Past Or Future?

Past Or Future?
Tujuh belas


__ADS_3

Hari sudah sangat siang, hanya saja kedua pengantin baru masih terlelap dalam tidurnya yang indah. Bukannya membuka mata karena sudah siang, Kayra semakin mengeratkan pelukannya pada sang suami yang juga tampak menikmati hari ini.


"Bangun yuk," kata Galang dengan bisikan lembut, pria itu benar-benar tahu cara memperlakukan seorang perempuan dengan baik.


Pipi Kayra dielus membuat sang empu terganggu, ia membuka matanya perlahan dan matanya bersitatap dengan mata tajam milik suaminya. "Badanku sakit semua," katanya pelan.


Galang mengelus pipi istrinya dengan sayang, ia tersenyum kecil. "Maaf, kali kali aku akan lebih pelan." katanya dengan senyum menggoda membuat Kayra memukul dadanya dengan pelan.


"Aku bosan." kata Kayra.


"Ayo, mandi. Kita jalan-jalan, pertama kita harus makan terlebih dahulu."


Kayra mengangguk dan mengangkat kedua tangannya, membuat Galang terkekeh. Ia segera mengangkat tubuh istrinya menuju kamar mandi, Kayra pun terkekeh geli melihat tingkahnya sendiri.


"Mandi bersama?"


"Nggak! Aku duluan!"


Galang mengangguk pelan dan membaringkan tubuh istrinya di dalam bathtub. Kayra menyuruh Galang untuk segera keluar, tentu saja hal itu membuat Galang tertawa karena Kayra begitu khawatir.


Galang menghela nafasnya pelan, jika gadis yang sudah menjadi wanitanya itu benar gadis masa lalunya. Apakah dia masih akan menerima dirinya? Ia tidak bisa membayangkan jika hari itu tiba, Kayra pasti akan sangat marah besar padanya.


15 menit berlalu...


Galang termenung di atas kursi yang ada di sana, ia merenungi semua itu tanpa ingat waktu. Ia tersadar saat sepasang tangan mungil melingkar di lehernya, ia tersenyum manis dan menoleh ke arah Kayra yang tengah memeluknya.


"Lagi mikirin apa?"


Galang tersenyum, "mikirin kita mau jalan-jalan kemana? Kamu maunya kemana?" tanya Galang seraya mencium pipi istrinya dengan lembut. Kayra yang memang sudah berpakaian lengkap itu duduk di samping suaminya. "Hm?"


"Pulang."


Wajah Galang merengut kesal, "kok pulang sih?" katanya dan Kayra tertawa pelan. Entah kenapa rasanya ia ingin pulang saja, ia tidak memiliki selera jalan-jalan di daerah sini.


"Pengen pulang aja."


"Kita baru beberapa hari, Sayang. Masa kamu minta pulang sih? Aku ajak kamu jalan-jalan, oke? Aku mandi dulu, abis itu kita pergi."


Kayra mengangguk dan memejamkan matanya saat keningnya dikecup oleh suaminya. Entah kenapa hari ini ia merasa bahagia, apa karena ia sudah melakukan kewajibannya sebagai seorang istri? Entahlah, mungkin seperti itu.

__ADS_1


***



Suasana damai membuat Kayra nyaman, dengan genggaman tangan suaminya yang sangat hangat membuat Kayra semakin bertambah bahagia. Galang melirik istrinya dan tersenyum manis, Kayra tersenyum dan meminta Galang mengambil gambarnya.


Beberapa kali ia berpose dan beberapa kali pula ia berfoto dengan Galang. Galang menatap istrinya khawatir, entah kenapa ekspresi Kayra tiba-tiba berubah drastis. Wajahnya seperti orang yang menahan sakit, "kamu kenapa sayang?"


"Aku pengen ke hotel aja deh."


"Ya udah ayo," kata Galang menuruti perkataan istrinya, mereka segera menaiki mobil dan kembali ke hotel tempat mereka bermalam. Galang melihat Kayra yang memegangi perutnya dan memejamkan matanya.


Galang memeluk istrinya. "Kamu kenapa, hm?"


Kayra hanya menggelengkan kepalanya perlahan, tangannya memegangi perutnya yang seperti diremas-remas. "Sakit."


"Kita ke dokter saja ya?"


Kayra menggelengkan kepalanya, ia hanya ingin berbaring di kasur empuk dan menikmati rasa sakit yang ada di perutnya. Beginilah keadaannya saat kedatangan tamu bulanan, tetapi ia tidak menyangka di hari liburannya harus datang bulan.


Sesampainya di hotel, Kayra mengobrak-abrik kopernya dan mengambil sesuatu. Setelah itu, Kayra memasuki kamar mandi sedangkan Galang hanya memperhatikan istrinya yang entah kenapa menjadi sangat sibuk sendiri.


Kayra keluar dari kamar mandi dengan lesu, wajah pucat pasinya membuat Galang langsung menghampirinya. "Kay, kamu kenapa Sayang?" tanya Galang membuat Kayra menggeleng dan segera merebahkan dirinya di kasur.


"Sayang, are you okay?"


"Hmm...."


"Bawa obat nggak?"


Kayra menggeleng pelan, Galang menghela nafasnya pelan dan membisikkan sesuatu pada istrinya. "Ke dokter ya?" kata Galang yang langsung mendapat gelengan dari Kayra lagi. Ia langsung teringat beberapa tahun yang lalu, saat ia menghadapi seorang gadis dengan keluhan yang sama.


"*Sakit."


"Sakit banget ya, Ra?"


Rara mengangguk mendengar pertanyaan dari Galang, gadis cantik itu berbaring di ranjang UKS dengan mata berkaca-kaca. Galang menghela nafasnya pelan dan segera memberikan obat yang tadi diberi oleh petugas UKS*.


"Pulang aja ya?" kata Kayra dengan pelan.

__ADS_1


Galang tersadar dan menghela nafasnya pelan, "tapi ke dokter dulu, setelah itu kita pulang."


Kayra mengangguk.


***



Kayra terbaring lemas di atas kasur yang ada di pesawat, mereka benar-benar pulang hari ini. Padahal masih banyak rencana yang akan Galang lakukan bersama Clara. Galang mengalah pada istrinya karena lain kali ia akan pergi berlibur bersama di lain waktu.


Galang mengelus rambut panjang Kayra, mata lentik Kayra berkedip lambat. Galang tersenyum tipis, "gimana, udah enakan?" tanya Galang pada istrinya. Kayra memegang perutnya yang sudah tidak merasa nyeri, ia mengangguk.


"Ya udah, sebentar lagi sampai."


.


.


.


Kayra sudah dalam gendongan suaminya, rumah sangat sepi karena sang pemilik belum kembali dari aktivitas di luar rumahnya. Galang meminta bantuan pada salah satu Asisten Rumah Tangga di rumah itu untuk membukakan pintu kamar mereka.


"Terima kasih "


Kayra menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya, "aku bisa jalan sendiri padahal," katanya membuat Galang terkekeh.


"Sekali-kali manjain istri, sebentar lagi juga sibuk kerja. Mau makan nggak?" kata Galang membuat Kayra terkekeh, Galang meletakkan tubuh Kayra dengan hati-hati di atas kasur.


"Nggak usah, nanti aja."


Galang mengangguk dan tersenyum menatap wajah cantik istrinya. Ia menarik dagu Kayra dengan lembut dan menempelkan bibirnya pada bibir Kayra, Kayra yang belum terbiasa dengan hal terkejut namun tak lama kemudian ia memejamkan matanya menikmati kecapan bibir suaminya.


"Mmmhh...."


Kayra merasa pasokan oksigen di paru-parunya menipis, ia memukul dada Galang dan untung saja Galang langsung mengerti. Galang hanya terkekeh dan menempelkan dahinya pada dahi istrinya, ia tersenyum tipis. "Terima kasih."


"Untuk apa?"


"Karena sudah bersedia menjadi istriku," kata Galang membuat pipi Kayra merona karena malu, jujur saja Kayra memang selalu malu jika Galang mulai berkata romantis. Kayra mengangguk pelan dan memeluk tubuh besar suaminya dengan erat.

__ADS_1


"Terima kasih kembali."


Galang membalas pelukan hangat istrinya dan mengelus kepala Kayra dengan sayang. Semoga saja masih ada hari-hari yang lebih membahagiakan dari hari ini, iya semoga saja.


__ADS_2