PANGERANKU OM-OM

PANGERANKU OM-OM
BAB 62


__ADS_3

Ryan berdiri saat petugas mengatakan bahwa waktu kunjungan telah habis. Laki-laki yang tengah menyamar itu tidak mau mengambil resiko atas apa yang dilakukannya.


"Ryan, ingat apa yang mama katakan! Kamu anak laki-laki yang tidak boleh lemah." Suara bu Fatma pelan namun sangat penuh dengan penekanan.


Tanpa memberikan jawaban apapun Ryan pergi meninggalkan mamanya. Berjalan lemah menuju ke luar lapas. Hati Ryan saat ini tengah terguncang. Sudah berpuluh-puluh tahun, tapi rasa itu masih ada di hatinya.


"Ibu," ucap Ryan lemah setelah meletakkan tubuhnya di bawah pohon besar yang berada di taman.


Ingatan Ryan melayang pada kenangannya berpuluh-puluh tahun yang lalu, saat masa kecilnya. Meskipun dia sempat melupakan, tapi entah mengapa saat ini mudah sekali muncul. Kenangan saat dirinya bersama bu Diana.


Tidak ada yang meragukan, perempuan yang juga pernah dipanggilnya ibu tersebut adalah orang yang sangat baik. Beliau mencintainya dengan tulus, menyayangi, memberikan sebagian hidupnya untuk Ryan. Ingatannya juga tidak bisa lepas dari wajah bu Diana. Wajah teduhnya, wajah cantiknya, yang tidak lekang dimakan waktu.


Akan tetapi, tiba-tiba Ryan tersentak. Kembali laki-laki mengingat sesuatu yang ingin sekali dia lupakan dari dalam hidupnya. Kematian sang ayah, Haris.


Bagaimana seorang Ryan kecil melihat dengan mata kepalanya sendiri sang ayah meregang nyawa dengan menggantung diri di kamar. Bagaimana dirinya berteriak ketakutan, menangis, berlari ke sana ke mari tanpa ada yang menolong. Semua orang tidak ada yang mempercayai keluarganya, semua orang mencemooh keluarganya.


"Ini semua gara-gara kamu, Airlangga Baskoro, semua karena kamu." Kembali Ryan merasakan dendam yang dari dulu masih ada di dalam hatinya.


"Kamu yang membuat papaku bunuh diri, kamu yang membuatku kehilangan papa. Kamu lah yang harus bertanggungjawab atas semua yang telah terjadi," ucap Ryan dengan nada tinggi.

__ADS_1


Ryan mengepalkan tangan. Menahan amarah dan dendam yang memenuhi hatinya. Tidak mampu dia tahan air mata yang selalu jatuh saat mengingat kejadian buruk di masa lampaunya. Kejadian yang membuat masa kecilnya hancur.


"Bagaimana jika ceritanya tidak seperti itu?" Sebuah suara yang terdengar dekat mengejutkan Ryan. Laki-laki itu segera mengusap air matanya berusaha tidak terlihat lemah di mata orang lain.


"Siapa kamu?" tanya Ryan kepada pemuda ber kemeja merah. Pemuda itu seperti pernah dilihatnya.


"Aku Max, anak kandung bu Fatma yang juga ibumu."


Ryan sedikit terbelalak. Dirinya tahu jika sang ibu memiliki suami lagi setelah menikah dengan ayahnya Rendra, namun dia sama sekali belum pernah melihat adiknya itu.


"Kenapa? Apa kamu terkejut? Oh, masih ada satu lagi. Aku adalah putra pertama bu Fatma dengan papa Michele, putra keduanya bernama Chloe, adikmu juga."


"Aku baik, sangat baik setelah bertemu dengan keluarga kak Rendra. Chloe pun sama, dia juga sangat baik bersama Tuhan disana."


"Apa?" Ryan terkejut, meskipun belum pernah bertemu Chloe tetapi saat mendengar apa yang dikatakan Max, hati Ryan terasa sedih.


"Kenapa? Kenapa kamu terkejut Tuan Ryan?"


"Aku bahkan belum pernah bertemu dengan Chloe."

__ADS_1


"Tapi aku sangat bersyukur bahwa Chloe tidak pernah bertemu denganmu. Dengan orang jahat sepertimu."


"Tutup mulutmu Max!" Ryan merasa tidak suka mendengar apa yang Max katakan. Jika pemuda itu bukan anak dari ibunya, pasti Ryan telah memukul habis Max.


"Aku hanya tidak habis fikir, bagaimana Tuhan menciptakan makhluk sepertimu. Kamu tega membuat perempuan yang telah merawat dan menyayangimu menderita. Berpuluh-puluh tahun, bu Diana harus menderita terpisah dengan anak dan suami. Bahkan menjadikan perempuan tak berdosa itu menjadi gila."


"Diam kamu Max! Keluarga itu lah yang membuat keluargaku menderita. Mereka telah membuat ayahku bunuh diri. Mereka telah membuat hidup kami menderita."


Max tertegun mendengar apa yang Ryan katakan. Namun tak lama pemuda itu tertawa menyeringai. "Kamu hanyalah pion bu fatma yang dia manfaatkan untuk mendapatkan keinginannya. Kamu hanya dimanfaatkan untuk memenuhi keinginan pribadinya."


"Beraninya kamu berkata seperti itu Max, dia ibu kita."


"Aku berhenti mengakuinya sebagai ibu saat dia memutuskan meninggalkan kami. Menjadikan kami gelandangan, hingga aku kehilangan adikku. Apakah pernah bu fatma memperlakukanmu seperti bu Diana terhadapmu?" Ucap Max kemudian berjalan menjauhi Ryan.


"Max, apa yang kamu katakan? Max.." Ryan berusaha menahan Max, namun pemuda itu berjalan sangat cepat hingga tidak terlihat lagi jejaknya.


Ryan menarik nafas panjang. Laki-laki itu memejamkan mata. Berusaha mengerti apa yang sebenarnya tengah terjadi. Apa yang terjadi dengan Max hingga dia membenci ibu kandungnya sendiri? Ataukah Rendra dan Luna sudah mencuci otaknya? Namun semakin dirinya berfikir, semakin laki-laki itu merasa sangat merindukan bu Diana.


Hingga tanpa sadar, bibirnya berkata "aku merindukanmu, Bu" Dengan air mata yang kembali mengalir di pipi.

__ADS_1


__ADS_2