
Kayra dan Sela memasuki sebuah bar yang letaknya tak jauh dari Kafe miliknya. Jam sudah menunjukkan pukul 23.11 WIB, Sela cukup terbiasa memasuki club malam ini. Tetapi Kayra... bahkan ini pertama kali untuknya.
"Ruang VIP aja ya, Kay?"
Kayra menggeleng.
"Bahaya buat lo!"
Kayra terkekeh. "Gue bisa jaga diri."
"Maaf, nona dilarang masuk."
Kayra menatap pria yang menghalanginya untuk masuk lebih dalam lagi, Sela dan Kayra berpandangan sekilas. "Siapa kamu?"
Tatapan mata pria itu nenatap seseorang yang tengah berdiri dengan tangan masuk ke saku celananya, tatapan matanya tajam mengarah ke Kayra. Kayra yang sadar siapa itu pun menghela nafasnya kasar.
"Lo sendiri aja, Sel. Kayaknya gue nggak bisa masuk," kata Kayra yang diangguki Sela.
Kayra menghela nafasnya pelan, menenteng tasnya dan berjalan ke arah suaminya yang tengah menatapnya tajam. Sesampainya di hadapan Galang, Kayra berdehem pelan dan memasuki mobil yang sudah dibukakan pintunya.
Galang ikut masuk dan duduk di samping istrinya, setelah itu ia memerintahkan sopir agar segera melajukan kendaraannya menuju rumah.
Di sepanjang jalan, Galang hanya diam saja. Begitupun dengan Kayra, gadis itu seolah merasa bersalah. Galang sesekali memejamkan matanya, Kayra hanya sesekali mencuri pandang ke arah Galang.
Kayra tak pernah tahu akan serumit ini.
15 menit kemudian...
Mereka memasuki pelataran rumah Galang, setelah mobil berhenti Galang membantu Kayra turun. Dalam keadaan apapun, ia masih tetap memperhatikan istri tercintanya.
Kayra yang digandeng hanya diam saja, ia tak berani membuka percakapan. Gadis itu menghela nafasnya pelan, ia merasa tenggorokannya tercekat.
"Aku harap kamu tau apa kesalahanmu."
.
.
.
Matahari mulai menampakkan sinarnya dan masuk ke dalam kamar Kayra dan Galang. Kayra yang memang belum tidur sama sekali membuatnya memutuskan untuk duduk di balkon kamarnya sejak setengah jam yang lalu.
Ia memijit kepalanya pelan, tidak tidur membuatnya sangat pusing. Jalan satu-satunya ia harus tidur, ya kan? Ia menghela nafasnya pelan menatap ke depan.
"Masuk, Kay. Tidur," ucap seseorang membuat Kayra menoleh. Galang.
"Ayo, kamu harus tidur," kata Galang menggandeng tangan Kayra dan memasuki kamarnya.
Galang menyelimuti tubuh Kayra agar gadis itu merasa hangat. Tak lupa, ia juga mengecup kening istrinya dengan sayang. Galang tersenyum, ia tak bisa lama-lama marah kepada istrinya.
Perlahan tapi pasti, mata lentik Kayra menutup dan nafas gadis itu mulai teratur. Galang tersenyum, ini bukan sepenuhnya salah Kayra. Jika gadis itu melakukan hal seperti semalam itu wajar, ia tak bisa terus menerus memarahinya.
Galang tahu, istrinya tak tidur semalaman. Ia juga sebenarnya tak tidur, hanya saja ia menahan diri agar tidak memeluk istrinya dan mengajaknya tidur. Semalam ia marah, amat sangat marah.
__ADS_1
***
Ketukan high heels yang dipakai Renata menggema di ruangan Galang, Galang hanya diam saja saat dia memasuki ruangannya tanpa izin. Hari ini Galang memutuskan untuk mengontrol pekerjaannya sebelum pergi honeymoon bersama istrinya.
"Kamu harus nerima perintah Om!"
Galang acuh.
"Denger ga sih?!"
Galang diam, ia fokus ke laptopnya yang terbuka. Tentu saja hal itu membuat Renata kesal, sayangnya itulah kebiasaan Galang. Renata terus mengoceh membuat Galang pusing.
"Pergi!" bunyi gebrakan cukup membuat Renata tersentak, baru saja Galang memukul meja yang tak bersalah hanya karena Renata. Melihat hal itu, Renata menatap wajah Galang sendu.
"Kamu berubah, sekarang kamu udah jadi monster."
Galang menekan intercomnya dan menyuruh sekertarisnya masuk. "Bawa dia keluar, sekali lagi dia masuk. Kamu saya pecat!"
"B-baik pak."
.
.
.
"Jauhi istri saya!"
Sela menelan susah salivanya, pria di hadapannya terlalu mengerikan. "Maaf, Pak."
"Jangan pernah ajak istri saya ke bar."
Sela mengangguk. "Semalam saya sudah melarangnya, Pak. Saya tau Bu Kayra tidak pernah ke tempat itu, tapi dia memaksa."
"Kayra sudah pernah menolongmu bukan? Maka, jaga dia jangan kamu ajak ke tempat yang tak seharusnya."
"Baik pak, makasih."
"Udah lama, Lang?" tanya seorang gadis dengan suara indahnya membuat Galang tersenyum ke arah gadis itu.
Galang menggeleng pelan, "baru aja dateng, kamu mau makan apa?" kata Galang.
Kayra duduk di hadapan Galang dan menyebutkan makanan yang ia inginkan, setelah itu Galang memesan makanan.
"Tumben ngajak ketemu disini, ada apa?"
Galang menatap Kayra dalam. "Pengen makan di luar aja, sekalian mau bahas honeymoon kita," katanya.
"Harus banget kita honeymoon?"
Galang mengangguk mantap.
Kayra mengangguk pelan dan menyibak rambutnya ke belakang, gadis itu terlihat masih mengantuk. Mungkin jika ia rebahan dan memejamkan matanya akan langsung pergi ke alam mimpi.
__ADS_1
"Masih ngantuk?"
"Dikit."
"Yaudah, abis makan kita pulang."
Kayra mengangguk pelan, tak lama kemudian makanan datang sesuai pesanan mereka. Kayra segera meminum minumannya dan memulai makan, begitupun Galang.
***
Pukul 15.02 WIB
Kayra tengah duduk bersantai ria menikmati pemandangan yang ada di hadapannya, air kolam renang yang bergelombang tenang terkena angin. Matanya berkedip lambat mengamatinya dan sesekali tersenyum.
"Kay..."
Lamunannya buyar, menatap mertuanya yang tiba-tiba menghampirinya disini seorang diri. Perasaan Kayra mulai tak enak, entah apa yang akan dibicarakan mertuanya.
"Iya, Bun."
"Kamu tau kan, perasaan Renata ke Galang bagaimana?" tanya Alisha membuat Kayra tersenyum.
Gadis itu menggeleng. "Aku nggak tau bun," jawabnya santai.
Alisha tersenyum terpaksa, menghadapi Kayra tidaklah mudah. Ia harus ekstra hati-hati terhadap menantunya itu, jika dipikir-pikir tidak ada yang mau dimadu apalagi diumur pernikahan mereka yang masih terbilang baru.
"Aku wanita yang nggak pernah suka pengkhianatan dalam jenis apapun, aku sama sekali nggak akan bertoleransi terhadap pengkhianatan apalagi dalam pernikahan."
"Tapi kamu tidak mencintainya!"
"Cinta bisa datang karena terbiasa, harusnya Bunda percaya itu. Pernah nggak sih bunda mikirin pernikahan kami? Aku sadar, kita nikah atas dasar perjodohan tapi bukan berarti itu bisa dipermainkan."
Alisha memejamkan matanya, "Bunda bingung, bunda sayang dan bunda peduli pada pernikahan kalian. Di sisi lain Bunda juga sayang sama Renata," katanya.
"Bunda hanya perlu bersikap tegas, entah padaku atau pada Renata. Pilihan ada di tangan Bunda," kata Kayra dan setelah mengatakan hal itu Kayra pamit undur diri meninggalkan mertuanya yang mematung di tempat.
.
.
.
Galang memperhatikan istrinya yang tengah terdiam dengan ponsel menyala di tangannya, tatapan Kayra kosong membuat Galang menghela nafasnya pelan. Ia menghampiri istrinya dan mengambil ponselnya.
"Kamu kenapa?"
"Hmm- enggak, aku gapapa."
Galang menghela nafasnya pelan, ia merasa pernikahan akan tidak baik-baik saja jika ia masih bertahan di dalam rumah ini. Bukan hanya dirinya yang akan tertekan, tetapi istrinya juga. Galang tahu apa yang dibicarakan Ibunya dengan Kayra sekitar 20 menit yang lalu.
"Bawa barang penting kamu, kita ke rumah Mama sekarang."
Kayra membelalakkan matanya. "Maksud kamu apa?" tanyanya bingung.
__ADS_1
"Kita nginep di rumah Mama dulu."
***