
Engagement day's
Kayra nampak cantik dengan balutan gaun yang sangat cantik, pertunangannya hari ini di hadiri banyak orang. Sebagian orang nampak takjub dengan putri dari keluarga Maheswara yang memang sangat jarang orang yang tahu. Kebanyakan mereka yang tahu saat gadis itu masih kecil dan melihat lagi saat dia sebesar dan secantik ini.
"Kamu cantik." sapaan halus keluar dari bibir Galang, pria itu tampak terpesona hingga tak bisa mengalihkan tatapannya. Mata Kayra mampu menghipnotis Galang, Kayra benar-benar gadis yang sangat istimewa.
Kayra merona malu, meskipun gadis itu sangat sensitif tentang perasaan sebenarnya gadis itu sangat mudah jatuh cinta. Apalagi jika orang itu sangat gigih, Kayra akan mudah luluh dan menjatuhkan hatinya meskipun gadis itu tahu ketika ia menjatuhkan hatinya pada seseorang ia harus siap jika suatu saat hatinya dicampakkan.
Seluruh keluarga Gumilang dan Maheswara berkumpul dalam satu meja. Mereka membicarakan tentang bagaimana ke depannya, karena memang hal ini sudah ditunggu-tunggu. Kakek Kayra dan Kakek Galang sangat antusias membahas hal ini. Sedangkan, Kayra dan Galang memutuskan untuk berjalan-jalan, Kayra mengeluh pusing pada Galang.
"Udah mendingan?"
Kayra berdehem. "Sedikit," jawabnya, Kayra terlalu pusing karena berdiri terlalu lama di tengah keramaian. Galang menatap Kayra dengan tatapan yang sulit dimengerti, gadis yang tadinya menunduk menatap ke arah Galang. "Ada apa Lang?"
Galang tersenyum dan menggeleng. "Nggak apa-apa. Kamu cantik," katanya membuat Kayra memukul lengannya pelan.
"Gitu aja terus sampe aku jadi kepiting rebus."
"Kay, besok nikah yuk."
Kayra melongo, "kamu nggak salah kan? Nyiapin pernikahan tuh nggak gampang, butuh waktu."
"Kalo kamu mau, besok beres kok."
Kayra mendengus, "nggak, aku nggak mau."
"Seminggu lagi, ya?"
"Setahun."
Galang merangkul Kayra membuat gadis itu sedikit terkejut, tetapi Galang tak mempedulikan hal itu. "Nikahnya setahun lagi, kita nyicil baby dulu gimana?"
Plak!
Galang mengelus pahanya yang dipukul Kayra. "Aduh, sakit tau. Main pukul aja," katanya membuat Kayra terkekeh kemudian mendengus.
"Makanya kalo ngomong tuh dijaga!"
***
__ADS_1
Galang tersenyum bahagia mengingat sekarang ia bisa bersama gadis yang ia cintai, meskipun jawaban dari pertanyaannya belum pasti benar. Ia hanya tahu bahwa gadis itu sekarang miliknya.
"Kay, kalo suatu saat aku khianati kamu gimana?"
Kayra menoleh. " Khianati gimana?"
"Selingkuh."
"Aku ga bakal maafin kamu, dan ingat saat itu tiba kita selesai tanpa harus repot-repot berbicara."
Deg!
Galang menatap Kayra, jawabannya sama seperti 5tahun yang lalu. Apakah dia Rara? Jika ia, apa dia tidak mengingatnya?
"Kay, kamu pernah hilang ingatan?"
Kayra menatap Galang aneh. "Ada apa? kenapa bertanya seperti itu?"
"Hanya sekedar bertanya."
Kayra mengangguk, "Pernah. Tapi dokter menyarankan agar tidak terlalu diingat, soalnya setiap aku mencoba mengingat. Kepala aku sakit," katanya.
"Ya sudah, jangan diingat."
"Ada, di suatu tempat." katanya sambil tertawa membuat Galang tersadar, gadis ini miliknya sekarang atau 5 tahun yang lalu.
Kayra dibuat terkejut dengan tingkah Galang yang tiba-tiba memeluknya, Kayra memberontak hanya saja Galang dengan erat memeluknya. Membenamkan wajahnya di leher Kayra, gadis itu sudah tak bisa bergerak sama sekali.
"Kamu kenapa sih?"
Galang melepaskan pelukannya. "Aku bahagia," kata Galang. Kayra tertegun melihat mata Galang yang berkaca-kaca, dari awal Kayra melihat Galang seperti sangat familiar di matanya. Hanya saja pas itu kali pertama ia bertemu dengan Galang.
"Jangan tinggalin aku."
***
Seorang perempuan berumur 25 tahun memasuki ruangannya dengan tatapan kosongnya, ia ingin marah. Ia tak bisa berbuat apa-apa, melihat semua orang bertepuk tangan atas kebahagiaan dua orang yang saling mengikat itu sama aja menyakitinya.
"Argghhh!!!!"
__ADS_1
"Renata! Lo kenapa?"
"Gue gagal, Del." katanya lirih.
Delia menatap saudaranya dengan tatapan iba, yang ia tahu Renata sangat mencintai Galang. Namun, Galang selalu menolaknya lagi dan lagi. Delia tahu bagaimana rasanya menjadi Renata.
"Jalan satu-satunya lo cuma harus ngelepasin dia," kata Delia.
Renata menggeleng. "Nggak akan pernah."
"Re, sadar! Galang bahagia sama Kayra," kata Delia.
"Dulu gue bisa nyingkirin cewek kampungan itu, sekarang gue sudah nggak bisa nyingkirin dia. Dengan status dia sekarang bikin gue frustrasi, Del!"
.
.
.
"Tante."
Alisha menatap anak angkatnya yang sudah lama ia asuh, semenjak kedua orang tuanya meninggal dunia dan ia tak mempunyai keluarga manapun membuat Alisha yang merasa ingin memiliki anak pun memutuskan untuk mengasuhnya.
"Ada apa, Re?"
Renata duduk bersimpuh membuat Alisha bingung. "Renata mohon, Tante. Izinkan Renata bersama Galang, Renata janji bakal bahagiain Galang."
Alisha menatap tajam Renata. "Re, Galang sudah mempunyai pasangan. Tante mohon, jangan ganggu kebahagiaan dia. Galang tidak mencintai kamu," katanya.
"Apa karena aku udah nggak punya keluarga sehingga aku nggak bisa bersama dengan orang yang aku cinta?"
"Kamu benar, itu alasan pertama. Alasan kedua, kamu nggak bisa buat anak saya mencintai kamu. Re, cari pasangan kamu. Kamu sudah dewasa, Tante dengan senang hati akan menyetujuinya."
Renata terkekeh hambar. "Ayah dan Ibu saya berkorban untuk Tante, mereka rela mati meninggalkan aku. Apa ini balasannya?!"
"Cukup Renata! Kamu sudah diluar batas, pergi!"
"Tante, aku hanya minta hal yang mudah. Apakah tidak boleh?"
__ADS_1
"Buat anak saya jatuh hati sama kamu, saya dengan senang hati menikahkan kalian."
***