
Sore yang begitu indah. Di ufuk barat tampak sebuah matahari yang hendak tenggelam. Ah matahari, dirimu kenapa baik sekali? Saat terbit di pagi hari, kamu memberikan kehangatan, memberikan semangat baru di hari yang baru. Saat hendak pergi pun, dirimu masih memberi keindahan, memanjakan mata bagi mereka yang lelah menjalani hari. Terimakasih untuk semua kebaikanmu.
Luna duduk di tepi pantai memandang langit. Pantai private itu juga telah disewa Rendra untuk liburannya kali ini. Sehingga suasana nyaman dan intim sangat terasa bagi keduanya.
Gadis itu masih belum bisa memahami kenapa Tuhan tidak memberikan cinta di hatinya untuk Rendra sejak dahulu? Kenapa harus tercipta drama-drama sebelum cinta itu datang?
"Jika sejak dulu aku mencintaimu, mungkin saat ini kita tidak perlu seperti ini. Mungkin akan ada Rendra kecil yang akan mengubah hidup kita. Yang akan menjadi pewarismu. Tidak akan ada Ryan si serakah itu," gumam Luna yang di dalam hati kecilnya masih menyalahkan diri sendiri akan kejadian beberapa waktu lalu tersebut.
"Maafkan aku Mas, karena aku kamu mendapatkan kesulitan seperti ini," gumam Luna lagi.
Meskipun berkali-kali Rendra mengatakan jika itu bukan salahnya, namun Luna tidak bisa melupakannya begitu saja. Jika dirinya bisa lebih pintar dan lebih mawas diri mungkin jebakan itu tidak akan dengan mudah mengenainya.
Luna menghembuskan nafas dalam. Angin sejuk yang baru saja menyapa rambutnya melayangkan perasaan. Membuat gelora asmara yang ada di hatinya semakin menggelora.
"Tapi... Kenapa kamu sangat mencintaiku? Aku sudah sering menyakitimu, melukaimu, merepotkanmu, membuatmu dalam masalah. Tapi kamu begitu sabar, kamu begitu baik, kamu begitu mencintaiku, dan kamu sangat tampan. Om Rendra, aku sangat mencintaimu.”
“Aku juga sangat mencintaimu Tuan Putri.” Sebuah sura dari belakang mampu membuat Luna terkejut.
“Mas Rendra,” ucapnya, “sejak kapan kamu di sini?” Pasalnya sedari tadi Luna hanya sendiri di tempat ini. Rendra meminta waktu sebentar untuk menyelesaikan beberapa pekerjaannya.
“Sejak kamu mengingatku.”
“Ih gombal banget sih,” kata Luna sambil tersenyum.
“Kamu merindukanku?” tanya Rendra sambil memeluk dan meletakkan kepalanya di leher Luna. Entah mengapa tempat itu membuat Rendra candu, baginya tempat tersebut adalah tempat yang sangat nyaman.
“Tidak.”
“Oh ya, tapi kamu menyebutku, mas Rendra kamu sangat tampan, aku mencintaimu,” ledek Rendra menirukan gaya Luna saat berbicara dengan dirinya sendiri.
“Ih apaan sih.” Luna pun tertawa malu.
“Mas, apa tidak sebaiknya kita pulang? Aku takut Ryan akan berbuat yang melebihi batas kepada perusahaan. Bagaimana nasib para karyawan?”
__ADS_1
Rendra tersenyum, laki-laki itu tahu benar jika hal itu akan Luna katakan. Luna bukan hanya gadis yang pintar, gadis itu juga memiliki hati emas. Luna selalu meletakkan kepentingan pribadinya di bawah kepentingan orang
lain.
“Kamu sudah tidak betah di sini?”
“Bukan seperti itu Mas, aku senang sekali di sini. Aku sangat bahagia, apalagi bersamamu. Tidak ada kebahagiaan yang melebihi kebahagiaan saat dicintaimu. Aku hanya tengah memikirkan perusahaan, aku tidak bisa menerima jika Ryan melakukan hal buruk di perusahaan. Aku sudah melakukan kesalahan dengan membiarkan orang jahat itu menipuku. Kali ini aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi kepada perusahaan.”
Rendra menghembuskan nafas panjang. “Apa kamu yakin kita akan pulang?”
Luna mengangguk, “maafkan aku, kita bisa liburan kembali saat semua membaik. Lagi pula, aku selalu bersamamu Mas. Dimanapun tempatnya, asalkan denganmu aku bahagia.”
*****
Keduanya pun memutuskan untuk kembali pulang keesokan harinya.
“Akan kusiapkan apartemen untukmu, kamu bisa tinggal di sana. Tidak mungkin kamu bolak balik ke tempat persembunyian. Nanti ada yang curiga.”
“Maksudnya aku enggak pulang ke rumah?”
“Kok bengong? Kenapa aku harus tinggal di apartemen mas?” Kembali Luna memberikan pertanyaan.
“Iya, kamu akan tinggal di apartemen. Kamu akan pulang ke sana Sayang.”
“Enggak mau, bukankah rumah itu adalah rumahmu. Aku ingin pulang ke rumah suamiku.”
“Tapi Lun, di sana ada mama dan juga…”
“Ryan, udah biarin aja. Lagi pula aku dengan aku tinggal di sana akan lebih mudah bagi kita untuk mengawasi mereka. Aku yakin sekali Mas, kedua orang rakus itu tidak akan diam. Mereka akan selalu mencari cara untuk
terus menguasai sesuatu yang bukan haknya.”
Rendra mengangguk, dia tahu benar arah pembicaraan Luna. “Baiklah, tapi kamu harus selalu berhati-hati. Aku tidak mau sampai kamu…”
__ADS_1
“Tenang saja Mas, mereka tidak akan berani melakukan apapun kepadaku. Lagi pula aku juga masih berhak atas 30% aset perusahaan dan juga rumah.”
Rendra memeluk erat istrinya tersebut. Dengan berat hati laki-laki itu melepas sang istri. Namun Rendra sangat faham dengan sikap dan keras kepala istrinya tersebut. Semua hal ini pasti sudah Luna fikirkan dengan matang.
“Mas, biarkan aku turun di minimarket itu. Ada sesuatu yang ku butuhkan.”
“Ok” Rendra pun meminggirkan mobilnya.
“Kamu langsung balik ke gudang aja Mas, aku pulang sendiri saja. Lagipula sudah dekat kan. Nanti malah ada yang curiga,” kata Luna yang masih ingat jika Rendra masih dalam sandiwara.
Laki-laki tampan itu mengangguk mengiyakan, memang benar apa yang dikatakan Luna. Akan menjadi masalah besar jika seseorang tahu tentang kebenaran dirinya.
Setelah menyelesaikan prosesi ritual perpisahan yang lumayan panjang, pasangan itu pun berpisah di depan minimarket. Rendra kembali ke tempat persembunyiannya, sementara Luna berjalan memasuki area minimarket.
“Orang gila, orang gila, orang gila…”
Luna merasa tidak nyaman dengan suara beberapa anak kecil tak jauh darinya tersebut.
“Hei apa yang kalian lakukan?” teriak Luna saat melihat beberapa anak itu tengah mengolok-olok seorang wanita yang mereka sebut gila.
Anak-anak itu segera berlari kabur. Sementara Luna melihat wanita tersebut dengan iba. Seorang wanita dengan membawa boneka di gendongannya.
“Ibu,” sapa Luna sopan.
Wanita itu menatap Luna tajam. Saat ini Luna merasa pernah melihat sosok wajah itu, sosok yang tak asing baginya.
“Siapa kamu? Kamu mau membawa anakku? Pergi kamu, pergi!” teriak wanita itu.
Sejak awal Luna tahu jika wanita di hadapannya memang tidak normal, namun dia merasa tertarik dengannya. Entahlah, seperti ada suatu hal yang menariknya.
“Tidak Ibu, aku tidak ingin menculik anakmu. Ibu rumahnya dimana? Ibu sudah makan?” tanya Luna.
Wanita itu hanya menatap Luna dengan tatapan tajam. Ya, setiap tatapannya Luna pun seperti pernah melihat tatapan yang sama. Cara wanita itu melihat, Luna seperti melihat orang lain dalam diri wanita ini.
__ADS_1
“Perempuan jahat, perempuan jahat,” teriak wanita itu lagi kemudian berlari meninggalkan Luna.
Luna diam terpaku, gadis itu sangat iba melihatnya. Apalagi dirinya merasa ada sesuatu yang berbeda dari wanita ini. “Apakah aku mengenalnya?” ucap Luna pada dirinya sendiri.