Past Or Future?

Past Or Future?
Sepuluh


__ADS_3

Prang!


Kayra lagi-lagi dibuat terkejut, karena tiba-tiba Renata menyenggolnya dan memecahkan gelas yang dipegang oleh orang berumur 25 tahun itu. Mata Kayra berkedip lambat, ia tak akan mengalah dan ia tak bisa terus menerus menahan diri.


"Apa di antara kita ada masalah?"


"Masalah cuma satu, kamu menikah dengan Galang."


Kayra berdehem pelan mendengar jawaban jujur dari orang yang lebih tua darinya itu, ia menghela nafasnya pelan. "Pergi jika kamu nggak suka."


"Lo ngusir gue?" kata Renata berhadapan dengan Kayra. "Sekarang lo ngaca, siapa disini pendatang baru? Bisa-bisanya lo ngusir gue! Kalo ada orang yang pergi dari sini, bukan gue tapi lo." lanjutnya dengan emosi.


Tatapan mata Kayra fokus pada Renata. "Saya pendatang baru, it's oke... itu benar. Tapi, kalo orang yang pergi itu saya... masih diragukan," kata Kayra dengan senyuman sinisnya.


"Bersyukurlah kamu, saya tak pernah memprovokasi seseorang untuk membuat kamu angkat kaki dari rumah ini," lanjut Kayra dan segera pergi meninggalkan Renata yang mematung.


Kayra menatap kolam ikan yang berada di belakang rumah, asal kalian tahu rumah ini penuh dengan bunga dan pepohonan serta taman yang menambah keasrian membuat siapapun tenang. Namun, siapa sangka bahwa rumah itu pun pernah mengalami kejadian tragis yang membuat seseorang kehilangan orang yang disayanginya.


Miris memang.


Seseorang melangkah mendekati Kayra membuat gadis itu tersadar, ia masih menatap ke arah kolam yang dipenuhi ikan warna-warni dengan cantiknya.


"Suka disini?"


"Heem..." jawab Kayra sambil mengangguk.


"Galang memperlakukan kamu dengan baik, bukankah begitu?"


Kayra mengangguk.


"Galang bahagia bisa nikah sama kamu," katanya.


Lagi-lagi Kayra hanya mengangguk.


Gio menatap adik iparnya dari samping, ia benar-benar tidak menyangka jika gadis itu sudah menjadi adik iparnya. Bagaimana mungkin orang yang pernah ia sukai menjadi istri dari adiknya? Benar-benar hal yang tak pernah bisa ia bayangkan.


Tetapi, itu adalah rasa masa lalu, tidak ada yang perlu dikhawatirkan sekarang. Ia sudah mempunyai istri yang tengah mengandung buah hatinya, ia akan segera menjadi seorang ayah.


"Kamu tau Renata sangat terobsesi dengan suamimu?"


Kayra menoleh menatap Gio dan mengangguk sebagai jawaban. Gadis itu sepertinya melupakan tentang cara ramah kepada orang meskipun sekarang Gio sudah menjadi keluarganya. Sifatnya masih menganggap bahwa Gio orang asing, tetapi tak ada yang mempermasalahkan. Itu memang sifatnya.


"Kakak yakin kamu bisa melawan Renata."


Kayra mengangguk mengiyakan.


.


.


.


"Kalau begini ceritanya, piring dan gelas di rumah ini bisa habis!"


Kayra menahan tawanya saat nyonya besar mengomeli para pekerjanya, karena piring dan gelas sering pecah. Galang menggenggam tangannya erat, gadis itu tersenyum tanpa menatap suaminya.


"Sudahlah, Bun. Ntar bisa beli lagi, Bunda jangan emosi nggak baik buat kesehatan."


Tanpa mendengarkan lebih banyak lagi, Galang mengajak istrinya pergi dari sana.


"Oh iya, Lang. Ayah mau bicara."

__ADS_1


Kayra menatap Galang sekilas begitupun sebaliknya.


"Sekalian dengan Kayra," kata Alisha membuat Ayah Galang menegurnya.


"Bun-"


"Udah ayo."


Galang dan Kayra mengikuti langkah orang tua mereka memasuki ruang kerja Ayah Galang. Kayra beberapa kali berdehem pelan, entah apa yang akan terjadi sepertinya itu bukan hal yang baik.


"Duduk lah."


"Ayah mau bicara."


Galang mengangguk.


Adi tampak ragu dengan apa yang akan ia sampaikan, ketahuilah jika ini bukan hal baik. "Menurutmu bagaimana Renata?"


Drrttt...


Kayra menatap mertuanya tidak enak, Alisha mengangguk sebagai izin untuk Kayra mengangkat panggilan itu. Kayra tersenyum dan mengangguk, ia sebenarnya penasaran dengan apa yang akan Ayah mertuanya katakan. Tetapi, ia lebih memilih keluar dan mengangkat telepon.


"Kenapa Ayah nanya gitu?"


"Begini- Ayah pengen kamu menikahi Renata-"


"Apa Ayah gila?!"


Alisha menenangkan Galang yang tiba-tiba berdiri dari duduknya. Sayangnya, Galang tetap saja tak peduli dengan apa yang dilakukan Ibunya.


***


"Aku lagi mandi. Jangan dibuka," teriak Kayra dari dalam kamar mandi.


Galang menghela nafasnya pelan, sudah 2 jam lebih Kayra ada di dalam kamar mandi. Siapa yang tidak khawatir? Galang menghela nafasnya pelan, ia merasa menjadi suami paling bodoh sekarang. "Keluar atau aku dobrak?!"


Ceklek.


Kayra membuka pintu, gadis itu hanya memakai jubah mandi. Ia menatap datar Galang dan segera melewatinya untuk mengambil baju, ia benar-benar tak minat menatap wajah tampan suaminya.


"Kay...."


Hening.


10 menit kemudian...


Kayra mengeringkan rambutnya dengan hair dryer, setelah selesai ia memoleskan make up tipis pada wajahnya. Gadis itu menghela nafasnya lelah, di sisi lain Galang hanya memperhatikan gerak-gerik istrinya.


"Aku pamit mau ke kafe."


"Aku ikut."


Kayra menutup lipstik yang baru saja ia pakai. "Nggak, aku bisa sendiri," kata Kayra dan mengambil kunci mobilnya.


"Kamu kenapa sih?" tanya Galang saat Kayra hendak membuka pintu kamar mereka. "Kamu menghindar, salahku apa?" tanyanya sekali lagi, Galang mencoba mendekat ke arah istrinya.


"Kamu nggak salah."


Galang menghela nafasnya pelan. "Kalo aku nggak salah, kenapa kamu menjauh?" kata Galang dengan frustasi.


Kayra hanya mengangkat bahunya.

__ADS_1


"Tatap aku."


Kayra menatap wajah Galang, Galang semakin mendekat ke arahnya. Hingga ia merasakan benda kenyal dan basah menempel pada bibirnya, pegangannya pada gagang pintu mengerat. Kakinya lemas seperti jelly, ia tak sanggup berdiri lagi.


Galang menciumnya.


"Katakan jika aku salah," kata Galang.


Kayra menetralkan debaran jantungnya, ia berdehem pelan. "Aku nggak suka pengkhianatan," kata Kayra dan segera membuka pintu serta menutupnya dengan cukup keras.


Galang sudah menduga, jika Kayra mendengar apa yang Ayahnya bicarakan. Ia mengusap wajahnya kesal. Ia segera menghubungi salah satu orang kepercayaannya.


"Ikuti istri saya."


Galang menghela nafasnya pelan, ia melemparkan ponselnya ke atas ranjang. Bukan ia penyebabnya, tetapi Kayra tetap saja seakan memusuhinya.


Tok tok tok


"Ada apa?" Galang menatap datar perempuan yang ada di depannya, dia adalah Renata.


"Kamu udah makan?"


Galang memicingkan matanya menatap remeh perempuan yang berdiri di hadapannya. Ia mengingat Kayra, kenapa melihat Renata ia seakan emosi?


"Nggak usah sok care."


Galang melihat gadisnya yang tengah berdiri cukup jauh dan menatapnya dengan tatapan datar. Kayra melangkah semakin dekat, gadis itu melewati mereka begitu saja.


"Permisi."


Lagi-lagi ia salah.


***


Kayra menghela nafasnya pelan, entah kenapa ada aja yang membuat moodnya buruk. Gadis itu memijat keningnya, itu sungguh sangat memusingkan. Mobil yang ia kendarai melaju dengan kecepatan sedang, ia tak ingin mengambil resiko atas emosinya.


Sesampainya di Kafe miliknya, ia segera menuju lantai atas dan melemparkan tasnya ke atas sofa ruangannya. ia merasa dunia sedang jahat padanya, amat sangat jahat.


"Sel, ntar temenin gue ke bar."


Sela, selaku karyawan yang cukup dekat dengan Kayra memicingkan matanya. Ia menaruh minuman di depan Kayra, "sejak kapan lo main ke bar?"


"Sejak tadi."


"Gue nggak mau diomelin suami lo, gue nggak mau."


Kayra menatap Sela jengkel, "jadi lo sekarang ada di pihak suami gue? Lo bukan temen gue lagi kalo gitu."


"Nggak gitu, yaudah deh gue mau."


Kayra menyesap minumannya dan menatap ke sembarang arah, gadis itu termenung. Ia sadar, ini bukan kesalahan Galang tetapi ia malah menjauhi Galang. Kayra memejamkan matanya, ia merasa amat sangat pusing dengan semua ini.


Hari pernikahannya bahkan masih bisa dihitung dengan hitungan jari dan dengan kurang ajar mertuanya meminta suaminya untuk berpoligami? Kayra terkekeh miris, ia menghela nafasnya pelan.


"Are you oke?"


Kayra mengangguk mengiyakan dan segera mengambil tasnya, "gue tunggu nanti malam."


Sela mengangguk.


***

__ADS_1


__ADS_2