
Hari-H
Pukul 00.00
Pintu kamar Bulan terbuka perlahan, terlihat Bulan yang tertidur pulas. Cahaya lilin pelan mendekati.
"Happy birthday"
Suara tersebut membuat Bulan terbangun, ia mengambil posisi duduk mengucek matanya. Ia menatap satu persatu orang yang kini berada dikamarnya. Rian mama, dan papa. Papa?
Bulan berdiri memeluk papanya dengan erat. Papanya yang mendapat pelukan secara tiba-tiba hampir terjatuh. Ia membelai lembut putri semata wayangnya. Bulan menitikkan air mata, ini adalah kado terindah dimana papanya yang pergi ke luar kota setelah dua tahun lamanya karna urusan bisnis akhirnya pulang juga.
Bulan melepas pelukannya, ia tersenyum.
"Happy birthday princess", papa mengacak rambut Bulan.
"Lo jangan nangis dong gue jadi ikutan nangis ni", Rian menghapus air mata Bulan
"Yaudah buruan nih tiup lilinnya tapi buat make a wish dulu sayang", mama tersenyum lembut.
Bulan menutup matanya ia mulai berdoa di dalam hati "Gue seneng banget akhirnya papa pulang, semoga keluarga gue sehat selalu dan tetap di beri kebahagiaan untuk gue, mama, papa, rian dan 'dia' "
Bulan membuka matanya ia meniup lilin sambil tersenyum bahagia.
Sedangkan disisi lain, Awan pergi ke salah satu bar yang telah disewa untuk merayakan hari ini, hari yang sebentar lagi akan berkesan untuk Bulan.
Setelah dirasa beberapa dekorasi cukup sempurna, ia menuju sofa bergabung dengan Diko dan Kevin.
"Jadi jam berapa acara nya mau lo mulai?", tanya Diko sambil memainkan ponselnya.
"Ntar malam pukul 22.00"
"Lo yakin dia mau ikut? Secara kalian berdua sedang bertengkar", Diko menanggalkan ponsel di atas meja.
"Gue akan buat dia ikut"
🍃🍃🍃🍃
Bulan memarkir mobil diparkiran kampus, saat ia akan masuk ke kelas seorang mahasiswi menghampirinya.
"Kak Bulan bukan?", tanya gadis itu yang kira kira perawakannya seumur lebih muda darinya.
__ADS_1
"Iya, ada apa ya?"
"Ini kak ada surat untuk kakak"
Bulan mengambil amplop putih tersebut, saat ia hendak mengucapkan terimakasih tiba-tiba saja gadis tadi sudah hilang dari pandangannya. Ia membuka amplop tersebut menemukan secarik kertas berwana biru. Ia memperhatikan bahwa surat tersebut tidak ada nama pengirimnya. Bulan dengan penasaran membaca surat itu.
"Happy birthday my sweetheart, seseorang menunggumu dikantin"
"Hanya ini? Huft apa maksudnya sih?!", gumamnya.
Bulan melirik jam di ponsel, masih ada sekitar 15 menit lagi jadwal nya masuk kelas. Ia memutuskan pergi ke kantin. Sesampainya disana, dilihatnya suasana lumayan ramai seperti hari biasanya. Bulan memperhatikan sekeliling berharap menemukan orang yang telah ingat hari ulang tahunnya.
"Ah paling ini orang iseng, mending gue balik ke kelas"
Bulan meremas surat tersebut namun tak sempat ia buang karna ada yang menegurnya.
"Neng, ini teh dingin buat neng", tawar salah satu pedagang di kantin.
"Tapi maaf buk, saya gak pesen", tolaknya halus.
"Ini tadi ada yang pesenin untuk eneng"
Bulan mengambil gelas tersebut dengan sedikit sungkan. Ibuk tersebut pamit kembali dijawab anggukan kecil dari Bulan.
Bulan mengambil gulungan tersebut, meletakkan gelas di atas meja.
"Hai Bul sekarang lo pergi ke lab kimia gih.., sebelum kelas lo dimulai"
"Jadi lo mau main petak umpet sama gue? Gue ikuti permainan lo"
Bulan berlari menuju ruangan lab kimia, disana tidak ada orang. Ia berjalan ke seluruh rak peralatan. Tak ada yang aneh disana. Ia melihat ke sudut ruangan juga tak ada yang aneh. Bulan mendekati cermin yang tergantung disana, ia memperhatikan penampilannya yang tomboy. Tanpa riasan sedikitpun diwajahnya, hari ini ia memakai kemeja yang lengannya digulung sampai siku, celana jeans, dan sepatu sneaker, tak lupa rambut yang dikuncir.
Ia jadi teringat ketika Awan memberikan dress saat penyambutan mahasiswa baru. Itu adalah pertama kalinya setelah sekian lama ia memakai pakaian feminim. Pria yang akhir akhir ini membuatnya berdebar. Bagaimana pria itu menyukai dirinya yang kucel dan tidak peduli soal penampilan?
Bulan menatap dirinya dengan seksama. Namun ia sadar akan sesuatu, dilihatnya ada kertas dari bayangan cermin. Bulan berbalik, oh.. benar saja ada kertas yang tertempel di langit-langit atap.
Bulan mengambil kursi dan meja, ia menyatukan benda tersebut untuk membantu meraih kertas tersebut. Saat kertas itu sudah di dalam genggamannya, tampak kertas tersebut bersih tak ada tulisan. Bulan duduk ia mulai berpikir. Tidak mungkin kertas ini kosong, kertas ini pasti ada sangkut paut dengan lab kimia.
Bulan menyalakan spiritus dan mendekatkan kertas diatasnya, satu persatu tulisan muncul
"Luas seperti stadion"
__ADS_1
Bulan melirik ponselnya mengecek jam
"****** telat gue", umpatnya kemudian berlari masuk ke dalam kelas.
🍃🍃🍃🍃
Setelah kelas nya selesai, Bulan melanjutkan teka teki dari sosok misterius.
"Luas seperti stadion?!", pikirnya
Ada dua tempat yang luas dikampusnya, yang pertama lapangan dan kedua aula. Jaraknya sekarang lebih dekat ke lapangan. Bulan memutuskan menuju kesana.
10 menit sudah ia berada di lapangan tapi sepertinya tak ada tanda apa pun. Ia bertanya pada salah satu mahasiswa yang lewat.
"Permisi apa kamu lihat kertas seperti ini di sini?"
"Enggak", mahasiswa itu menggeleng.
"Emm makasih ya"
Mahasiswa itu mengangguk kemudian pergi. Berarti hanya tinggal satu tempat yaitu di Aula. Bulan berlari menuju kesana. Ia membuka knop pintu, ruangan tersebut gelap walaupun masih siang. Bulan masih berdiri di muka pintu. Ketika ia akan melangkah masuk, tiba-tiba satu persatu lampu menyala. Namun tak ada orang disana, Bulan berjalan masuk. Satu persatu kelopak mawar merah jatuh dari langit-langit aula. Bulan menengadah takjub melihat hujan kelopak mawar.
Detik kemudian, terdengarlah alunan piano dari sudut aula. Seorang pria dengan gaya nya yang formal menekan tuts tuts piano, Bulan memandangi pria itu dari tempat nya berdiri, ia terlena dengan alunan musik lembut yang dimainkan.
Setelah beberapa menit alunan musik dimainkan, pria itu beranjak dari tempat nya menuju ke tengah aula dimana Bulan berada. Ia berjalan pelan ke arah Bulan yang masih mematung seperti hipnotis. Pria tampan itu tak pernah menunjukkan sisi manis nya selama ini. Rambut nya yang disisir rapi tak lupa senyum manisnya dapat membuat gadis lain tak terkecuali Bulan bertekuk lutut dihadapannya.
Pria itu berdiri tepat dihadapan Bulan, gadis itu tak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia masih terpesona. Pria itu mendekatkan wajahnya ke telinga Bulan berbisik lembut.
"Happy birthday my girl and im sorry"
Pria itu menarik kembali wajahnya beralih menatap wajah Bulan yang sangat gugup. Pria itu adalah Awan, Awannya yang selama ini membuat hatinya beberapa hati terluka. Setelah mendengar ucapan tersebut, muka Bulan seketika memerah seperti kepiting rebus. Awan terkekeh, ia sangat suka melihat wajah Bulan seperti ini.
Awan mengambil sebuah kalung liontin dari dalam saku celananya. Ia mengalungkan kalung tersebut di leher putih Bulan. Kini jarak mereka sangat dekat, Detak jantung Bulan berdegup kencang ia takut kalau-kalau Awan bisa mendengar detak jantungnya yang kuat ini. Setelah selesai, Awan mengecup kening Bulan kemudian ia memeluk gadis itu.
"Aku minta maaf", kata Awan lembut.
"emmm.... A...aku memaafkanmu", jawab Bulan sambil membalas pelukan Awan.
"Apa kamu mau ikut bersama ku nanti malam?"
"Kemana?"
__ADS_1
"Pesta ulang tahun mu"
Jangan lupa like dan comment guys💞💞