Past Or Future?

Past Or Future?
Tujuh


__ADS_3

Ada banyak rahasia yang tersimpan dalam kenangan masa lalu seorang Kayra, tetapi sayangnya tak ada seorang keluarga pun tahu jika masa lalu yang dialami gadis itu cukup membuatnya trauma. Kayra memilih mengubur dalam-dalam karena gadis itu merasa, ingatannya akan membawa petaka.


Gadis itu melamun memikirkan apakah ia harus mengingat segalanya? Ia merasa tidak nyaman dengan ia yang masih kehilangan sebagian ingatannya.


"Kay?"


Kayra menoleh kearah ibunya yang baru saja memasuki kamarnya, Kayra tersenyum dan ibunya menghampirinya. "Kenapa Ma?"


"Kay yakin mau nikah?"


Kayra terkekeh. "Kenapa memang? Mama nggak rela ya?" katanya mencoba agar suasana tidak terlalu tegang di antara mereka.


Deira menghela nafasnya pelan. "Mama belum rela, nak."


"Ma, ini keinginan opa kan... Kay harus nurut, ya meskipun awalnya berat. Sekarang Kay bisa terima kok," kata Kayra membuat Ibunya tersenyum dan mengelus rambut panjangnya.


"Mama tau, Galang pria yang baik dan pengertian. Keliatan banget kalo dia sayang sama kamu, kalo gitu ceritanya Mama bisa lebih tenang. Tapi janji ya Kay, kalo udah nikah sering main kesini."


"Iya, Ma. Kay pasti sering kesini kalo Mama ada, biasanya kan Mama jalan-jalan ke luar negeri."


"Paling bentar doang, abis itu ada di rumah."


Kayra mengangguk. "Ma, Mama pernah nggak sih tau apa yang Kay lupain. Kadang aku pengen inget, tapi sakit." kata Kayra sendu.


"Udah nggak perlu diingat lagi, lagipula tidak ada yang penting Kay... Mama nggak mau kamu sakit," kata Deira yang diangguki Kayra.


***


"Sekalipun aku nggak pernah punya niat buat cinta sama kamu, aku rasa kamu perlu kesadaran diri!"


Dada Renata naik turun, nafasnya memburu karena ucapan Galang yang begitu menohok relung hatinya. Ia memang tak pernah memiliki tempat di hati orang yang ia sayang belasan tahun.


Sakit? Tentu saja.


Ia telah mencoba berbagai cara agar Galang membuka hati untuknya, sayangnya hati Galang tak pernah memiliki tempat untuknya. Belasan tahun ia menderita, ia iri dengan gadis yang Galang cintai.


"Aku sayang kamu, Lang."


Galang menatapnya tajam. "Jangan jadi wanita murahan dengan menggoda tunangan orang lain, ingat Re! Kamu bukan apa-apa, aku lebih baik sendiri daripada harus bersama dengan wanita seperti kamu!"

__ADS_1


"Cukup Lang!"


"Ya, memang cukup dan kamu juga sudah cukup mengganggu aku! Ingat, aku nggak pernah memaafkan kamu karena insiden beberapa tahun yang lalu. Kamu tau, jika suatu saat seseorang mengungkitnya. Aku tak akan membela siapapun."


"Apa perlu aku bunuh tunangan kamu?"


"Menyentuh Kayra, kamu lebih dulu berhadapan denganku. Kamu tidak bisa dibandingkan dengan Kayra, tunangan ku tinggi sedangkan kamu-" kata Galang dengan menggerakkan tangannya.


Renata mengepalkan tangannya dan segera pergi dari kamar Galang, di depan pintu ia melihat sosok Kayra datang dan mungkin akan mengunjungi Galang.


Pikirannya mendadak konyol, gadis itu kembali masuk dan menarik Galang jatuh di atas kasur dengan Galang yang berada di atasnya. Jika dilihat dari pintu, Galang seperti tengah mencumbunya.


"Maaf."


Renata menyeringai dan segera berdiri serta seolah-olah merapikan bajunya. Ia segera berlari keluar tanpa mau menyaksikan apa yang akan terjadi, pastinya hal besar.


.


.


.


"Kay, itu tidak seperti yang kamu pikirkan."


"Kay...."


"Kenapa?"


"Kamu nggak marah?"


Kayra tersenyum. "Buat apa aku marah, Lang. Itu hak kamu kan, lagipula aku belum punya hak lebih atas kmu." kata Kayra membuat Galang menatap wajahnya.


"Kamu percaya nggak sama aku? Itu tadi nggak seperti yang kamu lihat, Kay. Tadi Renata datang lagi dan menarik aku, aku kaget Kay." kata Galang mencoba menjelaskan.


"Sudah. Nggak apa-apa," kata Kayra.


"Kay, jangan marah."


Kayra tersenyum. "Aku nggak akan marah kalo nggak ada sebab, kamu tenang aja." katanya dan mengambil gelas yang berisi minuman yang sudah disiapkan untuknya.

__ADS_1


"Renata, suka sama kamu ya."


"Tapi aku nggak suka sama dia," kata Galang dengan mata yang masih fokus menatap Kayra. Lain halnya dengan gadis itu, Kayra malah sama sekali tak mau menatap matanya. "Kay, kamu marah?"


Kayra menggeleng.


"Tatap aku!" Kata Galang dan Kayra menatap sejenak lalu kembali seperti semula. Galang menghela nafasnya pelan, "Maaf, Kay."


"Udah, iya nggak apa-apa."


Hening


Kayra menoleh ke arah Galang dan pria itu berhasil mencuri satu kecupan di bibir manis Kayra. Mata Kayra berkedip lambat, gadis itu seolah syok dengan apa yang baru saja terjadi.


"Percaya nggak percaya, kamu harus percaya kalo aku cintanya sama kamu. Bukan sama Renata, jangan cemburu. Renata bukan tandingan kamu," kata Galang membuat Kayra tersenyum malu.


***


Queensha Kayra Artavika, gadis yang dulunya sangat tertutup dan tidak nyaman berpergian menjadi lebih bisa terbuka dan mulai nyaman jika bersama Galang. Galang sering mengajaknya untuk sekedar menghadiri pesta kecil dan jalan-jalan. Seperti sekarang ini, Galang mengajaknya untuk menikmati sate Ayam yang direkomendasikan temannya.


"Enak ya, Kay." kata Galang yang diangguki Kayra.


Gadis itu selalu menjadi pusat perhatian di manapun dia berada, Kayra selalu tampil cantik dan mempesona. Membuat siapapun menatap ke arahnya, ditambah Galang yang mampu membuat para wanita merasa ingin menjadi Kayra.


"Ntar kapan-kapan kesini lagi, ya."


Galang mengangguk. "Belum pulang udah pengen kesini lagi," kata Galang dengan kekehan pelannya membuat Kayra tersenyum malu. "Tapi nggak apa-apa, apa sih yang enggak buat kamu."


"Gombalanmu."


"Ini beneran loh, nggak gombal."


"Kay, banyak yang liatin kamu. Soalnya cantik sih," kata Galang membuat Kayra menatapnya malas, dari awal sampai di tempat ini Galang selalu mengucapkan kalimat itu hingga ia hafal. "Makanya kamu jangan cantik-cantik."


"Ntar kamu malu kalo aku nggak cantik."


"Enggak lah, aku kan nerima kamu apa adanya. Ya, bonus aja kamu cantiknya kebangetan."


Kayra menyender ke bahu Galang membuat pria itu sedikit kaget, namun segera ia netral kan. Ia senang jika Kayra sudah bisa seperti ini, gadis itu memang sudah menyelesaikan makannya.

__ADS_1


"Abis ini langsung pulang?"


Kayra mengangguk. "Iya, kan perjalanannya lama. Kamu sih, makan sate aja kejauhan." kata Kayra tertawa pelan membuat Galang terkekeh.


__ADS_2