata Awan berkilat-kilat amarah.


"Jadi apa dia masih berada di sini?"


"Gue nggak tau. Tapi yang pasti gue telah menyuruh Maxim untuk mencari keberadaan gadis itu"


"Maksud lo?", tanya Awan kebingungan


"Ahli IT terbaik ada di depan lo bro", Kevin memutar bola mata nya malas.


Awan menepuk keningnya. Ia lupa jika sahabatnya nya ini adalah CEO perusahaan IT ternama. Ini semua karna ia sangat fokus ingin mencari gadis itu.


Kevin memakai kaca mata putih miliknya. Kaca mata putih ini selalu ia pakai jika ia sedang berkutat pada pekerjaan. Bukan karna mata nya minus, melainkan karna ini adalah kebiasaan saja. Kevin mengambil laptop milik Awan. Ia mulai mencari data mengenai gadis itu.


"Lo hanya tau nama gadis itu Stevy?"


"Seingat gue dia juga menyinggung nama Melanie"

__ADS_1


"Selain itu?"


Ah kenapa dia lupa, jika sepertinya Diko-sahabatnya yang aneh bin ajaib itu mengenali Stevy. Awan menelpon Diko menyuruh nya untuk menemui Awan di kantornya. Tak butuh waktu satu jam, Diko Wiratrista datang dengan sekantung cemilan. Tak lupa cengiran di wajah tampannya.


"Apa yang lo tau mengenai Stevy?", Diko melihat Awan dengan tatapan aneh. Bagaimana tidak?! baru saja datang bukannya di suruh duduk malahan di todong dengan pertanyaan seperti itu.


Diko duduk di sebelah Kevin, ia membuka cola yang di bawanya, meneguk nya hingga tinggal setengah kaleng. Diko melirik Kevin dan Awan bergantian. Tatapan horor dari mereka membuat bulu kuduk nya merinding.


"Kalian kesurupan? Jangan liatin gue begitu. Ngeri tau gak!. Aneh banget"


"Ceritakan tentang Stevy", ucap Awan tegas


"What?? Kenapa lo tiba-tiba nanyain Stevy?. Semalam kan gue udah bilang kalau dia gak sengaja. Lo mau ngapain dia?! Jangan-jangan lo....."


Awan melempar bantal sofa tepat mengenai wajah Diko yang tak sempat mengelak. Kevin mendesah. Beginilah kalau ketiganya sudah berkumpul.


"Stevy itu wanita tercantik yang pernah gue lihat selain mama gue" Diko menerawang ingatannya.


"Gue baru kenal dia semalam, gue yakin dia cewek baik-baik dan sederhana. Gue gak bicara banyak dengan dia karna insiden lo dengan dia semalam. Tapi yang gue tau, dia baru aja tiba di Aussie" Awan beralih menoleh pada Kevin, mata pria itu berbinar seperti menunjukkan titik terang.


Saat Awan ingin melihat ke layar laptop, Kevin menutup layar nya dengan cepat. Keduanya menatap Kevin kaget sekaligus heran. Awan akan bertanya ketika pintu tiba-tiba terbuka. Arin berjalan dengan muka kesal.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Tinggalkan jejak dearπŸ’ž


Rencananya aku akan mengubah judul novel ini. Kira-kira judul apa yaa yang cocok???

__ADS_1


Kalau ada ide bisa comment ya. Ditunggu lho..


__ADS_2