Past Or Future?

Past Or Future?
Lima belas


__ADS_3

Awan putih menjadi terasa sangat dekat, meskipun ia tidak bisa menjangkaunya. Kayra hanya bisa menghela nafasnya pelan, masih dalam pelukan hangat Galang yang sedari tadi memang memeluknya erat. Ia menenggelamkan dirinya dalam dekapan hangat suaminya, baru kali ini ia menaiki pesawat terbang dengan sangat nyaman.


“Gimana, enak kan?”


Kayra mengangguk, ia menatap wajah suaminya yang menatapnya damai. Galang memang benar-benar memanjakannya, seperti sekarang ini Galang memilih untuk menggunakan pesawat pribadinya untuk pergi bersama Kayra ke tempat honeymoon mereka.


Sebenarnya ini lebih bisa disebut liburan, karena Galang ragu akan melakukan hal yang seharusnya sudah lama ia lakukan atau tidak(?) Lebih tepatnya, ia takut gadis itu menolak. Karena bagaimana pun mereka adalah dua orang asing yang terlibat dalam pernikahan.


“Galang.”


Galang menatap istrinya dengan tatapan bertanyanya, Kayra menggeleng pelan dan kembali menenggelamkan wajahnya di dada Galang membuat pria itu langsung mengacak rambut Kayra dengan sayang. “Dasar! Mau makan nggak?”


Kayra melepaskan pelukan suaminya dan segera mengangguk. Galang segera memanggil pramugari yang bertugas di pesawatnya dan memesan makanan. Kayra protes dengan hal itu, makanan yang Kayra inginkan bukan makanan yang berat. Tetapi makanan ringan, mau tak mau Galang meralat pesanannya.


“Kay, kamu sedang menjalani hubungan dengan seseorang?”


Kayra menatap Galang dengan pandangan bingung, kemudian mengangguk. Galang tampak membulatkan matanya, apakah ia terkejut? “Sama kamu, kan?” katanya terkekeh membuat Galang sontak mengacak pelan rambut gadis itu.


Karya meminta ditemani untuk duduk seperti biasa, karena saat ini mereka ada di kamar pesawat. Galang dengan sigap langsung menggandeng tangan Kayra dan ikut duduk di samping gadis itu. Tangannya tak pernah ia lepas, seolah-olah gadis itu akan hilang jika ia melepaskan tangannya.


“Aku menyayangimu.” Kata Galang dengan spontan membuat mata lentik gadis itu berkedip lambat. Galang tahu gadis itu masih malu, ini juga bukan pertama kalinya ia mengucapkan kata sayang. “Jangan pergi, aku nggak mau kehilangan kamu.”


Kayra tersenyum manis dan menyuapi suaminya yumakanan ringan miliknya yang datang beberapa menit yang lalu. Jangan salah, makanan ringan kebiasaan Kayra seperti remaja. Tidak salah bukan? Meskipun banyak mengandung MSG tetapi ini sangat enak. “Enak kan?”


“Enak.”


15 menit kemudian...

__ADS_1


Galang dan Kayra sibuk dengan ponselnya masing-masing, hanya saja tangan mereka saling bertautan. Tatapan gadis itu teralihkan pada seorang pramugari yang menatap suaminya dengan tatapan lapar. Masih ada seorang perempuan yang seperti itu? Tatapan wanita itu jatuh pada mata indah Kayra yang tengah menatapnya tajam.


Tanpa diduga, gadis itu mendengus dan beranjak dari duduknya. Hal itu tentu saja mendapatkan perhatian dari Galang, saat Kayra hendak melangkah Galang dengan sigap langsung mencekal tangan gadis itu. “Mau kemana?”


“Ayo.”


***


Galang bingung dengan tingkah istrinya yang tiba-tiba diam tidak banyak bicara, apa yang membuatnya seperti itu? Gadis itu menyibakkan rambutnya yang terkena angin, mereka baru sampai di bandara London, tempat yang mereka tuju.


Galang meraih tangan istrinya sebelum gadis itu benar-benar jauh dari dirinya. Galang memeluk pinggang istrinya dengan posesif, sedangkan beberapa orang kepercayaannya membawa koper miliknya dan Kayra. Tak lama kemudian, mobil yang menjemputnya sudah terlihat dan tentu saja mereka segera menaikinya.


Kayra mengalihkan pandangannya pada kaca mobil yang ada di sampingnya, Galang yang melihat hal itu segera memegang kepala gadis itu dengan lembut dan menyandarkan pada bahunya. “Kamu nggak apa-apa?”


“Pusing.”


Tanpa diperintah dua kali, gadis itu memejamkan matanya. Galang hanya tersenyum simpul melihat hal itu, ia melirik ke arah dada gadis itu. Ia melihat Tato kecil di atas dada membuat Galang tersebut singkat. Dia benar-benar miliknya.


15 menit kemudian...


Bukan Galang namanya jika tega membuat gadis yang tengah tertidur pulas itu bangun. Galang mengangkat tubuh istrinya, ia sudah sampai di hotel yang sudah ia pesan jauh-jauh hari. Hal itu memudahkannya untuk segera beristirahat setelah perjalanan panjangnya.


“Euungghh....”


Kayra melenguh dan langsung membuka matanya saat merasa dirinya melayang di udara. Ia meminta suaminya agar menurunkannya karena demi apa pun ia takut menjadi pusat perhatian di lobi hotel. Kayra berdehem pelan dan segera berjalan beriringan dengan suaminya ke kamar hotel.


.

__ADS_1


.


.


Galang menatap istrinya yang baru saja keluar dari kamar mandi. Kayra segera merapikan jubah mandinya, ia lupa membawa baju ganti. Dari awal pernikahannya hingga saat ini, Kayra masih amat sangat malu meskipun tubuhnya masih dibalut dengan jubah mandinya.


“Udah?”


Pertanyaan dari Galang membuat salah tingkah dan mengangguk ragu, Galang segera mengambil handuknya dan berjalan mendekati Kayra. Kayra yang melihat hal itu hanya salah tingkah karena ia takut terjadi sesuatu padanya.


Tubuhnya terhimpit tubuh Galang dengan sofa, Kayra membulatkan matanya dengan posisinya yang begitu intim saat ini. Kakinya sudah lemas seperti jelly, ia takut akan jatuh terduduk saat ini juga. Tanpa disangka, Galang memegang pinggangnya membuatnya mempunyai sandaran agar dirinya tak jatuh.


“Kamu kenapa sih?”


Pertanyaan itu membuat Kayra menatap kesal ke arah Galang, tidak sadarkah ia telah membuat jantungnya seperti sehabis lari maraton?! Kayra melirik ke arah benda yang dilemparkan ke atas sofa, itu ponsel Galang. Hanya menaruh ponselnya dan Galang menggodanya, sialan sekali.


Cup!


Double shit!


Kayra kesal setengah mati melihat tingkah laku suaminya yang entah kenapa sangat menyebalkan sekali hari ini. Ia segera membuka kopernya dan mengambil bajunya, dan sekarang ia harus berganti baju di luar begitu? Hufft, menyebalkan sekali.


Ia membuka jubah mandinya-


“Kay siapin baj- WOW!”


“GALANG!!!!”

__ADS_1


__ADS_2