
Sudah dua hari, namun Luna masih belum mampu melupakan kejadian malam itu. Bayangan Sherly dan juga ekspresi Rendra saat mabuk benar-benar membuatnya marah. Beberapa hari pula, Luna tidak bertegur sapa dengan suaminya. Saat Rendra mencoba mendekat, Luna segera pergi.
“Luna, aku memiliki dua buah tiket nonton premier film kesukaanmu,” kata Rendra saat Luna hendak pergi ke kampus.
Luna hanya melirik tiket itu sebagai rasa sopannya untuk memperhatikan lawan bicara. “Aku tidak mau,” ucap Luna ketus sambil membuang muka. Berani sekali Rendra ingin pergi berdua dengan dirinya, apalagi untuk nonton film.
“Kamu yakin?” Rendra sedikit menyunggingkan senyum, gemas sekali dirinya melihat ekspresi wajah sang istri saat ini.
“Iya aku sibuk,” jawabnya lagi sambil memakai tas ransel di pundaknya.
“Baiklah, aku akan menghubungi Rani. Biar dia mencari teman yang lain untuk menonton film kesukaannya.”
“Maksudkamu?”
“Iya, aku membeli dua tiket ini untuk kamu dan Rani. Tapi kamu sibuk, yasudah biar anak itu mencari teman yang lain. Lagipula sayang kan tiketnya jika tidak dipakai.”
“Ahh, tidak, aku tidak sibuk. Aku akan pergi dengan Rani. Iya, aku akan pergi.” Luna segera mengambil tiket dari tangan Rendra, “sore ini, iya aku tidak sibuk, aku akan pergi,” ucap Luna kembali sambil membaca jadwal yang tertera di tiket itu.
Rendra tidak mampu menahan tawa, namun dia terus mencoba untuk menahan. Luna akansangat marah jika dirinya ditertawakan.
“Baiklah, hati-hati di jalan,” kata Rendra, “Luna, sekalian ajaklah Rani jalan-jalan dan makan di mall! Imbuhnya yang dibalas dengan anggukan dan senyum ceria dari bibir Luna.
Rendra tidak menyangka istrinya akan sebahagia itu. Rendra pun ikut senang melihatnya, meskipun kebahagiaan Luna tidak bersamanya.
*****
__ADS_1
“Wah beruntung banget sih Lun jadi teman kamu, udah dapat tiket nonton premier film gratis, makan enak gratis, belanja gratis,” ucap Rani sambil memeluk sahabatnya itu.
“Bilang makasih ke Rendra, dia tadi bela-belain transfer uang dua puluh juta buat kita jalan-jalan. Aku bilang enggak usah aku masih ada, eh dianya maksa. Yaudah.”
“Idih, bilang aja seneng,” Rani mengejek temannya, “bentar lagi juga kamu bakal jatuh hati sama si ganteng itu.”
“Ih enggak mungkin,” saut Luna yang membuat Rani terbahak.
Setelah lelah mengelilingi satu mall, Luna dan Rani beristirahat sambil mengisi perut mereka yang keroncongan dan melihat orang-orang yang berlalu lalang.
“Eh itu bukannya Sherly,” kata Luna saat matanya melihat seseorang yang tidak pernah dirinya lupakan.
“Iya, tuh liat dia gandeng cowok baru lagi, bener kan gosip-gosip itu,” kata Rina dengan suara khas emak-emak saat menggibah.
“Ran, kita pindah tempat duduk yuk di sana.” Luna meminta Rani untuk duduk di meja dekatSherly.
“Ada apa?” tanya Rani saat mereka telah membelakangi Sherly. Luna memberikan tanda agar Rani tidak bertanya, dia ingin mendengar apa yang Sherly dan laki-laki itu bicarakan.
Semenjak melihat Sherly di kampus, Luna merasa tidak tenang. Luna yakin jika Sherly bukan perempuan baik-baik. Dan dirinya pun juga ingin tahu lebih dalam apa sebenarnya hubungan Sherly dengan suaminya. Dan mengapa Rendra seolah-olah tidak mengenal Sherly?
“Pekerjaan kamu bagus, saya suka. Bagaimana bisa kamu bekerja sebaik itu?” tanya laki-laki itu dengan suara sedikit berat.
“Terimakasih Om. Tidak sulit, saya hanya mencampur alkohol ke minuman Rendra kemudian mengantarnya pulang dan membuat istrinya cemburu,” jawab Sherly dengan suara binal.
“Bagus,” kata laki-laki itu sambil tersenyum senang.
__ADS_1
“Mengapa Om sangat membenci Rendra? Saya lihat Rendra tidak jahat, lagi pula dia penulis yang hebat.”
“Diam kamu,” bentak laki-laki itu membuat Sherly sedikit terkejut, “Rendra telah menghancurkan semua rencanaku, aku tidak akan membiarkan pria itu hidup tenang.”
Luna terkejut mendengarnya, jadi benar apa yang selama ini Rendra katakan. Suaminya sama sekali tidak tahu kejadian malam itu. Dan Sherly, perempuan binal itu bukanlah sekretaris Rendra. Ah, bodoh sekali, kenapa aku tidak berfikir sejauh itu? batin Luna.
“Ada apa Lun?” tanya Rani saat melihat ekspresi cemas dari wajah Luna.
Luna pun menceritakan apa yang telah terjadi kepada Rani.
“Aku harus minta maaf ke Rendra. Aku telah salah faham,” kata Luna di akhir ceritanya kepada Rani.
“Ahh sweet banget sih kalian berdua. Gitu dong, itu baru namanya Luna teman aku,” kata Rani sambil menggenggam tangan sahabatnya.
“Masih sore, yuk aku anterin pulang! Habis itu aku mau ke kantor Rendra sebentar buat minta maaf,” kata Luna dengan wajah berseri, sepertinya beban yang beberapa hari ini ada di pundaknya seketika hilang setelah kejadian ini.
“No, no, no, aku pulang sendiri saja. Kamu buruan ke kantor Rendra,” balas Rani.
“Beneran?”
“Udah buruan pergi! Minta maafnya yang tulus ya Lun. Sambil dipeluk dan dicium gitu,” ledek Rani yang dibalas dengan serangai tajam dari sahabatnya.
Luna pun pergi meninggalkan tempat itu dengan hati tenang. Ketakutannya beberapa hari ini telah hilang. Dirinya tidak ragu lagi dengan Rendra. Meskipun belum bisa mencintai Rendra, tapi Luna percaya Rendra adalah orang baik. Dan pilihan ayahnya tidak pernah salah.
Tapi siapa laki-laki itu? Mengapa dia sangat membenci Rendra? Batin Luna.
__ADS_1