Pembalasan Zevanya.

Pembalasan Zevanya.
Bab 13 Hilangnya Zevanya.


__ADS_3

Malam kian larut, perjalanan Zevanya baru akan di mulai setelah ini.


Dia benar-benar pergi dengan membawa luka dan tangisan yang membuat siapa saja tersayat hati.


Selepas dari makam sang Nenek, dia juga ke makam Ayah dan Bunda nya untuk berpamitan.


Dani tak melepaskan genggaman tangan pada wanita nya, dia menguatkan Zeva dengan selalu berada di samping nya.


"Perjalanan mu akan di mulai di Kota ini, tunggu aku untuk menjemputmu dan buatlah dirimu kuat. Maafkan aku yang tak bisa menemani langkah mu, sayang" ucap Dani di malam yang larut.


"Aku akan menunggu mu kembali, Bang. Doakan aku semoga kuat dan menjadi wanita yang tangguh, jangan cari wanita lain" balas Zeva dengan godaannya.


Cup.


"Aku hanya akan menikah denganmu setelah kau selesai dengan pendidikan ini. Aku pamit dulu" ucap Dani memeluk dan mengecup kening Zeva lama.


Zeva membalas pelukannya dengan menganggukan kepala dalam pelukan Dani.


"Bunda, aku titip Gadis kecilku ya" ucap Dani pada sang Bunda.


"Kamu tenang saja, Nak. Dia akan Bunda jaga dengan baik, karena dia adalah menantu Bunda" balas nya dengan memeluk Zeva lembut.


Dani tersenyum, lalu Dani pergi dari sana dengan melambaikan tangan pada kedua wanita yang sangat di cintai nya.


"Semoga dengan ini kita berhasil melawan kekejaman Sonia dan Fairus" ucap Maxi, Asisten Dani.


"Hmm kau benar, aku yakin Zeva adalah wanita pintar yang akan lahir dengan membalas kekejaman atas orangtua dan keluarganya" balas Dani duduk di kursi belakang.


"Langsung pulang, Tuan?" tanya Maxi dengan menghidupkan mesin mobil.


"Ya, kita akan sudahi Dani culun esok pagi" jawabnya.


"Ah syukurlah, aku sungguh lelah dengan pekerjaan di kantor" pekik Maxi dengan bahagia.


Bugh.


"Sialan kau" gerutu Dani dengan memukul lengan Maxi.


Maxi hanya tertawa saja, dia lalu melajukan mobil nya meninggalkan halaman rumah sederhana yang cukup jauh dari Jakarta.


🌿🌿


Ke esokan pagi nya, udara di Jakarta nampak mendung dan bahkan bintik-bintik air hujan sudah membasahi bumi.


Dani baru saja tiba di mansion sang Ayah, dia akan istirahat dan memulai pekerjaannya esok hari.


Maxi sendiri pulang ke Apartemennya yang tak jauh dari perusahaan dimana dia bekerja, dia dulu adalah sahabat Dani dan sekarang merangkap jadi Asistennya.


Hanan Kumbara, dia adalah Ayah Dani yang saat ini masih bersantai di ruang keluarga.


"Ehemm" dehem seorang wanita dengan terkekeh.


"Ada apa Dek? Disini gak ada biasa saja" ucap Hanan tertawa kecil.


"Aku mau ke belakang dulu ya" pamitnya dengan tersenyum.


Hanan mengangguk kecil, dia juga tersenyum geli karena kelakuan wanita itu.


🍌


Tiba jam makan siang, Surya dan Kania datang ke mansion itu karena menerima laporan jika Zeva pergi menghilang entah kemana.


"Akhirnya kalian tiba juga" sambut Hanan dengan memeluk Surya sekilas.

__ADS_1


"Paman, bagaimana ini? Kemana Zeva pergi?" tanya Surya panik.


"Bagaimana bisa pergi? Bukannya dia di tempat kost yang biasa" jelas Hanan kaget


"Jangan bilang kau juga tidak tahu kemana Zeva, Hanan?" tebak Oma dengan wajah panik.


Hanan menggelengkan kepalanya dengan wajah kaget dan bingung.


"Bagaimana jika Zeva sudah di ketahui oleh Sonia" ucap Kania dengan gelisah.


"Kalian tenang dulu, nanti kita bicarakan dengan Dani. Dia baru saja kembali dari luar negeri pagi tadi" jelas Hanan dengan tenang


Tap.


Tap.


Terdengar derap langkah mendekati mereka, Kania lalu menoleh dan langsung bangkit dari duduk nya.


"Bibi Syahna" panggilnya dengan bahagia.


"Kania, ah aku rindu sekali padamu sayang" balas Syahna dengan memeluk Kania.


Kania hanya tertawa kecil dan membalas pelukan Istri Hanan tersebut.


"Kenapa tidak langsung ke ruang makan, ayo kita makan siang dulu" ajak Syahna dengan mendekati Hanan.


"Yasudah ayo, Surya , Kania , Oma" ajak Hanan.


Mereka lalu beranjak dari duduk nya dan langsung menuju ke ruang makan.


Disana sudah terhidang berbagai macam makanan yang sangat menggugah selera.


Mereka makan siang dengan hening dan tak ada yang mengeluarkan sepatah kata pun.


🍌


Tok Tok


"Masuk" ucap Sonia.


Ceklek.


Pintu terbuka dan masuklah salah satu anak buah nya.


"Bagaimana?" tanya Sonia to the point.


"Zevanya pergi entah kemana bersama dengan pria yang berpenampilan culun, semalam saya sudah mengikuti mereka namun saya kehilangan jejak saat motor mereka berhenti di Taman" jelas anak buah nya dengan menunduk takut


Brak.


"Bagaimana bisa, lalu kemana Ratih dan Fatur?" tanya nya.


"Saya tidak tahu Nyonya, saya juga sudah menghubungi mereka namun tidak di angkat sama sekali" jawab nya.


Brak


Prang


"Arrggghhhh"


Teriak Sonia dengan membanting apa saja yang ada di sana, dia marah dan kesal karena kehilangan jejak Zeva dan anak-anak nya entah kemana.


Ceklek.

__ADS_1


"Ada apa ini, sayang?" tanya Fairus, Suami Sonia.


Huh


"Ratih dan Fatur entah kemana dan kita kehilangan jejak Zeva" jawab Sonia dengan nafas yang memburu.


Fairus lalu membawa Sonia keluar dari sana dan menyuruh pelayan membersihkan ruangan tersebut.


Hingga kini keduanya ada di kamar pribadi mereka, Fairus memberi air untuk Sonia.


"Jelaskan dengan perlahan, hmm" ucap Fairus.


Sonia lalu menceritakan apa saja yang di beritahu oleh anak buah nya barusan.


"Kamu tenang dulu, kita tanya Mauren saja karena dia kuliah disana bukan?" ucap Fairus.


"Hmm kau benar sayang" balas Sonia.


Lalu keduanya keluar dari kamar dan langsung ke ruang keluarga, tak lupa juga Fairus menyuruh salah seorang pelayan memanggil Mauren, Putri mereka.


"Lalu bagaimana dengan Fatur dan Ratih, Mas?" tanya Sonia.


"Sebentar aku tanya sama anak buah kita dulu" jawab nya dengan mengeluarkan ponsel dari saku celana.


Fairus pergi sejenak dari sana, dia berbincang dengan anak buah nya.


"Ada apa, Mom?" tanya Mauren yang baru saja tiba.


"Kita tunggu Daddy dulu" jelas Sonia pada Putri kesayangannya


Mauren mengangguk, lalu dia merebahkan tubuh nya di sofa dan paha Sonia jadi bantal untuk kepala nya.


"Bagaimana dengan hari ini?" tanya Sonia lembut.


"Seru Mom, apalagi Romi memberiku banyak uang untuk besok shoping" jawab Mauren semangat.


"Benarkah? Jadi kau sukses membuat dia bertekuk lutut?" tanya Sonia kembali.


"Iya dong Mom, sebelum keluarga Kumbara nampak aku jangan tinggal diam dong" jawabnya dengan penuh rasa bangga.


Sonia langsung saja mengangguk setuju, dia lalu mengusap lembut kepala sang Putri.


"Kenapa nih manja begini" celetuk Fairus dengan mengacak rambut Putri nya.


"Mau shoping besok dan Daddy harus nambahin uang aku" kekeh Mauren pada sang Daddy.


"Hei memangnya Daddy selalu nolak ataupun tak memberi hmmm" ucap Fairus tertawa kecil.


Mauren sontak menggelengkan kepalanya dan tertawa kecil juga.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2