Past Or Future?

Past Or Future?
Empat belas


__ADS_3

Kayra's Room


Prak!


Kayra mematung dengan selimut yang ada di tangannya, ia menatap ponsel suaminya yang sudah tergeletak di lantai. Ia meneguk susah salivanya, ia menoleh saat pintu kamar mandi terbuka.


"Kamu kenapa?"


Kayra tak menjawab apapun, tatapannya beralih ke ponsel suaminya. Galang mengikuti tatapan mata Kayra, melihat ponselnya yang sudah tergeletak tak berdaya.


"Maaf," kata Kayra pelan.


Galang mengambil ponselnya dan mencoba menyalakan, ponselnya masih menyala hanya saja layarnya retak. "Nggak apa-apa, masih nyala," katanya menunjukkan layar yang memang menyala kepada Kayra.


"Kamu jangan naruh hp di atas kasur lagi," kata Kayra pelan. Ia masih takut jika Galang akan memarahinya. "Maaf," lanjutnya.


"Nggak apa-apa, lagian aku yang salah. Udah ah jangan gitu," kata Galang yang diangguki Kayra, Kayra meneruskan kegiatannya membenarkan letak selimutnya. Ya, gadis itu memang sedang membereskan kasurnya dan tak melihat jika ponsel Galang ada di atas selimut.


"Udah, jangan terlalu dipikirin, lagian nggak apa-apa juga," kata Galang yang diangguki Kayra.


.


.


.


"Ma, kita mau honeymoon ke luar negeri."


Deira menatap menantunya, "Kapan Lang?"


"Tiga hari lagi, Ma."


Deira mengangguk mengiyakan, ia tersenyum menatap Kayra. "Kayra nggak suka naik pesawat, nanti kamu jagain dia ya," katanya pada Galang.


"Kenapa nggak suka?"


Deira terkekeh, "entahlah, dari kecil dia paling nggak suka naik pesawat. Setiap liburan di luar kota, dia yang bakalan ngeluh."


"Padahal di pesawat kan enak, Kay. Nggak kayak naik mobil," kata Galang yang hanya dijawab gelengan kepala oleh Kayra.


Deira yang melihat hal itu hanya terkekeh. "Tuh, kalo ditanya jawabannya kaya gitu doang, geleng-geleng. Mama sampe bingung," katanya.


***


Kayra menerima telepon dari sahabat lamanya, apakah masih bisa disebut sahabat jika sudah berkhianat? Ah sudahlah, abaikan itu semua dan kembali pada masa kini. Karya bukan gadis lemah lembut yang pemaaf, gadis itu pendendam.


"Nggak ada waktu."


"Gue cuma pengen ngomong sebentar!"

__ADS_1


Tut!


Kayra segera mematikan sambungan telepon, ia sudah sangat malas jika harus berhubungan dengan orang-orang dari masa lalunya. Ia hanya ingin bahagia dengan keluarga serta orang yang ia cintai. Ia tak minta lebih, hanya itu.


Kayra menghela nafasnya pelan, ia merasa beban hidupnya semakin berat. Sesungguhnya ia tak pernah ingin memikirkan hal kosong yang sama sekali tak ia ketahui, ia sering diam dengan pikiran kosongnya. Menyedihkan bukan? Anak orang kaya pun masih belum bahagia, apa yang kamu lihat belum tentu itu yang dirasakan.


Sebuah tangan kekar melingkar manis di lehernya, seseorang tengah mendekap erat dirinya. "Mikirin apa, hmm?"


Kayra menggeleng pelan lalu tersenyum manis. "Nggak apa-apa, eh kok kamu udah pulang?" kata Kayra membuat Galang tertawa kecil.


"Kangen sama kamu."


Kayra menepuk pelan tangan Galang, gadis itu berbalik dan melepas jas serta dasi suaminya. "Saatnya mandi, anget apa dingin?" kata Kayra.


"Sama kamu ayok," kata Galang.


Kayra menggeleng, "aku udah mandi."


"Dingin aja. Oh iya- aku bawa martabak buat kamu di meja makan," kata Galang. "Di makan ya," lanjutnya dan mencium kening istrinya dengan sayang.


"Iya," sahut Kayra.


Selanjutnya, Kayra mengambil pakaian rumahan Galang dan menyiapkannya. Setelah itu, ia keluar dari kamarnya untuk segera memakan martabak dari suaminya.


.


.


.


Kayra tersenyum dan duduk di kursi, ia mengambil sepotong martabak dan menggigitnya. Ia menikmati martabak yang dibelikan Galang, tumben sekali Galang membelikannya martabak.


"Non ini mau dimakan semua?"


Kayra melongo saat melihat 2 box yang berisi martabak. "Ini semua yang beli mas Galang, mbok?" tanya Kayra yang tentu saja diangguki oleh Mbok Inah.


"Itu satu yang diatas pesenan Mama, Kay. Satunya buat mbok aja sama yang lain," kata Galang yang baru saja datang. Kayra menyuruh suaminya mendekat dan Galang duduk di sampingnya.


"Enak. Jadi ini pesenan Mama?"


Galang mengangguk.


"Idih Mama nyusahin aja, biasanya juga nyuruh kak David," kata Kayra.


"Mantu mama kan baik, Kay. David lagi di luar negeri, ngurusin bisnisnya. Jadi Mama minta bantuan Galang, makasih ya Lang."


Kayra menatap Deira dan terkekeh, "iya deh mantu mama doang yang baik. Anak mama mah jahat semua," katanya membuat Deira tertawa kecil.


Deira menatap wajah Kayra yang tengah memakan martabak, "Kay, Mama tadi ketemu Gita. Dia minta ketemu sama kamu," kata Deira membuat Kayra menatapnya ibunya malas.

__ADS_1


"Aku udah nggak mau ketemu sama dia, Ma."


Deira mengangguk mengerti dan menaruh jus jeruk di depan Kayra dan Galang. "Yaudah kalo gamau ketemu juga nggak apa-apa, Mama ngerti."


Kayra mengangguk.


"Mama mau ke ruang tv ya," pamit Deira yang diangguki Kayra dan Galang, setelah Deira berlalu menghilang dari pandangan mereka. Galang menatap Kayra.


"Gita itu siapa?"


Kayra menatap Galang dan memegang pipi Galang. "Temen lama aku," kata Kayra. Galang memegang tangan Kayra, Galang tersenyum jail membuat Kayra segera melepaskan tangannya.


"Udah ih, aku mau makan lagi."


***


"Cucu mantu kakek, gimana kabarnya?"


Kayra tersenyum, "Baik kek, kakek gimana kabarnya?" katanya yang tentu saja dijawab baik juga oleh kakek Galang, di samping Kayra ada Galang yang ikut duduk bersamanya. Hari ini entah ada apa kakek mengunjungi rumah keluarga Kayra.


"Kalian baik-baik saja kan?"


Kayra melirik Galang sekilas dan hendak menjawab, sayangnya Galang lebih dulu menyelanya. "Aku nggak suka sama pendapat bunda yang aneh-aneh itu, kek."


"Kenapa memang nak?"


"Umur pernikahan Galang belum genap sebulan, tapi mereka udah bahas Galang disuruh nikah lagi. Kek, apa kebahagiaan aku cuma diatur oleh keluarga? Dalam hal apapun, tidak peduli aku bahagia atau sedih? Begitukan?"


Kakeknya berdehem. "Bukan begitu, Lang. Tapi untuk menikah lagi, Bunda kamu pasti sayang banget sama Renata. Jika kebahagiaan Renata karena kamu, tentu saja Bunda mu akan menurutinya. Tapi, caranya salah." katanya. Ia tahu masalah ini beberapa hari yang lalu, saat mendapati cucunya pindah ke rumah mertuanya.


.


.


.


"Are you oke, Baby?"


Kayra melirik ke arah orang yang berdiri di sampingnya, ia tersenyum dan mengangguk. Pria berusia senja itu tersenyum dengan lipatan di wajahnya, ia duduk di depan Kayra.


"Apa aku salah menjodohkan mu?"


Kayra menggeleng pelan dan mengalihkan tatapannya dari sang kakek, pemandangan di taman ini lebih menarik daripada pembicaraan yang dibicarakan kakeknya.


"Maaf kalo kamu tidak bahagia, Kay."


Kayra tersenyum lembut. "Bukankah mencapai kebahagiaan harus ada pengorbanan? Aku tahu kakek mencoba memberikan yang terbaik buat Kay, sejauh ini mas Galang baik sama aku. Itu udah lebih dari cukup," katanya.


"Kamu memang cucu kakek yang paling paham keadaan, sekali lagi maaf ya, Nak. Gara-gara kakek kamu mempunyai mertua yang jauh dari ekspektasi kamu," kata kakek yang hanya dibalas senyuman oleh Kayra.

__ADS_1


__ADS_2