Past Or Future?

Past Or Future?
Tiga Belas


__ADS_3

Kayra mengeringkan rambutnya dengan hair dryer, sedangkan Galang tengah mengamati pergerakan istrinya yang nampak begitu lincah memegang benda itu. Ia teringat akan rencananya dan ia harap Kayra mau membahasnya malam ini.


"Sayang."


Kayra menoleh, "kenapa?"


"Sini dulu," kata Galang menyuruh Kayra untuk mendekat kepadanya. Setelah Kayra mendekat, Galang menunjukkan beberapa destinasi agar Kayra bisa memilih akan dimana. "Pilih deh."


Kayra menatap Galang bingung, setelahnya ia ingat bahwa beberapa hari lalu Galang sempat membahas honeymoon. Kayra berdehem, "kita bisa tunda nggak mas?"


"Lho, kenapa?"


"Ga kenapa-kenapa, cuma nanti aja."


Galang menatap Kayra kecewa, inikah yang dinamakan penolakan? Ya, ini cukup membuatnya kecewa. Galang menghela nafasnya pelan dan mengangguk singkat, "Ya udah kalo itu mau kamu."


Kayra menatap Galang yang tengah bersiap untuk tidur, ada sedikit rasa bersalah dalam dirinya. Namun, jika dituruti pun ia takut akan bermasalah pada akhirnya. Kayra menghela nafasnya pelan, dan segera menyusul membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


Jika kalian ingin tahu, sampai saat ini Kayra belum pernah melakukan hubungan layaknya suami istri. Hanya sekedar ciuman dan itupun singkat, entah apa yang membuat Kayra belum terlalu merasa nyaman meskipun Galang tampak sangat mencintainya.


Ia takut.


Ia takut ditinggalkan, ya hanya itu.


Ia bahagia bersama Galang, tetapi dibalik itu ia juga memiliki ketakutan yang amat sangat besar. Jujur, ia mulai menyayangi Galang, meskipun pada awalnya ia tak pernah berniat untuk melibatkan hati. Pada akhirnya ia kalah, ia jatuh hati kepada Galang.


Ia memegang keningnya dan memejamkan matanya, entah kenapa memikirkan hal itu membuatnya sangat pusing. Tak lama kemudian ia merasakan tubuhnya di dekap erat, ia membuka matanya dan melihat Galang tersenyum ke arahnya.


"Jangan terlalu mikirin sesuatu, pusing ya?"


Kayra membalas pelukannya dan tersenyum, entahlah ia merasa belum menjadi istri yang baik untuk Galang. Galang sangat baik dan sangat mengerti dirinya, meskipun terkadang Kayra sangat egois tetapi Galang tetap saja menjadi dirinya.


"Aku bikinin susu, ya?"


Kayra mengangguk pelan.


.


.


.


"Lang liat deh," kata Kayra menunjukkan tab milik Galang saat pria itu sudah kembali dari dapur untuk membuatkan Kayra susu.


Galang memicingkan matanya.


"Disini aja ya?"

__ADS_1


"Katanya nanti aja," kata Galang menatap Kayra.


Kayra menggeleng. "Aku pengen jalan-jalan, nggak apa-apa kan?" tanyanya.


"Ya nggak apa-apa, tapi aku nggak mau di Indonesia. Keluar aja, oke?" kata Galang, Kayra menatap Galang kesal.


"Katanya aku yang milih, masa kamu yang nentuin. Jahat banget," kata Kayra.


Galang terkekeh. "Ini beda lagi, pokoknya aku yang nentuin. Kita berangkat minggu depan," kata Galang membuat Kayra tersenyum dan mengangguk. Galang memberikan segelas susu pada Kayra dan dengan senang hati Kayra menerimanya.


"Tadi ada Mama nggak?"


Galang mengangguk, "ada, lagi nonton tv."


Kayra tertawa pelan, "mungkin aku satu-satunya orang yang dibikinin susu ya sama kamu," kata Kayra. "Rasa susu yang dibikinin pak CEO emang beda, enak."


Galang tersenyum dan mencubit pelan hidung Kayra, "ada-ada aja, iya kamu satu-satunya. Biasanya aku yang dibikinin," katanya.


"Mau dibikinin apa?"


Galang menggeleng pelan, "udah kenyang sayang, ntar aja ya bikininnya. Abisin, abis itu tidur." kata Galang menyuruh Kayra menghabiskan susunya.


Galang menatap mata Kayra dalam, dan satu kecupan mendarat di bibir Kayra. Kayra cukup terkejut namun detik berikutnya ia memukul pelan tangan Galang yang dibalas kekehan olehnya.


***


"Ren, Tante nggak akan ngizinin kamu menikah dengan Galang. Cukup, kamu silahkan cari kehidupan kamu sendiri."


Alisha tersenyum, "cari kebahagiaan kamu, jangan menyiksa diri sendiri."


Renata mengangguk mengiyakan.


.


.


.


"Gue bisa bantu lo."


Tatapan Renata terarah pada seorang pria berjas hitam di hadapannya. Gadis itu tak benar-benar menyerah pada Galang. Ia akan terus mengejar hingga mendapatkan apa yang ia inginkan.


"Gue nggak mau bantu lo."


Renata memutar bola matanya malas, "Lo sayang kan sama Kayra? Perjuangkan dong, **** apa!" kata Renata membuat pria itu berdecak malas.


"Gue malu," katanya seraya tertawa. "Kalo Lo ngerencanain ini sama gue, lo salah. Gue nggak akan mau bantu, paham kan?"

__ADS_1


"Raka dengerin gue dulu, kita bisa sama-sama untung. Lo bisa dapetin Kayra dan gue bisa dapetin Galang, mudah kan?"


Renata terus menerus membujuk Raka agar mau membantunya memisahkan Kayra dari Galang hingga Raka mengatakan mau. Lama kelamaan Raka tergiur, dan mau membantu Kayra.


"Oke, gue tunggu rencana pertama lo."


***


Kayra dengan lincah menata piring di meja makan, rambutnya diikat menjadi satu dengan rapi dan sesekali bersenandung. Galang yang melihat hal itu hanya tersenyum tipis, benar apa kata hatinya Kayra menjadi ekspresif saat berada di tempat yang ia anggap nyaman.


Galang sempat heran dengan keluarga istrinya, keluarga istrinya tergolong keluarga kaya sama seperti keluarganya. Bedanya, mereka hanya mempunyai beberapa maid yang membantu pekerjaan rumah. Berbeda dengan di rumahnya, jumlah maid melebihi jumlah anggota keluarganya.


"Kay, panggil Papa sama suamimu ya, kita sarapan," kata sang Mama.


Galang memasuki dapur membuat Mama Deira menoleh. "Eh kamu, Lang. Duduk sini, kita makan."


"Bentar ya. Aku panggil Papa dulu," kata Kayra yang tentu saja diangguki oleh Galang. Setelah itu, Galang duduk di kursi yang tadi di siapkan istrinya.


"Pagi semua- wih enak kayaknya," kata David yang baru saja sampai dan menarik kursi untuknya duduk, Galang hanya tersenyum menanggapi.


"Mamaaaa, Papa nggak ada."


Kayra menatap Mamanya kesal, sifat kekanak-kanakan yang masih melekat pada diri Kayra. Jika memanggil seseorang dan seseorang itu tidak ada, ia akan merasa kesal karena merasa tenaganya sia-sia.


"Papa ada di taman belakang, Kay. Ntar juga kesini," kata David yang langsung diangguki Kayra, Kayra duduk di samping suaminya.


"Mama susul Papa, kalian makan dulu aja."


Kayra mengangguk dan menyiapkan makanan untuk suaminya, ia menawarkan apakah Galang ingin memakan roti atau nasi goreng.


"Nasi goreng aja," jawab Galang yang diangguki Kayra.


Setelah selesai, ia mengambil dua lembar roti dan mengoleskan selai cokelat untuk dirinya. Galang mengernyitkan dahinya, kenapa istrinya malah memakan roti?


"Kayra mah ajaib, nggak suka nasi goreng. Padahal enaknya kebangetan," kata David yang mengerti tatapan Galang. Galang mengangguk mengerti melihat Kayra yang tersenyum.


"Kay, kamu kenal Meera kan?" tanya David menghentikan aktivitas Kayra.


"Kenapa?"


"Kakak minta kontaknya dong," kata David.


Kayra mengangkat bahunya acuh. "Aku ga punya." gadis yang sudah bersuami itu menghela nafasnya pelan, "kenapa dari sekian banyak cewek, kakak malah milih Meera sih? Awas tertipu," kata Kayra membuat David menatap Kayra tak mengerti.


"Dari cara ngomong kamu, kamu kenal dia."


Kayra mengangguk acuh, "aku nggak pernah salah benci sama orang, nggak usah tertipu sama Meera. Dia satu spesies sama Gita, paham kan?"

__ADS_1


"Udah, makan," lerai Mama Deira saat melihat kedua anaknya tampak berdebat. Untung saja ada Deira, jika tidak Galang akan kalang kabut mengatasi hal itu.


***


__ADS_2