PANGERANKU OM-OM

PANGERANKU OM-OM
BAB 23


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Luna sudah bersiap. Ini bukan hari kerja dan dirinya juga tidak akan pergi ke kampus. Luna akan menemui Tuan Toni. Beberapa hari yang lalu pengacara itu sempat meninggalkan kartu nama untuknya.


Kartu nama yang berisi nomor telepon, alamat kantor, dan juga alamat rumah itu terus dipandanginya. Sejak pagi tadi Luna menghubungi nomor telepon yang tertera di kartu itu, namun nomor itu tidak bisa dihubungi. “Bukankah ini weekend, aku tidak mungkin ke kantornya. Aku harus datang ke rumahnya,” batin Luna sambil terus memperhatikan alamat rumah yang dia sama sekali tidak tahu itu dimana.


“Mau kemana Lun?” tanya Ryan tiba-tiba yang membuat Luna sangat terkejut. Pasalnya sedari tadi dia tidak melihat seorang pun di rumah ini. Luna memang sengaja keluar rumah sebelum semua mertuanya bangun tidur.


“Ah kak Ryan, aku, aku akan pergi dengan temanku,” jawab Luna sekenanya. Tidak mungkin dirinya berkata jujur di hadapan laki-laki itu.


“Luna, mengapa kau tidak menghabiskan waktu saja bersamaku?” tanya Ryan


“Ah maaf kak, aku harus keluar. Rani sudah menungguku, kami akan pergi bersama hari ini,” jawab Luna tanpa menaruh kecurigaan apapun terhadap laki-laki yang katanya kakak dari suaminya itu.


“Ok, baiklah. Aku harap kita bisa memiliki waktu berdua untuk kita agar bisa lebih dekat,” kata Ryan kembali sambil berjalan mendekati Luna.


Luna mulai risih dengan perilaku Ryan, kalimat dan juga tatapan mata laki-laki itu membuat Luna sedikit tak nyaman.


“Apa maksud kamu?” tanya Luna yang kali ini tidak memperdulikan sopan santunnya, jika bu Fatma tahu perempuan itu pasti akan memarahinya. Luna mulai melangkah mundur untuk menjauhi Ryan.


“Mari kita bersenang-senang!” Ryan mulai mengambil beberapa helai rambut Luna yang tergerai kemudian mencium rambut itu dalam-dalam. Seperti laki-laki yang sedang dipengaruhi nafsu setan.


“Ryan, jangan kurang ajar!” teriak Luna sambil melempar tangan Rendra dari rambutnya.

__ADS_1


“Luna Sayang, jangan sok suci. Kamu tidak mencintai Rendra kan? Dan kamu hanya bersandiwara menjadi istri yang baik dengan bersedih dan menangis agar bisa menguasai harta Rendra.”


“Apa kamu bilang?” Luna sangat terkejut dengan apa yang Ryan katakan. Bagaiamana bisa Ryan mengatakan hal-hal buruk seperti itu tentang dirinya.


“Ayolah Luna, Rendra sudah tidak ada di sini. Mari kita bersenang-senang. Aku sangat tertarik denganmu Sayang, kamu sangat cantik.” Ryan mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Luna, aroma busuk alkohol keluar dari mulut laki-laki itu. Membuat Luna ingin muntah.


“Pergi kamu!” Luna mendorong tubuh Ryan sekuat tenaga, hingga laki-laki itu oleng.


Hal itu membuat Ryan semakin tertantang. Sunggingan senyum kecil dari bibirnya memberi arti jika laki-laki itu menyukai permainan Luna.


“Gadis cantik, aku suka gayamu.” Kembali Ryan mendekati Luna, kali ini laki-laki yang dalam keadaan setengah mabuk itu kembali mendekati Luna dan berusaha meraih tangan gadis itu.


Namun dengan gerakan cepat, plaakkkk.


“Aku tahu benar apa tujuanmu datang ke rumah ini. Dan aku tidak akan membiarkan kamu dan ibumu merebut harta peninggalan suamiku. Ingat itu!” Hardik Luna tepat di depan wajah Ryan. Gadis itu pun segera membawa motornya dan meninggalkan rumah.


Sementara Ryan hanya memandang punggung Luna dengan sorot mata tajam. Sangat terlihat amarah di dalam matanya. Laki-laki itu mengepalkan tangannya, kemudian menyunggingkan senyum tipis dari bibirnya.


“Lakukan sekarang!” ucap Ryan setelah membuat panggilan telepon kepada seseorang di ponselnya.


*****

__ADS_1


Luna melajukan motor dengan pelan. Kali ini dia berada di sebuah daerah yang sama sekali tidak dikenalinya. “Apa aku tersesat?” ucapnya seorang diri sambil terus memperhatikan aplikasi penunjuk jalan dari ponselnya.


Luna pun melanjutkan perjalanannya, hanya berbekal aplikasi penunjuk jalan gadis itu nekad pergi ke rumah Tuan Toni yang daerahnya sama sekali tidak dirinya ketahui. Tiba-tiba Luna menghentikan motornya.


“Yah bocor,” ucapnya setelah memeriksa apa yang terjadi dengan motornya.


Gadis itu menoleh ke kiri dan ke kanan. Jalanan ini sangat sepi, jarang sekali ada kendaraan yang lewat. Ah, kenapa aku sangat tidak beruntung hari ini? Pasti tukang tambal ban masih jauh dari sini.


Luna mendengus kesal. Mau tidak mau gadis itu menuntun motornya. Berharap ada tukang tambal ban di sekitar tempat ini. “Mas Rendra, apa yang akan kamu lakukan jika kamu tahu istrimu menghadapi kesulitan seperti ini?” gerutu Luna seorang diri. Ah mungkin jika Rendra masih hidup, laki-laki itu pasti akan menjadi tumpahan


amarah Luna saat ini.


Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di dekatnya. Luna tersenyum, berharap pengendara mobil itu akan menolongnya. Namun tidak, beberapa orang yang keluar dari mobil box itu segera memegang tangan Luna.


“Apa-apaan ini?” teriak Luna, “Kalian mau apa? Mau motor? Ambil saja,” kata Luna yang mengira jika orang-orang tersebut adalah tukang begal.


Sementara dua orang laki-laki berpakaian hitam itu terus menarik tangannya dan berusaha membawa Luna masuk ke dalam mobil box yang mereka bawa.


“Tolong, tolong!” Luna berteriak sekuat tenaga, namun suaranya bagai hilang tertelan angin. Tempat yang sepi dengan pepohonan yang rimbun itu mampu menghalau suaranya agar tidak menyebar ke berbagai penjuru.


Luna semakin ketakutan kala tubuhnya sudah mulai terangkat dan tak mampu lagi menahan. Itu artinya dirinya akan kalah. Gadis itu terus berteriak sambil terus mencoba melepaskan tangannya dari genggaman laki-laki besar itu.

__ADS_1


“Mas Rendra…..”


__ADS_2