
Semua kaget karena suara tembakan, apalagi gerakan Sonia sungguh cepat dan mereka tidak menyangka.
"Kauuuu" teriak Surya penuh kemarahan.
Namun belum sempat Surya bertindak sudah datang beberapa Polisi dan anak buah Surya.
"Kau sudah tidak bisa brrkutik" ucap Yoga menyeringai.
Sonia santai saja, dia lalu di bawa ke kantor bersama anak buah nya yang ada di dalam.
"Ayo cepat bawa Nenek" teriak Kania keluar dari persembunyiannya.
Ya, Kania yang sejak tadi di lantai atas pun menelpon Polisi dan memberikan bukti sebuah Vidio agar kasus Sonia ditangani.
"Ayo" ucap Surya dengan menggendong Nenek.
Mereka semua lalu meninggalkan Rumah itu, Surya melarang pada mereka agar tidak memberitahu dulu Zeva.
"Aku yakin kalau Zeva keluar maka Sonia akan mudah mengenalinya" gumam Surya dengan lirih.
Hingga mereka tiba di Rumah sakit, Nenek langsung di bawa ke Ugd oleh Dokter dan perawat.
Mereka menunggu dengan raut wajah cemas nya, bahkan Kania tak berhenti menangis di pelukan Surya.
"Bagaimana ini, Mas? Apa kita perlu memberitahu Zeva?" tanya Kania pelan.
"Jangan dulu, nanti biar aku beri tahu Putra Tuan Kumbara saja" lirih Surya.
Keduanya tahu bahwa disana ada pengkhianat yang kapan saja akan memberitahu keadaan pada musuh nya.
"Yoga, tolong jaga Istri saya dulu. Saya akan mengurus administrasi terlebih dulu di depan" ucap Surya dengan cepat.
"Baik Tuan" balas nya patuh.
Surya pergi dengan segera dari sana, dia langsung menuju ke bagian admin untuk membayar semuanya.
Tak lupa juga Surya memberitahu kabar ini pada Dani agar menjaga Zeva dan memberitahu semuanya hanya lewat pesan saja.
"Ini semua nya sudah" ucap Surya menunjukan ponsel nya pada petugas Rumah sakit.
"Terimakasih Tuan" balasnya dengan ramah.
Surya kembali lagi ke depan ruangan dimana Nenek sedang di tindak lanjuti.
🌿🌿
Sedangkan di pinggir jalan, Zeva dan Dani sedang berdebat hebat.
"Ze, dengarkan aku" bentak Dani dengan aura berbeda.
Zeva langsung saja diam dan menatap Dani dengan berbeda.
"Jika kamu pergi kesana maka otomatis Bibi mu akan tahu dimana kamu dan semuanya akan sia-sia. Sabar dulu, nanti setelah aman aku sendiri yang akan mengantarmu ke sana" tegas Dani.
Hiks Hiks.
Zeva akhirnya menurut, dia entah kenapa tidak bisa berkata apapun lagi setelah melihat ketegasan yang ada di Dani.
"Ayo naik" ajak Dani kembali.
Zeva mengangguk patuh, Dani membawa motor nya ke arah yang sama sekali tidak di ketahui oleh Zeva.
__ADS_1
Hingga perjalanan mereka terhenti di lobby Apartemen yang sangat mewah.
Dani membawa Zeva ke dalam salah satu kamar yang ada disana, dia mendudukan Zeva di sofa.
"Sebenarnya siapa kamu sebenarnya, Dani?" tanya Zeva dengan lirih.
Dani tak menjawab, dia membuka kacamata dan tompel yang ada di wajah sebelah kiri nya. Bahkan dia juga membuka rambut palsu nya.
"Ze dengarkan aku, saat ini di lingkunganmu dan Om Surya sedang ada pengkhianat, maka patuhlah pada ucapanku agar semua nya aman" ucap Dani tegas.
Zeva hanya diam, dia masih kaget karena Dani sama seperti nya, menyamar.
"Tapi bagaimana dengan Nenek? Aku takut dia tidak akan selamat, Dani" lirih Zeva dengan air mata yang menetes kembali.
"Maka itu adalah suratan takdir, kita tidak bisa melarang apapun yang terjadi pada Nenek. Namun aku yakin, bahwa Nenek melakukan itu bukan tanpa alasan" balas Dani lembut.
Zeva menggelengkan kepala nya kuat, dia lalu menangis dengan tersedu-sedu.
"Aku aku tak punya siapa-siapa lagi selain, Nenek" ucap Zeva dengan tersendat-sendat.
Grep.
Dani memeluk Zeva dengan erat, dia tak sanggup jika harus melihat air mata yang keluar dari wajah cantik Zeva.
"Kau masih punya aku, aku yang akan selalu bersamamu. Maafkan aku yang telat datang menemui mu gadis kecil" ucap Dani dengan tegas dan lembut.
Deg.
Zeva melepaskan pelukan tersebut, dia lalu menatap Dani dengan menelisik.
"Abang menyebalkan?" ucap nya dengan binar bahagia.
Zeva sontak langsung saja bahagia dan memeluk Dani dengan erat. Dia kembali menangis di pelukan hangat Dani dengan tersedu.
"Aku takut, aku hampa Bang, aku berjuang sendirian dengan rasa takut yang terus menghantui ku" lirih Zeva dengan terus saja menangis.
"Maafkan aku ya, aku telat datang menjemput mu" ucap Dani mengusap lembut punggung Zeva.
Dani memeluk Zeva semakin erat, dia seakan tidak mau melepaskannya.
Hingga lama kelamaan Zeva semakin melemah dan terlelap di pelukan Dani.
Dani langsung saja membaringkan tubuh Zeva di atas ranjang milik nya.
"Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu" gumam Dani dengan tegas.
Dani lalu pergi dari sana, dia akan menelpon orangtua nya untuk mengabarkan semua ini.
🌿
-Rumah sakit.
Di Rumah sakit, mereka masih saja merasakan cemas karena Dokter belum juga keluar dari ruangan tersebut. Bahkan mereka menunggu sudah hampir 2 jam dan tidak ada apapun yang bisa mereka lakukan.
"Kita harus memberitahu Zeva" tegas Ratih.
Surya dan Kania langsung menoleh ke arah Ratih, mereka diam saja dan membiarkan Ratih mau melakukan apapun.
"Kemana anak itu, kenapa tidak di angkat" ucap Ratih menggerutu.
"Biar aku coba" timpal Fatur.
__ADS_1
Namun lagi dan lagi mereka tak membuahkan hasil, semuanya tidak di angkat dan bahkan nomor Zeva tak aktif.
"Om lakukan sesuatu dong" gerutu Fatur.
"Aku sudah beberapa kali menelponnya, tapi memang tak aktif. Apa kalian pikir aku tidak melakukan apapun" ucap Surya tenang.
Hening.
Mereka semua terdiam saat Surya membuka suara nya, bahkan Ratih terus saja menghubungi Zeva.
"Kenapa Zeva tidak bisa di hubungi begini, bahkan manager nya pun tidak tahu kemana Zeva pergi, karena dia sudah sejak tadi pulang kerja" gerutu Ratih.
"Kau bahkan sampai tahu nomor managernya?" tanya Yoga kaget.
"Ehemm aku tak sengaja meminta nya karena takut Ze kenapa-napa" jawab Ratih dengan tergagap.
Heh.
Surya dan Kania menatap nya dengan berbeda, mereka seperti curiga dan itu membuat Ratih memalingkan wajah nya.
Hingga obrolan mereka terhenti saat pintu terbuka dan keluarlah Dokter.
"Bagaimana dengan Ibu saya, Dok?" tanya Surya cepat.
"Maaf Tuan, saya sudah berusaha keras namun takdir berkata lain. Ibu anda meninggal dunia" jelas Dokter dengan wajah penuh sesal nya.
Deg.
Deg.
Jantung Surya berdetak dengan kencang, dia menggelengkan kepalanya karena tak menyangka akan hal buruk ini.
"Dok, jangan bercanda" ucap Kania dengan air mata yang sudah menetes.
"Maaf" balas Dokter kembali.
Kania langsung saja masuk ke dalam dan menangis memeluk Nenek Zeva yang sudah terbujur kaku.
Sedangkan Surya, dia mengepalkan tangannya dengan kuat dan terduduk lemas di lantai.
Sedangkan Yoga langsung membereskan semuanya agar jenazah Nenek bisa di bawa segera dan yang lainnya masuk bersama dengan Kania.
Hiks hiks.
"Tuan Igra, maafkan aku yang telah gagal" lirih Surya dengan air mata yang kian menetes.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1