
Luna menatap bulan dari kamarnya. Dari sova panjang yang biasa dipakai suaminya saat tidur. Kembali gadis itu membuka novel terakhir peninggalan suaminya.
Kalimat-kalimat cinta yang Rendra ungkapkan untuknya sangat jelas terasa. Meskipun Luna membacanya sendiri, tapi dia merasa bahwa Rendra ada di tempat ini. Laki-laki itu juga turut hadir dalam gelombang cinta yang ada di hatinya.
Ingatan Luna kembali melayang pada kejadian siang ini. Laki-laki yang telah menolongnya tadi, dari postur tubuhnya Luna merasa pernah melihat laki-laki ini. Apa lagi warna suaranya yang benar-benar mirip dengan Rendra.
Drrrt, drrrtt.. bunyi notifikasi pesan dari ponsel Luna yang berhasil membuyarkan lamunannya.
[Mohon kehadiran Bu Luna saat acara pemberian penghargaan untuk novel “De Luna” karya almarhum Tuan Rendra.]
Luna terhenyak, tak terasa air matanya keluar. Gadis itu begitu terharu saat membaca berita kesuksesan novel “De Luna” di pasaran. Novel terakhir dari sang suami yang menceritakan tentang dirinya, kini laku keras di pasaran. Sejak rilis dua minggu yang lalu buku ini telah terjual 2 juta eksemplar.
[Saya akan datang Bu Inggit]
Luna kembali meletakkan ponselnya setelah mengetikkan kalimat balasan untuk sekretaris suaminya tersebut.
*****
Hari ini acara penyerahan penghargaan untuk Rendra. Luna hadir dengan gaun putih mewahyan g pernah dihadiahkan Rendra untuknya. Ya, sebuah gaun cantik yang sederhana namun terkesan mewah. Saat itu Rendra memberikan gaun tersebut sebagai hadiah saat keduanya akan melaksanakan lamaran. Namun Luna hanya menyimpan gaun itu di lemari tanpa memiliki niat untuk memakainya.
Dan ternyata gaun ini sangat cantik, sangat cocok dengan kulit dan juga bentuk tubuhnya. Kamu selalu mengerti aku, meskipun aku tidak pernah menginginkannya, ucap Luna dalam diam.
“Bu Luna, cantik sekali,” sapa Bu Inggit yang datang mendekati Luna.
__ADS_1
“Bu Inggit apa kabar?” balas Luna sambil memeluk perempuan yang baginya begitu dekat itu.
“Saya baik Bu Luna. Tuan Rendra pasti sangat bahagia hari ini. Beliau pernah mengatakan jika novel “De Luna” pasti akan laku keras di pasaran. Dan beliau sangat ingin Ibu Luna yang menerima penghargaan untuk itu.”
“Apa?” Kembali Luna meneteskan air mata setelah mendengar apa yang dikatakan Bu Inggit. Rasa rindu kepada sang suami kembali muncul dan semakin dalam. Ingin sekali Luna berteriak memanggil nama Rendra agar suaminya tersebut kembali ke sisinya, kembali mencintainya. Tapi semua tinggal kenangan.
“Maaf Bu Luna, saya tidak bermaksud membuat Ibu..”
“Ah tidak apa Bu Inggit, maaf saya harus ke kamar mandi sebentar,” ucap Luna kemudian pamit mengundurkan diri. Gadis itu sudah tidak tahan lagi untuk menahan air mata, banyak sekali luapan air mata yang siap untuk membanjiri pipinya saat ini.
Luna menghembuskan nafas panjang, berusaha menguatkan diri. Mengusap air yang dia siram ke wajahnya. Ini tidak boleh berlarut-larut, dirinya harus terlihat tegar. Saat penghargaan itu di dapatkan oleh Rendra, tidak boleh ada air mata.
Luna keluar dari kamar mandi dengan hati yang lebih tenang. Gadis itu bermaksud ingin kembali ke posisi semula. Namun perhatiannya teralihkan oleh aroma. Aroma parfum yang sangat dia kenal, aroma parfum yang selalu membuatnya nyaman.
“Mas Rendra.” Kembali Luna menyebut nama suaminya, itu adalah wangi parfum Rendra. Ya, Rendra selalu memakainya.
“Mas Rendra..,” panggil Luna. Entahlah, gadis itu tidak bisa memikirkan apapun saat ini. Luna mengikuti kemana laki-laki itu pergi sambil terus memanggil nama Rendra.
Semakin Luna mendekat, laki-laki itu semakin mempercepat langkahnya. Membuat Luna juga melakukan hal sama. Dan saat dekat, aroma parfum itu pun juga semakin terasa. Meyakinkan Luna jika laki-laki itulah pemakai parfum tersebut.
Ah bagaimana bisa? Bukankah Rendra sudah meninggal? Kenapa Luna selalu meragukan hal itu? Luna sangat mencintai Rendra hingga dirinya tetap berharap bahwa Rendra masih hidup. Meskipun parfum yang sama juga bisa dimiliki oleh orang lain.
“Mas Rendra..,” teriak Luna sambil berlari, sedikit lagi gadis itu bisa meraih laki-laki yang dikejarnya. Namun malang, Luna lupa jika saat ini dirinya tengah memakai gaun dan juga high heels.
__ADS_1
Tubuh Luna oleng karena kakinya menginjak gaun yang dia pakai, hingga buuukkkk..
Luna terjatuh, namun tidak jatuh di tanah. Dua buah tangan kekar dengan sigap menopang tubuhnya. Luna bisa merasakan aroma yang sama persis dengan almarhum suaminya. dan pelukan ini, pelukan ini mampu membuat Luna de javu dengan apa yang pernah dilakukannya. Ya, Rendra selalu melakukan hal ini jika dirinya akan jatuh.
“Mas Rendra.” Kembali Luna berkata sambil berusaha melihat wajah laki-laki itu yang ditutup penuh dengan topi.
Laki-laki itu segera memperbaiki posisi Luna hingga mampu berdiri tegak. “Maaf, saya Doni,” ucapnya, “kita bertemu kemarin di jalan.”
“Apa?” Luna terhenyak. Berusaha mengingat siapa Doni? “Ah, kamu, iya maaf. Maafkan saya Doni, saya mengira kamu adalah suami saya. Maaf.”
Doni mengangguk, kemudian bersiap melangkahkan kaki hendak meninggalkan Luna.
“Ah Doni, bolehkan saya bertanya dimana kamu membeli parfum seperti itu?” tanya Luna.
“Di toko Ambrena,” jawab Doni kemudian berlalu. Laki-laki itu sama sekali tidak menunjukkan wajahnya. Luna hanya bisa menyaksikan laki-laki itu dari belakang.
Luna melihat dengan cermat gaya laki-laki bertopi itu. Cara berjalan laki-laki itu sangat mirip dengan Rendra. Postur tubuh pun juga demikian.
Siapa dia? Batin Luna bertanya-tanya.
“Ibu Luna, Ibu Luna.” Tampak Bu Inggit setengah berlari mendekati Luna.
“Ada apa Bu?”
__ADS_1
“Ibu sedang apa di sini? Semua sedang menunggu Ibu.”
“Ah baik, saya akan ke sana.” Pungkas Luna kemudian keduanya kembali ke tempat semula.