
"Nak Rendra, apa bisa ibu bicara sebentar?" pinta seorang perempuan yang merupakan ibu kandung dari Luna.
"Bisa Bu, ada apa?" jawab Rendra sopan.
Perempuan itu menengok ke kamar Luna, berusaha memastikan kalau putri tunggalnya tersebut sudah tertidur nyenyak.
"Luna sudah tidur Bu, dia kecapekan, pulang kuliah langsung kemari. Nyetir motor lagi," ungkap Rendra sambil tertawa.
Ibu tersenyum kemudian duduk di kursi depan menantunya.
"Maafkan kami ya Nak, karena pesan terakhir ayah, kalian berdua harus menikah. Ibu tahu tidak ada cinta diantara kalian. Dan menikah tanpa cinta sangat sulit untuk dijalani."
"Ibu kenapa harus berbicara seperti itu?" Rendra mulai merasa tidak enak mendengarnya, apalagi sang ibu mertua sudah meneteskan air mata.
"Ibu faham betul karakter Luna, mungkin sampai saat ini anak itu belum bisa memposisikan diri menjadi istri yang baik. Dan itu pasti akan membuat Nak Rendra merasa... "
"Ibu sudahlah, jangan terlalu difikirkan! Saya menerima Luna sebagai istri, bukan hanya karena permintaan ayah tapi juga karena saya mencintai Luna Bu." Ibu sedikit terkejut mendengar pengakuan Rendra.
"Saya mencintai Luna sejak gadis itu berlarian di kantor saya demi tanda tangan. Betapa terkejutnya saat tahu bahwa Luna adalah putri ayah. Lalu ayah meminta saya untuk menikah dengan Luna."
"Tapi Luna.. "
"Saya tahu Bu, Luna tidak mencintai saya. Sejak awal gadis itu mengatakan apa yang ada di hatinya. Tidak apa-apa, meskipun bagi Luna pernikahan ini hanya sebuah kompromi. Ibu tenanglah, saya akan selalu menjaga
dan melindungi Luna seperti janji saya terhadap almarhum ayah."
"Ibu, ibu tidak menyangka jika Nak Rendra memiliki hati yang begitu besar. Ternyata ayah benar-benar tidak salah pilih." Sang ibu hanya bisa menatap menantunya dengan perasaan bahagia. Bahagia karena sang putri telah bersama orang yang tepat, orang yang pasti akan membahagiakan putrinya seumur hidup.
*****
Hari ini Luna bangun tidur dengan wajah yang ditekuk-tekuk seperti cucian yang tergeletak selama beberapa hari. Gadis itu merasa jengkel saat sang ibu memaksanya untuk bangun lebih awal.
__ADS_1
"Kamu itu sudah menikah masih saja bangun siang. Malu sama suamimu." Ah, kalimat dari sang ibu yang membuat gadis itu harus memulai hidupnya hari ini dengan mood yang buruk.
"Luna ayo sarapan!" Kalimat perintah dari Rendra membuat moodnya semakin buruk. Laki-laki itu pasti telah menghasut sang ibu dan menceritakan yang tidak-tidak tentangnya.
"Tidak mau," ucap Luna ketus yang membuat Rendra terkejut. "Hei apa salahku?" batin laki-laki malang itu.
"Luna ajak suamimu jalan-jalan ke kebun teh! Biar segar," perintah ibu.
"Minum air putih saja sudah bisa menyegarkan tubuh Bu," jawab Luna sekenanya yang pasti membuat Rendra menahan tawa. Dia tahu benar jika saat ini Luna sedang tidak enak hati. Entah apa alasannya.
"Eh ini anak dibilangin. Dari dulu sampai sekarang kelakuannya masih sama." Ibu sudah mulai mengeluarkan tanduk. Yang berarti perintahnya tidak boleh ditolak.
Luna menghembuskan nafas panjang, sambil berkata "iyaaaa" dengan suara yang diserak-serakkan. Ini artinya dirinya harus menghabiskan waktu lagi bersama Rendra. Sementara Rendra hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala menyaksikan drama ibu dan anak gadis ini.
"Ini kebun milik ayah?" tanya Rendra saat dirinya berjalan melewati kebun teh yang sangat luas bersama Luna.
"Ya," jawab Luna masih dengan nada ketus.
Luna memandang Rendra sejenak, "hitung aja sendiri," jawabnya kemudian berlari meninggalkan suaminya.
Rendra sangat bingung melihat istrinya. "Apa lagi salahku?" pertanyaan yang sedari tadi ada di benak laki-laki ini. Rendra sadarlah, sampai kiamat pun kamu tidak akan menemukan apa kesalahanmu.
"Luna jangan berlari! Bebatuan ini sangat berbahaya," teriak Rendra yang hanya dibalas dengan seringai tajam dari Luna.
"Dasar om-om tua, sejak kecil aku dibesarkan di tempat ini. Aku juara lari di desa ini," gerutu Luna.
"Luna tunggu aku!" seru Rendra lagi yang kini suaranya sudah terdengar kecil. Mungkin laki-laki itu sudah berada jauh di belakang dirinya. Sementara Luna tersenyum puas membayangkan bagaimana suaminya terengah-engah tidak mampu bernafas karena usia tua.
"Hai gadis cantik," tiba-tiba dua orang laki-laki berbadan besar menghadang Luna. Gadis itu sangat terkejut.
"Permisi saya mau lewat," ucap Luna yang merasa sedikit takut. Belum pernah dirinya melihat orang dengan gaya preman di depan wajahnya.
__ADS_1
"Mau lewat kemana? Sini aja temenin Abang. Kita bersenang-senang," kata salah satu dari preman itu sambil tertawa.
"Jangan macam-macam! Permisi, saya mau lewat." Luna memberanikan diri.
"Hei ternyata kamu berani juga." Laki-laki itu mendekati Luna, yang pasti membuat gadis itu semakin merasa ketakutan.
"Tolong! Mas Rendra tolong!" teriak Luna ketakutan.
"Gadis pintar, panggil Rendra, panggil laki-laki itu kemari. Aku akan segera menyelesaikan tugasku," kata laki-laki itu sambil memegang erat tangan Luna.
Hal ini membuat Luna heran sekaligus mengerti bahwa preman-preman ini tengah mengejar Rendra. Gadis itu tidak lagi memanggil Rendra, akan sangat bahaya jika Rendra sampai ke sini. Luna hanya mampu memberontak berusaha melepaskan diri dari mereka.
"Lepaskan Luna!" teriak Rendra yang datang bak pahlawan.
"Pucuk dicinta ulam pun tiba. Akhirnya sang pangeran datang untuk menyelamatkan sang putri." Preman itu bersajak sambil tertawa sambil masih menggenggam erat pergelangan tangan Luna.
Buggg bugg, tanpa fikir panjang Rendra segera memukul preman-preman itu hingga mereka terjatuh. Baku hantam tidak bisa dihindari, serangan demi serangan membabi buta. Rendra ternyata bukan orang yang lemah, laki-laki itu mampu melakukan bermaccam-macam serangan. Satu lawan dua, Rendra sedikit kuwalahan dibuatnya. Hingga tanpa sadar darah segar mengalir dari bekas luka yang ada di tangan dan kakinya.
"Mas Rendra..." teriak Luna sambil menangis melihat keadaan suaminya.
"Heei, heei, heei..." Beberapa warga desa datang karena teriakan dan tangis dari Luna. Dengan bantuan mereka preman-preman itu pun berhasil diringkus.
"Mas Rendra tidak apa-apa?" tanya Luna sambil terisak saat keadaan sudah mulai kondusif.
"Tidak apa-apa," jawab Rendra sambil merintih kesakitan.
"Pasti sakit," kata Luna sambil mengikat luka di tangan dan kaki Rendra dengan scraf yang dia pakai. Air mata gadis itu tidak berhenti mengalir.
"Jangan menangis! Aku tidak senang melihatnya Luna," ucap Rendra sambil mengusap air mata di pipi istrinya. Luna hanya diam dengan perlakuan manis sang suami. Mungkin Luna lupa jika dirinya tidak menyukai Rendra.
"Mari pulang! Aku akan membantumu. Nanti akan ku obati lagi luka-luka ini di rumah, " ajak Luna kemudian memapah sang suami pulang ke rumah ibunya.
__ADS_1