
Maheswara's house
Kayra mengikat rambutnya, tiba-tiba saja gadis itu berpenampilan seperti anak 17 tahun. Memakai hotpants dan kaos pendek, khas anak remaja yang baru saja puber. Tentu saja gadis itu masih pantas, tinggi hanya sekitar 160 cm dan berat badan yang tak mencapai 45 kg.
"Kay! Makan!"
"Iya, Ma."
Kayra duduk di depan Ibunya yang tengah menyiapkan makanan untuk keluarganya, baru ada dirinya disini. Kayra menatap Ibunya yang sudah tak muda lagi itu, "Ma, kalo Kayra nikah. Mama bahagia nggak?"
Mamanya tersenyum, "tentu saja Mama bahagia, kenapa? Kamu mau cepet-cepet nikah?" kata Deira, Ibu Kayra. Kayra menggeleng cepat membuat Ibunya mengerutkan keningnya, "Kenapa?"
"Kayra belum mau pisah sama mama," kata Kayra mengubah ekspresinya yang tadinya ceria menjadi cemberut. "Kayra masih pengen di rumah ini," katanya.
"Kay, kamu cinta sama Galang?"
Kayra menggeleng. "Tapi Kayra nyaman, Ma. Galang udah kayak orang yang udah lama deket sama aku." katanya.
"Kay, mungkin Galang cinta pertama kamu?"
"Mama ngaco deh kalo ngomong, Kay aja baru ketemu Galang pas di pernikahan Mika sama Randy." kata Kayra.
"Loh, bisa aja kan Kay? Kita nggak tau apa yang terjadi pas kamu memutuskan untuk pergi dari rumah dan hidup jauh dari kami." kata Ibunya seraya menyuruh agar ART meneruskan pekerjaannya.
Deira mengelus rambut putrinya, "Kay, Mama tuh sebenernya nggak pengen kamu jauh dari Mama. Kamu tuh putri satu-satunya Mama, apalagi kalian dijodohkan. Mama cuma takut kamu nggak bahagia," katanya.
"Mama tenang ya, Kay pasti bahagia kok. Maaf ya selama ini Kay nggak nurut sama Mama," kata Kayra memeluk Ibunya yang sudah berkaca-kaca.
"Ada apa nih? Kok Papa nggak dipeluk," kata Aji.
"Papa." Kayra tersenyum ke arah Ayahnya.
"Ini loh Pa, aku nggak rela Kayra nikah." kata Deira.
Ayah Kayra tersenyum simpul, "Gimana to, Ma. Kayra udah dewasa, memang sudah waktunya nikah. Kita juga nggak bisa mementingkan keegoisan kita, kan. Asal Kay masih ingat saja, kamu Mama nya dan aku Papa nya."
"Pasti dong, Pa."
***
Galang menyelesaikan tugas kantornya dengan cepat dan menatap gadis yang tengah tertidur pulas di sofa yang tak jauh dari tempatnya, ruangan kerjanya telah dikuasai oleh gadis yang datang beberapa jam yang lalu. Siapa lagi jika bukan tunangannya, Galang sempat terkekeh geli melihat gadis itu.
Galang menghampiri gadis itu dan menunduk mengelus rambut yang menutupi wajahnya. Sepersekian detik Kayra merasa tidurnya terganggu, ia membuka mata dan melihat wajah Galang.
__ADS_1
"Aku ketiduran ya?"
"Iya, aku sudah memesan makanan. Ini jam makan siang," kata Galang seraya membantu Kayra untuk duduk, Kayra mengusap wajahnya dan matanya kembali terpejam.
"Masih ngantuk?"
Kayra terpaksa membuka matanya dan mengangguk. Melihat Galang yang hanya terkekeh, Kayra memutuskan untuk mencuci wajahnya agar segar.
"Mau aku antar?"
Kayra menggeleng. "Aku bisa kok."
10 menit kemudian...
Galang melirik jam yang ada di pergelangan tangannya, Kayra masih belum juga kembali. Ia menatap pintu toilet yang tertutup, makanan sudah tersedia di atas meja. Galang yang tak sabar pun segera menyusul tunangannya.
Ceklek.
Galang menatap Kayra di pantulan cermin, gadis itu tengah mencuci wajahnya. Kayra tersenyum kecil, hanya dirinya yang tahu kejadian beberapa saat yang lalu.
Sebenarnya Kayra memejamkan matanya kembali saat memasuki toilet, untung saja Galang tak melihatnya. "Ada apa Lang?"
"Nggak apa-apa, Kay. Ayo cepat, makanan sudah datang. Kamu harus makan," kata Galang yang diangguki Kayra.
Kayra mengangguk. "Iya, tadi malem nggak bisa tidur. Nggak ada masalah apa-apa kok," katanya yang membuat Galang menatap gadis itu bingung.
"Masalah kerjaan?"
Kayra terkekeh, "aku nggak dibikin pusing sama kerjaan. Justru kerjaannya yang pusing liat aku," katanya membuat Galang tertawa.
"Ya itu sampe nggak bisa tidur."
"Ya itu mah lagi nggak bisa tidur aja," kata Kayra yang diangguki Galang.
Galang terkadang heran melihat cara kerja tunangannya itu, ia menjadi CEO hanya saja tidak sesibuk dirinya. Kayra yang merasa ditatap Galang pun menghentikan aktivitasnya yang tengah memakan makanannya.
"Kenapa?"
"Gapapa, heran aja ada CEO yang macem pengangguran kayak kamu." kata Galang disertai kekehan gelinya, Kayra ikut tertawa karenanya.
"Gini gini aku galak loh," celetuk Kayra membuat Galang memicingkan alisnya.
"Masa cewek secantik kamu galak?"
__ADS_1
Kayra terkekeh pelan. "Aku emang nggak lembut, Mas. Nggak kayak Rara-mu, dia pasti manis." kata Kayra membuat Galang terdiam.
"Ekhmm, kamu kenal Rara?"
Kayra menggeleng, "hanya sebatas tau saja."
"Dari siapa?"
"Tante Alisha sama Renata."
***
Kayra terdiam di tempatnya, sepulangnya ia dari kantor Galang, ia memutuskan untuk mengunjungi Kafe nya. Ya, hanya sekedar berkunjung. Kayra masih memikirkan apa yang diucapkan Galang.
"Ya, wajah kalian sama persis"
Apakah Galang menyetujui pertunangan ini hanya karena dirinya sama persis dengan masa lalunya? Kayra menggeleng pelan, jika benar pun itu tak masalah untuknya. Bukankah memang benar? Ia akan menikah karena dijodohkan, tak semestinya ia mengharapkan cinta tulus dari seseorang.
"Kay, ada yang mau ketemu sama lo."
"Siapa?"
"Mika. Katanya sahabat lo, bener nggak sih?"
Kayra mengangguk dan menyuruh agar Mika segera menemuinya. Tak lama kemudian, seorang gadis dengan tinggi bak seorang model memasuki ruangannya.
"Hello,, Kay!"
Kayra terkekeh, "hello, Mika."
"Apa kabar? Gue kangen sama lo," kata Mika menggebu-gebu membuat Kayra terkekeh mendengarnya. Dari tinggi badan Kayra jelas kalah dengan Mika berbeda sedikit, tapi untuk kecantikan Mika jelas kalah telak. Gen keluarga Maheswara sangatlah bagus, bahkan 98% anggota keluarganya tidak ada yang tidak perfect.
"Gimana sama Galang, jadi nikah kan lo? Kalo jadi undang gue jangan lupa, gue nggak kabur kayak lo ya." kata Mika menyindir, karena memang pada saat Kayra menghadiri pesta pernikahannya Kayra tidak sempat memberi ucapan selamat kepada sang mempelai.
"Kay, lo beneran lupa ingatan?"
Kayra menatap Mika dengan tatapan aneh, "kenapa emang? Kan gue udah bilang, gue kehilangan beberapa kenangan. Lo mau bantu gue inget?"
Mika menggeleng, "Nggak Kay, gue nggak mau maksa lo. Lagian lo bilang kan dokter nggak boleh maksain, lo inget gue aja udah seneng luar biasa."
Mika, sahabat Kayra sekaligus Rara. Orang yang ada di kejadian beberapa tahun yang lalu, saksi dari segala saksi. Ia mencoba tutup mulut karena ini adalah keinginan sahabatnya. Sebisanya akan ia lakukan, demi semuanya.
"Makasih ya, Kay. Lo nggak lupain gue."
__ADS_1
***