
Wedding Day's
Suara musik mengalun perlahan, Kayra dan Galang saling berhadapan dan tersenyum. Galang sangat bersyukur, gadis di hadapannya sudah sah menjadi istrinya. Galang dan Kayra sudah melayani ratusan tamu yang membuat mereka berdua kelelahan.
Kayra lebih memilih duduk setelah dansa dimulai, gadis itu merasa pegal luar biasa di betisnya. Di sepanjang resepsi pernikahannya yang digelar megah, tangan Galang tak pernah lepas dari istrinya. Entah apa yang membuatnya seperti itu, yang pasti Galang seperti menunjukkan bahwa Kayra adalah miliknya.
"Capek nggak?"
Kayra mengangguk jujur, tentu saja siapa yang tak lelah berdiri dan tersenyum menyalami ratusan tamu baik yang dikenalnya maupun tidak. "Kaki aku loh, Pegel banget," kata Kayra.
"Mau aku pijitin?"
Kayra menggeleng cepat, "jangan disini juga, kan nggak lucu kalo ada yang nonton." kata Kayra membuat Galang terkekeh dan mengangguk.
Kayra tersenyum menatap suaminya, ia merasa harinya akan semakin berat. Meskipun harusnya ia bersyukur mendapatkan hidup baru, ia malah menjadi was-was. Ia takut, tetapi ia tak pernah tahu apa yang ia takutkan.
"Masih lama ya?"
"Setengah jam lagi, sayang. Capek banget ya?" kata Galang yang diangguki Kayra, Kayra benar-benar kelelahan sekarang. "Ayo, kita ke kamar dulu."
"Tapi-"
"Udah nggak apa-apa, ayo."
Kayra mengangguk dan menggenggam tangan Galang, ia berjalan bak tuan putri menuju kamar yang disiapkan untuknya beristirahat. Diikuti asisten pribadi Kayra agar ia bisa mencopot segala aksesoris yang melekat pada tubuh gadis itu.
"Pelan-pelan aja sayang," kata Galang saat Kayra melangkah lebih cepat, ia takut Kayra jatuh meskipun ia menggandengnya.
.
.
.
Kayra menoleh ke samping, menatap wajah Galang yang tengah tertidur. Tadinya Galang menunggunya tidur, tetapi entah kenapa Kayra tak bisa pergi ke alam mimpi dan ia juga tak bisa membuka mata sebelum Galang tertidur. Kayra tersenyum sekilas, menyibak selimut yang menyelimutinya dan segera turun.
Kayra sadar, harinya di keluarga Galang tak akan berjalan mulus. Tetapi ia siap, ia sudah mempersiapkan segala apa yang akan terjadi ke depannya. Kayra menatap pemandangan di hadapannya, kelap-kelip lampu jika dilihat dari kejauhan sangatlah cantik.
Kayra mengusap wajahnya perlahan, entah kenapa saat Galang mengucapkan ijab kabul disusul dengan suara sah dari para saksi ia merasa beban yang ditanggungnya berat. Apakah ini jalan terbaik? Menikah dengan orang yang belum Kayra kenali.
"Kok belum tidur?"
Kayra menoleh ke arah suara, Galang dengan wajah khas bangun tidurnya membuat Kayra tersenyum. "Nggak apa-apa, Lang. Aku belum bisa tidur, kok kamu bangun?"
__ADS_1
"Ada yang kamu pikirkan?"
Kayra menggeleng, "nggak kok."
"Ya udah masuk, udara malem nggak bagus. Ntar kamu masuk angin," kata Galang merangkul Kayra dan menuntunnya agar segera ke dalam kamar mereka. Ya, saat ini mereka tengah berada di salah satu hotel bintang lima yang cukup terkenal, itu juga hotel yang sama tempatnya resepsi.
***
Gumilang's House
Kayra dan Galang saling tatap melihat seberapa sibuknya orang-orang yang ada di dalam rumahnya, entah apa yang terjadi mereka berdua sama sekali tidak tahu. Mereka baru saja tiba di rumah Galang, Kayra menoleh ke arah Galang.
"Ada apa?"
"Aku nggak tau."
Galang memanggil salah satu ART di rumahnya.
"Ada apa, Mbak?"
"Anu den Non Rena mabuk dan sekarang belum sadar."
Galang mengangguk mengerti.
Kayra mengangguk dan menyambut uluran tangan Galang, mereka berdua berjalan beriringan menuju kamar Galang. Galang sama sekali tidak pernah peduli apa yang terjadi pada seorang manusia bernama Renata. Entah kenapa rasa benci Galang kepada Renata tak pernah pudar, dari masih kanak-kanak hingga dewasa rasa benci itu masih ada.
"Galang tunggu!"
"Ada apa, Bun?"
Ashila menghampiri putranya, "tolongin Bunda dong, Nak. Kamu jaga Renata sebentar," kata Ashila membuat Kayra sedikit tak terima, namun gadis itu diam saja.
"Nggak bisa, Bun. Lagian ada banyak orang disini, Galang pamit dulu." kata Galang dan segera menggandeng Kayra memasuki kamarnya.
"Emang nggak apa-apa nolak bunda kayak tadi?"
Galang tersenyum, "nggak apa-apa, lagian aku males kalo berurusan sama tuh cewek."
"Kamu ganti baju dulu gih," kata Kayra tak ingin memperpanjang obrolan mereka tentang Renata. Dari awal, Kayra sadar jika Renata tak menyukainya begitupun dirinya.
Galang mengganti pakaiannya, memakai pakaian rumahan biasa. Ia melirik Kayra yang tengah berbaring membelakanginya, Galang menyisir rambutnya dan segera ikut berbaring.
"Lah, tidur." kata Galang pelan seraya terkekeh.
__ADS_1
.
.
.
Prang!
Kayra menoleh sekilas tanpa menghampiri seorang wanita yang baru saja menjatuhkan mangkuk yang berisi sayur sup panas. Ia menutup pintu lemari es, gadis itu baru saja meminum air dingin di dapur.
"Sengaja dijatuhkan?" kata Kayra memicingkan matanya, gadis itu mengelap percikan kuah yang untung saja tidak membuatnya terluka. "sayangnya kurang tepat."
"Ampun Non, saya benar-benar tidak sengaja."
Kayra tak mempedulikannya dan menyeringai, gadis itu sudah paham. Ternyata di rumah ini musuhnya bukan hanya Renata, tapi banyak. Kayra tersenyum tipis dan melangkahkan kakinya menuju Galang yang tengah duduk di sofa.
"Maaf lama, ini minumnya." kata Kayra yang diangguki Galang.
"Makasih ya," kata Galang yang dibalas senyuman oleh gadis itu.
Kayra sadar sekali jika pembantu itu dengan sengaja memecahkan mangkuk itu, itu dilihat dari caranya. Mangkuk tidak jatuh ke bawah melainkan ke depan, itu artinya mangkuk seperti dilemparkan bukan? Hanya ada Kayra yang ada di depan pembantu itu.
"Non, Non Kayra nggak apa-apa? Apa ada yang terluka?"
Kayra menoleh dan melihat wanita paruh baya yang dulu diperkenalkan bernama Ida dengan jabatan kepala dapur. Kayra mengangguk dan tersenyum, "Saya nggak apa-apa Bi, lain kali anak buahnya disuruh hati-hati. Saya tahu saya baru, tapi tidak harus di sambut dengan cara seperti itu."
"Sekali lagi saya minta maaf, Non."
"Tunggu- ada apa?"
Kayra menatap wajah Galang, wanita paruh baya itu menunduk takut. "Udah, aku nggak apa-apa kok."
"Bi Ida, tolong jelaskan apa yang terjadi!"
"Tadi Killa menumpahkan sup Den, makanya saya bertanya karena banyak yang bilang kalo kuahnya mengenai kaki Non Kayra." jelasnya seraya menunduk dalam.
Galang menatap Kayra dan beralih ke seluruh tubuh gadis itu, "mana yang kena?" tanya Galang.
"Cuma kecipratan sedikit, di kaki. Sekarang udah nggak apa-apa."
Galang langsung mengecek kaki Kayra, ia hanya tak ingin gadis itu terluka. Sebisa mungkin ia tak akan menyakiti dan tak akan membiarkan orang menyakitinya. Setelah dirasa baik-baik saja, Galang menatap tajam Bi Ida. "Tolong peringatkan, jika satu kali lagi membuat kesalahan. Bibi harus bisa berbuat tegas."
"Baik Den, sekali lagi saya minta maaf."
__ADS_1