PANGERANKU OM-OM

PANGERANKU OM-OM
BAB 64


__ADS_3

"Ibu maafkan aku, maafkan aku ibu." Ryan terus mengatakan hal itu sambil menangis sejadi-jadinya. Hatinya begitu hancur, hancur lebur. Dirinya merasa menjadi orang paling jahat sedunia.


Bu Diana, orang yang begitu tulus mencintai dirinya, menyayanginya, namun hanya keburukan yang bisa dia berikan untuk membalas itu semua. Kebencian, dendam yang tidak beralasan membuat dirinya buta akan kasih sayang yang tulus.


Bu fatma telah memanfaatkan dirinya untuk membenci bu Diana dankeluarganya. Sedikit demi sedikit muncul ingatan di kepala tentang bagaimana bu fatma meracuni pikirannya. Menghubung-hubungkan keadaan sampai dirinya begitu percaya jika Airlangga lah sosok di balik kematian sang papa.


Ryan masih terus menangis sambil memeluk foto sang papa. Sampai dirinya dikejutkan oleh suara sirine mobil polisi yang terdengar semakin dekat dengan tempat tinggalnya.


Ryan mendongakkan kepalanya ke arah jendela yang ada di atas posisinya saat ini. Dari situ dia bisa melihat beberapa polisi tengah berlari membawa senjata dan mengepung tempat ini.


"Saudara Ryan, anda telah dikepung. Menyerahkan sekarang juga!" Sebuah suara yang menggunakan pengeras mampu membuat jantung Ryan berdetak sangat kencang.


"Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan?" katanya dalam hati.


"Ryan kemarilah!" Sebuah suara membuat laki-laki itu sangat terkejut.


Seorang wanita berpakaian polisi tengah memanggilnya. "Ibu," ucap Ryan. Apapun bentukannya dia tahu benar bahwa polisi di hadapannya tak lain adalah bu fatma, ibu kandungnya.


"Ayo Ryan, pergilah dari sini! Mama akan membawamu ke tempat rahasia. Kamu akan aman disana."


Ryan masih menganga, tak disangkanya jika sang ibu lebih hebat dari yang dia bayangkan. Bagaimana bisa perempuan itu keluar dari penjara, memakai pakaian polisi, dan kini berusaha menyelamatkan dirinya?


"Ryan, cepat!" Kata perempuan itu sambil menarik tangan putranya. Ryan hanya menurut.


Namun tak lama laki-laki itu melepaskan genggaman tangan sang mama. Hal ini membuat bu fatma terkejut.


"Ada apa Ryan?"


"Aku akan menyerahkan diriku kembali kepada polisi."

__ADS_1


"Apa yang kamu katakan ryan?"


"Tidak, aku tidak ingin kemana-mana. Biarkan mereka menangkap ku kembali. Aku pantas menerima akibat dari kesalahan yang telah kuperbuat."


"Ryan kita tidak punya waktu untuk bicara omong kosong." Bu fatma kembali menarik tangan Ryan. Namun dengan cara yang sama Ryan melepas tangan ibunya.


"Ryan!" Bentak bu fatma yang heran melihat kelakuan sang putra.


"Mama pun juga harus menyerahkan diri ke polisi. Kejahatanmu sudah sangat besar ma."


"Tutup mulut kamu Ryan!"


"Mama lah yang seharusnya sadar atas semua perbuatan yang telah mama lakukan. Siapa saja orang tak bersalah yang telah mama korbankan. Bu diana, perempuan yang mama buat gila, perempuan yang sangat ku benci, tapi dia tidak pernah membenciku. Dia masih sama, dia masih sangat menyayangiku."


"Oh jadi kamu sudah terbuai oleh bujuk rayu perempuan gila itu, hah."


"Dia tidak gila, mama lah yang gila. Papa, orang pertama yang sampai membunuh dirinya sendiri karena frustasi dengan sikap mama. Bu Diana, perempuan tak bersalah yang kau buat gila. Airlangga, laki-laki baik hati yang kau tipu dengan air mata palsumu. Rendra, anak tak tahu apa-apa yang harus menderita karena kehilangan ibunya. Lalu, Max, Chloe yang meninggal karena keegoisanmu." Ryan mulai meneteskan air mata.


"Bahkan ibu kandungnya sendiri tidak tahu apa yang terjadi dengan anaknya. Ibu macam apa kau ini bu fatma. Menggunakan Ryan kecil sebagai pion balas dendam demi tujuan pribadimu. Dan kini, waw aku tidak menyangka ternyata kau perempuan yang sangat hebat ma. Kabur dari penjara, memakai pakaian polisi, dan berusaha menyelamatkan ku.


"Ryan, cukup, tutup mulutmu! Ini semua mama lakukan untukmu. Jika mama tidak menikahi Airlangga, kamu pasti terus dikejar oleh para preman pasar itu untuk membayar utang. Begitupun dengan ayah Max dan Chloe."


"Anda salah bu fatma, anda salah. Itu semua bukan untukku. Tapi hanya untukmu, hanya untukmu."


"Ryan, berapa kali mama harus...."


Belum selesai bu fatma berbicara, seseorang terdengar mengetuk pintu kamar yang saat ini keduanya tempati dengan kasar. "Buka pintunya Ryan!" teriak mereka.


"Sekali lagi mama katakan, tutup mulutmu dan ayo kita pergi!"

__ADS_1


"Tidak, aku tidak akan pergi. Dan aku juga yang akan menyeret mama ke polisi. Mama pun juga harus bertanggungjawab atas kesalahan yang selama ini kamu perbuat."


Bu fatma merasa sangat marah saat ini. Dia tidak menyangka Ryan bisa berkata seperti itu.


Braaakkk, polisi mampu mendobrak pintu kamar, namun mereka belum bisa melihat Ryan dan bu fatma.


"Mari menua bersama di penjara Ma," ucap Ryan sambil tertawa menyeringai.


Namun tanpa disangka bu fatma mengeluarkan pisau kecil dari sakunya dan bles, pisau itu menancap di perut Ryan. Bersamaan dengan erangan dari sang putra, bu fatma segera pergi dari tempat itu.


Tak lama polisi menemukan Ryan yang telah bersimpuh darah tak berdaya. Beberapa polisi lain memeriksa tempat itu untuk mencari keberadaan orang lain di sana. Namun nihil, tidak ada seorang pun disana. Bu fatma telah menghilang begitu cepat.


"Ryan," teriak bu Diana yang juga ikut rombongan polisi. Melihat kondisi Ryan yang seperti itu bu Diana tidak mampu menahan emosinya. Tangisan dan teriakan dia keluarkan saat melihat kondisi Ryan saat ini.


"Bangunlah Nak! Ini ibu," ucap bu Diana saat Ryan tiba-tiba membuka mata.


"Ibu, maafkan Ryan, " ucap Ryan terbata.


"Tenang, tenanglah Ryan! Ibu akan membawamu ke rumah sakit. Dokter akan mengobatimu sayang." Bu Diana menoleh ke arah polisi meminta bantuan untuk membawa putranya ke rumah sakit.


"Ibu, aku sangat menyayangi mu." Kalimat terakhir yang Ryan keluarkan dari mulutnya. Bersamaan dengan nafasnya yang mulai tak beraturan. Yang akhirnya membuat Ryan menghadap ke penciptanya.


"Ryan telah meninggal," kata salah seorang polisi yang memeriksa keadaan Ryan.


Bu Diana menangis dan berteriak sejadi-jadinya. Luna yang segera datang ke tempat itu segera memeluk sang ibu untuk menenangkannya. Rendra yang datang bersama Luna pun juga tidak menyangka bahwa hidup Ryan akan berakhir seperti ini.


"Apa yang terjadi?" Tanya Rendra pada polisi.


"Kami menduga ada seseorang yang telah sengaja membunuh Ryan," jawab polisi yang membuat Rendra terkejut.

__ADS_1


"Pak, kami mendapat laporan dari lapas bahwa bu fatma, ibu dari Ryan berhasil lolos dari penjara."


__ADS_2