
Seorang wanita mengetukkan jarinya di atas meja, wajahnya tampak marah dan mengerikan. Sekitar 5 menit yang lalu, ia menemukan foto seorang perempuan lain di dompet suaminya. Sakit hati? Tentu saja!
"Mana dompetku Git?"
Wanita bernama Gita menatap tajam suaminya, ia menggebrak meja membuat kegaduhan. Suaminya menatapnya marah, tentu saja ia tak peduli.
"Kamu masih suka sama Kayra?!"
Suaminya hanya mengangkat bahunya acuh, dia benar-benar sudah tak peduli pada istrinya. "Kamu nggak sopan buka-buka dompet!"
"Aku istri kamu Raka!"
"Dan aku tidak peduli."
Raka segera meninggalkan ruangan itu, tak mempedulikan istrinya yang akan marah karenanya. Kehidupan keluarganya tak harmonis, itu memang terjadi sehari setelah menikah. Raka tiba-tiba berubah dan menyesali keputusannya menikahi Gita.
Gita mengepalkan tangannya, ini tak akan bisa dibiarkan. Ia harus menghapus Kayra dari hidup Raka, agar hanya dia wanita satu-satunya yang dicintai Raka.
***
"Nggak bisa!"
"Bun, ini keputusan aku suka atau nggak suka bunda harus terima keputusan aku. Sekali ini aja Bun, jangan egois. Apalagi peduli sama orang yang bahkan entah peduli sama bunda atau enggak," kata Galang seraya melirik Renata yang diam di tempat.
"Bunda nggak mau kamu pindah, Lang."
"Bun, terserah Galang saja. Dia tahu mana yang baik untuk dirinya," kata Adi.
Galang tersenyum mendengar pembelaan Ayahnya, ia izin untuk sementara tinggal di rumah Kayra. Itu pun ditolak mentah-mentah oleh Bundanya, sementara Kayra hanya diam saja menikmati makan malamnya.
"Abis ini, aku pamit."
.
.
.
Galang menatap wajah cantik istrinya yang tengah tertidur pulas, beberapa hari menikah dengannya ia merasa Kayra tak pernah tertidur pulas. Bahkan kemarin gadis itu tak tidur karenanya.
Kamar Kayra luas, malah lebih luas dari kamarnya dengan ukuran ranjang yang besar serta furniture yang lengkap. Mungkin ini salah satu hal yang menjadikan gadis itu jarang keluar dari rumah, karena rumahnya memang nyaman.
Galang menatap foto Kayra saat wisuda, didampingi Ayah dan Ibu serta kakak-kakaknya. Keluarga ini sangatlah harmonis, dulu saat ia wisuda, ia hanya ditemani oleh Renata itupun sama sekali tak pernah ia inginkan.
"Kamu nggak tidur?"
Suara halus Kayra membuat Galang tersadar dan tersenyum. Ia membaringkan tubuhnya dan memeluk istrinya, "belum pengen tidur aja, kamu kok bangun?"
"Ayo tidur."
Kayra teringat jika besok ia harus bekerja, "Lang, besok aku ke kantor ya?"
"Ngapain? Kan aku udah bilang, jangan kerja."
__ADS_1
"Perpisahan sama yang lain," kata Kayra.
Galang mengangguk, "Yaudah, tapi aku anterin."
***
"Maaf Bu, Tuan Raka sudah menunggu."
Kayra berdecak malas, "suruh dia pergi!"
"Kay-"
Kayra memutar bola matanya malas, entah kenapa ia berhadapan lagi dengan cowok itu. "Ada apa?" tanya Kayra dingin.
"Aku ingin menjelaskan-"
"Tidak ada yang perlu dijelaskan, sekarang pergi!"
Galang menghela nafasnya pelan, "selesaikan urusanmu, maka itu bisa meringankan beban. Demi kebaikanmu," bisiknya tepat di telinga Kayra.
Setelah mengatakan hal itu, Galang segera memasuki ruangan Kayra dan sekretarisnya meninggalkannya berdua dengan orang yang bernama Raka. Kayra berdiri bersandar pada meja sekretarisnya.
"Ada apa?"
"Kay, bisakah- kita kembali seperti dulu?"
Bola mata Kayra membulat, kembali seperti dulu? Gadis itu terkekeh sinis, "kembali seperti dulu? Aku sudah menikah, dan dirimu juga!"
"Itulah sifatmu, kamu akan menyia-nyiakan apa yang sudah kamu dapatkan. Mungkin, jika aku kembali padamu suatu saat aku dicampakkan kembali. Bukankah begitu?"
Diam.
"Sudahlah, tidak perlu mengatakan hal yang sudah tidak perlu dikatakan. Terlalu basi! Seharusnya kamu bahagia dengan orang pilihanmu, bukan mengejar orang yang pernah kamu sia-siakan."
"Kay-"
Kayra segera memasuki ruangannya tanpa mempedulikan panggilan dari Raka. Jika kalian bertanya siapa Raka itu, dia adalah mantan pacar Kayra beberapa tahun yang lalu. Orang yang gigih mengejarnya, meyakinkan dirinya dan berhasil mendapatkan cintanya. Sayangnya hal itu tidak berlangsung lama, ia dikecewakan. Ia dikhianati oleh kekasih dan sahabatnya.
Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri Raka dan Gita bercumbu mesra, ia sakit? Tentu saja! Sayangnya Raka egois, Raka menyalahkan dirinya. Menjijikkan sekali.
"Sudah selesai?"
Kayra tersadar mendengar pertanyaan dari suaminya, ia mengangguk sekali. Ia benar-benar tidak ingin bertemu dengan Raka, rasa marahnya masih tersisa di hatinya. Bukan karena ia masih mencintainya, ia hanya merasa dicurangi.
Kayra menatap suaminya bingung, kenapa dia duduk di sofa ruang kerjanya? "kamu nggak kerja?" tanya Kayra bingung.
"Nggak, mau jagain princess biar nggak diganggu," katanya dengan nada bercanda, Kayra terkekeh dan menaruh tasnya di atas meja kerjanya.
.
.
.
__ADS_1
Raka meremas rambutnya frustasi, ia merasa dunianya hilang saat melihat Kayra telah menikah. Ia mencintai gadis itu, tentu saja. Ia amat sangat menyesal telah meninggalkan Kayra hanya untuk seorang Gita.
"Berisik!"
"Mas! Bisa nggak sih kamu tuh dengerin aku?! Aku ini istrimu!" kata Gita yang kesal karena sering diabaikan suaminya, ia benar-benar kesal.
"Aku capek."
Setelah mengatakan hal itu, Raka benar-benar menghilang dari pandangan istrinya. Gita terkekeh miris, menemani Raka bertahun-tahun dan menjadikannya sukses seperti ini nyatanya tak membuat Raka berhenti mencintai Kayra.
Ia mengeratkan rahangnya dan tangannya terkepal, semua ini terjadi karena Kayra. Jika Kayra hilang dari dunia ini, mungkin Raka akan berhenti mencintainya. Ia bertekad untuk membuat Kayra hilang dari muka bumi ini.
Ia berjanji.
***
"*Kay, kau mau kan?"
Kayra menatap wajah Raka dengan tatapan bingungnya, ia tidak pernah jatuh hati kepada siapapun. Ia hanya dekat dengan Raka sekarang. "Entahlah- mungkin iya." katanya.
Raka mengembangkan senyumnya, ia hendak memeluk Kayra namun tertahan karena Kayra menghindar. Raka meminta maaf untuk itu, "Aku terlalu senang."
"Iya, gapapa."
Hubungan mereka berjalan seiring berjalannya waktu, sayangnya semakin hari Raka semakin tidak sopan. Seolah-olah Raka seperti orang lain, bukan dirinya. Kayra kecewa akan hal itu, Raka sering sekali hendak menciumnya dengan paksa. Kayra benci itu.
Hubungan mereka hanya saat Kayra memperkenalkan sahabat baiknya, Regita. Awalnya Gita begitu manis di hadapan Kayra. Tetapi, setelahnya Kayra memergoki mereka tengah bercumbu mesra dengan mata kepalanya sendiri. Sakit dan sesak berkumpul menjadi satu, Kayra mengepalkan tangannya.
"Aku tidak menyangka akan seperti ini."
Mereka nampak terkejut.
"Aku bodoh mau menerima orang sepertimu!"
Raka bangkit dan menghampirinya kekasihnya, sedangkan Kayra hanya berusaha untuk menghindar.
"Ini salahmu, kau tak pernah mau- saat aku berusaha untuk menciu-"
Plak!
"AKU BERSYUKUR PADA TUHAN KARENA MENUNJUKKAN BAGAIMANA SIKAP DAN SIFAT ASLI KALIAN, KALIAN BENAR-BENAR B*JING*N!!!"
"Kay? Are you oke?"
"Apa?"
"Kamu melamun," kata Galang.
"Aku nggak apa-apa. Kamu mau makan? Ayo kita makan siang," kata Kayra yang hanya diangguki singkat oleh Galang, mereka berjalan beriringan dengan tangan Galang yang menggenggam tangan Kayra.
Kayra masih teringat dengan pikirannya tadi, hanya sesingkat itu hubungannya. Sesingkat itu pula ingatannya, benar-benar menyebalkan. Kenapa harus ingatan yang menyebalkan yang teringat?!
***
__ADS_1