PANGERANKU OM-OM

PANGERANKU OM-OM
BAB 28


__ADS_3

Luna termenung seorang diri di kamar. Gadis itu sedang berdiri di dekat jendela kamarnya. Dari tempat itu akan tampak jelas apa yang terjadi di bagian depan rumahnya. Selain itu, langit penuh bintang juga tampak dari tempat tersebut.


Saat ini Luna masih memikirkan apa yang tadi bu Fatma katakan. Ketakutannya mulai muncul. Apa yang akan terjadi jika Ryan bisa memutar fakta dan harta suaminya jatuh ke tangan mereka? Tidak, itu tidak boleh terjadi.


Rendra mendapatkan semua ini dengan susah payah. Air mata dan keringat bercampur menjadi satu. Sangat tidak adil jika bu Fatma dan Ryan mengambilnya begitu saja. “Tidak, lebih baik harta ini dihibahkan seluruhnya ke panti asuhan daripada harus jatuh ke tangan oarang-orang tamak itu,” batin Luna.


Luna tersadar dari lamunannya saat melihat sekelebat orang berjalan di taman rumahnya. Gadis itu mengikuti langkah orang tersebut dengan matanya. “Siapa itu?” tanya Luna pada dirinya sendiri.  “Ah mungkin Ryan.”


Namun tidak, meskipun Luna tidak terlalu mengenal Ryan tapi postur tubuh orang  yang dilihatnya tidak seperti Ryan. “Lalu siapa itu?” tanya nya lagi tanpa bisa dia jawab. “Apakah itu penjaga? Ah tidak, pak Didi telah pulang tadi.”


Luna semakin merasa curiga dan penasaran, suasana gelap di halaman rumahnya membuat gadis itu tidak bisa melihat jelas siapa orang yang ada di tempat itu.


Dengan keberanian yang dimiliki, Luna mencoba untuk turun ke bawah setelah sebelumnya memakai outer untuk menutupi baju tidur tipisnya.


“Siapa di sana?” teriak Luna sambil mengarahkan senter yang dia bawa ke arah taman.


Tidak ada seorang pun di tempat itu. Luna sedikit bergidik, angin dingin yang berhembus mampu membuat bulu roma nya berdiri.


Sekk, seeekk.., terdengar sebuah suara dari balik pohon. Luna segera mengarahkan senternya ke sana. dan tampak laki-laki tengah berlari. Luna segera mengejarnya sambil terus mengarahkan senter.


“Berhenti! Berhenti kamu!” teriak Luna .

__ADS_1


Namun laki-laki itu berlari dengan cepat menuju ke luar rumah melalui pagar. Luna terus mengejarnya. Sambil berfikir, bagaimana laki-laki itu bisa masuk ke dalam rumah? Aku melihat sendiri pak Didi telah mengunci pagar besar itu. Dan kunci gembok pagar juga dirinya sendiri yang menyimpan.


“Hai, berhenti!” teriak Luna dengan terengah-engah.


Tanpa terasa Luna berlari sampai jauh, hingga dirinya tidak lagi mengenal dimana dirinya sekarang. Dan yang lebih tragis, gadis itu kehilangan jejak.


“Shitt, dimana maling itu?” umpat Luna sambil mengarahkan senternya. Meskipun bergaya sok wonder woman, tapi Luna juga merasa cemas saat dirinya melihat sekeliling. Tempat itu sangat sepi, seperti sebuah gudang, gudang yang telah tak terpakai.


Luna membalikkan badan, mungkin pergi dari tempat ini adalah jalan terbaik, batinnya. Namun sekelebat bayangan kembali membuat dirinya terhenyak.  “Dimana kamu pengecut? Jangan hanya bersembunyi!” Luna kembali berteriak, tempat yang sepi membuat suaranya menggema.


Namun sesuatu mampu membuat Luna terkejut, aroma parfum yang sangat dia kenal muncul. “Mas Rendra.” Hanya itulah yang bisa dia ucapkan saat kembali mencium aroma itu.


Lalu muncullah laki-laki yang tadi dikejarnya. Laki-laki berbaju hitam dengan memakai topi hitam yang menutupi wajahnya.


Laki-laki itu tidak menjawab, dengan menunduk laki-laki itu berjalan mendekati Luna. Di posisi ini, Luna bisa merasakan dengan jelas aroma parfum milik Rendra.


“Kamu Mas Rendra kan?” ucap Luna lirih, pertanyaan itu begitu saja muncul dari bibirnya.


Laki-laki itu tetap mendekatinya. Antara rasa takut, penasaran, dan juga sok berani bercampur aduk menjadi satu pada diri Luna saat ini. Jika itu memang Rendra, dirinya pasti akan sangat bahagia meskipun itu tidak mungkin. Tapi bagaimana jika laki-laki itu adalah penjahat? Dan bagaimana jika…


“Pergi! Pergi kamu! Jangan mendekat! Pergi!” teriak Luna, keberanian yang tadi dibanggakannya sepertinya kini telah menciut.

__ADS_1


Namun laki-laki itu semakin mendekat. Membuat Luna harus memutar otak agar laki-laki ini pergi. “Aku, aku adalah juara karate. Jika aku memukulmu, maka tulangmu akan remuk.” Luna mempersiapkan jurus karate yang pernah dia lihat di TV.


Laki-laki itu berhenti, kemudian tertawa terbahak-bahak. Luna terkejut dibuatnya, “apa-apaan ini?” batinnya.


“Tidak akan ada orang yang takut dengan ancamanmu Sayang, apalagi jurus karate yang kamu tunjukkan. Kamu lebih mirip angsa yang sedang menari,” ucap laki-laki itu sembari membuka topi yang sedari tadi menutup wajahnya.


“Mas Rendra….” Teriak Luna kemudian berlari memeluk laki-laki yang ternyata adalah suaminya tersebut. Entahlah, ini manusia atau bukan. Yang ada di fikiran Luna saat ini adalah yang ada di hadapannya saat ini suaminya, Rendra.


Luna memeluk laki-laki itu erat. Rasa rindu yang selama ini dirasakannya, bagai terbayar dengan pertemuannya saat ini. Namun perlahan pelukan itu dia lepaskan. “Siapa kamu? Apakah kamu Mas Rendra? Atau kamu Doni?” pertanyaan itu kemudian dia ucapkan.


“Lihatlah mataku! Dan katakan siapa diriku!” perintah laki-laki tersebut.


Luna melakukan apa yang laki-laki itu minta. Gadis itu menatap mata orang di depannya tajam. Dari situ dirinya bisa melihat cinta yang sejuk, cinta yang sangat dirindukannya, cinta yang hanya dimiliki Rendra untuknya.


“Mas Rendra, iya kamu adalah Mas Rendra.” Senyum bahagia terpancar dari wajah Luna. gadis itu memegang seluruh tubuh Rendra, memeriksa wajah, tangan, perut, kaki.


“Hei, hei, apa yang kamu lakukan Luna?”


“Kamu manusia?”


@@@@

__ADS_1


Alhamdulillah akhirnya bisa menulis lagi setelah kemarin tidak bisa bangun dari tempat tidur. Terimakasih buat para pembaca yang selalu setia menanti cerita Luna dan Rendra selanjutnya. Kritik dan saran yang membangun tentunya sangat author butuhkan untuk membuat cerita yang lebih baik. Dukungan dari kalian sangat berarti buat author.  


__ADS_2