Past Or Future?

Past Or Future?
Sembilan


__ADS_3

Kayra duduk di samping Galang dengan Renata di sampingnya, Renata cukup membuatnya tak nyaman. Renata yang terus bergerak gelisah membuat Kayra risih, Galang sadar akan hal itu pun bertanya lewat tatapan matanya. Kayra hanya tersenyum sekilas sebagai jawaban.


"Lang, nanti kamu honeymoon dimana?"


Uhuk!


Kayra menghentikan makannya, ia menoleh ke arah Renata. Ada apa dengan gadis itu? Ya, Kayra melupakan satu hal bahwa Renata mencintai suaminya. Kayra menghela nafasnya pelan saat sadar mengapa Renata lebih terkejut mendengar pertanyaan dari kakek Galang. Seharusnya disini ia yang terkejut, bukan Renata.


"Pa, ngomongin itu nanti saja. Sekarang kita makan terlebih dahulu," kata Alisha pada Ayahnya yang diangguki Adam -Kakek Galang-


5 menit kemudian...


Byurr!


"Maaf Non-"


Kayra segera menginterupsi agar pembantu itu tidak banyak bicara, untung saja air putih. Galang menatap tajam pembantu yang telah menyiram Kayra. Baju Kayra basah dan gadis itu berpamitan untuk menggantinya, Kayra melangkahkan kakinya dengan cepat menuju kamarnya.


Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang menyeringai senang dengan apa yang telah terjadi. Mereka kembali melanjutkan makan tanpa Kayra, Galang berhenti dan berpamitan untuk menyusul Kayra.


"Kamu nggak apa-apa?"


Kayra menaruh bajunya di keranjang kamar mandi, ia kembali lagi dan mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan suaminya. "Lang, kayaknya besok aku mau pulang dulu deh. Nggak apa-apa kan?"


"Nggak apa-apa, tapi aku ikut."


Kayra tersenyum dan mengangguk. "Aku nggak nyangka deh, kejutannya benar-benar luar biasa," kata Kayra membuat Galang merasa bersalah. "Tapi nggak apa-apa, belajar." kata Kayra seraya tertawa.


"Sini," kata Galang menyuruh Kayra mendekat, Kayra duduk lebih dekat dengan Galang. Galang dengan segera merengkuhnya, "Maaf ya, ntar kamu pilih rumah. Biar kita bisa pindah," kata Galang.


Kayra mengangguk.


"Kay, mau pulang hari ini nggak? Mumpung aku lagi nggak ada kerjaan, kan." kata Galang yang diangguki Kayra. Galang tersenyum dan menggandeng tangan Kayra agar tetap ada dalam pengawasannya.


.


.


.


"Mama."


Deira tersenyum hangat menyambut putri dan menantunya, wanita paruh baya itu sebenarnya masih belum bisa menerima jika sekarang putri kecilnya telah menjadi milik orang lain yaitu suaminya.


"Udah pada makan?"


Galang mengangguk. "Aku udah Ma, tapi Kayra makan sedikit banget." kata Galang membuat Kayra cemberut menatapnya. "Makan lagi ya," katanya membuat Kayra menggeleng.


"Aku udah kenyang kok," kata Kayra.


"Ya sudah, Mama baru aja bikin kue. Kalian makan ya," kata Deira yang diangguki Kayra dan Galang. "Kalo nggak ada Kayra mama bingung ngabisin kuenya," lanjutnya membuat Kayra terkekeh karena memang benar dirinyalah yang sangat suka kue buatan mama nya.

__ADS_1


"Ma, kak David mana?"


"Ngurusin perusahaan kamu lah, lagian kamu kan cuti jadi sementara digantikan dulu." kata Deira yang diangguki Kayra.


"Tapi Kay juga nggak kerja lagi kok, Ma."


Kayra menoleh ke arah Galang. "Loh, kok gitu?"


"Ya kamu di rumah aja, duduk manis jadi istri yang baik." kata Galang membuat Deira terkekeh dan mengangguk setuju. "Ya kan ma?"


Deira terkekeh. "Sekarang Kayra sudah menjadi tanggung jawab kamu," katanya yang diangguki Galang.


***


"Mas, kok kamu gitu?"


Galang menoleh dan menatap Kayra. "Aku? Gimana?"


"Pokoknya aku mau tetap kerja."


Galang menggeleng. "Tapi aku nggak akan ngizinin, Kay."


"Galang..." rengek Kayra.


"Aku nggak akan ngizinin Kay, aku pengen kamu ga kerja. Buat apa aku kerja kalo bukan buat kamu," kata Galang.


Kayra menatap Galang yang saat ini tak menatapnya. "Jahat banget sih?" katanya membuat Galang menoleh.


"Iya, kamu jahat."


"Aku kerja buat kamu. Tapi, kalo kamu ngeyel kamu aja yang kerja. Aku nggak perlu capek-capek kerja," katanya membuat Kayra mengatupkan bibirnya rapat.


"Lagian kerjaan aku cuma gitu doang. Nggak akan capek juga," kata Kayra pasrah.


Galang menggerakkan tangannya menyuruh agar Kayra mendekat ke arahnya. Setelah Kayra dalam pelukannya, Galang mengelus pipi gadis itu. "Kerja itu capek sayang, aku nggak mau kamu capek."


"Kan ada kamu."


"Ada aku? Apa?"


"Mijitin aku dong," ujar Kayra seraya terkekeh kecil. Galang terkekeh dan mengajak Kayra agar duduk di sofa. "Galang, kenapa aku nggak boleh kerja?"


"Aku nggak mau kamu capek."


"Terus aku ngapain dong, ngabisin duit kamu gitu?"


"Nah itu, baru aku setuju."


Kayra menatap Galang kesal. "Ngeselin, padahal enak kerja. Ketemu cogan tiap hari," tuturnya lirih tetapi masih kedengaran oleh Galang.


"Liat cogan tiap hari? Aku juga cogan dong," kata Galang dengan percaya dirinya membuat Kayra tertawa pelan.

__ADS_1


Dibalik kebahagiaan seseorang, ada saja orang yang terluka-


Ya, itu memang hukum alam.


Kebahagiaan seseorang mengorbankan kebahagiaan seseorang lainnya. Tergantung bagaimana menanggapinya, hal itu memang benar-benar terjadi.


"Aku laper deh," kata Kayra.


"Ayo makan," ajak Galang yang langsung disambut Kayra dengan baik. Gadis itu nampak bersemangat, gadis? Ya, Kayra memang masih seorang gadis meskipun telah sah menjadi istri dari Galang.


***


Renata's room


Perempuan itu duduk di atas lantai dingin tanpa alas, ia merasa dunianya hancur lebur dengan menyaksikan pernikahan orang yang dia cintai. Rasa sayangnya ke Galang melebihi rasa sayangnya untuk dirinya sendiri.


Ia tertawa meratapi dirinya.


"Rena..."


Renata langsung menoleh ke arah suara yang memanggilnya, "Tante..." lirihnya. Air mata gadis itu turun kembali, sakit yang ia rasakan. Rasanya hatinya sudah hancur menjadi butiran-butiran yang tak bisa lagi diperbaiki.


"Kamu tidak seharusnya seperti ini, Re."


Renata membuang wajahnya. "Tante nggak pernah merasakan apa yang Rena rasakan," katanya denga. suara seraknya.


"Sudah, nak. Cukup."


"Makan ya, Tante nggak mau kamu sakit."


Renata menggeleng cepat. "Aku kenyang."


"Re, kamu sudah dewasa. Harusnya kamu sadar, jangan dibutakan oleh cinta yang kamu tumbuhkan sendiri!"


"Rena nggak mau makan, Rena cuma pengen Galang jadi suami Rena dan Rena jadi istrinya."


"Galang sudah beristri, Re. Jangan gila," kata Alisha.


Renata menatap Alisha, "Rena rela jika harus jadi yang kedua, asal bersama Galang."


Alisha benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran gadis yang ia asuh sejak kecil. "Nak, Galang sudah beristri. Galang tak akan mau mempoligami Kayra."


"Aku mohon, Tante."


"Akan Tante bicarakan dengan Om, kamu makan sekarang ayo."


Renata tersenyum, lagi-lagi ia mempunyai harapan. Harapan yang salah mengecewakannya, tetapi gadis itu sama sekali tak masalah. Satu yang ia inginkan di dunia ini, bersama Galang.


Ia sudah berusaha keras untuk mendapatkan hati Galang, sayangnya ia selalu gagal dan gagal. Ia sakit hanya saja ia terus berusaha sampai kapanpun, jika perlu sampai akhir hayatnya.


Ia rela.

__ADS_1


****


__ADS_2