Past Or Future?

Past Or Future?
Enam belas


__ADS_3


Keindahan kota London ditambah dengan pelukan hangat suaminya menambah kebahagiaan seorang Queensha Kayra Artavika. Gadis cantik itu berdiri bersandar pada dada bidang suaminya dengan nyaman. Hari ini Kayra memantapkan hatinya, ia telah jatuh dalam pelukan seseorang Galang Gumilang.


"Ayo jalan-jalan."


Kayra mengangguk dan segera melepaskan pelukan mereka, ia segera bergegas menuju kamarnya untuk mengganti bajunya. Diikuti Galang yang terkekeh melihat sisi lain dari seorang Kayra, sebenarnya Kayra belum benar-benar menjadi dewasa.


Kini ia tahu, Kayra hanya bersifat kekanak-kanakan saat bersama dengan orang yang mengerti dirinya dan dianggap nyaman. Kesan pertama yang Galang terima dari gadis itu adalah pembawaannya yang dewasa, namun seiring berjalannya waktu gadis itu semakin terbuka dengannya.


Hari ini Kayra hanya memakai pakaian sederhananya, begitu juga Galang. Galang hanya memakai kaus dan jeans biasa membuat beberapa bawahannya terkejut, karena pertama kalinya melihat bos mereka memakai pakaian santai.


"Aku mencintaimu."


Kayra tak menjawabnya karena gadis itu begitu malu mengakui jika dirinya mulai jatuh cinta pada suaminya. Kayra membalas pernyataan cinta Galang dengan pelukan hangatnya, dengan senang hati Galang memeluknya kembali dengan sayang.


Mereka sedang dalam perjalanan menuju restoran yang terkenal di kota London, Galang dan Kayra memutuskan untuk menaiki mobil dengan asisten pribadi Galang sebagai sopirnya. Perhatian Kayra teralihkan saat ponselnya berdering nyaring di tengah keheningan di dalam mobil, Kayra meminta izin mengangkat yang tentu saja diangguki Galang.


"Kay, kau di London?"


"Iya, kenapa?" tanya Kayra pada orang yang meneleponnya.


"Apa kau mau bertemu? Aku harap kamu mau, sekalian berkenalan dengan suamimu."


Kayra tampak berpikir sejenak dan menyetujuinya, ia akan bertemu sekalian makan siang. Kayra berdehem pelan saat sambungan teleponnya terputus, "temen aku ngajak ketemu, nggak apa-apa?"


"Perempuan atau laki-laki?"


"Dua-duanya," kata Kayra.

__ADS_1


Galang mengangguk. "Iya nggak apa-apa, biar ramai juga." kata Galang dan segera menyuruh Kayra agar segera mendekat ke arahnya. Galang tidak mau jauh-jauh dari Kayra.


Beberapa menit kemudian, mereka memasuki restoran dengan tangan Kayra yang masih dalam genggaman Galang. Tak lama kemudian, dua orang berbeda jenis menghampiri mereka. Galang sempat terkejut dibuatnya saat cowok itu memeluk dan mencium pipi istrinya.


Ralat. Bukan hanya Galang yang terkejut, tetapi Kayra pun dibuat terkejut. Ia pikir temannya akan lebih menghargai suaminya, ia juga tidak begitu dekat dengan cowok itu. Ia menatap Galang yang tampak membuang wajahnya, ia tahu Galang pasti marah.


"Ini suamiku, Galang."


"Edrick."


"Tania."


Galang hanya diam saja seraya menjabat tangan kedua teman dari istrinya ini. Jika ia tahu akan seperti ini, lebih baik menolak saat Kayra meminta izin untuk bertemu dengan teman-temannya. Bisa disimpulkan jika teman-teman Kayra kebanyakan tidak waras.


Mereka memesan makanan, dan tak lama kemudian makanan telah tersaji di atas meja dengan beberapa minuman untuk masing-masing orang. Kayra melirik piring Galang, terlihat lebih enak dari makanan yang ia pesan.


Kayra menggeleng pelan dan mencicipi makanannya. Mereka makan dalam diam, karena tujuannya sebenarnya hanya bertemu saja tidak sampai makan bersama seperti ini. Tania sempat menelisik wajah suami temannya, sangat tampan memang. Tetapi, sepertinya ia tidak asing dengan wajah itu.


"Ra, ini kamu suka kan? Waktu SMA lo seneng banget kalo makan udang krispi." kata Edrick yang langsung saja menaruh udah krispi di atas piring Kayra. Galang yang melihat hal itu mendadak kehilangan nafsu makannya, ingatkan dia untuk membereskan hal yang mengganggunya.


***


Sepulangnya mereka dari restoran, Galang tampak diam dan berbeda. Biasanya Galang akan menunggunya saat berjalan, tetapi sekarang pria itu seolah-olah mengabaikan istrinya dengan berjalan terlebih dahulu. Kayra yang diperlakukan seperti itu hanya diam saja.


Apakah suaminya marah? Rencananya sehabis makan mereka akan berjalan-jalan keliling kota, tetapi Kayra batalkan karena sepertinya Galang sedang tidak dalam keadaan mood yang baik. Kayra berdehem pelan yang tidak ditanggapi Galang, pria itu masih asik dengan ponselnya.


"Galang."


Hanya deheman pelan yang Galang keluarkan, sedangkan mata pria itu masih fokus ke arah ponselnya. Kayra yang masih memiliki stok kesabaran pun memanggilnya lagi, namun masih dengan jawaban yang sama. Kayra menghela nafasnya pelan dan segera mengambil ponsel Galang dengan cepat.

__ADS_1


"Kamu denger nggak sih?!"


"Apa?"


Dada Kayra naik turun melihat hal itu, Galang menatapnya dengan tatapan tajam membuat mata gadis itu berkaca-kaca. Di tambah lagi Galang yang langsung pergi keluar dari kamarnya membuat hati Kayra mencelos, Ya Tuhan mengapa ini sakit?


Kayra berbaring dan menenggelamkan wajahnya di bantal, ia benar-benar tidak mengerti hari ini. Mengapa semua begitu rumit jika disangkutpautkan dengan cinta?! Tidak bisakah cinta membuat segalanya lebih mudah?! Seseorang tolong jelaskan padanya!


Ia memutuskan untuk memejamkan matanya, meskipun awalnya ia tidak bisa tertidur. Lambat laun gadis itu sudah berada di alam mimpinya, ia berharap saat ia bangun keadaan kembali seperti semula.


Di sisi lain, Galang tengah duduk bercengkrama dengan asisten pribadinya. Sedari tadi Galang masih mencari informasi siapa orang yang tadi bertemu dengan Kayra, dan lagi mereka membahas tentang masa SMA. Seharusnya jika Kayra adalah Rara, ia tidak memiliki teman bernama Tania apalagi Edrick.


Galang cemburu luar biasa dengan orang yang bernama Edrick apalagi saat pria itu memeluk dan mencium pipi istrinya. Ia marah tentu saja, hanya saja ia hanya bisa diam. Sekarang ia tengah merenungi semua yang terjadi hari ini, gadis itu ia abaikan. Sebenarnya Galang tidak tega melihat wajah cantik itu menatapnya dengan tatapan yang membuat Galang ingin segera memeluknya.


Hari mulai petang membuat Galang memutuskan untuk kembali ke kamar hotel dan menyelesaikan segalanya, sepertinya ia memang tidak bisa lama-lama jauh dari istri cantiknya. Di lihatnya pemandangan di atas kasur empuk itu, Kayra tengah berbaring tenang dengan mata terpejam.


Galang memutuskan untuk mandi terlebih dahulu, karena hari ini begitu menguras emosinya. Ia mendapatkan informasi jika Tania dan Edrick adalah anak dari saudara jauh Ayah Kayra. Mereka masih disebut saudara, hanya saja jauh. Apa mereka mempunyai informasi yang sedang dibutuhkannya?


Rara.


Ia akan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, dan mengapa Kayra memalsukan identitas dirinya dan membohonginya selama satu tahun lebih. Jika benar Kayra adalah Rara, itu adalah suatu hal yang hebat. Kayra adalah pelangi setelah hujannya.


Setelah selesai mandi, Galang menelusup masuk ke dalam selimut yang sama dengan sang istri. Ia menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah cantiknya, ia tersenyum tipis dan mengecup bibir mungil Kayra membuat sang empu melenguh dan membuka matanya.


"Galang."


Mendengar suara halus dari gadis itu membuat Galang tidak tahan ingin menciumnya, Galang memberikan beberapa kecupan di bibir itu dan **********. Hal itu membuat Kayra merasakan sensasi yang berbeda, dirinya merasa senang? Kayra memejamkan matanya menikmati benda kenyal yang menempel pada bibirnya.


"Emmhh...."

__ADS_1


__ADS_2