PANGERANKU OM-OM

PANGERANKU OM-OM
BAB 15


__ADS_3

“Mas Rendra, Mas Rendra..,” panggil Luna sembari mencari keberadaan sang suami. Gadis itu berlari menelusuri hutan yang sangat rimbun sambil terus memanggil-manggil nama Rendra.


“Mas Rendraaa…,” sekali lagi panggilan itu dia teriakkan, namun tidak ada sedikitpun jawaban dari orang yang tengah dicari-carinya. Hingga Luna merasa lelah dan sedih.


Air matanya mengalir deras membasahi pipi, menggantikan gerakan kakinya yang tak mampu lagi untuk berlari. “Mas Rendra kamu dimana?”


“Luna, Luna sayang,” sebuah suara yang sangat Luna nantikan akhirnya datang. Luna menoleh ke sumber suara, menyaksikan Rendra yang kini tengah berdiri di hadapannya.


“Mas Rendra..,” ucapnya kemudian bergegas memeluk sang suami yang tengah memakai pakaian serba putih itu.


“Mas Rendra dari mana saja? Aku mencari-carimu.”


“Mas di sini sayang,” jawab Rendra sambil memeluk Luna, “Luna, jaga dirimu baik-baik. Mas akan pergi. Tapi cinta Mas akan selalu bersamamu. Cinta mas akan selalu menjagamu sayang.”


“Apa yang mas Rendra katakan?”


“Iya Luna, kita akan berpisah. Selamat tinggal sayang,” kata Rendra kemudian menghilang bersamaan dengan cahaya yang menyilaukan mata.


“Mas Rendra…,” teriak Luna sambil terengah-engah, wajah gadis itu dipenuhi dengan keringat.


“Luna, Luna apa yang terjadi? Kamu bermimpi?” Rendra yang saat ini tengah tidur di kursi samping tempat tidur Luna segera melompat mendekati sang istri.


Luna memandang Rendra sambil tersenyum. Ternyata ini semua hanya mimpi, batinnya sambil terus terengah-engah.


“Kamu mimpi buruk?” tanya Rendra lagi yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Luna.


“Semua baik-baik saja, kembalilah tidur!” Rendra membantu Luna kembali merebahkan tubuh, sementara Luna memegang erat tangan suaminya.


“Aku takut,” ucap Luna lirih.


“Jangan takut! Aku di sini,” kata Rendra sambil menarik kursi mendekat ke arah tempat tidur Luna. “Aku akan menemanimu di sini, tidurlah!” imbuh Rendra kembali sambil mengelus kening Luna hingga gadis itu tertidur.


*****

__ADS_1


“Dokter aku sudah sembuh, kapan aku boleh pulang?” Rengek Luna kepada dokter yang tengah memeriksanya.


“Kamu sudah tidak betah di sini?” dokter yang sudah akrab dengan Luna itu kembali bertanya.


“Iya lah dok, namanya juga pengantin baru. Pengennya pasti di kamar terus sama suaminya.” Celetuk salah satu perawat yang membuat Luna tertunduk malu.


“Baiklah Luna, semua sudah baik, kamu bisa pulang sekarang.”


“Syukurlah,” ucap Luna girang.


“Asal kamu berjanji harus bisa menjaga diri dengan baik. Makan yang teratur dan jangan suka begadang!”


“Siap.”


“Jangan khawatir dok! Aku akan memastikannya,” imbuh Rendra.


“Iiih, romantis sekali sih pasangan ini.” kembali perawat itu menggoda Luna dan Rendra, membuat semua yang ada di tempat itu tertawa.


Hari ini juga Luna pulang ke rumah. Sambutan dari para asisten rumah tangga Rendra membuat gadis itu tampak sangat senang. Rendra telah menyiapkan semuanya. laki-laki itu meminta para asistennya untuk menghias rumah sebagus mungkin. “Hari ini harus berkesan untuk Luna,” katanya.


Luna.


“Ini spesial untuk Non Luna, makanan dan semua hiasan ini Tuan Rendra yang memintanya.”


“Oo iya?” tanya Luna tidak percaya.


“Iya Non, cinta Tuan Rendra ke Non Luna sangat besar. Non sangat beruntung memiliki suami seperti Tuan Rendra.”


Luna tersenyum sambil terus menikmati makanan di meja. Matanya celingukan mencari keberadaan sang suami, “dimana dia?” fikirnya.


Selesai makan, Luna masuk ke kamar. Gadis itu merasa sedikit lelah. Mungkin kesehatannya masih belum pulih sepenuhnya. Dimana Rendra? Kenapa dia tidak menemuiku? Batinnya.


Krakkk, suara pintu di buka.

__ADS_1


“Mas Rendra dari mana?” tanya Luna.


Rendra sedikit terkejut dengan pertanyaan Luna. Jika diingat-ingat baru kali Luna ini menanyakan keberadaannya.


“Ah, Mas dari ruang kerja.”


“Kenapa tadi tidak makan?” tanya Luna lagi.


“Mas aa..”


“Seharusnya kamu makan dulu Mas, kamu kan juga harus menjaga kesehatan. Tadi bilang sama dokter katanya mau memastikan kalau aku baik-baik aja, gimana bisa kalau kamu nya aja enggak baik-baik aja,” belum selesai Rendra mengatakan kalimatnya, Luna sudah mengeluarkan ocehan panjangnya.


“Iya Luna, mas..”


“Ih banyak alasan, dari tadi pagi kamu belum makan Mas. Terus lihat itu sekarang jam berapa, makan siang juga udah telat. Nanti kalau kamu sakit gimana? Kalau kamu..”


Tiba-tiba bibir Luna terasa hangat. Sebuah kecupan mendarat di pipinya tanpa dia sadari. Entahlah gerakan Rendra begitu cepat hingga Luna tidak menyadari apapun.


“Kamu terlalu banyak bicara sayang. Dan ternyata ini adalah cara untuk menghentikannya,” ucap Rendra setelah berhasil mencuri ciuman pertama Luna.


Luna hanya bisa mengaga. Hidupnya seperti di pause selama beberapa detik. Ciuman itu adalah hal pertama baginya. Dan Rendra mencurinya dengan cara seperti itu.


“Kamu merindukan Mas?” imbuh Rendra lagi yang kali ini mampu membuat Luna kembali ke dunianya.


“Ihhh, dasar mesum..,” teriak Luna sambil memukul dada Rendra dengan kedua tangannya. Gadis itu merasa sangat tidak terima. Rendra berusaha menghentikan gerakan Luna dengan memegang kedua tangan gadis itu.


“Luna tenanglah!” ucapnya sambil menatap mata Luna tajam. Tatapan itu pun mampu membuat Luna tertunduk malu.


“Kamu malu?” tanya Rendra kembali sambil mengangkat dagu Luna yang tidak berani menatapnya.


Jantung Luna berdetak semakin cepat, saat Rendra kembali menatapnya dengan tatapan tajam. Apa lagi kini wajah Rendra semakin dekat dengan wajahnya. Apakah Rendra akan menciumku lagi? fikirnya. Apa yang harus ku lakukan jika dia melakukan hal yang sama? Apakah aku harus menghindar atau aku harus diam? Ah apa yang ku fikirkan.


Cup, sebuah kecupan hangat mendarat di kening Luna. “Aku berjanji tidak melakukannya lagi, kecuali kamu yang memintanya,” ucap Rendra sambil tersenyum. Laki-laki itu sepertinya tahu apa yang ada di fikiran istrinya.

__ADS_1


“Aku membawa obatmu, minumlah obat ini kemudian istirahat!” Rendra memberikan beberapa kapsul ke tangan Luna dan membantu gadis itu untuk meminum obatnya.


Luna merasa ada yang berbeda dari dalam dirinya. Dia mulai menyukai setiap hal kecil yang Rendra lakukan untuknya. Apakah pangeran itu adalah Rendra?


__ADS_2