Pembalasan Zevanya.

Pembalasan Zevanya.
Bab 21 Hukuman Sonia.


__ADS_3

Sedangkan di penjara bawah tanah, Sonia dan Fairus di pisahkan sesuai dengan arahan Dani dan Zeva.


"Selamat menikmatu hari-hari mu Sonia" ejek Yoga yang memang ikut serta menemani Maxi.


"Sialan kau, lepaskan aku" teriak Sonia dengan penuh amarah.


"Coba aja sendiri kalau bisa" ledek Maxi dengan terkekeh.


Brak.


"Arrghhhh kalian" teriak Sonia kembali.


"Itu pasti nyes, sakit" ucap Yoga mengusap kaki nya dengan meringis.


Sedangkan Maxi langsung saja tertawa dengan terbahak, dia cukup senang mengerjai Sonia yang sedang emosi.


Sonia menatap keduanya dengan tatapan tajam, bahkan bola mata nya sangat melotot hingga mau keluar.


"Bukan saat nya kau merasakan hukuman, nanti malam kau akan mulai merasakannya hingga kau memohon untuk mati saat itu" ucap Maxi dengan datar.


Cih.


"Aku tidak selemah itu hingga meminta mati, aku kuat dan akan bertahan untuk membalas kalian semua" balas Sonia dengan meludah ke hadapan Maxi dan Yoga.


"Oya? Kita lihat saja nanti" ucap Yoga.


"Max, bukankah Mauren itu cantik jika di jajakan di Club malam" ucap Yoga dengan santai.


Deg.


"Jangan sentuh Putriku" bentak Sonia gelisah.


"Benar Ga, ah aku juga rasanya ingin mencicipi tubuh indah dia. Apa kita garap saja bersama" usul Maxi mengabaikan teriak Sonia.


"Setuju, ayo kita cari dan culik saja. Setelah itu baru kita nikmati dengan sepuasnya, setelah puas kita buang saja" balas Yoga dengan tenang.


Maxi dan Yoga lalu tertawa, mereka mengabaikan teriakan histeris dari Sonia yang terus meracau dan menendang jeruji besi.


"Hei dengarkan aku, jangan sentuh Mauren atau kalian akan menyesal" teriak Sonia mampu menghentikan tawa keduanya


"Menyesal bagaimana Nenek? Kau dan Fairus saja di sini, lalu siapa yang akan menolongnya?" tanya Maxi mencomooh.


"Dia masih punya Ratih dan Fatur" bentak Sonia menggebu.


Heh.


"Memangnya kau sudah tahu dimana mereka berdua dan apa mereka akan menerima mu atau Mauren setelah apa yang telah kalian perbuat pada keduanya" kekeh Yoga dengan bersidekap dada.


Deg.

__ADS_1


"Jangan pura-pura bodoh, Ratih dan Fatur adalah tawanan kami dan hanya kami yang tahu dimana mereka berada" ucap Maxi.


Mereka berdua lalu beranjak dari sana.


"Ehh sebentar, nanti anak buah kami akan menayangkan bagaimana aku menggagahi Mauren. Bagaimana dia merintih kenikmatan dan juga kesakitan, ahh itu sangat indah" ucap Yoga menunjuk ke arah layar lebar di pojokan ruangan.


"Tidakkkkk, jangan lakukan itu" teriak Sonia.


Hahahaha.


Bukannya takut atau kasihan, Yoga dan Maxi malah tertawa dengan menggema disana.


"Ayo kita siapkan staminan untuk nanti malam" ajak Maxi pada Yoga.


Lalu keduanya pergi dari sana, Maxi merangkul Yoga dengan tawa yang masih ada.


Mereka meninggalkan Sonia yang frustasi karena takut Mauren benar di culik oleh keduanya.


"The game will start" ucap Yoga dengan penuh semangat.


Maxi menepuk bahu Yoga dengan terkekeh miring, lalu keduanya menuju ke Hotel yang sudah di sediakan oleh Dani.


🍌


Tepat jam makan malam, Sonia terlihat sangat gusar dan begitu tak enak diam. Dia terus saja kesana kemari dengan perasaan yang sangat khawatir.


Ceklek.


"Ini makan malam mu, makanlah selagi kami disini dengaj benar" bentak salah satu dari mereka dengan memberikan sepiring nasi dengan kerupuk.


Hah.


Sonia melotot sempurna dengan apa yang dia lihat, bahkan pembantu di Rumah nya pun tidak makan dengan beginian.


"Kau mau protes? Sana sana Bos kami" ucap pria di hadapannya


Glek.


Sonia meneguk ludah nya kasar, dia lalu mengambil piring tersebut karena memang sudah lapar.


Klik.


Hingga gerakannya terhenti saat melihat layar di hidupkan dan munculah vidio dimana Mauren di seret paksa oleh Yoga masuk ke dalam kamar.


Deg.


Sonia menghentikan makannya, dia bergerak mendekat ke arah jeruji besi agar menajamkan penglihatannya.


"Ternyata keduanya bisa juga berbuat sinetron" bisik salah satu penjaga.

__ADS_1


Sedangkan yang satu lagi hanya diam melihat bagaimana Sonia beraksi.


"Mauren, aku bilang jangan sentuh Mauren" teriak Sonia dengan emosi.


"Hei kalian, lepaskan Putri ku" teriak Sonia pada kedua penjaga


Ck.


"Bukan kami yang menangkapnya, tetapi kedua Bos kami itu. Biarkan saja, dia akan merintah kenikmatan akibat ulah Bos kami" balas seorang dari mereka dengan santai.


Brak.


"Lepaskan aku" teriak Sonia sudah hilang kendali.


Sonia melihat kembali ke layar saat melihat Mauren tak berdaya dan di kelilingi oleh Yoga serta Maxi dengan tawa yang membahana.


"Bos berjanji nanti wanita itu akan di bawa kesini dan menjadi lahapan kita" celetuk salah seorang penjaga dengan mata memicing pada Sonia.


"Wah enak berarti, Bos Maxi memang pengertian sama seperti Tuan Dani" balas temannya.


Brak.


Brak.


"Hentikan, hentikan"


"Jangan jangan sentuh Maurenku"


"Dia tidak bersalah, jangan jadikan Mauren boneka kalian hah"


Begitulah teriakan frustasi Sonia dari balik jeruji besi, dia juga bisa mendengar rintihan Mauren dan permohonan ampun Mauren namun tidak di dengar oleh Maxi maupun Yoga.


Layar tersebut menghitam setelah Yoga melemparkan gaun Mauren dengan ganas dan hanya terdengar jeritan Mauren dan tawa Maxi serta Yoga saja.


Sonia menangis dan meraung, dia bahkan berteriak supaya keduanya melepaskan Mauren dengan segera.


"Arrgghhhh" teriak Sonia penuh dengan frustasi, bahkan dia menjambak rambut nya sendiri dan terus menangis.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2