
"beb ka... kamu becanda kan"
Awan menatap Lina datar. Lina maju mendekati Awan.
"beb jawab aku beb JAWAB KAMU BOHONG KAN BILANG INI BERCANDA", Lina berteriak matanya berkaca-kaca.
"maksud kamu apa Wan? Apa maksud dari perkataan kamu tadi", Lina memeluk Awan.
Awan mendorong Lina hingga gadis itu tersungkur di lantai kantin.
"gue gak bercanda. Mulai hari ini gue PUTUSIN lo Lina Mirabella dan mulai hari juga gue resmi jadian sama Bulan Febriyanti"
Bulan masih mematung apa lagi yang ada dipikiran cowok gila ini. Lina dibawa pergi dari kantin oleh geng hits.
"gimana yank keren gak gue tadi", Awan mengedip mata pada Bulan.
"yank... yankkk.. kepala lo peyang", Bulan melepas rangkulan Awan.
"oh iya nih hadiah buat lo"
Bugh
Bulan menonjok perut Awan. Beruntung Awan berhasil ditangkap oleh kedua sahabatnya kalau gak pasti udah jatuh ke lantai. Setelah menonjok puas, Bulan meninggalkan mereka.
"gila tuh cewek sadis amat udah ditolongin bukannya terima kasih", ngaduh Awan.
"gue semakin gak yakin lo bisa dapetin hati tuh cewek", kata Diko.
"aelah sotoy lu", sahut Kevin.
🍃🍃🍃🍃
Bulan merapikan buku-bukunya ia berniat pulang ke rumah, toh jadwal kampus nya hari ini cuma ada 1 mata kuliah dan itu sudah selesai sejak satu jam yang lalu. Setelah berberes Bulan keluar dari kelasnya, ternyata disana sudah ada yang menunggunga. Benar saja itu adalah si pangeran kampus.
"Lo cari siapa?", Bulan bertanya pada Awan.
Awan dengan santai nya menjawab, "Gue nyari Bulan ada gak ya?"
"Apa jangan-jangan Bulan gak ada, kan bulan cuma ada nya pas malam hari aja", sambung Awan sambil tersenyum ke arah Bulan.
"Cih... basi", Bulan memutuskan untuk tidak mendengar ocehan cowok itu lebih lanjut.
Awan mengejar Bulan namun ia tidak menyejajarkan langkah nya disamping Bulan melainkan ia hanya mengikuti dari belakang.
"Bul lo abis ini mau kemana?"
"kepo banget lo"
"yaa... kalau lo mau balik biar gue antar"
Bulan menghentikan langkahnya, kemudian berbalik.
__ADS_1
"Gue bisa pulang sendiri"
Awan mengacak rambutnya frustasi. Susah amat sih dapetin nih cewek, coba aja kalau gue deketin cewek lain sehari mah kelar urusan.
🍃🍃🍃🍃🍃
Hari ini Bulan memutuskan berjalan kaki untuk pulang ke rumah. Biasanya ia menggunakan bus, hanya saja hari ini ia ingin sekali berjalan kaki. Sebenarnya jarak tempuh dari kampus ke rumah nya hanya membutuhkan waktu 10 menit jika menaiki kendaraan, tapi tak masalah baginya anggap saja olahraga.
Setelah penolakan ajakan tadi, Bulan menghela nafasnya bersyukur si playboy cap gayung itu tidak mengikutinya lagi.
Tinn Tinn
Bulan tidak menghiraukan paling itu kendaraan lagi klakson kendaraan yang lain.
Tinn Tinn
Sepertinya ada yang salah sama nih mobil. Kok klakson nya seperti ditujukan ke gue.
Bulan berhenti ia melihat ke arah kanan dimana Kendaraan yang mengganggu nya itu berada. Benar saja mobil itu memang seperti sedang mengikutinya.
Bulan seketika takjub melihat mobil dihadapannya. Mobil itu berwarna hitam mengkilap, itu adalah mobil sport lamborghini aventador j yang cuma satu-satunya di dunia. Bulan penasaran siapa pemilik mobil ini yang sudah mengganggu ketenangannya. Ia memutuskan melabrak pemilik tersebut.
"Keluar lo sekarang", Bulan mengetuk kaca mobil tersebut.
"Lo gak bisa denger gue? keluar lo sekarang!"
Pemilik mobil mewah itu turun, ia menghampiri Bulan.
"Oh ternyata itu lo, mau ngapain lo?"
"Gue mau nganter lo balik"
"Ogah. Mending gue balik ama monyet"
"Tawaran gue ini gak datang dua kali. Kalau lo tolak nyesel ntar"
Bulan melanjutkan langkahnya ia tak perduli pada tawaran Awan.
Kalau lo memang nolak pulang sama gue, gue akan buat lo sendiri yang minta diantar, gumam Awan.
Awan melancarkan aksinya, ia memeluk Bulan dari belakang. Cara ini pasti akan membuat cewek itu memberontak.
Bulan yang mendapat pelukan itu agak kaget. Ia paling anti dengan sentuh fisik. Benar saja ia berbalik menonjok perut Awan.
Yes, sesuai dugaan gue, Awan tersenyum dalam hati.
Awan memutuskan untuk tersungkur ke trotoar itu dan pura-pura pingsan.
"Bangun lo gausah pura-pura pingsan segala"
Tak ada respon dari Awan.
__ADS_1
"Bodoh ah... gue tinggal aja ni si kutu beras"
Bulan memutuskan pergi, belum sampai 10 langkah ia berhenti. Ia sebenarnya khawatir takut tuh anak kenapa-napa trus Bulan masuk penjara, apalagi si kutu beras itu anak horang kayah bisa panjang urusan.
Bulan yang masih dengan pikiran nya, ia tak menyadari Awan memperhatikan dari belakang penasaran apa cewek itu balik padanya atau tidak. Melihat gerak Bulan yang seperti ingin berbalik padanya, Awan menutup matanya lagi.
"Oi kutu beras plis bangun, gue gak mau sampai ni urusan panjang", Bulan berjongkok di dekat lengan Awan.
"Kutu beras lo gak mungkin mati kann..... masa cuma gara-gara gue nonjok lo sekali trus lo mati"
Awan yang mendengar itu tertawa dalam hati.
"Duh gawat nih ini anak gak bangun juga"
Bulan semakin panik, apalagi ini hampir sore.
"Awan Bagaskara kalau lo bangun gue mau kok pulang ama lo. Please bangun yaa gue mohonn", Bulan menutup mata berharap cowok itu bangun.
Awan membuka matanya segera membuka pintu mobil untuk Bulan.
"Silakan tuan putri"
"Jadi lo tadi cuma pura-pura! sinting lo", Bulan kesal ia memutuskan untuk pergi.
"Lo lupa apa yang lo bilang tadi? masa lo mau ngingkar perkataan lo"
Bulan berbalik arah ia tak mau melihat ekspresi Awan yang sekarang, cepat-cepat ia masuk ke mobil. Awan melihat tingkah Bulan tersenyum kecil, Ia juga masuk ke mobil.
Awan memasang seatbelt miliknya. Ia melihat Bulan yang masih kesal padanya, Awan mendekat ke Bulan. Jarak mereka sangat dekat hanya tinggal sejengkal. Mereka dapat merasakan nafas masing-masing.
"Lo...... ma...mau ngapain"
Bulan yang sebenarnya risih dengan situasi ini namun juga entah kenapa sedikit nyaman. Ia mengakui kalau pria ini tampan bahkan sangat tampan tak salah ia menjadi pangeran kampus. Ia terkesima dengan ketampanan pria itu, mata nya berwarna biru ruby sangat cocok dengan garis wajahnya.
"ehem gausah gitu juga kali liatinnya". Bulan tersadar dengan lamunannya.
"Gue cuma mau masang seatbelt lo doang kok"
"da- dasar geer lo siapa juga ngeliatin lo", Bulan salah tingkah ia menoleh muka menghadap jendela.
Awan melajukan mobilnya tak lama kemudian ia sampai di sebuah rumah dengan pagar hitam.
"kok lo tau rumah gue? padahal kan gue gak ngasih alamatnya tadi", tanya Bulan heran.
"Gausah lo pikirin gue tau dari mana. Mending lo turun gue punya urusan"
"Gausah lo ngusir juga gue bakal pergi. Najis lama-lama sama lo", Bulan membuka pintu mobil. Belum sempat ia keluar, Awan menarik tangan gadis itu.
Cuppp
Satu kecupan mendarat di pipi Bulan. Membuat pipi gadis itu merona.
__ADS_1
"Nanti gue telfon ya", Awan tersenyum.
"Dasar mesum", Bulan buru-buru meninggalkan Awan berlari masuk ke rumahnya.