
Awan duduk di tepi kasur, ia mencari nama Bulan di ig. Ia menscroll memperhatikan foto Bulan satu persatu. Ia menutup matanya sebentar. Memori kenangannya bersama Bulan teringat kembali. Awan mengambil berkas villa m&v yang baru saja ia terima saat di pesta tadi. Diliriknya Arin yang masih tertidur di kasur. Arin yang memaksa Awan untuk menginap di apartemen wanita itu. Mau tak mau Awan meng iya kan.
Ia mengambil kunci mobil di atas meja rias. Tak ada kecupan seperti biasa yang ia lakukan untuk Arin. Awan membuka pintu kemudi sambil memasang seatbelt. Ia menginjak gas mengemudi membelah jalan raya. Awan berkendara dengan kecepatan di atas normal ia tak perduli walaupun ia menyetir ugal-ugalan. Ia menuju ke rumah keluarga besarnya. Malam ini ia akan mendapatkan perusahaan yang berada di Aussie.
Awan memasuki gerbang utama ia membuka pintu mobil lamborghini hitam metalic miliknya. Langkah nya terburu-buru menuju ruang tamu. Disana sudah ada mama papa dan kakeknya.
"Sayang akhirnya kamu pulang juga", mamanya beranjak memeluk anak semata wayangnya dengan haru.
"Bagaimana kuliah kamu? Apakah selama di villa kamu mendapatkan makanan yang cukup?"
"Ma Awan perlu ngomong sama kakek dan papa"
Mamanya mengangguk paham, artinya anaknya sudah mendapatkan villa m&v yang selama ini menjadi syarat untuk Awan dapat memiliki seutuhnya perusahaan yang berada di Aussie.
ππππ
Kevin menuang beer ke dalam gelas, ia mengambil secarik kertas yang di berikan Bulan beberapa hari lalu. Surat yang ditujukan untuk Awan belum diserahkan sampai saat ini. Dia berniat akan memberikan surat ini saat kondisi mulai membaik.
Kevin teringat kejadian beberapa jam lalu, saat Awan mengamui apa yang sebebarnya terjadi diantara dirinya, Diko, Awan, dan Bulan. Bulan yang terkenal sangat cuek itu menitikkan air mata. Ekspresi kecewa yang tak pernah ditujukan sebelumnya. Ia yakin Bulan berbeda dengan gadis yang selalu ditemuinya, hanya saja sangat malang nasib gadis itu. Kevin meminum beer dengan sekali teguk.
Kevin mengambil ponselnya menelfon Awan. Tak butuh waktu lama pangeran kampus itu mengangkat.
"Bro lo nginap di villa gue ya"
"Iya gue otw ke sana"
Kevin meletak kembali ponsel diatas sofa. Ia khawatir jika Bulan depresi, apalagi ini adalah pertama kali gadis itu merasakan dicintai oleh seseorang. Tak lama, terdengar suara mesin mobil dari luar, ya itu pasti Awan.
Awan membawa berkas dan menaruknya di depan Kevin. Kevin menaikkan satu alisnya.
"Itu berkas perusahaan di Aussie?"
Awan mengangguk, ia mengambil gelas kosong sambil menuang beer.
"Tapi gimana bisa? bukannya kakek lo ga bakal kasih gitu aja tuh perusahaan?"
"Buktinya sekarang bisa kan", Awan meneguk beer setengah gelas.
"Pemilik perusahaan itu udah balik nama. Malam ini perusahaan itu resmi milik Awan Bagaskara", Awan menaikkan kedua alisnya.
"Sadis lo.... kalah cepat gue", Kevin meninju bahu Awan pelan sambil terkekeh.
"Arin gimana?"
"Entahlah Vin makin kemari, rasanya perasaan gue hampa. Gue gak ngerti juga, padahal Arin udah balik"
"Lo gak tanya kenapa dia tiba-tiba ngilang?"
"Gue udah nanya katanya ada urusan. Gue aja sebenarnya ragu itu beneran atau bohong"
"Mau gue bantu selidiki?"
"Gausah Vin gue masih percaya sama dia"
Kevin mengangguk, dapat dilihat jika Awan masih mencintai Arin. Namun ia tetap harus menyelidiki kenapa Arin tiba-tiba pergi. Walau Awan melarangnya. Kevin berdiri menepuk bahu Awan.
"Gue tidur duluan, ntar lo tidur di sebelah kamar gue"
__ADS_1
Awan mengangguk. Setelah Kevin meninggalkannya yang masih duduk diruang tamu, barulah Awan membuka ponselnya. Tak ada notif pesan apapun, bahkan dari Bulan. Apa dia sudah kelewatan dengan perkataannya tadi? tidak... tidak, ini adalah yang terbaik untuk Bulan. Awan beranjak naik kelantai dua. Ia menuju balkon kamar, menghirup udara malam.
"Semoga lo bertemu cowok yang lebih baik dari gue"
ππππ
"Sayang kamu dimana?"
Awan menarik selimut sampai menutupi seluruh badannya, sedangkan sebelah tangan lagi menahan ponsel di telinganya.
"Di villa Kevin", jawabnya serak
"Aku lapar.... makan yuk"
"Yank aku ngantuk banget. Kamu makan duluan aja ya"
"Kamu kok gitu sih..... kamu bohong ya? jangan-jangan kamu lagi dirumah cewek tadi malam. Siapa sih.... namanya.. Bul.. bulan kan?"
"Aku sama dia udah selesai. Kamu sendiri tau kan kalau itu semua taruhan, udah ya kamu makan sendiri aja"
"Gamau Awan..... aku ngilang lagi nih"
Awan bangkit dari kasur ia mulai kesal, Awan menuju kamar mandi sebelum mengetik pesan pada gadis itu.
To: Arinπ
From: Awan
Tunggu aku jemput
15 menit kemudian, Awan sampai di apartemen Arin. Raut wajah Arin berubah menjadi kesal. Wanita itu membuka pintu mobil membantingnya dengan kuat.
Awan diam tak menyahut, seketika wajah Bulan muncul dibenaknya. Bulan yang duduk disampingnya dengan kaku dan menutupi rasa gugupnya. Berbeda dengan Arin yang gampang emosian.
"Awan kamu gak mau jalan?"
Awan menoleh ke depan menginjak pedal gas
"Mau kemana?", tanya Awan dingin
"Kita makan dulu yuk. Aku ingin makan pasta"
Awan mengangguk pelan, ia membawa Arin ke restaurant pasta yang sangat terkenal di kota itu. Awan memarkir mobil nya diparkiran, ia membuka seatbelt miliknya tanpa membuka sealtbelt milik Arin. Ia turun dari mobil di ikuti dengan Arin. Gadis itu mengamit lengan Awan dengan manja.Mereka membuka pintu masuk, yang langsung disambut dengan aroma pasta yang sangat lezat.
Mereka memilih meja yang berada di lantai dua, Arin duduk di depan Awan. Setelah pesanan mereka datang, Arin menggenggam tangan Awan erat.
"Aku seneng deh akhirnya bisa ketemu kamu lagi. Dan untungnya cewek genit itu udah pergi dari kehidupan kamu"
"Cewek genit? maksud kamu Bulan? Dia bukan cewek genit seperti yang kamu bicarakan", nada suara Awan tiba-tiba mulai meninggi. Entah kenapa ia merasa tersinggung jika ada yang menjelekkan Bulan.
"Kok kamu gitu? Kamu belain dia? iya?"
"Gak gitu maksud aku. Udah ya kita makan, gaenak diliatin pengunjung lain", Awan mengelus punggung tangan Arin sambil tersenyum.
"Ck", Arin berdecak kesal ia merasa kesal karna Awan sebelumnya gak pernah bicara dengan nada seperti itu sebelumnya. Karna Awan yang selama ini yang dikenalnya, hanya akan bertekuk lutut dan tergila-gila hanya pada nya.
"Aku nginap di villa kamu ya. Kamu tau sendiri kan, aku kesepian disini. Aku cuma punya kamu", ucap Arin dengan nada manjanya.
__ADS_1
"Nanti aku cari maid biar kamu ada teman"
"Ihhh gamau sayang, aku maunya sama kamu"
"Cuma nginap tapi ya.."
"Iya cuma malam ini aja kok", Arin tersenyum kemenangan akhirnya ia dapat tidur di villa Awan.
Gak lama lagi villa itu pasti akan menjadi milikku, Arin membatin.
ππππ
London, pukul 10.00
Rian membuka pintu kamar Bulan dengan membawa segelas susu dan roti bakar. Di lihatnya Bulan masih bergeming di sudut jendela, Bulan memeluk kedua kakinya. Tak ada candaan yang biasanya di celotehkan gadis itu. Setiap hari, ia hanya akan duduk disudut jendela.
Rian mendekati Bulan mengusap lembut rambut hitamnya yang panjang.
"Sayang kamu makan dulu ya. Aku udah bawain susu vanila dan roti bakar kesukaan kamu"
"Yan gue gak selera", Bulan menepis tangan Rian yang berada di rambutnya.
"Bukan gini cara nya Bul. Lo boleh galau, tapi gak berhari-hari. Ini bukan lo yang gue kenal, lo mau si brengsek itu makin mempermalu lo kalau dilihat penampilan lo yang sekarang? lihat diri lo Bul, macam istri yang ditinggal suami tau gak?!"
"pfttt... hahaha apasih lo bang resek banget maksud lo gue janda gitu? enak aja lo. Gue akan buktiin kalau gue udah berubah, gue bukan Bulan yang dulu yang bisa dibodohi giti aja", Bulan meninju pelan bahu Rian ia tertawa kecil.
Rian bersyukur Bulan sudah mulai tersenyum walau hanya sedikit, ia berjanji akan menjaga Bulan hingga gadis kecilnya tak perlu lagi melihat wajah Awan yang sekarang menjadi musuhnya.
"Sekarang lo ikut gue ke salon"
"Mau ngapain?"
"Lo harus ubah penampilan lo kalau mau jauh-jauh dari bayangan bocah ingusan itu. Lo harus jadi Bulan yang baru"
"Ayo kita berangkat!!!"
Bulan mengacungkan kepalan tangannya tinggi-tinggi dengan semangat. Rian tersenyum mengacak-ngacak rambut gadis itu.
Bulan berjalan mendahului Rian, ia masuk lebih dulu kedalam mobil sport milik pria itu.
"Rian.... cepetan", teriaknya dari dalam mobil
Setelah mengunci pintu Rumah, Rian beralih menuju pintu kemudi. Rian menyalakan mobilnya, mengendarai membelah jalanan London. Tak lama kemudian, mereka tiba di salah satu salon yang bernuansa klasik. Rian merengkuh pinggang Bulan berjalan masuk ke sana.
"Tolong buat dia secantik mungkin", pesan Rian pada salah satu pekerja salon.
Bulan duduk di salah satu kursi yang kosong. Petugas salon tersebut mulai mendandani Bulan. Rambut bulan yang tadinya lurus berwarna hitam, kini telah disulap menjadi warna pirang bermodel blonde. Matanya kini telah di beri lensa berwarna biru safir. Tak lupa dibubuhi dengan riasan makeup natural. Bulan beranjak dari kursinya. Ia takjub dengan perubahan yang terjadi pada dirinya. Ternyata ia cantik tak kalah dengan gadis-gadis di luar sana.
Bulan menghampiri Rian yang masih setia dengan ponselnya. "Rian gimana? Gue cantik?"
Rian menyimpan ponsel di saku jaketnya. Ia menatap Bulan gemas, Bulan memang sangat cantik hanya saja gadis itu tak perduli dengan penampilan.
"Very beautiful beib", Rian mengelus pipi Bulan gemas.
"Lo gak risih dengan penampilan yang sekarang?"
"Sedikit sihh... tapi gue udah bertekad gue akan berubah. Gue akan balas dendam sama si cowok brengsek itu"
__ADS_1
"Gitu dong... itu baru adik gue"
Rian mengepal tangan memberikan tos pada Bulan.