PANGERANKU OM-OM

PANGERANKU OM-OM
BAB 56


__ADS_3

Rendra tampak berlari menyusuri lorong rumah sakit. Peluh keringat di kening menambah lengkap kecemasan yang tergambar di rona wajahnya. Beberapa menit yang lalu dengan air mata berderai Luna menghubunginya sembari mengatakan bahwa bu Diana dilarikan ke rumah sakit.


"Luna," ucap laki-laki itu lirih saat melihat istrinya tengah duduk lemas di ruang tunggu Unit Gawat Darurat.


Rendra tak kuasa melihat keadaan sang istri. Laki-laki itu berlari kemudian memeluk Luna erat.


"Mas maafkan aku," ucap Luna sambil berurai air mata.


"Tenanglah Sayang!"


"Jika aku tidak membiarkan ibu masuk ke ruang kerjamu, ibu tidak akan melihat foto itu."


"Apa?" kata Rendra terkejut.


Luna pun menceritakan apa yang telah terjadi terhadap ibu mertua nya itu. Rendra mendengarkan dengan seksama. Sekali-kali laki-laki itu mengusap air mata yang menetes di pipi Luna. Tidak ada kemarahan sedikit pun dari Rendra untuk Luna.


"Sudahlah Sayang, ini kecelakaan. Tuhan pasti memiliki rencana lain untuk kita."


Tak lama dokter keluar dari ruang pemeriksaan. Luna dan Rendra segera bergegas mendekatinya. "Bagaimana keadaan ibu saya dok?" tanya Rendra.


"Bu Diana mengalami shock berat. Kejadian besar yang dialaminya hari ini membuat kerja otaknya semakin berat. Apalagi amnesia yang dideritanya menambah besar pekerjaan otaknya. Hingga beliau pingsan. Tapi jangan khawatir, kami telah memberikan obat untuk menenangkan beliau. Semoga beliau segera siuman kembali." Dokter memberikan penjelasan kemudian meninggalkan keduanya.


Rendra dan Luna masuk ke ruang perawatan bu Diana. Perempuan yang sangat mereka sayangi itu masih lelap dengan tidurnya. Dengan pelan Luna mengecup punggung tangan sang ibu mertuanya seraya berkata, "ibu maafkan Luna."


Pun demikian dengan Rendra. Laki-laki itu mendekati sang ibu sambil mencium kening perempuan yang sangat disayangi nya itu. "Segeralah sembuh bu! Rendra akan menebus apa yang tidak bisa Rendra berikan selama ini kepada ibu.


Selama beberapa menit keduanya diam sambil terus memperhatikan sang ibu. Hingga tampak sebuah keanehan yang Rendra lihat dari wajah sang istri.


"Sayang kamu sakit?"


Luna menggeleng sambil tersenyum tipis, "hanya sedikit lelah."

__ADS_1


"Aku akan meminta Mang Ujang untuk menjemputmu."


"Tidak Mas, tidak perlu. Aku ingin tetap di sini bersama ibu."


"Tapi kamu terlihat sangat pucat. Kamu sudah makan?"


Luna tersenyum setelah mengingat sesuatu. Saat ini sudah jam delapan malam dan hanya makanan tadi pagi yang masuk ke dalam perutnya. "Belum" jawabnya lirih. Gadis itu sudah siap jika suaminya akan mengomel.


Rendra menghembuskan nafas dalam. Tidak tahu harus marah atau apa melihat istrinya saat ini. "Aku akan menemanimu makan. Kita makan di kantin sekarang," ucap Rendra tegas.


"Tapi ibu?"


"Aku akan meminta suster untuk menjaganya sementara." Rendra berucap dengan nada tegas, yang artinya tidak boleh dibantah oleh siapapun termasuk Luna. Mau tidak mau Luna pun harus menuruti perintah suami nya tersebut.


*****


"Aku tidak mau melihatmu seperti ini lagi Sayang. Beberapa hari ini kamu tidak memperhatikan diri sendiri." Rendra mulai mengomel setelah keduanya menyelesaikan makan dan berjalan kembali ke kamar perawatan sang ibu.


"Apa perlu aku meminta perawat datang ke rumah untuk mengingatkanmu makan setiap saat."


"Ih mas Rendra lebay ah, iya, iya, namanya juga lupa. Biasanya juga makan terus. Kalau gendut juga kamu katain aku, Luna gendut, perut gendut."


Ganti Luna yang marah. Rendra hanya mampu menarik nafas panjang dan melepaskannya serta berusaha tersenyum melihat kelakuan sang istri yang membuat dirinya sangat gemas itu. Bukankah dirinya sedang marah? Tapi kenapa dirinya yang merasa bersalah? Seperti inikah repotnya menjadi suami?


Luna dan Rendra telah sampai di depan ruang perawatan bu Diana dengan sigap suami polos itu membukakan pintu untuk sang istri.


Saat pintu terbuka tampak bu Diana sudah duduk di tempat tidur dan hendak berusaha untuk berdiri. Luna dan Rendra segera berlari mendekati.


"Ibu sudah bangun? Ibu mau kemana?" Luna membantu bu Diana duduk kembali, sementara Rendra merasa sedikit kikuk untuk berbicara. Laki-laki itu takut jika bu Diana akan kenapa-kenapa saat melihatnya.


"Ibu hanya capek. Kalian dari mana?"

__ADS_1


"Habis makan bu," jawab Luna.


Bu Diana berkenyit, "pasti kamu belum makan sejak siang. Iya kan Lun?"


Luna memainkan bibirnya, kenapa semua orang memarahi nya hari ini? Tapi tidak apa, setidaknya dengan begitu dirinya tahu kalau bu Diana sudah baik-baik saja.


"Luna tidak mau makan bu takut gendut katanya." Rendra berusaha merubah suasana.


"Jangan begitu Luna! Nanti kalau kamu sakit gimana?" Bu Diana masih memiliki keinginan untuk mengomel.


"Itu juga karena mas Rendra bu, dia sering ngatain kalau Luna gendut, jelek." Dengan wajah cemberut Luna mengatakan isi hatinya yang membuat bu Diana dan juga Rendra tertawa.


Luna pun senang melihat bu Diana kembali tertawa seperti sebelumnya. Ketakutannya beberapa jam yang lalu tidak terjadi.


"Rendra jangan olok-olok menantu ibu seperti itu Nak! Itu tidak lucu. " ucap bu Diana amasih dengan tertawa. Namun cukup membuat Rendra dan Luna terdiam. Apa ini? Bu Diana mengatakan jika Luna adalah menantunya?


"Kenapa kalian diam? Sini peluk ibu."


Rendra dan Luna yang masih terdiam hanya bisa tersenyum simpul sambil memeluk bu Diana. Pelukan sayang yang biasa mereka lakukan, bahkan bersama Max juga.


"Dulu ibu kehilangan satu putra, tapi kini ibu mendapatkan dua. Rendra putraku dan Luna putriku." Kalimat bu Diana membuat Rendra melepaskan pelukan nya dan memandang bu Diana.


"Putraku, putra kandungku. Ibu sangat merindukanmu Nak. Maafkan ibu selama ini tidak bisa mengenalimu."


Rendra tidak mampu membendung air matanya lagi. Laki-laki itu kembali memeluk erat sang ibu yang telah bisa mengingatnya. Sebuah kebahagiaan yang tidak bisa diukur dengan apapun di dunia ini.


"Terimakasih Tuhan, terimakasih Engkau telah mengembalikan ibuku." Rendra tak berhenti mengucap kata syukur.


"Ren, dimana ayahmu Nak?"


Sebuah pertanyaan yang tidak pernah Rendra dan Luna fikirkan sebelumnya. pertanyaan yang pasti akan bu Diana katakan setelah mengingat semuanya. Jawaban apa yang harus mereka berikut untuk sang ibu?

__ADS_1


__ADS_2