PANGERANKU OM-OM

PANGERANKU OM-OM
BAB 60


__ADS_3

"Ibu sedang apa?" tanya Luna saat masuk ke kamar bu Diana dan melihat perempuan setengah baya itu tengah termenung di depan jendela.


Bu Diana tersenyum menyadari kehadiran menantunya. "Tidak, ibu hanya duduk-duduk."


Luna menghela nafas, gadis itu tahu benar bahwa sang ibu mertua tengah memikirkan sesuatu. Mungkin ibu sedang merindukan ayah.


"Ibu, yuk kita ke bawah!" Ajak Luna berusaha mengalihkan perhatian. Namun bu Diana malah meneteskan air mata. Mungkin air mata itu tidak sengaja jatuh karena sudah tidak bisa ditahan.


"Ibu..." Menyadari mertuanya sedang tidak baik-baik saja gadis itu memeluknya erat. "Ibu merindukan ayah?" tanya Luna pelan.


Mendengar pertanyaan Luna membuat air mata bu Diana semakin deras mengalir.


"Ibu, Luna bisa mengerti bagaimana rasanya kehilangan orang yang sangat kita sayang. Luna juga pernah merasakan hal itu saat kehilangan ayah Luna. Tapi yakinlah bu, ayah sudah bahagia di sana. Beliau akan tersenyum senang saat melihat ibu juga bahagia di sini. Lagipula ibu masih memiliki mas Rendra yang juga sangat menyayangi ibu. Mas Rendra laki-laki yang sangat baik. Itu semua karena didikan dari ibu."


Bu Diana menghela nafas panjang berusaha menghentikan tangisnya. Luna benar, semua orang pasti akan merasakan kehilangan orang yang sangat dikasihi dalam hidupnya. Mungkin Tuhan hanya memberikan cara yang berbeda untuknya.


"Maafkan ibu Sayang," ucap bu Diana sambil menyeka air matanya.


"Kenapa minta maaf bu? Luna akan selalu menemani ibu."


Keduanya kini tersenyum sambil ber genggaman tangan. Memberikan kekuatan kepada yang lain.


"Sekarang kita keluar ya bu, mas Rendra pasti menunggu kita. Luna akan mengenalkan ibu kepada ibu kandung Luna."


Bu Diana mengangguk. Keduanya pun bergegas untuk keluar kamar. Namun sebelum keluar, seseorang telah membuka pintu terlebih dahulu.


"Rani, ngagetin aja." Omel Luna saat melihat Rani masuk ke kamar bu Diana.


"Rani, kamu cantik sekali Nak. Belum pernah ibu melihatmu berpakaian seperti ini. Kamu terlihat sangat anggun dan sangat cantik." Puji bu Diana pada gadis di depannya yang kini tengah memakai gaun berwarna hijau dan make up sederhana namun membuat penampilan nya memukau.


Rani hanya tersenyum dan tersipu mendengar pujian bu Diana.


"Terang aja lah bu, namanya juga lagi jatuh cinta," goda Luna yang semakin membuat Rani memerah. Bu Diana hanya tertawa kecil melihat ekspresi Rani.


"Ada apa kamu kesini?" tanya Luna kepada Rani.

__ADS_1


"Tuh dicariin ibu. Ibu mau ketemu besan katanya," jawab Rani dan tak lama seorang perempuan yang sudah tidak asing masuk ke kamar bu Diana.


"Ibu.." Luna berlari mendekati sang ibu, memeluknya erat melepaskan semua kerinduan yang selama ini dia rasakan.


Namun ibu Luna tidak membalas pelukan sang putri. Perempuan itu dengan mudah melepas pelukan putrinya dan berjalan menuju bu diana.


"Bu Diana, senang sekali akhirnya saya bisa bertemu dengan ibu," ucap ibu Luna kemudian memeluk bu Diana. Sementara Luna hanya bisa tertegun melihat kelakuan sang ibu kandung yang dirasa sangat di luar nalar itu. Di sisi lain pun ada Rani yang telah sedari tadi menertawakan Luna.


"Saya juga sangat senang bertemu dengan ibu. Sudah lama saya ingin membuat pertemuan keluarga dengan keluarga Luna. Dan kini saya tahu bagaimana Luna bia secantik ini. Ternyata ibunya memang sangat cantik."


Ibu Luna dan Luna pun tersenyum simpul. "Maaf jika selama di sini Luna selalu menganggu ibu dan juga merepotkan kalian."


"Hei apa yang ibu katakan? Luna sudah saya anggap sebagai putra saya sendiri. Bahkan kami selalu bersyukur memiki menantu ya g cantik, baik hati, dan sangat peduli dengan keluarganya."


"Syukurlah kalau seperti itu."


Kedua perempuan yang mungkin seumuran itu mengobrol dengan sangat bahagia. Entah apa saja yang mereka bicarakan tapi sepertinya sangat serius. Tak jarang tawa kecil. Keluar dari mulut keduanya.


"Tahu gak apa yang mereka bicarakan?" tanya Luna kepada Rani yang masih berada di sebelahnya. Sementara dua orang ibu itu masih mengobrol di tempat duduk.


"Ngomongin kejelekan kamu kali," Jawab Rani sekenanya.


"Yuk kita ke bawah yuk! Mas Rendra dan para tamu pasti tengah menunggu kita." Ajak Luna yang dijawab dengan anggukan kepala secara bersamaan dari kedua ibu-ibu itu.


Sementara di tempat pesta.


Para tamu sudah berdatangan dan menyapa Rendra. Remdea berusaha tersenyum meskipun hatinya merasa sangat gundah.


Luna dan yang lain pun mendekati Rendra. Mereka tampak mengobrol dengan ruang gembira.


Tanpa sadari sepasang mata tengah memperhatikan mereka. Sepasang mata jahat yang siap merusak kebahagiaan pesta malam ini.


Hingga tiba saatnya bagi sang pembawa acara untuk meminta Rendra mengucapkan beberapa patah kata. Rendra pun maju ke stage, riuh gemuruh tepuk tangan menyertainya.


"Terimakasih saya ucapkan kepada para tamu undangan yang telah hadir. Semoga kalian semua bisa menikmati pesta malam ini." Ucap Rendra.

__ADS_1


"Acara ini adalah bentuk dari rasa syukur kami atas kembalinya ibu saya. Ibu yang telah kami anggap meninggal beberapa puluh tahun yang lalu ternyata masih ada di tengah-tengah kami." Rendra melirik sang ibu, bu Diana pun tersenyum.


"Ini semua tak luput dari doa kalian semua. Para sahabat yang selalu setia bersama kami. Dalam keadaan senang maupun susah kalian adalah orang yang membuat kami selalu berupaya untuk memberikan yang terbaik." Kata Rendra lagi.


Luna terus memperhatikan pidato sang suami, hingga diri ya merasa sedikit pusing. Mungkin karena terlalu lama berdiri. Gadis itu pun beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju tempat minuman.


"Hai Rendra," seseorang dari kerumunan berteriak sangat keras hingga menghentikan Rendra yang tengah berpidato.


Tampaklah seseorang yang sangat familiar dengan wajah jahatnya. Ya, siapa lagi kalau bukan Ryan. Jantung Remdra berdetak cepat, apalagi setelah melihat bahwa sang istri tercinta tengah berada di bawah kuasa Ryan. Sebuah pisau tajam, Ryan letakkan di leher Luna.


"Bajingan kau Ryan!" Teriak Rendra yang tidak sadar jika suaranya masuk ke dalam speaker yang masih ON.


Suasana pun memanas dan tidak terkendali. Apalagi setelah Ryan menekan pelatuk pistol dari tangan kirinya ke udara. Para tamu undangan pun berlai terbirit-birit. Bisa dirasakan bagaimana malu dan marahnya Rendra saat ini.


"Kurang ajar kau Ryan! Jangan sentuh istriku!" Teriak Rendra kali ini dirinya telah berada di hadapan Ryan.


Namun Rendra juga tidak bisa melakukan apapun kepada laki-laki di hadapannya itu. Keselamatan Luna dipertaruhkan saat ini.


"Hei Rendra, aku tidak akan melepaskan istrimu sebelum kamu melepaskan mama dari penjara. Dan menarik aemua tuntutan kepada kami." Ryan mengancam, hal ini semakin membuat Rendra marah.


"Tidak, aku tidak akan melepaskan perempuan yang telah menyakiti ibuku dan membuatnya menderita selama puluhan tahun."


"Baikan, tapi aku juga tidak akan melepaskan gadis cantikku ini." Ryan mencium rambut Luna.


Hal ini membuat Rendra tidak bisa menahan diri. Dengan gerakan cepat laki-laki itu bisa memukul kaki Ryan hingga membuatnya terjatuh. Luna segera berlari mendekatk suaminya.


"Kamu tidak apa-apa sayang?" Rendra memeluk Luna erat.


"Bagaimana dengan ini Tuan Rendra?" Ryan kembali bangkit dan beraksi. Jika tadi dirinya mengancam dengan membawakan Luna pisau. Kali ini laki-laki itu menodongkan pistol ke arah bu Diana.


"Ryan, aku tidak akan membiarkan kau..."


Belum selesai Rendra menyelesaikan kalimatnya, bu Diana mengangkat tangan meminta Rendra untuk diam.


"Tenanglah Ren, Ryan tidak akan melakukan apapun kepada ibunya." Ucap bu Diana tenang yang pasti ya membuat Rendra terkejut begitu pula orang di sekitarnya.

__ADS_1


"Ryan tidak akan mampu menyakiti ibunya. Iya kan Nak?" Bu Diana menatap Ryan dalam sambil tersenyum dengan sangat tulus. Dengan pelan, Ryan pun menjatuhkan pistolnya ke lantai. Lalu air mata turun dari matanya.


Ada apa dengan Ryan?


__ADS_2