
Hari ini adalah hari kedua kepergian Rendra. Menurut penuturannya kemarin, laki-laki itu berjanji akan pulang hari ini.
Luna telah mempersiapkan segalanya. Dari pagi gadis itu menghias kamar dengan puluhan lilin. Kalimat “I Love You” dia tuliskan di dinding kamar. Kamar yang sangat romantis, hiasan bunga yang membentuk hati di tempat tidur menandakan jika pemilik kamar adalah sepasang sejoli yang akan memadu kasih di peraduan.
Luna tersenyum puas melihat hasil kerjanya. “Semoga kamu senang”, ucapnya lirih kemudian berlari menuju meja makan.
“Gimana bi?” tanya Luna kepada bi Inah yang sedari tadi sibuk menuruti keinginan Luna.
“Sudah siap Non, Tuan pasti senang melihat ini semua,” jawab bi Inah sambil kembali merapikan meja makan.
“Terimakasih bi, aku siap-siap ke kamar dulu,” pungkas Luna.
Hari ini Luna telah memutuskan sesuatu yang besar dalam hidupnya. Sesuatu yang seharusnya dia putuskan sejak dulu. Ya, hari ini gadis itu akan mengucapkan cinta kepada Rendra. Luna telah menyadari jika pangeran yang selama ini dia harapkan, adalah Rendra. Rendra adalah pangerannya.
Malam ini, Luna akan mengubah pernikahan ini menjadi pernikahan yang sesungguhnya. Bukan hanya sebuah kompromi seperti yang sedari dulu dia lakukan. Gadis itu bertekad jika mulai malam ini dirinya akan memberikan seluruh cinta untuk Rendra. Akan selalu setia dan mencintai Rendra hingga akhir hayatnya.
“Aku mencintaimu Mas, aku sangat mencintaimu. Betapa bodohnya diriku yang baru menyadari hal ini sekarang. Maafkan aku. Om Rendra Baskoro, ternyata om adalah pangeranku,” ucap Luna sambil tersenyum sendiri.
__ADS_1
“Apakah aku sudah cantik”? Kata Luna kepada dirinya sendiri setelah mengoleskan lipstik di bibirnya.
“Aku tidak akan melupakan ini, aku tahu dirimu pasti akan menungguku untuk memakainya, kamu pasti akan menyukainya om,” kata Luna lagi saat mengambil sebuah kotak berwarna pink dari lemari. Kotak itu adalah kado pernikahan dari adik-adik Rendra.
Saat itu adik-adik Rendra berkata, bahwa kado itu adalah pilihan Rendra sendiri. Betapa terkejutnya Luna saat tahu bahwa kado tersebut adalah sebuah lingeri, baju haram yang tidak akan pernah dia pakai, fikirnya saat itu. Namun kali ini dengan senang hati Luna akan menunjukkannya di depan sang suami.
Luna melihat ke dinding, sudah pukul delapan malam. Kenapa Rendra tidak kunjung datang? Fikirnya cemas. Gadis itu mengambil ponselnya hendak menghubungi Rendra, tapi niat tersebut diurungkannya.
Namun tak lama sebuah panggilan muncul di ponselnya, nama RENDRA tertulis jelas di layar. Luna segera menggeser tombol hijau di layar ponsel.
“Halo Mas Rendra,” ucapnya dengan ekspresi wajah malu-malu.
Beberapa orang yang mendengar teriakan Luna segera datang menghampiri. Semua tampak gaduh. Sang penelepon tersebut bukanlah Rendra, melainkan polisi yang mengabarkan jika suami Luna tersebut mengalami kecelakaan. Mobil Rendra masuk ke dalam jurang, hingga habis terbakar. Jasad Rendra pun sudah tidak bisa di
kenali.
Rendra telah meninggal. Laki-laki itu teah meninggalkan cintanya. Meninggalkan Luna yang baru menyadari jika dirinya sangat mencintai Rendra.
__ADS_1
“Mas Rendra tidak mungkin meninggal, Mas Rendra masih hidup,” ucap Luna yang masih terus histeris.
Beberapa orang yang ada di tempat berusaha menyadarkan dan menguatkan Luna, termasuk ibunya yang segera datang setelah mendengar berita tersebut.
“Kamu yang sabar ya Nak,” ucap Ibu sambil memeluk erat putri semata wayangnya tersebut.
Acara pemakaman berlangsung dengan penuh kesedihan. Para karyawan Rendra yang turut hadir, terus meneteskan air mata. Bagi mereka Rendra bukan hanya seorang bos, tapi Rendra adalah malaikat. Laki-laki itu selalu menjadi orang pertama yang siap membantu segala kesulitan para karyawannya. Dan saat ini mereka merasa sangat kehilangan sosok Rendra.
Tidak hanya karyawan, para kolega dan fans Rendra dari berbagai daerah juga turut hadir memberikan penghormatan terakhir kepada suami Luna tersebut. Sembari menguatkan Luna untuk tetap tegar menghadapi cobaan ini.
Sementara Luna, gadis itu merasa sangat shock. Luna hanya diam sambil terus memandang pusara Rendra. Mas Rendra tidak mungkin meninggal, Mas Rendra akan pulang. Kalimat itulah yang sedari tadi dia ucapkan.
“Bi, apa bi Inah sudah mengabari orang tua Nak Rendra?” tanya ibu Luna kepada bi Inah.
“Sudah Nyonya, sebelum saya menelepon Nyonya, saya terlebih dahulu menelepon Nyonya besar,” jawab bi Inah.
Ya, pemakaman ini dilakukan tanpa dihadiri orang tua Rendra. Bahkan setelah pemakaman pun sama sekali tidak muncul satu pun keluarga dari Rendra. Hal ini membuat sedikit gunjingan diantara para asisten rumah tangga bahkan di kalangan karyawan Rendra.
__ADS_1
“Yasudah bi, tidak apa-apa. Mari kita siapkan acara untuk doa bersama!” ajak ibu Luna yang tidak ingin membahas terlalu dalam masalah ini.