PANGERANKU OM-OM

PANGERANKU OM-OM
BAB 31


__ADS_3

[Kamu terlihat sangat cantik saat memakai pakaian itu, Sayang]


Pesan yang Rendra kirim ke ponsel Luna membuat gadis itu tersenyum. Luna celingak-celinguk mencari keberadaan orang yang telah mengirimnya. Dimana mas Rendra? batinnya.


[Apa yang harus kulakukan? Aku takut salah saat bertemu klien.]


Luna membalas pesan teks yang Rendra kirim.


[Aku percaya padamu, kamu hebat.]


Balasan pesan Rendra membuat Luna menarik nafas panjang. Ini bukan pertama kalinya dirinya bertemu klien perusahaan Rendra, namun entah mengapa saat ini hatinya merasa sedikit berat.


“Ibu sudah siap? Klien sudah menunggu di ruang meeting,” kata bu Inggit saat masuk ke ruangan Luna.


Luna mengangguk, gadis itu memepersiapkan laptop dan beberapa peralatannya untuk dibawa ke ruang meeting.


“Bu, apakah perusahaan kita sudah pernah bekerjasama dengan perusahaan ini sebelumnya?” tanya Luna saat keduanya berjalan menuju ruang meeting.


“Belum, ini perusahaan baru. Namun perusahaan ini memiliki track record yang bagus dikancah perindustrian,” jawab bu Inggit.


Meeting pun selesai dilakasanakan, kesepakatan perjanjian kerja sudah ditandatangani oleh kedua belah pihak. Sejauh ini semua berjalan dengan lancar.


“Bu Luna, saya sangat senang bisa bekerjasama dengan perusahaan Anda,” ucap pemilik perusahaan rekanan tersebut.


“Terimakasih Tuan Roby,” jawab Luna kepada laki-laki yang seusia suaminya itu. Kali ini Luna sudah tidak menaruh curiga apapun.


“Baiklah, untuk hal-hal yang lain akan kita bicarakan lain waktu.”


“Ok, Ibu Inggit akan membantu Anda, Tuan.”


“Ah tidak, ini masalah penting. Maksud saya kerjasama ini adalah hal penting bagi perusahaan saya, jadi saya ingin Ibu Luna sendiri yang membicarakan pelaksanaan kerjasama kita. Bagaimana bu?”


Luna sedikit heran mendengarnya. “Ah baiklah Tuan,” jawabnya sambil tersenyum. Gadis itu sama sekali tidak memiliki fikiran buruk terhadapnya.


*****


“Bagaimana meeting tadi pagi Sayang?” tanya Rendra saat bersama dengan Luna. Selesai bekerja gadis itu menyempatkan diri untuk menemui suaminya di tempat persembunyian.

__ADS_1


“Lancar, pemilik perusahaan itu sangat baik dan ramah,” jawab Luna sambil memasukkan makanan ke mulutnya. Setiap hari bi Inah membawa makanan untuk Rendra, inilah yang membuat tempat itu menjadi sangat nyaman bagi gadis yang hobi makan tersebut.


“Ramah?” Rendra berusaha memperjelas pendengarannya.


“Ya, dia seumuranmu. Perusahaan miliknya juga memiliki track record yang bagus.”


Rendra memeriksa beberapa berkas yang dibawa oleh Luna. Bukan tidak percaya dengan sang istri tapi Rendra memiliki sedikit rasa curiga terhadap perusahaan yang menginginkan kerjasama dengan perusahaannya tersebut.


“Kapan mereka akan membicarakan pelaksanaan kerjasamanya?” tanya Rendra kembali sambil membolak-balik kertas yang berisi profil perusahaan yang Luna ceritakan tersebut dan juga berkas kerjasama.


“Entahlah, Tuan Roby ingin membicarakan masalah itu denganku nanti.”


Rendra mendelik, matanya berputar berusaha memahami apa yang sedang terjadi. Hingga senyum tipis tersungging di bibirnya.


“Ada apa?” tanya Luna.


“Tidak apa-apa, makan saja kamu sudah seperti orang yang tidak makan tiga hari,” gurau Rendra yang membuat Luna memonyongkan bibir manisnya.


“Gak selera makan kalau enggak ada Mas Rendra,” ucap Luna manja.


“Hmm, betulkah seperti itu?  Bukankah Luna tidak pernah mau makan bersama om-om tua ini?” gurau Rendra tapi malah membuat Luna kesal.


“Ih Mas Rendra ih, kok gitu sih.”


Rendra terkekeh, didekatinya istri yang sangat dia cintai tersebut. Mengecup kening kemudian memeluk. “Apakah kamu merindukanku?”


“Sangat,” jawab Luna dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.


Jawaban polos Luna membuat gairah di diri Rendra pelan-pelan menggelora. “Sayang, apa kamu tidak ingin istirahat di kamar?” pancing Rendra.


“Tidak, aku ingin makan.” Kembali jawaban polos Luna keluar dari mulutnya. Namun kali ini membuat Rendra sedikit kesulitan untuk mencari cara memancing istrinya tersebut.


“Ah, selama ini kita belum pernah itu. Bagaimana kalau kita ee, ee, kita…”


Luna mengehentikan aktivitas mulutnya. Berusaha memahami apa yang ingin Rendra katakan.


“Itu, kita kan belum pernah ee ee..”

__ADS_1


“Apa sih Mas?” tanya Luna keheranan dengan tingkah suaminya yang tiba-tiba dirasa aneh.


Rendra menghela nafas panjang. Bagaimanapun juga gairah ini juga baru pertama kali dirinya rasakan, apalagi untuk Luna. Jika tidak hati-hati Luna akan marah, yang artinya akan sulit mendapatkan kesempatan manis seperti ini kembali.


“Mas Rendra kenapa? Sakit?” tanya Luna yang dibalas gelengan kepala oleh Rendra. Hal ini pun membuat Luna bingung.


“Sayang, kamu ingat waktu kita di rumah. Waktu itu kamu di kamar mandi, apa kamu ingat?”


Luna semakin tidak mengerti dengan suaminya. “Aku selalu menghabiskan waktuku selama beberapa menit di kamar mandi. Dan dalam sehari minimal dua kali aku disana.”


“Tidak Lun, tidak seperti itu. Kamu ingat waktu di kamar mandi ada kecoa dan kamu takut lalu kamu memeluk Mas tanpa pakai baju,” ucap Rendra sedikit berbisik dan juga hati-hati. ”Apa kita bisa mengulanginya lagi?” imbuh laki-laki itu saat dilihatnya sang istri hanya diam mendengar penjelasannya.


Selama beberapa menit Luna terdiam, tanpa ada pergerakan dari bibir maupun tubuhnya. Ini membuat Rendra sedikit takut, apa yang akan Luna lakukan? Apakah gadis ini akan marah? Atau apa mungkin Luna tidak memahami maksudnya?


“Dasar om-om mesum!” Kalimat pertama yang keluar dari mulut Luna membuat Rendra bernafas lega. Pasalnya gadis itu mengatakan kalimat tersebut dengan senyum malu-malu yang artinya Luna tidak marah.


Rendra hanya tersenyum, wajah tampannya menunjukkan harapan yang begitu besar bagi Luna untuk menuruti keinginannya saat ini.


Luna menggeleng bersamaan dengan raut wajahnya yang berubah sendu. “Ada apa Sayang? Kamu sedih? Maafkan aku, aku tidak akan memaksamu Luna. Jika hal itu tidak membuatmu nyaman aku akan…”


Cuppp, sebuah ciuman manis kembali mendarat di bibir Rendra. Sebuah ******* dari bibir Luna terasa sangat menenangkan. Apakah hal itu akan terjadi hari ini? fikir Rendra bahagia.


“Malam itu, aku telah menyiapkan semuanya. Kamar yang penuh dengan lilin, tempat tidur yang di atasnya terdapat bunga mawar berbentuk hati, baju ****, semua sudah kusiapkan. Tak lupa aku juga telah menghafal beberapa kalimat cinta yang telah ku baca dari novel “De Luna”. Aku menyiapkan semua itu untukmu Mas. Malam itu aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk menjadi istri seutuhnya untukmu. Pernikahan kita akan menjadi sempurna. Tapi…”


Rendra memeluk erat tubuh istrinya saat melihat tubuh itu bergetar. Yang berarti bahwa sebentar lagi air mata Luna akan turun.


“Tidak Sayang, sudah. Jangan katakan lagi! Maaf, aku tidak tahu sama sekali jika…”


“Ini yang pertama bagiku Mas, aku ingin malam itu akan menjadi spesial. Yang akan mampu kita kenang hingga kita tua,” ucap Luna.


Rendra mengangguk, sedikit rasa kecewa di dirinya. Tapi tidak apa, Luna benar. Dan dia tidak akan memaksa gadis itu. Cinta Rendra bisa mengalahkan apapun di dunia ini, tak terkecuali nafsu.


@@@@


Yahh, kirain bakalan belah duren.


Hehehe, sabar ya..

__ADS_1


__ADS_2