PANGERANKU OM-OM

PANGERANKU OM-OM
BAB 7


__ADS_3

Ini adalah kali pertama Luna pergi ke kantor Rendra. Ah tidak, ini yang kedua kalinya. Luna ingat benar, kejadian dua tahun lalu saat dirinya dan Rina rela berpanas-panasan di depan kantor untuk meminta tanda tangan sang penulis, Rendra. Meskipun kala itu hasilnya zonk. Dan kini penulis yang dia kagumi itu menjadi suaminya.


“Selamat sore Bu Luna,” sapa seorang laki-laki berseragam satpam.


Hei dari mana dia tahu namaku? Batin Luna. Ah gadis polos, dia lupa jika saat ini dirinya adalah istri dari seorang Rendra Bagaskara, penulis terkenal dan pemilik perusahaan penerbitan besar. “Sore Pak, apa bisa saya bertemu dengan Mas Rendra?”


“Bisa Bu, mari saya antarkan!” ucap satpam itu ramah sambil berjalan masuk menuju ruangan Rendra, sementara Luna mengikuti dari belakang.


Beberapa orang yang melihat Luna, segera menundukkan kepala memberi salam. Ada juga yang menyapa. Semua orang di kantor ini sangat sopan, pegawai perempuan pun memakai pakaian yang sopan. Fix, Sherly memang bukan sekretaris Rendra, wanita itu hanya akan menjebak Rendra, batin Luna.


“Saya itu senang banget lo Bu waktu tahu Tuan Rendra dan Ibu Luna menikah, kok ya pas gitu lo. Laki-laki tampan dapat perempuan cantik kayak Ibu Luna,” ucap satpam itu membuka obrolan dengan logat jawanya.


Luna hanyabmeringis menanggapinya. Mau bagaimana lagi?


“Tuan Rendra itu orangnya baik banget lo Bu, Beliau tidak pernah menyulitkan kami para pegawainya. Beliau malah sering membantu masalah-masalah kami,” imbuh satpam itu lagi. Kali ini Luna merasa tertarik untuk mendengar lebih banyak lagi cerita tentang Rendra.


“Bukankah seorang atasan memang seperti itu Pak?” Luna memancing pembicaraan, berharap satpam itu akan melanjutkan ceritanya.


“TuanRendra itu beda. Beliau care banget sama kami. Ibu bisa lihat kan, semua pegawai di sini bekerja dengan nyaman, tanpa tekanan. Semua pada ramah-ramah, wong Tuan Rendra saja juga ramah sama kami.”


“Oh ya..”


“Lah Ibu kan istrinya, mestinya ya bakal lebih faham to, bukan begitu Bu?” ucap pak satpam. Kali ini kalimat satpam itu membuat Luna terpojok, Luna seperti makan senjatanya sendiri.


“Eh ada Ibu Luna,” tiba-tiba datang seorang perempuan setengah baya yang secara tidak langsung menyelamatkan Luna dari situasi ini.


“Eh Bu Inggit, ini Ibu Luna mau bertemu suaminya,” kata satpam itu kepada perempuan tadi.


“Mari Ibu saya antar, Tuan Rendra baru saja selesai meeting. Sekarang Beliau ada di ruangannya.” Kata Bu Inggit sambil mempersilakan Luna.

__ADS_1


“Ibu di sini sebagai apa?” tanya Luna sopan.


“Saya sekretaris Tuan Rendra, nama saya Inggit Bu,” jawab perempuan itu.


Luna tersenyum senang mendengarnya. “Pinter juga Si Rendra nyari sekretaris, gini kan lebih enak dilihatnya,” batin Luna senang. Ya, Bu Inggit adalah perempuan berusia sekitar empat puluh tahunan dan yang terpenting tidak seksi sperti Sherly.


Luna masuk ke ruangan Rendra setelah mengetuk pintu dan mendapat izin dari dalam. Tampak Rendra tengah sibuk di depan layar laptopnya.


“Ada apa Bu Inggit? Apakah laporannya sudah selesai?” kata Rendra tanpa memperhatikan lawan bicaranya.


“Saya… Luna,” jawab Luna sedikit grogi.


Rendra terkejut mendengarnya, laki-laki ini sama sekali tidak menyangka jika Luna akan berada di hadapannya saat ini.


“Luna, kamu, kamu di sini?” Rendra yang juga merasa grogi dalam sesaat merasa blank, laki-laki itu tidak tahu apa yang harus dia lakukan.


“Ah tidak, tidak,” Rendra segera menutup layar laptopnya dan beranjak mendekati Luna yang saat ini juga masih berdiri di depan pintu, “ada apa Luna? Apa ada masalah?”


“Aku, aku mau meminta maaf,” kata Luna dengan jantung yang berdetak kencang, ya semua orang juga akan merasakan hal yang sama saat akan mengakui kesalahannya.


“Duduklah!” ajak Rendra membawa Luna duduk di kursi tamunya.


“Aku telah salah sangka, kejadian malam itu memang bukan kesalahan Mas Rendra. Sherly yang menjebak Mas Rendra. Perempuan tidak tahu malu itu, ternyata dibayar oleh seseorang buat menjebak kamu Mas. Sherly mencampur alkohol ke dalam minumanmu hingga kamu mabuk.”


“Kamu, kamu tahu dari mana Lun?” Rendra mendelik penuh curiga.


“Tadi waktu makan di mall, sempet lihat Sherly sama laki-laki. Terus aku dekati dan mencuri dengar obrolan mereka.”


Rendra menghela nafas panjang mendengarnya, laki-laki itu bisa bernafas lega sekarang. Tidak bisa dipungkiri jika saat ini hati Rendra tengah berbunga-bunga. Apa yang Luna lakukan sudah cukup membuktikan jika gadis itu peduli terhadapnya.

__ADS_1


“Mas Rendra mau maafin aku kan?” tanya Luna polos tanpa berani menatap suaminya. Pasalnya sudah sekitar tiga menit keduanya diam.


“Memang Luna salah apa?” jawab Rendra yang malah membuat Luna bingung.


“Kemarin aku sudah teriak-teriak, marah-marah sama Mas Rendra. Ngatain Mas Rendra yang enggak-enggak. Itu sebenarnya karena…”


“Karena kamu cemburu..,” potong Rendra yang pastinya membuat Luna hanya ternganga.


Melihat ekspresi Luna, Rendra tertawa keras. “Sudahlah, hanya bercanda. Iya sudah dimaafkan,” ucapnya sambil terus tertawa.


Hal ini membuat Luna sedikit tidak suka, apa ini cara bercanda orang tua, batinnya.


Seperti bisa membaca fikiran Luna, Rendra pun menghentikan tawanya. "Bagaimana film yang kamu tonton hari ini Lun?" Laki-laki itu berusaha mengalihkan perhatian.


"Filmnya bagus, dapat salam dari Rani, "terimakasih" katanya."


"Sama-sama," balas Rendra.


Ya hanya kata itu yang bisa Rendra ucapkan saat ini. Dan hingga beberapa menit berikutnya suasana sunyi. Keduanya tidak bisa memulai percakapan.


"Kalau gitu aku pergi dulu, lanjutin saja pekerjaannya. Aku pulang duluan." Kalimat yang dibuka oleh Luna tapi juga kalimat terakhir pada perjumpaan mereka di sini.


"Aku akan pulang bersamamu. Aku akan mengantarmu. Ah jangan pulang sekarang! Aku masih ingin bersamamu. Tolong jangan pergi! Luna kamu mau kemana?" Berjuta-juta kalimat yang ada di otak Rendra untuk membalas kalimat Luna. Tapi itu hanya ada di otaknya tanpa bisa dia keluarkan melalui pita suara.


Hingga tanpa sengaja keluarlah kalimat, "iya Luna, hati-hati."


Luna pun mengangguk dan pergi meninggalkan Rendra seorang diri.


Laki-laki itu pun memukul kepalanya dengan tangan. “Dasar bodoh, bodoh, bodoh," umpatan itu berulang kali dia ucapkan untuk dirinya sendiri. Betapa bodohnya seorang Rendra yang mampu membuat kalimat indah di setiap tulisannya, namun tak mampu mengucapkan kalimat itu untuk perempuan yang sangat dia cintai.

__ADS_1


__ADS_2