
“Ibu..,” teriak Luna setelah membaca siapa nama kontak pembuat panggilan di ponsel itu. Rendra hanya meringis.
Dengan sedikit melirik sang istri yang sudah memasang amarah di wajahnya, Rendra dengan pelan menggeser tombol hijau di ponselnya.
“Halo Bu, selamat malam.”
“Nak Rendra, maaf ibu mengganggu malam-malam. Entah kenapa hati ibu enggak enak, ibu kepikiran terus sama Luna. Gimana ya anak itu sekarang? Apa dia bisa menghadapi bu Fatma dan Ryan sendirian?” balas Ibu Luna dari seberang.
Luna yang sedikit bisa mendengar suara ibunya, menarik pakasa ponsel dari tangan Rendra. “Oh gitu, jadi ibu ikut-ikutan ngerjain Luna. jadi ibu udah tahu kalau selama ini Mas Rendra masih hidup. Ibu tega banget sih.”
“Lunaa..,” balas sang ibu yang sepertinya juga terkejut mendengar suara putrinya.
“Iya bu, Luna sudah tahu semuanya,” Rendra menyahut.
“Syukurlah kalau kamu sudah tahu Nak. Ibu khawatir kalau kamu terlalu lama sendiri di rumah itu. Yasudah kalau gitu jaga suaminya baik-baik, nanti kalau ditinggal nangis lagi, sedih lagi,” gurau sang ibu. “Yasudah kalau begitu ibu sudah tenang, ibu tutup dulu ya,” pungkas ibu Luna kemudian memutuskan sambungan teleponnya.
“Ibuuuu…” Luna menghentak-hentakkan kakinya sambil berteriak memanggil ibunya. Gadis itu merasa gemas, konspirasi begitu besar di hadapannya tapi dirinya sama sekali tidak menyadarinya. Ah bodoh sekali .
“Baiklah kalau begitu Non dan Tuan Rendra, kami pergi dulu,” ucap bi Inah sambil memberi tanda kepada para sekutunya agar meninggalkan majikan mereka berdua di tempat itu.
Luna terdiam, dunianya seperti berhenti. Berkecamuk seluruh rasa yang ada di otaknya bercampur menjadi satu menjadikan bom waktu yang siap meletus kapanpun dia inginkan. Sementara Rendra yang sudah sangat hafal dengan situasi seperti ini hanya bisa menuangkan air putih ke dalam gelas dan memberikannya untuk sang istri.
Luna menatap gelas itu tajam, kemudian meminumnya. Rendra sedikit takut melihat istrinya. Hei, apakah kamu juga akan menelan gelasnya? Batin Rendra.
“Nyebeliiiin, semuanya nyebelin… ini gila, ini jahat, semua jahat,” teriak Luna, sepertinya bom atom itu sudah mulai meledak.
Rendra hanya diam, laki-laki itu sudah siap menerima ledakan-ledakan dari bom atom. Bahkan laki-laki itu juga sudah menyiapkan kantong oksigen dan juga kostum anti panas untuk menahannya.
“Kamu ya, dasar om-om tua.” Luna berjalan mendekati Rendra, tatapan mata sang istri yang sangat tajam membuat Rendra harus segera memakai kostum anti panas. “Ini sama sekali enggak lucu, berani sekali kamu mempermainkan hati saya, hahh.”
Luna berjalan semakin dekat. Sementara Rendra hanya mampu menutup mata sambil berdoa agar Tuhan mau melindungi dirinya dari serangan betina buas ini.
__ADS_1
Namun, benda kenyal menempel di bibirnya. Terasa sangat hangat bahkan memberikan sensasi yang romantis. dengan perlahan laki-laki itu membuka mata. Tampak wajah perempuan yang sangat dicintainya kini tengah berada sangat dekat dengannya. Sementara bibir manis itu melekat tepat di bibirnya.
Rendra sangat senang, masih ingat bagaimana dulu saat dia berjanji tidak akan mencium Luna sebelum gadis itu sendiri yang memintanya. Lalu kini, ternyata cinta memang butuh waktu dan sedikit drama.
Rendra tidak akan mensia-siakan moment ini. Tangan kekar laki-laki itu segera mendorong tubuh Luna agar semakin dekat dengannya. Kali ini pun Luna telah berani melingkarkan tangan mungilnya di leher sang suami.
Dengan lembut Rendra mengulum bibir manis Luna. Ini yang pertama bagi Luna, sehingga gadis itu merasa sedikit risih. Namun Rendra dengan lihai mampu menjadi mentor yang baik dalam hal ini. Secara bergantian mereka saling mengulum bibir masing-masing.
Uhukk, uhukkk, Luna melepaskan pagutan bibirnya dengan paksa. Gadis itu kehabisan nafas dan membuatnya sedikit sesak.
“Kamu tidak apa-apa Lun?” tanya Rendra khawatir. Luna hanya tersenyum sambil menunduk malu. Rendra pun memeluk tubuh istrinya itu erat.
“Aku mencintaimu Mas, maaf aku baru menyadarinya,” ucap Luna pelan dalam pelukan Rendra.
“Apa? Bisakah kamu mengatakannya lagi?” kata Rendra yang sedikit terkejut dengan kalimat yang Luna ucapkan.
Luna tersenyum bahagia sambil malu-malu, “aku mencintaimu Om,” teriak Luna sambil tertawa. Diikuti oleh tawa Rendra yang membuat suasana bahagia bagi keduanya. Akhirnya kalimat-kalimat cinta itu keluar dari mulut Luna. Dan pangeran yang selama ini diimpikannya adalah om Rendra,hehe. Betapa sempitnya dunia ini.
*****
Rendra menggeleng, “Mas percaya kamu bisa menghadapi ini semua. Kamu perempuan kuat.”
“Tidak Mas, aku lemah. Setiap kali mereka menghardik dan mengancamku, aku…”
“Sttt, jangan fikirkan itu! Jangan takut! Mas akan selalu melindungimu. Mas selalu mengawasimu.” Rendra mencium kedua tangan istrinya.
“Masuklah! Dan hati-hati. Jangan sampai mama atau Ryan memergokimu.”
Luna mengangguk, setelah memeluk suaminya gadis itu kembali masuk melalui pagar. Dengan sedikit mengendap-endap Luna segera masuk ke dalam rumah.
Namun sepasang mata jahat melihatnya dari jauh. Pemilik mata itu tengah tersenyum sinis saat melihat Luna mengendap-endap. “Waw, kucing manis ini berani bersenang-senang di belakangku. Besok kamu harus dihukum kucing manis,” ucap pemilik mata itu yang tak lain adalah Ryan.
__ADS_1
*****
Keesokan harinya
Luna telah bersiap untuk pergi ke kantor. Beberapa meeting penting dan juga beberapa pertemuan harus dia hadiri hari ini.
“Sarapan dulu Non,” pinta bi Inah sambil menyiapkan makanan. Tampak Ryan sudah duduk manis di meja makan.
Luna ingin menolak, makan bersama Ryan hanya akan membuat dirinya kehilangan nafsu makan. Namun gadis itu tidak tega melihat bi Inah yang telah menyiapkan semua makanan ini untuknya.
“Apa kabar Luna, lama kita tidak bertemu,” sapa Ryan. Ya, sejak tragedi tamparan itu Luna belum melihat Ryan sama sekali.
“Baik,” jawab gadis itu ketus.
“Kucing kecil yang liar,” ucap Ryan dengan gayanya yang seperti laki-laki sakau itu mengatakan kalimat yang ama sekali tidak Luna mengerti maksudnya. Gadis itu terus memasukkan makanan ke dalam mulutnya dengan harapan makanan di dalam piringnya cepat habis dan wusshhh dirinya bisa pergi dari tempat itu.
“Kucing kecil yang sangat manis, sangat polos, namun liar. Yang saat malam tidur di sana dan di sini silih berganti.”
Kali ini Luna sudah tidak bisa diam lagi. Tatapan Ryan yang tajam ke arahnya membuat gadis itu merasa sangat tidak nyaman.
“Apa maksud kamu Ryan?” tanya Luna tajam sambil meletakkan sendok dan garpu di atas piring sampai menimbulkan suara.
“Sang kucing kecil dengan pakaian seksinya keluar tengah malam dengan mengendap-endap.”
Apa yang Ryan katakan, membuat Luna menyadari jika semalam Ryan memergoki dirinya. Ah semoga Ryan tidak melihat Rendra, batinnya.
“Bukan urusan kamu,” hardik Luna tajam.
“Menjadi urusanku Sayang, karena kamu adalah adik iparku yang sebentar lagi akan menjadi istriku. Rendra, Rendra, Rendra, adikku tenanglah di sana. Aku akan menjaga istrimu ini dengan sangat baik.”
Kalimat yang bagi Luna sangat menjijikkan, namun berhasil membuatnya tenang karena berarti bahwa Ryan tidak tahu soal Rendra.
__ADS_1
“Tutup mulut kamu Ryan!” seringai Luna kemudian pergi meninggalkan Ryan.
Sementara Ryan hanya tersenyum tipis melihat punggung Luna yang semakin menjauh.