
"Rendra, Sayang, untunglah kamu kemari Nak. Mama sudah menunggumu Sayang. Keluarkan mama dari sini Nak! Mama mohon. Lihatlah Sayang, pakaian mama sangat kumal dan bau. Kulit mama sampai merah-merah karena alergi." Perempuan setengah baya yang kini memakai pakaian tahanan itu berusaha merayu Rendra.
Ya, saat ini Rendra tengah berada di ruang tahanan bu Fatma. Laki-laki itu ingin mengunjungi perempuan yang selama ini dia panggil dengan sebutan mama tersebut.
"Dan lihatlah ruangan ini Ren! Kamar ini sangat kecil, tidak ada tempat tidur. Hanya ada tikar tipis yang digunakan sebagai alas tidur. Mama sudah tidak muda lagi Ren, mama sudah tidak kuat menahan angin yang masuk ke tubuh mama. Dua hari ini mama selalu merasa pusing dan mual Nak." Wanita itu terus merengek. Sementara Rendra hanya melihatnya dengan ekspresi datar.
"Ren, mama tahu kesalahan mama sudah sangat besar. Bahkan sulit untuk dimaafkan. Tapi kamu adalah putra mama Nak, kamu anak mama yang mama besarkan dengan tangan mama. Kamu juga menyayangi mama kan Nak?"
Kali ini Rendra menyunggingkan senyum tipis dari bibirnya. Namun bukan senyum tulus, melainkan senyum menyeringai yang menunjukkan bahwa dirinya tidak menyukai hal ini.
"Tidak bu Fatma, maaf Anda salah. Mungkin Anda mengira kedatangan saya ke tempat ini untuk membantu Anda keluar dari sini dan memfasilitasi Anda kembali. Maafkan saya mama, saya hanya manusia. Hati saya tidak sebesar yang Anda bayangkan. Apa yang selama ini telah kalian lakukan kepada ibuku, ibu kandungku, adalah perbuatan yang sangat keji. Dan saya tidak akan memaafkan itu semua."
Bu Fatma tampak ketakutan mendengarnya, namun wanita itu tidak kehabisan akal.
"Rendra Sayang, maafkan mama Nak. Mama tahu kamu sangat membenci mama atas hal itu. Mama akan menebus semua kesalahan itu Ren, mama akan meminta maaf kepada ibumu. Kita, kita akan hidup bahagia bersama Sayang. Kamu akan memiliki dua orang ibu yang sangat menyayangimu Rendra. " Bu Fatma berusaha meyakinkan Rendra dengan deraian air mata palsunya.
Rendra hanya menggelengkan kepalanya. "Apa yang telah Anda lakukan sudah lebih dari batas normal. Bahkan sebelum aku menemukan ibu, aku masih berusaha menghormati dirimu sebagai ibuku. Tapi setelah aku tahu kejahatanmu, aku bahkan malu pernah memanggilmu sebagai mama."
Bu Fatma mulai mengepalkan tangannya, perempuan ini sepertinya sudah kehilangan kesabaran. Dia tahu seberapa keras dirinya merayu Rendra, hanya akan menjatuhkan harga dirinya.
"Oh jadi seperti itu. Silakan Rendra, Silakan Narendra Bagaskara! Tapi ketahuilah aku masih memiliki Ryan. Ryan masih menyimpan dendam besar kepada keluargamu. Dan aku sangat yakin putraku Ryan yang akan membalas perbuatanmu kepadaku hari ini."
Rendra hanya tersenyum mendengar sumpah serapah dari mantan ibu tirinya itu. Tidak ada keinginan sedikit pun bagi Rendra untuk berdebat atau meladeninya. Biarkan hukum yang bekerja saat ini. Meskipun kalimat terakhir dari bu Fatma sedikit membuat dirinya tidak nyaman, namun biarlah. Kita lihat saja apa yang bisa Ryan lakukan. Dan dendam? Dendam apa yang bu Fatma maksudkan? Dendam untuk siapa? Apakah untuk dirinya? Bahkan bertemu dengan Ryan pun, baru sekali terjadi di hidupnya saat menyelamatkan Luna waktu lalu.
__ADS_1
Rendra bergegas pergi meninggalkan bu Fatma yang masih berteriak dan mengamuk. Ada banyak sekali rasa kecewa di dalam dirinya untuk perempuan itu. Tapi inilah hidup.
Di tempat parkir tahanan, Rendra bersiap untuk mengemudikan mobil. Namun pandangan matanya sekilas menangkap sesuatu yang menarik hatinya.
Ya, tampak seorang pemuda tengah duduk termenung di sebuah kursi taman tahanan. Mata Rendra berkenyit, dirinya tahu betul siapa itu.
Rendra membuka pintu mobil dan mendekati pemuda tersebut. "Kak Rendra.." sebuah suara terucap dari pemuda itu kemudian memeluk erat laki-laki yang dipanggilnya kakak tersebut.
"Apa kabarmu Mark?" Sapa Rendra sambil mengelus pemuda itu seperti seorang kakak terhadap adiknya yang telah lama tidak bertemu.
Pemuda yang bernama Mark tersebut menangis sesenggukan. "Hei apa yang terjadi padamu Mark? Ada yang menyakitimu?" Dengan sayang Rendra berusaha menenangkan pemuda tersebut.
"Aku tidak menyangka mama bisa melakukan hal itu kak." Kata Mark setelah dirinya merasa lebih tenang, tangisnya sudah berhenti.
"Bagaimana kamu kemari Mark?" Rendra bertanya, menurut Rendra pertanyaan ini adalah hal yang sangat penting dan lebih penting daripada hanya membicarakan bu Fatma.
Mark menghembuskan nafas dalam, "Chloe meninggal kak."
"Apa?" Rendra terkejut mendengarnya, mata laki-laki itu mulai memerah merasakan kesedihan dari apa yang telah Mark katakan. Chloe adalah adik kecil Mark. Gadis kecil itu masih berusia 10 tahun saat ini. Gadis yang sangat lincah dan sangat Rendra sayangi. "Bagaimana Chloe bisa?"
"Dia sakit Kak, Chloe sakit hingga meninggal." Kembali Mark menumpahkan air matanya. Rendra pun juga melakukan hal yang sama, suami Luna itu pun tak kuat jika harus membendung air mata yang telah banyak terkumpul di pelupuk mata.
"Chloe, Sayang," ucap Rendra pelan. Ingatannua akan gadis kecil itu muncul kembali. Meskipun Mark dan Chloe bukan saudaranya, tapi hubungan mereka cukup baik. Dan keduanya menganggap Rendra seperti saudara mereka sendiri.
__ADS_1
"Setelah Papa dipecat dari pekerjaannya, mama mengamuk dan meninggalkan kami. Tak lama Papa pun juga pergi. Aku berusaha memenuhi kebutuhan kami. Tapi aku gagal kak, aku harus putus kuliah karena tidak ada biaya begitu juga Chloe. Rumah kami diminta oleh pemiliknya karena tidak dibayar. Sehingga aku dan Chloe harus tinggal di emperan."
"Mark kenapa kamu tidak menghubungiku atau Luna?" Rendra sangat menyesali hal tersebut.
"Aku ingin sekali menghubungi kalian berdua, tapi saat itu berita kematianmu tersebar luas hingga ke seluruh dunia Kak."
Rendra menutup wajahnya dengan kedua tangan. Laki-laki itu tidak menyangka jika hal yang dulu dia lakukan akan berakibat seburuk ini untuk Mark dan Chloe.
"Lalu Chloe sakit, tak lama dia meninggal. Dengan bantuan beberapa orang baik, aku bisa berhasil sampai di negara ini untuk mencari mama. Tapi ternyata mama..."
"Sudahlah Mark, sudah." Rendra kembali memeluk Mark untuk menghentikan kalimatnya. Rendra tahu kalimat apa yang akan Mark ucapkan dan itu pasti akan sangat menyakiti hati Mark sendiri.
"Mari kita pulang Mark. Luna pasti senang kamu datang."
"Tidak kak, aku tidak mau tinggal bersama mu Kak. Aku merasa sanagt malu denganmu Kak."
"Apa yang kamu katakan Mark?"
"Apa yang telah mamaku lakukan terhadapmu itu bukanlah perilaku seorang manusia. Itu bahkan lebih kejam dari hewan yang memangsa bangsanya sendiri."
"Mark jangan berkata seperti itu. Kejahatan itu dilakukan oleh bu Fatma buka olehmu. Kamu tidak ada hubungannya dengan ini. Ayolah, pulanglah bersamaku. Aku akan mengenalkan ibuku kepadamu."
Dengan berat hati akhirnya Mark menerima ajakan Rendra. Setelah sebelumnya Mark mengatakan jika akan mencari pekerjaan dan akan pergi saat dirinya telah memiliki uang.
__ADS_1
"Baiklah Max, aku akan selalu mendukungmu." Kata Rendra yang merasa tenang saat ini.