Pangeran kampus vs cewek tomboy

Pangeran kampus vs cewek tomboy
Bagian 3


__ADS_3

Setelah mengantar Bulan pulang, Awan melajukan mobilnya ke rumah Diko. Awan membuka pintu kamar Diko. Ia melompat ke kasur king size milik Diko.


Diko yang baru selesai mandi menimpuk Awan dengan handuk.


"Sepi amat nih rumah kayak kuburan"


"Biasalah lo tau sendiri kemana mereka", balas Diko malas sambil memakai kaos dan celana pendek.


Diko adalah anak tunggal, sejak kecil kedua orang tua nya hanya pulang setahun sekali karna urusan bisnis. Tinggal di rumah yang luas ini tanpa seorang pembantu pun sudah biasa bagi Diko Wiratrista. Namun ia sangat bahagia karna bertemu dengan kedua sahabatnya ini sejak mereka duduk di bangku SMP.


"Dik lo telpon kevin gih suruh kesini", kata Awan


"Aelah tu anak paling bentar lagi nyampe"


"Hai mas bro", sapa Kevin dari balik pintu kamar Diko.


"Gimana tuh si tomboy? berhasil lo deketin", timpal Diko.


"Tunggu kabar rumput aja secara ini hari pertama lo Wan, mana mungkin tuh cewek kesemsem", sahut Kevin.


"Sotoy lu pada. Tadi tuh cewek gue cium", Awan tersenyum.


"Gila lo nyosor aja, btw bar yuk udah lama gak kesana", sahut Diko.


"Bambank lo ngikut kita kan", lanjut Diko pada Awan.


"Gue gak deh", kata Awan.


"Lahh kenapa lo gak ikut biasa juga lo yang paling semangat", Kevin merangkul Awan.


Awan berdiri mengambil poselnya.


"Biasa ada urusan", jawab Awan santai.


"Oi curut jangan bilang lo mau ngapel salah satu cewek lo", Kevin memutar bola mata.


"duhhh duhh cayang..... cayang-cayang ku jangan sedih ya", ucap Awan mencium pipi kedua sahabatnya.


" Jijayy gue", Diko dan kevin menimpuk Awan dengan bantal.

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃


Awan masuk ke perkarangan rumah Bulan. Jam sudah menunjukkan pukul 20.30. Ia tak perduli bagaimanapun ia harus mendapat kan hati gadis itu.


Tokk Tokk


"Cari siapa ya?", seorang wanita cantik menyapanya tak lain tak bukan adalah Susan mamanya Bulan.


"Bulan nya ada tante?", tanya Awan sopan.


"Kamu pacar nya Bulan ya? kamu ganteng amat sih. Udah berapa lama sama Bulan?"


"Iya tan saya pacarnya", jawab Awan santai.


"Masuk nak anggap aja rumah sendiri. Bentar ya menantu, mama panggilin Bulan"


Awan masuk duduk di ruang tamu. Sedangkan Susan ia naik kelantai dua dimana kabar anak gadis nya berada.


"Bulan mama senang deh akhirnya kamu bawa calon menantu ke rumah ini"


Bulan yang tadinya sedang rebahan langsung berdiri karna kaget. Menantu? nikah aja belum.


"Mama gatau namanya tapi yang jelas dia cocok kok jadi menantu mama"


Bulan mengintip dari lantai 2. Oh my god ngapain kutu beras kemari ?.


"Ganti baju dulu sana, masa mau ketemu calon suami pakai piyama", Susan terkekeh meningglkan Bulan disana.


Bulan mengambil cardigan hijau nya lanjut dengan memakai celana jeans tak lupa kaos polos putihnya. Ia mengikat rambut asal, kemudian ia turun menemui Awan.


"Ngapain lo kemari?", tanya Bulan dengan wajah galak.


"Gue mau ngajak lo jalan", sahut Awan dengan cool.


"Lo gatau ni udah jam berapa? bertamu ke rumah orang tengah malam gini"


Susan datang dengan membawa segelas minum untuk Awan.


"Udah jangan marah-marah terus, menantu kamu boleh kok ngajak jalan Bulan", Susan tersenyum pada Awan.

__ADS_1


"Apaan sih ma.... belum nikah juga. Lagian nih ya dia gak bakal jadi menantu mama, pacar aja bukan", Bulan berkacak pinggang.


"Udah kamu gak usah dengerin Bulan, bawa aja mantu"


Mendengar Susan lebih membela Awan, Bulan berdecak lidah kesal.


"Kalau gitu saya permisi tante"


Susan mengangguk, ia melambai pada Awan dan bulan sebelum menutup pintu.


🍃🍃🍃🍃


"Ngapain lo tadi pas mama gue bilang 'menantu' lo diam aja, pacar gue aja bukan", Bulan membuka suara.


Awan yang sedang mengemudi sesekali melihat ke arah Bulan.


"Jadi kode nih dari lo?"


"Apasih kutu beras", Bulan tambah kesal. Ia memutuskan untuk menoleh ke arah jendela.


"Lo mau makan apa?", tanya Awan.


"Terserah", jawab Bulan malas.


"Kebiasaan deh kenapa setiap cewek kalau ditanya jawabannya pasti 'terserah'. Beneran dah gue bingung", Awan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Bodo amat", lanjut Bulan.


Awan menepikan mobilnya di minimarket. Ia mengambil payung segera membuka pintu untuk membeli sesuatu disana.


Tak lama kemudian Awan keluar dan kembali masuk ke mobil. Ia membawa sekotak mini ice cream. Awan melajukan mobilnya hingga ia berhenti di taman kota.


Hujan sudah reda, Awan membuka atap mobil nya menampakkan langit malam.


"Nih buat lo", Awan memberikan satu mini ice cream yang ia beli tadi. Sedangkan ia juga mengambil untuk dirinya sendiri.


"Thanks", Bulan mengambil ice cream tersebut.


Tak ada perbincangan antara mereka berdua, selain hanya menikmati ice cream dan angin malam. Setelah menghabiskan ice cream, Awan melajukan mobilnya untuk mengantar Bulan pulang.

__ADS_1


__ADS_2