PANGERANKU OM-OM

PANGERANKU OM-OM
BAB 22


__ADS_3

“Non Luna, apa benar Non akan mengalihkan harta warisan Tuan Rendra ke Mas Ryan?”  Tiba-tiba bi Inah menanyakan hal tersebut. Luna nampak terkejut, gadis itu menghentikan kegiatannya kemudian memandang perempuan yang sudah dekat dengannya itu tajam.


“Maaf Non, bukannya bibi ikut campur. Kemarin bibi sempat mendengar apa yang Non Luna katakan kepada pengacara itu,” imbuh bi Inah.


“Iya Bi, mungkin Mas Rendra salah dengan keputusannya waktu itu. Luna sama sekali tidak mengerti tentang perusahaan milik Mas Rendra. Jadi biarlah kak Ryan yang mengurusnya.”


“Tapi Non,bagaimana kalau keputusan Tuan Rendra itu suah difikirkan masak-masak olehnya? Tuan Rendra pasti memiliki alasan kuat untuk memberikan seluruh hartanya kepada Non Luna.”


Luna sempat tercengang dengan apa yang dikatakan pembantu rumah tangganya itu. Tidak hanya bik Inah, bahkan Rani pun juga mengatakan hal yang sama.


“Tidak mungkin Bi, lagipula akan menjadi kesalahan jika Luna yang menerima seluruh warisan itu. Luna belum ada satu tahun menikah dengan Mas Rendra, lagi pula Mas Rendra mendapatkan semua kekayaan ini jauh sebelum menikahi Luna kan?”


“Iya tapi…, tapi kenapa mama Tuan Rendra sangat berambisi untuk mendapatkan ini semua Non?”


“Husss, Bibi ngomong apa sih? Mama memperjuangkan adik-adik Mas Rendra bi. Anak-anak itu butuh masa depan yang cerah dan biaya yang tidak kecil pula. Siapa lagi yang akan mencukupi kebutuhan mereka selain Mas…”


“Kenapa harus Tuan Rendra? Mereka masih memiliki orang tua lengkap.”


“Maksud Bibi?” tanya Luna yang keheranan dengan kalimat yang baru saja bi Inah keluarkan.


“Anak-anak itu bukan adik Tuan Rendra, mereka adalah putra dari ibu tiri Tuan Rendra dengan suami barunya.”


“Hahh,” Luna mendelik, kebenaran apa ini?


Bi Inah celingukan melihat ke kiri dan ke kanan, berharap tidak ada yang mendengar apa yang baru saja dikatakannya.


“Apa yang Bibi katakan?” tanya Luna setengah berbisik. Dia pun juga tidak ingin orang lain mendengar apa yang tengah mereka bicarakan saat ini.

__ADS_1


“Tuan Rendra adalah anak tiri dari Nyonya Fatwa, perempuan yang Tuan Rendra panggil dengan sebutan mama. Nyonya Fatma menikah dengan almarhum ayah Tuan Rendra saat usia Tuan Rendra sepuluh tahun.”


“Bi, aku tidak tahu sama sekali masalah ini,” kata Luna masih tidak percaya.


“Tuan Rendra sangat menyayangi Nyonya Fatma seperti ibu kandungnya sendiri. Namun tak berselang lama, Ayah Tuan Rendra meninggal. Nyonya Fatma menikah lagi dan menetap di Singapura bersama suami barunya. Sementara Tuan Rendra ditinggal sendirian di kota ini hanya berbekal harta peninggalan almarhum ayahnya yang hampir habis. Karena sebelum meninggal, perusahaan ayah Tuan Rendra sedang bangkrut.”


“Lalu?”


“Bukan Tuan Rendra namanya jika tidak mau bekerja keras. Dengan segala pengorbanan semua ini berhasil beliau raih di usia yang masih belia.”


Luna tersenyum mendengar cerita bi Inah. Ya suaminya memang seperti itu.


“Sementara Nyonya Fatma, tiada angin tiada hujanselalu meminta uang kepada Tuan untuk ini, untuk itu. Tuan Rendra akan selalu menuruti kemauan sang ibu tiri.”


“Lalu siapa Ryan Bi?”


Luna menghembuskan nafas panjang. Gadis itu mulai meragukan apa yang sudah diputuskannya untuk mengalihakn warisan Rendra ke tangan Ryan. “Jika Ryan bukan kakak dari Rendra, laki-laki itu tidak memiliki hak apapun terhadap harta warisan Rendra.


*****


Malam ini Luna sengaja tidak segera memejamkan mata, gadis ini merasa ada sesuatu yang aneh di dalam rumah ini. Bayangan akan Ryan dan juga sang mertua membuat dirinya sungguh merasa tidak nyaman.


Krucuk, krucuk, sebuah suara muncul dari dalam perut gadis itu. Luna memandang jam dinding di tembok, pukul satu dini hari. Jam-jam krusial itu tak jarang membuat seseorang ingin kembali memuaskan perutnya.


Luna berjalan menuju dapur hendak mencari makanan. Namun langkahnya terhenti saat mendengar suara gaduh disebuah kamar.


“Inikan kamar Mama?” batin Luna. Karena rasa penasaran yang  tinggi, gadis  itu mulai menempelkan telinganya di pintu. Terdengar dua macam suara yang ada di dalam, menandakan bahwa ada dua orang yang tengah berbicara di dalamnya.

__ADS_1


“Mama sudah sering bilang Ryan, kamu harus hati-hati. Luna sudah curiga denganmu.” Dari kalimat yang diucapkan, Luna sudah yakin jika yang empunya suara adalah Bu Fatma, ibu mertuanya.


Mendengar itu, Luna semakin penasaran untuk terus mencuri dengar. Gadis itu mencari posisi yang terbaik agar bisa mendengar dengan lebih jelas.


“Ah gadis kecil itu, bisa apa dia Ma?”


“Bodoh, dia memergoki kamu tengah bersama perempuan malam itu Ryan.”


“Biarkan saja lah Ma, lagi pula anak kecil itu sudah bersedia mengalihkan harta Rendra.”


“Mama tahu, tapi mama khawatir Ryan. Sebelum harta warisan itu jatuh ke tangan kita, mama belum bisa tenang Nak.”


“Tenang Ma, jangan terlalu banyak fikiran! Ingat kesehatan Mama! Harta Rendra pasti akan jatuh ke tangan kita. Sudah banyak sekali yang kita korbankan untuk ini semua Ma.”


“Ryan, mama mohon jangan bahas itu lagi Nak!”


“Tidak Ma, ini tidak akan Ryan lupakan. Dendam Ryan untuk Airlangga Baskoro akan tetap mendarah daging.”


Luna sangat terkejut dengan apa yang mereka berdua bicarakan. Meskipun tidak banyak mengerti, tapi Luna yakin jika keberadaan Bu Fatma dan juga Ryan di sini tidak memiliki niat yang baik.


Dengan hati-hati gadis itu segera pergi dari tempatnya mencuri dengar saat ini. Meskipun kedua orang tersebut belum selesai berbicara, tapi Luna sudah tidak mampu lagi bertahan di tempat tersebut.


Airlangga Baskoro adalah ayah kandung Rendra. Luna pernah melihat foto laki-laki itu bersama Rendra kecil. Laki-laki dengan postur tubuh yang mirip dengan Rendra tersebut memiliki wajah yang sejuk dan menenangkan, sama seperti wajah almarhum ayahnya.


Tapi kenapa Ryan dendam ayah Rendra? Apa yang membuat Ryan sebenci itu dengan beliau? Kembali pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban itu dia sematkan.


“Jika seperti itu, tidak akan ada surat pengalihan kekuasaan. Ya aku tahu Mas, aku tahu kenapa kamu meninggalkan semua harta ini untukku. Aku pasti akan menjaga semua ini Mas. Aku berjanji,” kata Luna lirih.

__ADS_1


__ADS_2