Pangeran kampus vs cewek tomboy

Pangeran kampus vs cewek tomboy
Bagian 11


__ADS_3

H-2


Kevin cemas menelpon Awan berkali-kali, namun ponsel nya tidak aktif. Ia menduga pasti ada yang tidak beres. Diko merebut ponsel Kevin, ia ikut menelpon Awan. Sama saja, ponsel Awan juga tak kunjung aktif.


"Mana sih tuh bocah?", decak Kevin


Bulan lewat didepan mereka dengan setumpuk buku. Kevin menghampiri Bulan. Ia mengambil tumpukan buku menyerahkannya pada Diko.


"Bro maksudnya apa ini?", mata Diko menatap Buku yang tertumpuk di tangannya.


Kevin tidak menjawab, ia fokus dengan Bulan yang menampakkan raut bingung di wajah gadis itu. Kevin tidak mau basa basi lagi. Barangkali Bulan tau dimana Awan.


"Bul lo tau dimana Awan?", tanya Kevin tak sabar


"Kok lo nanya sama gue?"


"Lo ini gimana sih? lo kan ceweknya", Kevin menepuk keningnya.


"Bentar deh, nih buku mau dibawa kemana sebenarnya?", potong Diko.


"Ke mobil gue, tapi sini Dik biar gue aja"


Tangan Bulan hendak meraih tumpukan buku, tapi tangannya dicekal Kevin.


"Biar Diko aja yang bawa. Kasih kunci mobil lo ke dia"


Bulan membuka tasnya menyerahkan kunci mobil. Setelah melihat Diko benar-benar meningggalkan mereka, Kevin menarik tangan Bulan ke bangku taman yang tak jauh dari mereka berada.


"Lo kenapa sih sebenarnya?", tanya Bulan semakin heran.


"Apa lo.... udah putus?", tanya Kevin hati-hati.


Bulan seperti mengerti arah pembicaraan ini mulai kesal. Ia bangkit hendak pergi. Lagi-lagi tangannya dicekal Kevin.


"Awan lost kontak"


Bulan terdiam, dia tertawa mengejek.


"ha ha ha, bagaimana mungkin si kutu itu lost kontak?! Alahh palingan dia sama tuh cewek"


"Cewek? maksud lo?"


"Lo tanya aja sama tuh anak", jawab Bulan ketus sambil meninggalkan Kevin.


Kevin menelpon Diko yang dari tadi tidak kunjung kembali.


"Dik, kayaknya gue tau dimana Awan"


"Emang dimana?"


"Lo ikut aja. Gue ke parkiran sekarang"


Mobil Kevin dan Diko masuk ke perkarangan villa luxury. Kevin menuju ruangan bar diikuti Diko disampingnya. Benar saja dugaannya, Awan berada disana duduk membelakangi mereka.


"Wan lo buat kita khawatir aja. Kok lo ga angkat telfon?", Kevin duduk disebelah Awan. Namun tak ada balasan dari Awan.


Di atas meja bar ada beberapa botol bir yang telah kosong, dilihatnya penampilan Awan yang acak-acakan. Diko menepuk bahu Awan.


"Bro udah siang bangun lo"


Sama seperti Kevin, panggilan Diko juga tak direspon. Kevin memegang kening Awan. Kevin melihat Diko.

__ADS_1


"Nih bocah demam beo", kata Kevin


"Bul..... Bulan.... please.... jangan tinggalin", gumam Awan


"Nih anak kayaknya udah mulai suka sama si tomboy", Kevin menggelengkan kepala.


"Lah trus gimana dong. Gue bukan dokter. Eh bentar gue telfon bawahan gue", balas Diko dengan panik. Yang membuat balasan sentil dari Kevin


Pletakk


"Gausah bambank, mending lo bantu gue angkat dia"


Setelah beberapa saat mereka membawa Awan ke kamarnya, Kevin mengambil ponsel Awan. Ia mencari nama Bulan.


"Bul ini gue Kevin"


"Gue gak minat kalau mau bahas masalah itu lagi"


"Awan butuh lo. Dia demam, mending lo ke villa Awan sekarang. Dari tadi dia nyebut nama lo"


🍃🍃🍃🍃


Bulan mematikan ponselnya. Ia duduk di pinggir kasur.


"Awan nyebut nama gue?"


"Itu pasti akal-akalan trio kutu itu. Biar mati aja sekalian tu playboy cap minyak rambut. Ah bukan urusan gue juga"


"Tapi lo kok bisa sakit sih kutu. Aihhh kalau bener iya, gini aja gue pergi cuma untuk lihat keadaanya setelah itu gue pulang. Semata-mata karna kasihan"


Bulan mengambil kuncinya memasuki mobil. Ditengah perjalanan barulah ia ingat, Bulan tidak pernah kerumah Awan. Bodoh nya ia sambil menepuk keningnya. Bulan menepikan mobil. Ia menghubungi nomor Awan, semoga saja Kevin masih disana. Kenapa ia tidak menghubungi nomor Kevin? karena ia tidak memilikinya.


"Bul ini Kevin. Lo dimana?"


"Masih lama lo? Gue sama Diko ada urusan"


"Yaelah Bawel lo, ini juga lagi kesana. Ta....pi ada se..dikit masalah kecil"


"Maksud lo?"


"Gue gak tau dimana villa Awan"


"Bilang dong dari tadi, gue pikir lo tau alamatnya. Yaudah bentar gue kirim"


"Oke, emmm Vin gimana keadaan dia sekarang?"


"Mending lo kemari deh. Udah ya gue tutup"


🍃🍃🍃🍃*


Bulan turun dari mobilnya. Disinilah ia sekarang, villa luxury. Villa yang cukup mewah itu baru pertama kali dilihat Bulan. Bulan nampak ragu untuk masuk. Saat ia hendak mengetuk, kebetulan keluar lah Kevin dan Diko.


"Bul akhirnya lo sampai juga. Masuk aja gue sama Diko ada urusan mungkin agak lama", jelas Kevin.


"Oh ya Bul, kamar Awan di lantai 2 paling ujung", sambung Diko.


Bulan mengangguk, setelah mengatakan hal tersebut pada Bulan, Kevin dan Diko meninggalkannya disana. Bulan masuk dengan hati-hati. Ditatapnya dengan takjub ruang tamu yang luas lengkap dengan gantungan lampu kristal. Villa Awan bagai istana dalam dongeng. Apa dia tinggal bersama orang tua dia disini?, pikir Bulan.


Bulan menaiki anak tangga menuju lantai dua. Ia masuk kedalam kamar yang letaknya paling ujung. Mudah mencari kamar Awan, karena kamar disana hanya tersedia tiga kamar. Bulan mengetuk pintu, tapi tidak ada sahutan dari dalam. Ia pun dengan gugup membuka pintu tersebut. Terlihatlah Awan tengah berbaring di kasur tanpa menggunakan selimut.


Bulan berjalan ke arah Awan, ia memegang dahi Awan.

__ADS_1


"Panas banget", kata Bulan.


Bulan turun ke dapur ia mengambil air hangat berniat ingin mengompres dahi Awan. Ia kembali ke kamar. Bulan mengeluarkan sapu tangan dari saku celana nya. Ia mengompres Awan dengan telaten. Selesai melakukannya, Bulan duduk disebelah Awan.


"Apa lo sakit gara-gara gue?", gumam Bulan.


"Mending gue buatin dia bubur", lanjutnya sambil menuju ke dapur.


Setelah memasak bubur, Bulan menaruhnya tepat diatas meja disamping Awan. Ia bangkit hendak pergi sambil bergumam "Wan gue minta maaf kalau beneran gara-gara gue lo jadi sakit. Gue sayang sama lo, lo cinta pertama gue. Gue pamit dulu, jaga kesehatan lo"


Bulan menatap Awan sebentar dan akhirnya ia pergi dari villa tersebut.


🍃🍃🍃🍃


Pukul 20.00


Awan membuka matanya pelan. Ia merasakan seperti ada sesuatu di dahinya. Awan mengambil benda tersebut, yang ternyata sapu tangan untuk mengompresnya.


"Kamu udah bangun?"


Suara seorang cewek. Cewek? Bulan?, Awan menoleh ke arah sumber suara tersebut. Ia tersenyum tipis, cewek itu Arin.


"Kamu demam bikin aku khawatir dari kemarin tau gak", Arin mengambil semangkuk bubur dari meja.


"Aku udah siapin bubur loh, ini aku buat sendiri. Kamu makan ya..."


Awan mengangguk, ia berusaha mengganti posisi dari tidur menjadi duduk.


"Makasih ya, kamu udah rawat aku. Kamu udah ngompres aku, buatin aku bubur. Thanks ya", Awan tersenyum manis.


"Eh...emm i-iya sama-sama", jawab Arin sedikit gugup.


"Mau aku suapin?", tanya Arin.


"Iya boleh", Awan mengangguk kecil.


Arin menyendoki bubur menyuap suapan pertama untuk Awan begitu pula dengan suapan kedua. Namun saat akan suapan ketiga Awan sudah tak ingin makan lagi.


"Udah cukup Rin, aku udah kenyang"


"Makan lagi ya.... masa udah kenyang sihh"


Awan hanya menggeleng.


"Kevin sama Diko ga kesini?", tanya Awan.


"Gatau, dari tadi aku belum lihat", jawab Arin sambil mengangkat bahunya.


Awan melihat jam ke arah dinding, ia menoleh ke arah Arin.


"Kamu pulang ya.... ini udah malam"


"Aku masih mau disini", jawab Arin cemberut


"Aku udah gapapa kok, kamu pulang ya....", ucap Awan lembut sambil membelai rambut Arin.


"Yaudah kalau gitu, aku pulang ya", jawab Arin sambil meletakkan kembali mangkuk bubur.


Ia bangkit dari kursinya berpindah duduk di kasur disamping Awan. Arin mengecup dahi Awan singkat. Dibalas senyuman oleh Awan.


"Kamu istirahat ya..."

__ADS_1


Awan mengangguk, kemudian Arin pergi. Setelah Arin pergi, Awan mengambil ponselnya membuka galeri mencari foto Bulan.


"Ternyata benar sepertinya gue memang gak mungkin suka sama lo, lo aja gak peduli kalau gue lagi sakit", gumam Awan kemudian ia menghapus foto Bulan digaleri ponselnya.


__ADS_2