PANGERANKU OM-OM

PANGERANKU OM-OM
BAB 38


__ADS_3

Pelan-pelan Luna mulai membuka mata saat merasa berat di bagian dada. Gadis itu mengulumkan senyum kecil saat melihat sang suami masih terlelap dengan kepala di atas dadanya. Masih terngiang-ngiang di kepalanya, bagaimana kejadian semalam yang membuat tenaganya terkuras habis. Laki-laki di pelukannya ini tidak membiarkan dirinya beristirahat sedikit pun.


Ah, Luna kembali tersenyum. Kali ini senyum malu-malu yang membuat pipinya memerah. Pelan-pelan Luna memindahkan kepala Rendra ke atas bantal, berharap tidak mengganggu tidur suaminya. namun Luna salah, sedikit pergerakan darinya sudah mampu membuat Rendra tersadar.


“Sayang,” ucap Rendra dengan suara parau, khas orang yang baru bangun tidur.


“Maaf Mas, aku tidak ingin membangunkanmu.”


Rendra berusaha tersenyum meski tampak sangat sendu, “kamu lelah?” tanyanya sambil mengangkat kepala Luna dan meletakkan di lengannya.


“Kamu sangat liar Om, badanku terasa sakit semua,” jawab Luna malu-malu.


Rendra tertawa kecil, kemudian berbisik di telinga istrinya, “itu masih belum seberapa, aku bisa lebih liar dari itu. Apa kamu mau membuktikannya sekarang?”


Luna menengadahkan wajahnya tepat di hadapan Rendra, “ketagihan ya Om.”


Rendra semakin gemas melihat istrinya, diciuminya leher sang istri dengan pelan. Pelan-pelan namun mampu membuat suara ******* yang menggoda dari Luna.


Rendra pun tidak menyia-nyiakan hal ini. Tangannya yang sudah mulai nakal, semakin faham mana tempat-tempat yang harus disentuh. Ah, Om-om ini seperti tidak memiliki rasa lelah, tenaganya sangat besar. Berkali-kali dirinya mampu membuat Luna meng*rang penuh kepuasan


Drrt, drrtt, drrtt.


Luna dibangunkan oleh suara ponselnya.  Sebuah panggilan dengan nama kontak RANI menghiasi layar ponselnya. Gadis itumenggeser tombol hijau di layar dengan sedikit malas.


“Halo.”


“Lun, kamu apa kabar? Kamu dimana sekarang? Apa kamu baik-baik saja?”


Suara Rani yang sangat keras membuat Luna harus menjauhkan ponsel dari telinganya.


“Iya, aku baik-baik saja.”


“Apa kamu serius Lun?”


“Serius Ran, memangnya ada apa?”


“Aku sangat menghawatirkanmu, dari kemarin kamu tidak bisa dihubungi Lun.”


“Ah maaf, aku mematikan ponsel.”


“Baiklah kalau begitu, aku tenang sekarang.”

__ADS_1


“Terimakasih Rani.”


Kedua sahabat itu pun mengakhiri obrolannya. Luna merasa senang, selain ibu dan suami, dirinya pun masih memiliki sahabat yang juga sangat menyayanginya.


“Ah, aku harus mandi,” ucap Luna kepada dirinya sendiri saat dilihatnya Rendra sudah tidak ada di sampingnya. Mungkin Mas Rendra di luar, batinnya.


Luna berusaha bangkit dari tempat tidur, namun badannya terasa sangat sakit. “Auuu,” ucapnya saat merasakan sakit di kaki dan punggungnya. “Kenapa sakit sekali?” gumamnya. Tak hanya itu, rasa perih juga muncul dari bagian bawah miliknya.


“Kamu harus bertanggungjawab atas hal ini Mas,” seringainya. Kemudian dengan tertatih Luna berusaha masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


****


Sementara di tempat lain


“Apakah kamu sudah mengetahui dimana Luna berada Ryan?” tanya bu Fatma kepada putranya itu.


“Belum Ma,” jawab Ryan sambil melemparkan tubuhnya di kursi milik Rendra di kantor.


“Apa? Ryan mama sudah bilang kalau Luna itu…”


“Luna tidak berbahaya Ma, Ryan sudah membuktikannya bukan. Dengan mudah kita berhasil mendapatkan semua ini. Apalagi saat ini Luna sudah tidak memiliki apapun, gadis itu tidak memiliki kekuasaan saat ini Ma.”


“Hei, apakah mama sudah berubah menjadi mertua yang menyayangi menantunya?” ledek Ryan yang membuat bu Fatma menggeleng.


“Tidak Sayang, mama hanya takut Luna akan menyerang kita.”


“Tidak mungkin Ma, itu tidak akan terjadi. Mungkin sekarang kucing liar itu ada di rumah ibunya  sambil menangis meratapi kekalahannya.” Ryan mulai mengeluarkan tawa seringainya yang lebih mirip seperti iblis.


“Mama juga berharap seperti itu, lalu bagaimana rencana kita berikutnya?”


Ryan menunjukkan sebuah dokumen kepada bu Fatma, “apa ini?” tanya perempuan itu yang tidak mengerti dengan beberapa kalimat yang tertulis di kertas putih tersebut.


“Ada seorang investor besar yang menginginkan saham perusahaan ini. Dia akan membeli saham dengan harga yang fantastis.”


“Apa? Jadi kamu ingin menjual ini semua?”


“You are right Mom, aku akan menjualnya lalu kita akan pergi dari sini.”


“Tapi Nak, bagaimana bisa perusahaan ini..”


“Mama tenanglah! 70% saham perusahaan ini adalah milik kita. Sisanya milik Luna, dan itu bukan masalah besar Ma. Dengan menjual seluruh saham perusahaan ini kita bisa untung besar.”

__ADS_1


“Apa kamu yakin Ryan?”


“Aku sangat yakin Ma, kita akan menjadi milyarder. Kita akan bersenang-senang. Dan yang ebih penting dendam kita telah terbalaskan,” ucap Ryan yang dibarengi dengan senyum mengembang dari bibir ibunya.


*****


“Bagaimana, apa kamu telah mempersiapakan semuanya?”


“Sudah Tuan, semua telah siap. Target telah masuk ke dalam perangkap.”


“Bagus, lanjutkan pekerjaanmu!” Kata Rendra kemudian menutup panggilan dari ponselnya. Laki-laki itu tersenyum menyeringai, seperti seorang singa yang tengah mengawasi mangsa. Mangsa yang akan mendekat dengan sendirinya.


“Mas Rendra..”


Suara teriakan dari dalam membuat laki-laki tampan itu segera kembali ke dunianya dan berlari menuju sumber suara. Dia tidak ingin mendengar teriakan tersebut untuk yang kedua kalinya. Meskipun tampan, laki-laki juga pasti akan kalah dengan teriakan istrinya.


“Dari mana?” tanya Luna manja.


“Ah di luar, aku baru saja menelfon.” Luna hanya mengangguk kemudian berjalan menuju kursi TV.


“Ada apa denganmu Sayang? Kenapa kamu berjalan seperti itu?” tanya Rendra.


Namun bukanlah jawaban yang didapat laki-laki itu, Rendra hanya mendapat seringai tajam dari sang istri. Waduh, apa salahku?


“Ini semua karena kamu Mas, tadi malam kamu sangat buas. Makanya aku jadinya kayak gini.”


Rendra tidak kuat menahan tawa, laki-laki itu pun tertawa kencang.


“Ngapain ketawa?”


Shuuutt, mulut Rendra segera menutup kembali. Tidak, tidak, ini bukan lelucon. Luna benar, ini adalah salahnya, dia yang membuat istrinya menjadi seperti ini.


“Maafkan aku Luna, tapi kamu sangat menggairahkan Sayang. Jadi aku tidak bisa menahannya,” ucap Rendra yang kali ini dibalas dengan senyum malu-malu dari bibir Luna. Hingga keduanya tertawa kencang menertawakan diri masing-masing.


“Apa sangat sakit?” tanya Rendra sambil memijat kaki Luna.


“Sudah sedikit berkurang, mungkin sebentar lagi akan hilang,” jawab Luna yang merasa sangat senang dengan perlakuan manis sang suami.


“Bagus, berarti kamu sudah siap untuk melakukannya lagi,” ucap Rendra yakin dengan berjuta-juta harapan dari wajahnya.


“Apa?”

__ADS_1


__ADS_2