Past Or Future?

Past Or Future?
Dua


__ADS_3

Queensha Kayra Artavika, gadis cantik itu mengerjapkan matanya perlahan membiarkan matanya terbuka dan tertutup selang beberapa waktu. Kantuknya yang menyerang tak membuat gadis itu menyelesaikan kegiatannya dan tertidur di ranjang empuknya.


Jam menunjukkan pukul 14.02 WIB, waktu tidur siang yang terlambat. Ia masih saja membaca dokumen pekerjaan yang cukup penting dan harus segera di selesaikan.


Tok Tok Tok


Kayra tersadar dan membuka pintu kamar yang dapat dibuka/tutup melalui remote control. Asisten nya masuk dan memberitahu bahwa seseorang tengah menunggunya di depan pintu kamar.


Kayra menyuruh untuk segera masuk, biarkan saja orang itu masuk ke dalam kamarnya. Sebenarnya ia sedang malas keluar, ia juga sudah meminta seseorang untuk membawakan minuman dan beberapa makanan ringan.


Ia tak kaget dengan kedatangan seorang pria tampan dari keluarga Gumilang, karena Ibunya sempat membicarakan hal ini padanya.


"Silahkan duduk, Eum-"


"Galang atau mas Galang, atau apa terserah kamu." Galang tersenyum manis ke arahnya membuat Kayra salah tingkah.


"Iya, Galang." katanya sedikit ragu.


Kayra duduk di sofa, gadis itu masih memegang ponselnya. Ia tak tahu harus membahas apa bersama pria di depannya itu, "tumben kemari, ada apa?"


"Queen-"


"Panggil aku Kayra," selanya yang langsung diangguki Galang. Ia tak menyangka jika putra bungsu Gumilang sangat ramah, karena kabar yang beredar putri bungsu mereka sangatlah arogan.


"Kay, berapa umurmu?"


"Dua puluh satu tahun."


Galang terdiam sejenak.


"Apa ada masalah?"


Galang menggeleng, "kuliahmu, sudah selesai?"


Kayra mengangguk.


"Bagus kalo gitu," kata Galang dengan mata yang tak lepas dari wajah Kayra, entah kenapa tatapan Galang bisa membuat seorang Kayra salah tingkah.


Dalam beberapa tahun terakhir, Kayra tak menjalin hubungan dengan siapapun. Ia bahkan tak berpacaran dengan pria manapun, ia seakan trauma. Ya, ia pernah jatuh cinta kepada seorang pria. Hanya saja dia mengkhianatinya, terlalu sakit jika diingat.


"Kita bisa melangsungkan pesta pertunangan."


Kayra membulatkan matanya dan menatap Galang tak percaya. Pertunangan? Bukankah mereka seolah melupakan pertunangan yang sudah direncanakan bertahun-tahun? Lalu, kenapa tiba-tiba datang dan membahas pertunangan?


"Pernikahan kita yang paling ditunggu-tunggu, Kay. Aku harap kamu bisa menerima meskipun tidak mencintaiku," kata Galang.


Cinta? Kayra bahkan tak berminat dengan itu. "Tidak apa-apa, aku mengerti. Cinta sudah tak ada di daftar keinginanku saat ini."


"Kenapa? Bukankah seorang wanita benar-benar sangat ingin dicintai?"

__ADS_1


Kayra tersenyum. "Tidak semua wanita."


"Tapi, bagaimana jika aku mencintaimu?"


Apakah dia gila?


***


Gumilang


Para pekerja di perusahaan Gumilang tampaknya tengah terheran-heran dengan tingkah sang bos besar mereka, pasalnya bos mereka melakukan hal yang tak biasa dilakukannya.


Galang tersenyum membalas sapaan para pekerja kepadanya, bukannya senang karena disapa balik para pekerja malah dibuat terkejut. Galang sempat berdecak dan menggeleng pelan sebelum benar-benar hilang di telan pintu ruangannya.


"Ris, masuklah," panggil Galang melalui intercom, setelah mendengar jawaban dari seberang Galang kembali menatap layar laptopnya.


"Ya, Mr?"


"Tolong pesankan sarapan."


"Baik, Mr."


Risa sangat bingung, tidak biasanya sang atasan menyuruhnya memesankan sarapan. Setahu Risa, keluarga Gumilang tak pernah mengabaikan sarapan putra bungsunya. Tetapi hari ini? Banyak hal yang berbeda.


.


.


.


"Apa Mr. Gumilang ada di tempatnya?"


"Maaf, Nona. Apakah sebelumnya sudah membuat janji?"


Gadis itu tersenyum dan menggeleng, "tapi saya harus bertemu dengan Mr. Gumilang. Bisa saya bicara dengan sekretarisnya?"


Resepsionis menggeleng cepat, "tidak bisa Nona, ini sudah menjadi kebijakan jika tidak membuat janji. Maka tidak bisa bertemu dengan CEO kami," katanya.


Kayra menghela nafasnya pelan, ia bahkan tak memiliki nomor ponsel Galang. Bagaimana caranya agar resepsionis ini tak menahannya disini? Menyebalkan sekali.


"Saya tunangannya, Mbak. Saya mau bertemu tunangan saya," kata Kayra.


Resepsionis itu tertawa. "Sudah banyak wanita yang mengaku menjadi tunangannya, ternyata cuma ****** yang nggak punya harga diri."


Kayra menghela nafasnya kasar. "Baiklah, saya akan ke lantai atas untuk membuktikan bahwa saya bukan ****** seperti yang kamu sebutkan."


"Saya tak mengatakan hal itu!"


"Secara tidak langsung."

__ADS_1


Karya merogoh tasnya dan mengambil ID Card, ia menyerahkan kepada Resepsionis dengan ekspresi yang sudah sangat kesal. "Saya boleh masuk?"


Saat resepsionis melihat dan membaca Id Cardnya, dia terlihat shock dan segera menunduk. "Maaf, Nona."


Kayra tak mempedulikan hal itu dan segera menuju lift, ia lelah berdiri beberapa menit. Jika dengan cara menyombongkan diri ia bisa bertemu dengan sang CEO Gumilang, ia bisa melakukannya. Padahal, ia sangat ingin merahasiakan identitasnya di kantor ini.


Semua gagal gara-gara resepsionis sialan itu!


Saat mencapai lantai paling atas, hanya ada ruangan sang CEO dan sekretarisnya. Seorang perempuan muda duduk dan mungkin tengah mengerjakan pekerjaannya. Lebih baik ia tidak mengganggu, selain ia tak ingin mengganggu, ia juga tak ingin berdebat lagi.


Kayra melenggang bebas ke arah ruangan sang bos besar, Sekretaris itu tampak akan mencegahnya. Tetapi sebelum itu benar-benar terjadi, Kayra menunjuk wanita itu agar tetap duduk.


"Tolong diam, saya lelah berdebat!"


"Tapi, Non-"


Kayra langsung membuka pintu ruangan membuat sekretaris itu seperti ketakutan, sayangnya Kayra tak peduli. Ia masuk dan segera duduk di sofa yang tak jauh dari meja kerja Galang. Galang sempat terkejut tetapi ia tersenyum melihat tingkah Kayra yang unik.


"Maaf, Mr. saya tidak bisa mencegah Nona ini masuk," kata Risa.


Galang mengangguk, "tidak apa-apa, dia tunangan saya."


Risa merasakan perih di hatinya, ia hanya bisa mengangguk dan segera berpamitan. Jika dilihat dari penampilan, Risa jelas kalah dengan perempuan yang saat ini duduk di sofa empuk itu.


"Resepsionismu, menyebalkan sekali!"


Galang berdiri dan berjalan mendekati Kayra yang tengah memijit kakinya yang cukup pegang, ia berdiri lebih dari 15 menit hanya gara-gara resepsionis sialan itu.


"Kenapa nggak ngabarin?"


"Aku bahkan nggak punya nomor ponselmu," Kayra merasa dirinya sudah sangat terbiasa berbicara dengan pria di depannya, biasanya ia akan menutup diri dan tak mau menunjukkan sikap aslinya.


"Biar aku yang pijit, maaf ya."


Kayra hanya diam saja memperhatikan Galang memegang kakinya, pria itu memijit kakinya pelan dan sangat lembut. "Sudah. Aku nggak apa-apa."


"Sering didatangi ******?"


Galang menatap wajah Kayra dengan heran, "bahkan tidak pernah, ada apa?"


"Berarti resepsionismu benar-benar kurang ajar!"


"Dia menuduhmu?"


Kayra mengedikkan bahunya acuh. "Ya kurang lebih seperti itu."


Galang mengangguk mengerti. "Akan ku urus nanti," katanya. Galang duduk di samping Kayra, "mau membicarakan hal kemarin?"


Kayra mengangguk, dia kemari memang ingin membahas tentang pertunangannya. Ia hanya tak mau dibebankan pikiran bahwa ia akan bertunangan dengan orang asing. Ia hanya ingin semua berjalan dengan sendirinya tanpa ia berpikir yang tidak-tidak.

__ADS_1


"Apa sebaiknya tidak langsung menikah saja?"


What?


__ADS_2