
“Jadi perusahaan milik Roby adalah palsu?” tanya Luna dengan mata terbuka lebar.
“Jangan membuka matamu sebesar itu Sayang!” gurau Rendra yang berhasil merubah suasana keterkejutan Luna.
“Ih mas Rendra, aku tanya serius.”
Rendra tertawa gemas melihat istrinya, “iya, aku mulai curiga saat mereka memintamu sendiri yang membicarakan pelaksanaan kontrak kerjasama itu. Dan, kecurigaanku benar.”
“Maafkan aku Mas, aku tidak tahu kalau…”
“Sssttt, sudahlah ini bukan salahmu,” potong Rendra sambil meletakkan jari telunjuknya di mulut sang istri.
“Terimakasih kamu selalu menjagaku Mas,” kata Luna sambil tersenyum manis ke arah suaminya.
“Apa hanya seperti itu caramu berterimakasih?”
Luna memutar bola matanya, dia tahu benar apa yang suaminya inginkan. “Memang apa yang harus kita lakukan saat berterimakasih? Ibu hanya mengajariku seperti itu.” Luna pun menggoda suaminya itu.
“Itu berterimakasih cara lama.”
“Hei, apa cara berterimakasih bisa berubah seiring berjalannya waktu? Bukankah saat menolong, kita tidak boleh mengharapkan apapun bahkan ucapan terimakasih.”
Rendra menghembuskan nafas dalam kemudian berkata, “iya Sayang.” Sambil berjalan menuju meja makan tempat persembunyiannya.
Luna tertawa pelan. Dia berhasil mengerjai suaminya. Namun tak lama gadis itu menyusul sang suami dan memeluknya dari belakang dengan erat.
“Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu,” kata Luna bersamaan dengan Rendra yang membalikkan tubuhnya.
“Aku juga sangat mencintaimu,” balas laki-laki itu.
Cuupp, sebuah kecupan manis mendarat dengan selamat di pipi kanan Rendra, tak lama kecupan itu berpindah ke pipi kirinya. “Apa masih kurang?” tanya Luna malu-malu.
Rendra tersenyum senang karenanya, “ini sudah cukup Sayang,” jawab Rendra kemudian memeluk sang istri erat.
__ADS_1
Keduanya bagai tak terpisahkan. Hanya ada cinta diantara Luna dan Rendra. Cinta yang dalam perjalanannya membutuhkan perjuangan yang panjang. Penuh dengan air mata dan pengorbanan. Semua itu hanya demi hidup bahagia bersama.
“Mas, dari mana kamu tahu kalau Ryan yang ada di balik itu semua?” tanya Luna yang saat ini masih berada di pelukan Rendra.
“Siapa lagi? hanya orang kotor yang mampu melakukan hal kotor,” kata Rendra penuh keyakinan.
“Aku tidak habis fikir bagaimana Ryan tega melakukan hal itu kepadamu?”
“Entahlah, aku pun tak tahu. Bahkan aku baru mengetahui jika Ryan adalah kakak tiriku.”
“Apa kamu yakin Mas?”
“Iya, dulu saat menikah dengan ayah, mama tidak pernah membawanya bahkan memperkenalkannya.”
“Mungkin mama memiliki alasan yang cukup kuat hingga dirinya tidak memperkenalkan Ryan.”
Rendra hanya menggeleng pertanda bahwa dia sama sekali tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dan Ryan.
“Mama siapa?”
“Siapa lagi?” Rendra pun tak kalah terkejut dengan pertanyaan istrinya.
“Kamu masih mempedulikan perempuan jahat itu?”
Rendra tersenyum, laki-laki itu tahu benar bagaimana jalan fikiran Luna. “Beliau adalah istri ayahku. Dan meskipun hanya sebentar, tangan mama juga memberikan andil dalam membesarkanku. Beliau bukan mama yang buruk.”
Luna hanya tersenyum, meskipun dirinya tidak setuju dengan apa yang dikatakan suaminya. "Hatimu sungguh mulia Mas," ucapnya dalam hati.
*****
Luna kembali ke rumah setelah malam datang. Berdua dengan Rendra membuatnya lupa waktu.
“Apa ini?” tanya Luna saat dari halaman terdengar suara musik yang memekakkan telinga. Gadis itu semakin mempercepat langkahnya berharap segera membuka pintu rumah milik suaminya tersebut.
__ADS_1
Betapa terkejutnya Luna saat melihat beberapa perempuan dengan umur seusia dengan bu Fatma tengah melenggak-lenggokan tubuhnya di bawah lampu disko. Ya, ruang tamu rumah ini telah berubah menjadi diskotik.
“Kurang ajar, apa maksud perempuan tua itu?” fikir Luna, kemudian kedua mata miliknya mencari-cari keberadaan wanita yang menurutnya adalah otak dari semua ini.
Dan benar saja, di sebuah sudut tampak bu Fatma sedang membawa gelas berisi minuman keras. Sementara tangan satunya memegang rokok yang telah disulut. Wanita tua itu tampak sedang bersenang-senang dengan laki-laki muda yang hanya memakai celana pendek di hadapannya. Tante-tante tua dengan gigolo muda, begitulah jika diterjemahkan.
Luna segera masuk ke dalam rumah dengan emosi yang sudah memuncak di kepalanya. Sebuah pemukul bisbol milik suaminya telah digenggam erat di tangan kanan. Gadis itu segera menuju barang elektronik yang digunakan untuk memutar musik. Kemudian menghancurkannya dengan benda keras yang dia bawa.
Musik berhenti, bersamaan dengan bunyi pecahan yang membuat suasana berubah mencekam. Amarah di wajah Luna sudah cukup membuat para wanita tua di tempat itu terkejut. Tak lupa gigolo miliki bu Fatma yang juga tampak ketakutan. Haha, laki-laki muda itu terlihat bersembunyi di bawah ketiak tantenya.
“Hei para wanita tua, tidak malukah kalian melakukan hal seperti ini di rumahku?” teriak Luna sambil mengangkat pemukul bisbol di tangannya. Hal ini membuat para wanita itu semakin ketakutan. Para wanita tua berpakaian **** itu pelan-pelan melangkahkan kaki keluar dari rumah itu.
“Apa-apaan kamu Luna? Kamu telah mengganggu pestaku,” bu Fatma pun juga berteriak sambil mencoba menenangkan gigolo kesayangan yang sepertinya usianya jauh di bawah Ryan tersebut.
Luna tertawa menyeringai, gadis itu tidak habis fikir. Seperti inikah bentukan perempuan yang pernah membesarkan Rendra?
“Hei bu Fatma,” teriak Luna lantang, jijik baginya menyebut perempuan itu sebagai mama. “Apa kamu lupa jika ini adalah rumahku? Suamiku Rendra mewariskan seluruh harta dan kekuasannya terhadapku. Apa Anda lupa?”
“Lancang kamu Luna.”
“Eits, jaga bicara Anda! Ini rumah saya, Anda dan putra Anda tinggal di rumah ini karena kebaikan saya. Dan juga karena Anda pernah menjadi ibu tiri dari suami saya. Jadi saya ingin Anda tahu diri, Anda sama sekali tidak memiliki hak apapun atas rumah ini,” ucap Luna tegas.
Namun sebuah tangan tiba-tiba melayang di hadapan Luna hendak menampar pipi kanannya. Untunglah gadis itu dengan sigap menangkap tangan yang ternyata milik bu Fatma kemudian melemparnya.
Sementara gigolo yang masih memakai celana pendek itu hanya bisa berdiri di belakang bu Fatma sambil menepuk punggung wanita tua itu.
“Saya tidak bercanda Luna. Ryan akan membalaskan perbuatan kamu terhadap saya hari ini. Kamu telah menghancurkan pesta dan juga mempermalukan saya.”
“Baiklah, akan saya tunggu,” balas Luna yang mana saat ini dadanya terasa sesak. Air mata ingin mengalir dari netra, tapi sekuat tenaga Luna berusaha menahan.
Bu Fatma segera berjalan menuju kamarnya, sementara laki-laki gigolo itu mengikuti dari belakang. “Pergi kamu!” bentak bu Fatma kepada laki-laki yang baru beberapa menit tadi dia sayang-sayang.
Luna yang melihat hal itu tersenyum menyeringai, membuat dirinya yakin benar betapa jahat ibu tiri suaminya tersebut. Sementara gigolo itu dengan wajah lesu segera keluar dari rumah setelah sebelumnya memakai kembali pakaian miliknya.
__ADS_1